Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
ENAM BELAS



 "Akan Selalu Ada Hati Yang Jatuh"


Pada Hati Yang Tepat. Itu Kamu.


 


~Pov Jason


(The first meet you)


Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, Jason mengendarai mobilnya dengan santai ditengah kota Buenos Aires. Hari ini ia akan melakukan kerja part time nya dihari Minggu, yaitu menjadi Tur wisata.


Pekerjaan sampingan yang hanya untuk membantu pamannya, yang notabenenya pemilik Tur bus terbesar di kota Buenos Aires. Selain itu, ia juga yang sudah lama menetap di Argentina dan pernah berkeliling di Argentina. Membuatnya cukup mengenal kota ini.


Dreet. Dreet.


"Halo, paman?" jawab Jason menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Kamu udah dimana?" terdengar suara pria paruh baya sedikit berteriak.


"5 menit lagi Jason udah mau nyampe, paman. Sampai ketemu disana, bye." ucap Jason memutuskan teleponnya.


Jason memparkir mobilnya tepat di depan gedung berwarna hijau. Ia tersenyum lebar ketika pamannya sudah menunggunya tepat diluar gedung.


"Kamu segera masuk sana. Mereka udah menunggu dari tadi." ucap Paman Andre mendorong Jason menaiki tur bus wisata.


"Ok. Ok. Santai paman." ucap Jason terkekeh kecil sebelum akhirnya ia masuk ke dalam bus.


"Hai Angela." sapa Jason melewati satu rekannya.


"Hei, Jas." sapa gadis cantik berambut pirang.


Tur bus ini mempunyai dua lantai. Lantai pertama indoor yang diambil alih oleh Angela, dan lantai kedua outdoor yang diambil alih oleh dirinya sendiri.


Ia bersiap-siap diri ketika berada dilantai dua, ia melihat beberapa turis sudah duduk ditempat mereka. Hingga pandangannya berhenti pada sosok gadis berambut panjang yang duduk di bangku paling belakang.


Cantik. Gumam Jason menarik kedua bibirnya.


Cukup lama ia memandangi gadis didepannya secara diam-diam. Entah apa yang terjadi pada dirinya, memandangi gadis itu seperti memiliki daya tarik tersendiri bagi dirinya. Dengan keberaniannya dan sedikit kekonyolannya, Ia mendekati gadis itu.


“puedes tomar una foto?” tanya Jason yang berdiri tepat didepan gadis itu.


“sorry i don't speak spanish ". ucap Arumi yang kebingungan.


“Can you take a picture of me? " tanya Jason yang menggunakan bahasa Inggris.


Setelah gadis itu mau, ia berpura-pura berpose ala kadarnya. Mungkin hal ini merupakan yang paling konyol ia lakukan dalam mendekati perempuan. Ia pun menyudahinya dengan berterima kasih pada gadis itu.


"You're welcome." jawab gadis itu sambil tersenyum.


Senyum yang manis. Batin Jason meninggalkan gadis itu.


Ia kembali pada tugasnya yang menjadi pemandu wisata. Ia mengenalkan beberapa gedung, patung yang mereka lewati. Secara diam-diam ia kembali mencuri pandang kepada gadis itu.


Deg


Mata kami saling terkunci satu sama lain dalam beberapa detik. Sebelum gadis itu memutuskan kontak mata kami, ia pun tersenyum kepada gadis itu yang sama mencuri pandang padanya.


Satu jam berlalu Tur Bus tepat berhenti di La Boca, kota yang yang terkenal dengan tango dan romansa disetiap jalan.


"Selamat menikmati perjalanannya." ucap Jason pada beberapa turis yang meninggalkan bus. Termasuk gadis yang dilihatnya tadi.


Ia menghembuskan nafasnya pelan, sedih itu yang ia rasakan tidak akan bertemu kembali dengan gadis itu.


Untuk mengalihkan pikirannya, ia beranjak membersihkan bus jika terdapat sampah yang berserakan.


