Meet You In Argentina

Meet You In Argentina
DELAPAN



"Yang berat bukan kehilangan"


Tapi membiasakan diri tanpa kehadiran


Jason dan Arumi melangkahkan kaki mereka masuk kedalam sebuah Cafe Tortoni yang berada dipusat kota Buenos Aires.


"Silahkan." ucap Jason menarik kursi kosong untuk Arumi.


"gracias."jawab Arumi berterima kasih sambil tersenyum kearah Jason yang sudah duduk dihadapannya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Jason saat pelayanan sudah siap mencatat pesanan mereka.


"Aku Steak sapi sama hot Chocolat." jawab Arumi memberikan daftar menu kepada pelayan


"Steak sapi 2 dan Coffe." ucap Jason menyebut pesanan mereka.


"Cafe yang unik."ucap Arumi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dari luar gedung cafe ini cukup biasa saja, tapi saat masuk Cafe Tortoni terlihat mewah. Dari interiornya yang klasik sampai dekorasi yang unik.


"Syukurlah kalau kamu suka."


"Kamu udah lama di Argentina?"


"Kayanya udah hampir 5 tahun setelah lulus SMA. Kalau kamu sibuk kuliah atau kerja?"


"Aku kuliah."


"kamu memang suka berpergian sendiri?"


"Yeah. Setiap melakukan perjalanan ke beberapa kota, aku lebih suka berpergian sendiri."


"Wah, berarti ini perjalanan kamu yang pertama kali ke Luar Negeri dong. Ko bisa yah orang tua kamu izinin, dan kamu ga merasa takut berada di lingkungan asing yang tidak sama sekali kamu kenal?"


"Yeah, seperti itu. Kalau ga diizinin yah ga mungkin aku udah ada disini tepat dihadapan kamu, Jason. Dan yah sebenernya siapa yang ga takut, tapi aku berusaha melawan rasa takut itu."


" Tapi, apa yang membuat kamu menjadi tidak suka berpergian dengan orang lain? Jika harus dibandingkan jauh lebih seru bersama orang lain, kita bisa tertawa bersama, melakukan hal-hal bersama." ucap Jason penasaran akan pemikiran gadis itu.


Arumi yang mendengar perkataan Jason, hanya bisa tersenyum kecut. "Setiap orang punya cara tersendiri untuk menikmati hidupnya."


"Tapi aku bangga dan kagum sama kamu." ucap Jason mengacak rambut gadis itu.


Arumi bisa merasakan wajahnya yang memanas akibat dari sentuhan Jason. Sialnya ia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya, yang membuat ia merasa geli atas perasaan itu.


"Gracia." ucap Jason berterima kasih saat seorang pelayan mengantarkan makanan makanan mereka. "Selamat makan." seru Jason mulai melahap makanannya.


"Selamat makan." uawab Arumi mencoba mengontrol perasaannya. Ia dan Jason mulai menikmati makan malam mereka dalam keheningan. Hanya sesekali ia mengehentikan kunyahan nya, karena Jason menatapnya sambil tersenyum padanya.


"Setelah ini kamu mau ga ikut aku nonton tango?"tanya Jason setelah menyelesaikan sisa makanan terakhirnya.


"Gimana yah." ucap Arumi bingung menerima tawaran Jason atau tidak. Sebab besok pagi ia harus berangkat ke kota Puerto Iquaza, yang menjadi tujuan berikutnya.


"Please." ucap Jason memohon.


Arumi menghela napasnya, berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan.


"Baiklah."


"Keputusan yang bagus, aku yakin kamu ga bakalan menyesal." ucap Jason menarik tangan Arumi keluar setelah ia meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja.


****


"Kamu ngajak aku ke bar?" tanya Arumi melipat kedua tangannya didepan dadanya menyesal menyetujui permintaan cowok itu, saat mereka sudah berada didepan gedung yang bertuliskan Bar Sur.


"Bar ini bukan seperti yang kamu pikir Arumi. Kamu akan tau kalau kita sudah masuk ke dalam." ucap Jason menyakinkan Arumi.


"Hola, welcome to Bar Sur." sapa seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka.


"Ayo." jjak Jason yang masuk terlebih dahulu. Dan Arumi pun pasrah mengikuti cowok itu dari belakang.


