Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
SEBELAS



 "Karena Kenyamanan"


Aku dan Kamu Menjadi Kita


 


Arumi berguling ke kanan ke kiri mencari posisi nyaman. Sejak pukul lima dini ia tidak bisa memejamkan matanya, ia merasa tubuhnya lemas dan sakit di bagian perutnya.


Ia rindu pada Anita dan membutuhkan Mamanya disaat kondisi seperti ini. Mengelus perutnya sampai ia bisa tidur dengan tenang dan membuatkan jahe pereda sakit datang bulannya.


Dengan susah payah Arumi bangkit dari kasur dan meraih ponselnya di dalam tas. Hanya satu nama yang terpikirkan olehnya yang bisa membantunya.


Tuut


Tuut


"Halo Arumi. Ada apa?" jawab diseberang sana.


"Jason, kamu bisa bisa kesini ga?"


"Kamu kenapa Rum? Kenapa suara kamu seperti itu, kamu sakit?" tanya Jason khawatir.


"Aku butuh kamu Jas."lirih Arumi.


"Aku segera ke sana." ucap Jason memutuskan telepon.


****


Jason yang berencana pergi mandi langsung berlari menyambar kunci mobilnya dan keluar rumah. Untuk mengganti pakaiannya saja ia tidak terpikirkan.


"Jason kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?" Teriak seorang perempuan cantik yang lagi merapikan tanaman.


"Jason." Teriak kembali perempuan itu dengan kesal melihat mobil itu melaju dengan cepat.


****


"Permisi saya bisa tahu nomor kamar atas nama Arumi Nasha Razeta?" tanya Jason kepada resepsionis hotel.


"Sebentar saya cek dulu." jawab petugas resepsionis hotel. "Nona Arumi Nasha Razeta dikamar 10 Lantai 2." Jelas resepsionis itu.


Jason memencet tombol lift dengan kasar. Ia terlihat sangat kacau dan gelisah teleponnya tak kunjung diangkat oleh gadis itu.


Tok


Tok


"Come on Rum." ucap Jason mengetuk pintu kamar Arumi


"Arumi, apa kamu didalam? Ini aku Jason." teriak Jason kali ini menggedor pintu kamar Arumi.


Klek


"Jas." sapa seseorang dibalik pintu itu sambil tersenyum.


"Apa yang sakit?" tanya Jason bertambah khawatir melihat gadis itu sangat pucat.


"Masuk dul..." ucap Arumi jatuh tepat didepan Jason.


"ARUMI." ucap Jason terkejut dan mengangkat gadis itu kedalam.


Jason bingung apa yang harus ia lakukan. Melihat Arumi terbaring lemah tak berdaya, membuatnya sangat kacau.


Ia mencari minyak kayu putih didalam tas gadis itu, berharap Arumi memilikinya.


"Ini dia." seru Jason lega.


Ia beberapa kali mendekatkan minyak kayu putih itu ke hidung Arumi .


"Ayolah Rum, please bangun."


"Oh terimakasih Tuhan." ucap Jason lega vmelihat Arumi membuka matanya.


"Jason." panggil Arumi dengan lirih.


"Ia Arumi, ada aku disini. Bilang sama aku apa yang sakit." tanya Jason memegang tangan Arumi.


"Perut aku yang sakit."


"Perut? Kenapa perut kamu? Kamu punya penyakit maag atau penyakit lain?"


Arumi menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Terus apa?" tanya Jason bingung.


"Datang bulan." jawab Arumi sangat malu.


"Oh astaga. Terus aku bisa lakukan apa buat kamu?"


"Biasanya kalau datang bulan dan sakit seperti ini mama sering mengelus perut aku." jelas Arumi menahan malunya dan sakitnya. Kalau bukan karena kebiasaannya dari dulu seperti ini, ia tidak akan berani meminta hal aneh seperti mengelus perutnya pada orang lain.


"Kamu yakin hanya itu saja? kamu ga butuh hal lain seperti obat?"


" Obatnya hanya itu doang."


Nyaman. Satu kata yang dirasakan Arumi saat ini, ketika pria itu dengan sangat pelan dan lembut mengelus perutnya sekaligus kepalanya. Sesekali pria itu juga membersihkan keringatnya yang bercucuran di keningnya.


Arumi menuruti perintah pria itu dan ia memejamkan matanya.


"Jangan sakit lagi yah. Aku ga bisa lihat kamu sakit seperti ini." bisik Jason dan mencium kening Arumi.


Jason langsung mengambil ponselnya. Ia mencari sebuah nama dalam daftar kontak dan menggerakkan jarinya naik turun, Natalia.