"Buku? Ini punya siapa yah." ucap Jason bingung mendapatkan buku kecil berwarna coklat muda.


"Apa jangan-jangan punya gadis itu?" ucap Jason yang berlari meninggalkan bus itu. Ia sangat yakin buku ini milik gadis itu, hanya gadis itu yang duduk dibelakang sendiri.


Jason menyusuri setiap sudut kota La Boca. Tempat ini cukup ramai dengan penduduk lokal, dan wisatawan. Hampir setengah jam ia mencari gadis itu namun hasil tetap sama, ia menghela nafas panjang atas pencarian yang sia-sia.


Itu dia. Gumam Jason kegirangan melihat gadis itu duduk sendiri didalam cafe sambil menikmati pertunjukan Tango.


Cukup lama Jason memandangi gadis itu lagi, hingga terbesit sebuah ide gila yang akan membuat gadis itu terkejut.


Ia melangkahkan kakinya ke dalam cafe, dan langsung mencari si pembawa acara.


"Permisi, apakah nyonya si pembawa acara?" tanya Jason melihat perempuan sedikit gendut memegang mic.


"Ya, Ada yang bisa saya bantu?"


"Begini nyonya, saya ingin tampil diatas panggung tapi saya ingin memilih teman tari saya. Kalau bisa, saya mau perempuan itu." Tunjuk Jason kearah gadis itu.


"Oh. Ok."


Jason tersenyum menyeringai atas ide gilanya. Untungnya ia pernah berlatih menari Tango, jadi ia tidak akan memalukan dirinya dan gadis itu.


"Oh my God." ucap Arumi.


Jason tersenyum misterius melihat gadis itu terkejut.


"Please give your hand. " ucap Jason menepiskan jarak diantara mereka berdua. Dari jarak sedekat ini ia bisa melihat paras cantik gadis itu. Matanya yang besar, kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal, dagunya yang lancip, dan bibirnya yang merah merona.


Astaga sadar,Jason. Batin Jason.


"Great dancer." bisik Jason tepat ditelinga gadis itu setelah menyelesaikan pertunjukan tari mereka.


Maafkan aku, buku ini aku simpan dulu. Agar kelak kita bisa berjumpa kembali. Batin Jason sebelum meninggal tempat itu.


****


"Chef, Empanada and Provoleta." ucap seorang pelayan membacakan daftar pesanan.


Ia sesekali melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11.20 waktunya jam makan siang.


"Gabriel, aku minta tolong kamu ambil alih yah. Aku mau keluar sebentar." ucap Jason kepada sesama rekannya yang membantunya di dapur.


"Ok." ucap Gabriel memberikan jempol kearah Jason.


Jason berusaha melewati kerumunan orang-orang yang sedang menunggu pesanan mereka. Hingga ia tidak sengaja bertemu dengan Papi nya diluar pintu.


"Kamu mau kemana?" tanya Nick saat berpapasan dengan putranya.


"Jason mau keluar sebentar, pi. Ga lama ko, bye." jawab Jason meninggalkan Nick yang masih berdiri diluar pintu.


Nick Jonas merupakan pemilik Restoran Asado yang cukup terkenal di kota Buenos Aires. Restoran yang sudah turun menurun dari kakek buyutnya, hingga sampai sekarang dikelola oleh Nick dan dirinya.


****


Disinilah ia sekarang berada ditengah kerumunan orang-orang di pasar San Telmo. Ia menutup buku kecil berwarna coklat muda, dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Ayo Jason, semoga takdir berpihak padamu." ucap Jason bersemangat. Hari ini ia berencana akan mencari gadis itu kembali, berdasarkan buku kecil ini gadis itu akan berencana akan kesini.


Hampir satu jam lebih ia mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis itu. Sebenarnya apa yang dilakukannya adalah yang paling terkonyol, sebab ia tahu hasilnya bisa saja mengecewakan dirinya. Tapi ia percaya takdir yang akan mempertemukan mereka kembali.