Seperti kata Jason, bar tersebut sedikit berbeda dari bar pada umumnya yang ia ketahui. Bar ini cukup tua dan sempit yang hanya menyediakan beberapa kursi untuk pengunjung. Yang membuat lebih unik mereka mengadakan pertunjukan tari tango yang diiringi oleh alunan musik tango.


"Silahkan duduk." ucap sang pelayan mempersilahkan mereka duduk dibangku yang masih tersisa satu.


Setelah memesan mereka menikmati pertunjukan para musikus yang musiknya memenuhi ruangan ini.


"See. Sudah aku bilang kan kamu ga akan pernah menyesal." ucap Jason ditengah pertunjukan.


"Ia deh." ucap Arumi mengiyakan dan kembali menikmati pertunjukan.


"Waktu di San Telmo, sejak kapan kamu bisa menari?" Tanya Arumi mengingat kembali kejadian itu.


"Dulu pertama kali datang ke sini selama setahun lebih aku melakukan perjalanan disetiap kota Argentina, aku mencoba hal-hal yang baru yang membuat aku tertarik. Termasuk Terjun payung, belajar tarian tango walaupun tak sehebat penari lainnya, dan menjadi Tur wisata karena aku cukup mengenal Kota Argentina." jelas Jason.


"Terus yang di Asado?"


"Itu sudah menjadi tuntutan kerjaan."


"Pria yang sibuk." ucap Arumi meminum green tea latte nya.


"Kalau khusus kamu, aku akan selalu menyediakan waktu ku." ucap Jason menggoda Arumi.


"Simpan saja gombalan kamu itu." ucap Arumi memutar matanya dengan malas. Yang hanya mendapatkan kekehan dari cowok itu.


"Tapi pipi kamu merah loh." ledek Jason merasa gemas dengan gadis itu.


"Kamu salah lihat, Jas. Itu Blush-on yah." elak Arumi kesal digoda cowok itu.


"Ia deh. Nari yuk." ajak Jason berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya kehadapan Arumi.


"Aku ga bisa menari Jason." ucap Arumi tegas.


"Dansa saja kalau begitu." pinta Jason kembali menampilkan puppy eyes nya.


"Ga Jason. Aku capek."


"Ya udah aku antar kamu pulang." Ucap Jason membawa tangan Arumi keluar dari bar.


Ada sensasi geli dibawah perut Arumi setiap cowok itu memegang tangannya. Entah sejak kapan cowok itu mulai berani memegang tangannya, terlebih dirinya selalu tidak bisa menolak dari setiap sentuhan cowok itu.


"Kamu ga perlu repot antar aku pulang. Aku bisa pulang sendiri ko." tolak Arumi.


"Ini udah malam Arumi. Aku cuman ingin pastiin kamu selamat sampai tujuan." ucap Jason tegas membuat Arumi tidak bisa menolak.


Udara malam dan hembusan angin malam musim semi mulai menusuk tubuh. Arumi menarik mantelnya agar menutupi tubuhnya lebih rapat. Sesekali ia yang menggosokkan kedua telapak tangannya agar ia bisa sedikit merasakan hangat.


"Eh." Ucap Arumi tertegun saat Jason merangkul punggungnya.


"Biar lebih hangat, aku kedinginan."


Sesuatu dalam dadanya terasa menghangat. Terlebih berada di dekapan Jason itu cukup membuatnya merasa hangat.


"Rum, aku bisa minta kontak kamu? Kalau terjadi sesuatu kamu bisa hubungi aku, dan aku juga bisa pastiin kamu baik-baik saja."


"Mana ponsel kamu?" minta Arumi dan mengetik nomornya didalam sana. Setelah selesai ia mengembalikan ponsel tersebut.


"Makasih. Besok kamu rencananya mau kemana?"


"Besok aku mau berangkat ke Puerto Iquaza."


"What?" ucap Jason mengehentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Arumi bingung.


"Tidak apa-apa." ucap Jason kembali melanjutkan perjalanan.


"Terimakasih udah nganterin. Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan kamu Jas." ucap Arumi saat mereka sudah didepan penginapannya.


"Sama-sama. Aku juga senang aku bisa menghabiskan waktu ku bersama kamu. Kamu hati-hati yah dan selalu kabarin aku kalau butuh sesuatu." ucap Jason mengelus pipi Arumi.


"Bye." ucap Arumi sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Jason.