
" Keajaiban Itu Bisa Datang Kapan, Dimana"
Dan Dengan Cara Apa Saja Yang Tidak
Pernah Kita Duga
Arumi berdecak sambil berdiri dan melipat kedua tangannya didepan. Ia melirik lagi jam tangannya, jam 8.20. Sudah sekitar lima belas menit ia menunggu pria itu di lobby hotelnya, namun pria itu belum menampakkan batang hidungnya.
"Pagi Rum. Maaf aku terlambat tadi ada urusan mendadak." ucap Jason keluar dari mobilnya bertepatan dengan Arumi melangkah keluar dari hotelnya.
"Kamu udah terlambat 15 menit, Jason. Tapi aku tidak mau berdebat masalah keterlambatan kamu, karena aku harus segera berangkat ke bandara." ucap Arumi yang membuka pintu mobil.
"Jam berapa pesawat kamu berangkat?" tanya Jason mulai menghidupkan mesin mobil.
"Jam 11."
"Berapa lama kamu disana?" tanya Jason kembali.
"Entahlah, mungkin bisa 4 atau 5 hari."
"Rum."
"Hm."
"Apa aku bisa ikut kamu pergi?" tanya Jason dengan hati-hati.
Kalimat yang terucap dari pria itu membuatnya terkejut. Arumi terdiam ditempatnya mencoba berpikir keras apakah ia akan setuju atau tidak.
"Kamu ga salah?" tanya Arumi menaikkan sebelah alisnya saat menghadap kearah Jason.
Walaupun ia dan Jason sering dipertemukan secara tiba-tiba dan kami menghabiskan waktu bersama. Tapi semua itu ia beranggapan pertemuan mereka hanya kebetulan saja, terlebih ia sudah sejak lama menikmati dirinya sebagai solo traveling meskipun tidak bisa ia pungkiri ia merasa nyaman saat bersama dengan pria itu.
"Ga. Aku beneran mau ikut kamu kemana kamu pergi, aku mau ikut."
"Kamu bercanda?" tanya Arumi sulit mempercayai nya.
"Ga Aku serius." ucap Jason menegaskan. Yang tak ada niatan dalam dirinya untuk bercanda dengan kalimat yang diucapkannya.
"Kenapa kamu mau ikut aku?" tanya Arumi seolah siap mendengar dan menilai akan dilontarkan pria itu.
"Berpergian dengan seseorang tidak seburuk yang kamu pikir, Rum. Kalau terjadi sesuatu dengan kamu, aku tidak bisa memaafkan diri aku sendiri."
Arumi menghela napas pelan, berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan. Apa yang dikatakan Jason benar, selama ini berpergian dengan pria itu tidak seburuk yang dibayangkannya.
"Baiklah." jawab Arumi berharap keputusannya benar.
"Terimakasih." ucap Jason dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
****
Jason memandangi gadis itu yang sedang mengurus boarding pass disalah satu loket maskapai penerbangan bandara Iquaza.
Setelah beberapa menit kemudian gadis itu berjalan menuju kearah Jason dengan boarding pass dan pasport ditangannya.
"Nanti kabarin aku kalau kamu udah nyampe disana." minta Jason pada gadis itu.
"Ia. ia. Terus kamu gimana?"
Jason melirik jam tangannya, jam menunjukkan pukul 10.30 " Aku masih ada urusan yang mendesak, mungkin aku ambil penerbangan berikutnya. Mungkin agak sore aku sampai."
"Ah...baiklah." ucap Arumi mengangguk mengerti.
"Sana masuk, sudah waktunya kamu berangkat." ucap Jason mendorong Arumi masuk ke dalam.
"Ia. ia." jawab Arumi dengan nada datar.
"Tunggu aku yah." ucap Jason sambil mengelus kepala Arumi dengan lembut.
Arumi mengangguk pelan sambil tersenyum kaku.
Aku pasti akan menunggu kamu, Jason.
Gumam Arumi dalam hati yang tidak berani ia katakan langsung kepada pria dihadapannya.
****
Perjalanannya kali ini ia akan ke kota El Calafate. Butuh waktu dua jam lebih dari kota Iquaza sekaligus transit terlebih dahulu di bandara Cordoba, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota El Calafate.
"Taxi?" tanya seorang pria paruh baya ketika Arumi keluar dari pintu bandara.
"Yes sir. I want to go Linda Vista." jawab Arumi memperlihatkan selembar kertas yang berisi kan alamat kepada pria paruh baya.
Ia menikmati pemandangan dibalik kaca mobil. Hamparan lapangan berwarna hijau, langit biru yang memukau matanya, dan danau terbentang luas berwarna zamrud yang begitu jernih dari kejauhan.
Sesekali ia mengeluarkan kepalanya dari jendela, agar bisa merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Dan ia sadar sekarang ia berada di kota yang berangin yaitu, El Calafate.
Arumi mengambil ponselnya di dalam tas, dan mencari salah satu kontak yang perlu ia hubungi.