"Halo, ada apa?" jawab Jason menjawab panggilan masuk di ponselnya.


"Kamu harus segera pulang. Disini banyak sekali pelanggan." ucap seseorang diseberang sana yang cukup berisik.


"Ok." jawab Jason menutup teleponnya.


BUGH


“Lo siento." ucap Jason meminta maaf tak sengaja menabrak seseorang.


"It is okay."


“Kamu lagi. Kayanya bumi ini kecil bangat yah.” ucap Jason terkejut kemudian ia tersenyum senang. Ia juga bisa melihat gadis itu sama terkejut seperti dirinya.


Akhirnya takdir mempertemukan kita kembali. Batin Jason.


“Jason.What is your name?” ucap Jason memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


“Arumi.”


Nama yang cantik. Pikir Jason dalam hati.


“Dari Indonesia?” tebak Jason sedikit berbasa-basi, walaupun ia sudah tau dari buku kecil milik gadis itu.


Ia menepuk jidatnya, ia harus segera kembali sebelum ayahnya memotong dirinya.


“Senang bertemu dengan kamu, Arumi. Semoga liburan kamu menyenangkan. Maaf aku tidak punya waktu lama untuk mengobrol.” ucap Jason pamit terburu-buru dan meninggalkan Arumi yang masih terdiam di tempatnya.


****


"Maaf pi, Jason terlambat." ucap Jason mengatur nafasnya setelah berada di area dapur.


"Sana ganti pakaian kamu."


Setelah mengganti pakaian khusus chef, ia kembali pada tugasnya.


"Aku istirahat sebentar yah." ucap Jason menepuk pundak Gabriel setelah hampir sejam ia memasak pesanan orang, ia berlalu menuju pendingin kulkas.


Ia mengedarkan pandangannya di dalam ruangan. Beberapa pengunjung masih berdatangan, dan ada juga yang masih menikmati makan siang mereka.


Hingga matanya jatuh pada sosok gadis yang sedang menikmati makanannya. Ia tersenyum dan mendekati gadis itu.


"do you like it?" ucap Jason tepat berdiri dibelakang gadis itu.


"Jason." ucap Arumi terkejut cowok itu ada disini.


"Hai, lagi menikmati makan siangnya ya. Boleh ikut duduk disini ga?" tanya Jason meminta izin sebelum duduk.


"Oh silahkan." ucap Arumi mempersilahkan.


Mengobrol dengan gadis itu cukup menyenangkan bagi dirinya. Sampai ia harus undur diri untuk kembali berkerja.


" Kamu habisin dulu makannya, aku pamit kebelakang dulu ya." ucap Jason berpamitan sebelum kembali kebelakang.


"Siapa perempuan itu?" tanya Nick mengintrogasi putranya.


"Teman, pi". jawab Jason.


"Cantik." goda Nick pada putranya.


"Ia cantik." jawab Jason jujur sambil tersenyum.


****


Sesekali ia mengintip keluar, berharap gadis itu masih ada. Hingga ia mendapati gadis itu sudah tidak ditempatnya, ia berlari keluar.


"Arumi." panggil Jason ketika Arumi hendak keluar dari pintu restoran.


"Eh Jason, ada apa?" tanya Arumi bingung.


"Mm. Aku bisa minta kontak kamu ga. Yah barang kali kita bisa bertemu kembali." jelas Jason mengumpulkan keberaniannya.


"Gimana yah, Sorry aku tidak bisa memberikan kontak aku sama orang yang baru aku kenal." ucap Arumi.


"Ya udah ga papa. Semoga kita bisa bertemu kembali."


"Jika waktu mentakdirkan kita untuk bertemu kembali. Bye." Jawab Arumi meninggalkan dirinya yang masih terdiam membeku atas penolakan dari gadis itu.


Aku akan membuat takdir agar kita bisa bertemu kembali. Batin Jason menatap kepergian Arumi.