Ia langsung memencet tombol telepon, setelah beberapa lama menunggu akhirnya Jesicca menjawab teleponnya.


"Kamu ke mana aja sih Jason, kakak sama Davic tunggu khawatir loh lihat kamu yang tiba-tiba pergi begitu saja."


"Maaf udah buat kakak khawatir, tapi Jason baik-baik saja. Jason mau nanya sesuatu sama kak Natalia." ucap Jason menjauh dari Arumi.


"Mau nanya apa?"


"Hm. Biasanya sakit perut saat datang bulan dikasih obat apa?" tanya Jason agak sungkan.


"Ada apa nih, tiba-tiba kamu nanya seperti itu?"


"Jawab ajha deh, Kakak." jawab Jason ketus sambil memijat pelan kepalanya.


"Ga ada obatnya. Cuman biasanya dulu mami sering ngasih minum jamu gitu. Kamu punya pacar?" tanya Jesicca penasaran.


"Ya udah thanks." ucap Jason memutuskan telepon.


****


Arumi menggeliat dan membuka matanya, ia duduk perlahan dan bersandar di kepala ranjang. Ia mengedarkan pandangannya dalam ruangan tapi tidak menemukan sosok pria itu.


Apa Jason udah pulang yah. Gumam Arumi bangkit dari kasurnya.


Ia terlihat kecewa tidak mendapati sosok Jason baik diruang tamu maupun di dapur. Ketika ia hendak mengambil air minum, ia heran karena ada sebuah kantong makanan diatas meja.


Apa Jason yang nyediain nya yah. Gumam Arumi tersenyum senang sambil membuka kantong makanan tersebut.


"Kamu udah bangun?"


"Eh Jason." ucap Arumi terkejut.


"Gimana perutnya udah ga sakit lagi?" tanya Jason mengambil kursi tepat di samping Arumi.


"Udah ga, semua berkat kamu." ucap Arumi sambil tersenyum manis dihadapan Jason.


"Syukurlah."


"Aku pikir kamu udah pulang."


"Ga mungkin aku ninggalin kamu sendirian. Tadi aku keluar sebentar beli sesuatu."


"Oh."


"Ayo dimakan dulu makanannya, pasti kamu lapar bangat seharian perutnya belum ke isi." ucap Jason mengelus kepala Arumi dengan lembut.


"Ia." jawab Arumi memalingkan wajahnya dari Jason, ketika ia merasakan wajahnya panas dan memerah.


"Kamu mau kemana?" tanya Arumi melihat Jason bangkit dari kursinya.


"Mau buatin kamu Jahe."


"Ko bisa?" tanya Arumi keheranan. Darimana pria itu mendapatkan jahe di negara asing seperti ini, dan darimana pria itu tahu pereda sakit datang bulan adalah jahe.


"Bisa apanya sih Rum? Tadi aku nanya sama seseorang."


"Emang siapa?" tanya Arumi terdengar seperti menyelidik. Apa Jason nanya sama pacarnya yah, kalau begitu Jason sudah punya pacar dong.


"Kenapa kamu cemburu?" goda Jason yang terkekeh kecil.


"Ga. Buat apa aku cemburu kaya ga ada kepentingan lain." ucap Arumi kesal. Ia menyudahi acara makannya dan berlalu ke ruang tamu.


Oh Come on Arumi, ga seharusnya kamu bersikap seperti itu. Gumamnya dalam hati.


"Nih minum dulu." ucap Jason menyerahkan segelas minuman jahe.


"Terimakasih." ucap Arumi mengambil gelas itu dari tangan Jason.


"Rum." panggil Jason tepat di samping Arumi.


"Hm".


"Udah lama bangat ya kamu sakit seperti itu setiap kali kamu datang bulan?"


"Hm."


"Udah siapa saja yang kamu mintai lakuin yang seperti aku lakukan tadi sama kamu?"


"Kamu orang ketiga yang aku minta seperti itu." jawab Arumi merasa aneh dengan sikap Jason yang tiba-tiba menjadi diam. Apa dia salah ngomong yah, pikirnya.


"Aku bisa minta sesuatu sama kamu?" tanya Jason mengarahkan badanku tepat dihadapannya.


"Apa?Selama ga minta yang aneh-aneh saja."


"Kamu ga boleh lagi meminta hal seperti itu sama pria lain, cukup aku dan entah siapa lagi dua orang itu."


Sekujur tubuhnya diam membeku. Ia bisa melihat sesuatu dibalik mata pria itu, tapi ia bingung apa itu dan tidak mengerti maksud dari permintaan pria itu.