
"Jika Keadaan Memaksamu Untuk Berlari"
Maka Berlarilah. Kata Terlambat
Hanya Orang Pengecut
~Gilang~
Bandara Abdul Rahman Saleh pagi hari sedang sangat ramai saat Arumi menarik kopernya sambil berjalan menuju pintu check-in terminal 2. Tangan kirinya menarik koper silver berukuran medium dan tangan kanannya sibuk menggandeng tangan Anita. Yang sejak dari pagi tak ingin melepas dirinya dan selama perjalanan Anita tidak berhenti berbicara.
"Mama, Papa sampai di sini saja nganterin Arumi." ucap Rumi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu pemeriksaan yang menuju ke loket check-in.
"Jangan lupa hubungi Mama kalau udah sampai di Argentina". ucap Anita memeluk Arumi seolah tak rela membiarkan anaknya pergi.
"Pasti Mama tersayang." jawab Arumi sambil membalas pelukan Anita. Momen seperti inilah yang selalu membuat dirinya sedih setiap dirinya hendak untuk melakukan Travelling. Sebab ia selalu tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya sendiri, apa lagi Sam adiknya memilih kuliah diluar kota hingga dirumah hanya tinggal mereka bertiga saja.
"Cuman Mama doang nih yang dipeluk, Papa ga?" Keluh Andrian yang berdiri di samping sang istri melihat orang yang dicintainya saling berpelukan.
"Tuh ada yang pengen dipeluk sama kamu Kak." ledek Anita melepaskan pelukan putrinya.
"Uh yang pengen dipeluk." ucap Arumi langsung berganti memeluk Andrian.
"Kakak harus hati-hati di sana, jaga diri, kalau terjadi sesuatu langsung hubungi Papa atau Mama." ucap Andrian membalas pelukan putrinya dan mengelus rambut putrinya dengan perlahan.
"Siap bos."
"Rum." panggil seseorang.
"Eh nak Gilang." ucap Anita kaget.
"Iya, Tante Om apa kabar?" Sapa Gilang kepada kedua orang tuanya Arumi.
Gilang cukup mengenal kedua orang tuanya Arumi karena dirinya sering berkunjung ke rumahnya Arumi baik itu sendiri maupun bersama Rara.
" Alhamdulillah kita semua baik nak Gilang." jawab Anita sambil tersenyum.
"Gimana kuliahnya kamu Lang?" tanya Adrian.
"Alhamdulillah berjalan dengan lancar Om, sekarang Gilang lagi praktek di rumah sakit." Jawab Gilang.
"Bagus kamu harus tetap semangat." ucap Adrian menyemangati.
"Itu pasti Om. Mm...maaf Om Tante, Gilang bisa ngomong berdua dengan Arum?" tanya Gilang.
"Oh boleh sekali Nak Gilang, silahkan." jawab Ibu Anita mempersilahkan.
"Bentar ya Ma, Pa." ucap Arumi mengikuti Gilang dari belakang. Yang mengajak dirinya duduk disalah satu kursi yang kosong.
"Mau ngomong apa Lang?"
" Semoga kamu sampai dengan selamat, Rum."
" Terima kasih, Lang."
"Kabarin aku kalau kamu sudah sampai disana."
"Pasti aku kabarin, Lang."
"Aku mau ngasih sesuatu sama kamu, diterima yah." minta Gilang penuh harap.
"Tumben kamu ngasih sesuatu sama aku, biasanya kalau aku minta sesuatu kamu selalu banyak alasan."
"Habisnya kamu mintanya yang mahal-mahal sih."
"Hehe. Bercanda doang, Lang."
"Ini apa Lang? Kamu serius ngasih sama aku? Repotin banget sih, sayang uangnya mending di tabung buat kuliah kamu."
"Ga papa Rum, aku lagi pengen ngasih sesuatu sama kamu. tolong ini kamu buka udah sampai di Argentina ya." pinta Gilang memohon.
"Ia. Ia deh." ucap Arumi terpaksa dan menghargai pemberian pria itu.
"Aku harus berangkat nih Lang." ucap Arumi melihat jam keberangkatannya tidak lama lagi.
"Ya udah yuk." ajak Gilang mengantarkan Arumi di depan pintu pemeriksaan.
"Mama, Papa. Arumi pergi dulu ya." pamit Arumi kepada kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya Kak, jangan lupa kabarin kalau udah nyampe." ucap Anita mengingatkan kembali.
"Siap bos."
" Bye Rum. have a safe flight." ucap Gilang tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih. Terlebih Gilang mempunyai lesung pipi yang bisa melelehkan hati setiap gadis manapun.
Mereka pun melambai kearah Arumi yang berjalan menuju antrian hingga dia masuk dan hilang di balik pintu. Baik kedua orang tuanya maupun teman terdekatnya tahu sekali bahwa dirinya suka Solo Travelling.
Sebab ia tidak suka menunggu maupun ditunggu, dia tidak suka diatur, dan dia tidak suka berdebat dengan orang lain tentang tempat yang akan dikunjungi atau hal apa yang harus dilakukannya. Sebab dengan sendiri ia bisa merasakan kebebasan, ketenangan yang diciptakan olehnya, tapi jika berpergian dengan orang lain itu sangat merepotkan baginya.
Namun sebelum dirinya menjadi penyuka Solo Travelling, ia selalu ditemani oleh teman-teman atau Dia dalam berpergian ke beberapa tempat. Membuat rencana bersama, melakukan hal-hal bersama. Tapi, jika seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi.
Ah .. sudahlah, kamu harus kuat Arumi.
****
Sebelum berpergian biasanya ia sudah membuat daftar tempat dan hal yang harus dilakukan selama berada di tempat itu. Dan itu harus semua dia lakukan, jika ada satu yang tidak ia lakukan maka ia akan badmood dan merasa liburannya kacau. So, menurut seorang Arumi Nasha Razeta menjadi solo traveling adalah pilihan terbaik.
Setelah check-in dan mengurus bagasi, dirinya dengan santai berjalan menuju ke ruang tunggu. Hari ini mood-nya sedang bagus, dia senang pada akhirnya dia bisa pergi ke Argentina. Dan kenapa ia memilih Argentina? Karena ada janji yang perlu ia selesaikan, selain itu Argentina membuatnya sekali jatuh cinta akan setiap keindahan alamnya, namun dirinya yakin tidak akan sekali tempat itu membuat ia akan jatuh cinta tapi lagi dan lagi.
Sambil duduk menunggu boarding, Arumi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. memeriksa kondisi cuaca di Argentina download browsing informasi beberapa tempat yang akan ia kunjungi serta membalas beberapa pesan di WhatsApp Dan di email.
~Rara~
Jangan lupa oleh-olehnya Gue
~Arumi~
Doain temannya biar selamat sampai tujuan loh udah minta oleh-oleh ajha.
~Rara~
Pokoknya jangan lupa. Gilang ke bandara ga tadi?
~Arumi~
Teman pergi Lo malah ga nganterin.
~Rara~
tadi udah gue kabarin kalau gue ga bisa Arum
~Arumi~
Mm. banyak alasan doang Lo
Merasa bosan Arumi pun membuka aplikasi Instagram miliknya. Dan ia berencana mengabadikan perjalanannya kali ini melalui instastory. Yah, Arumi sering sekali mengupload foto-fotonya nya setiap melakukan travelling. Dirinya sering mendapat pertanyaan detail perjalanannya.
Arumi mengarahkan kamera ponselnya ke arah kaca besar ruang tunggu ya menghadap keluar, yang memperlihatkan jejeran pesawat. Arumi pun mengambil momen itu menuliskan Let The Journey Begin -pada gambar yang diambil lalu mempostingnya.
Tidak lama kemudian suara pengumuman berbunyi, mempersilahkan para penumpang masuk ke dalam pesawat. Ia kemudian menonaktifkan ponselnya, dan memasukkan kembali ke dalam tas. Ia berdiri sambil mengambil tas ranselnya yang terisi barang-barang yang akan diperlukan nanti didalam pesawat, sebab perjalanannya kali ini akan memakan waktu lebih dari 20 jam dan harus transit beberapa kali.
I Coming Argentina. Ucap Arumi semangat sambil tersenyum bahagia.