~To: Jason~
Aku sudah sampai
Ketik Arumi dilayar ponselnya dan menekan tombol send, kemudian kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
Setelah Taxi yang ia tumpangi pergi, ia membuka pintu penginapan dan langsung menuju meja resepsionis.
"Selamat siang, selamat datang di penginapan Linda Vista. Ada yang bisa saya bantu." sapa seorang perempuan paruh baya.
"Saya mau pesan kamar untuk lima malam."
"Baik atas nama siapa?"
"Arumi Nasha Razeta." jawab Arumi.
"Baik, mari ikut saya." ucap perempuan paruh baya itu setelah meng-input data di komputernya.
Arumi memandangi pemandangan yang ada di depanya saat ini. Sebuah penginapan unik yang terbuat dari kayu. Bangunan minimalis yang asri di depannya terdapat taman kecil yang ditumbuhi oleh berbagai bunga disekelilingnya, membuat ia merasa takjub sekaligus senang.
"Ini kamar Anda. Jika nanti ada pertanyaan atau permintaan, silahkan menghubungi 01 dari kamar Anda. Kalau begitu Saya permisi dulu." jelas perempuan paruh baya itu meninggalkan Arumi.
Ting
Bunyi ponsel Arumi menampilkan pesan masuk.
~Jason~
Syukurlah, aku udah mau berangkat. Tunggu aku disana terus kita jalan-jalan.
~Arumi~
Ok
~Jason~
Bdw, kamu nginap di hotel mana?
~Arumi~
Linda Vista
Ia menghela nafas dan meletakkan ponselnya di atas meja ketika pria itu tidak membalas pesannya lagi.
Kini ia sedang menikmati makan siangnya yang disediakan oleh penginapan, sekaligus menyibukkan dirinya dengan membaca novel yang selalu ia bawah kemana-mana.
Setelah puas membaca, ia memilih kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya sekaligus istirahat sebentar selagi menunggu kedatangan Jason.
****
Cause if you like the way you look that much
Oh baby you should go and love yourself
"Hmm. Halo." jawab Arumi dengan suara serak mengangkat telepon dengan matanya yang masih terpejam.
"Ayo jalan-jalan." ajak seseorang dari seberang.
"Kamu udah sampai?" tanya Arumi menuruni tangga menuju pintu kamar.
"Aku didepan."
"Jam berapa sampai?" tanya Arumi mendapati pria itu didepannya.
"Baru ajha. Mending kamu cuci muka terus kita jalan-jalan." ucap Jason mendorong Arumi masuk kedalam kamarnya.
"Kita mau kemana?" tanya Arumi agak berteriak didalam kamar mandi.
"Keliling kota." ucap Jason balik berteriak.
"Ayo." ajak Arumi setelah merapikan dirinya.
"Kamu bisa bawah sepeda ga?" tanya Jason setelah keluar dari penginapan bersama Arumi.
"Emang kenapa?"
"Keliling kota enaknya naik sepeda, Rum."
"Aku ga bisa bawah sepeda, terus gimana dong." ucap Arumi melemah.
"Tenang saja, aku bisa bonceng kamu ko." ucap Jason tersenyum manis ke arah Arumi.
"Terus sepedanya mana?"
"Tadi aku udah tanya sama pemilik penginapan, katanya ga jauh dari sini kita bisa menemukan orang yang menyewakan sepedanya."
Arumi mengangguk mengerti.
"Itu dia." tunjuk Jason melihat nama toko Abranpampa, persis seperti yang dikatakan oleh pemilik penginapan.
"Ayo." ucap Jason menepuk tempat duduk dibelakangnya.
"Yakin ini aman?" Tanya Arumi sedikit ragu.
"Percaya sama aku."
Arumi dengan ragu menduduki tempat itu.
"Kamu harus pegangan, Arumi. Nanti kamu bakalan jatuh." pinta Jason.
"Ia, bawel." ucap Arumi menggerutu. Ia memilih Memegang ujung baju Jason sisi kanan maupun kiri.
"Let's go." teriak Jason mulai mengayuh sepeda.
"Astaga anginnya kencang sekali." teriak Arumi membiarkan rambutnya diterpa oleh angin.
"Pegang yang erat Arumi." teriak Jason menambah kecepatan sepedanya.
" Aahhh... Jason pelan-pelan. Aku ga mau jatuh yah." rengek Arumi ketakutan sambil memeluk erat pinggang pria itu.
"Lihat di depan Rum." pinta Jason sambil mengurangi kecepatan sepedanya.
Ia tak bisa berkata apa-apa. Semua indah dan menakjubkan yang pernah ia lihat selama ini.
Keindahan danau terbentang luas yang bergelombang seperti lautan.
Matanya berair, ia pikir karena terlalu banyak terterpa angin. Tapi ternyata ia menangis, selain begitu terpesona akhirnya ia bisa memenuhi setiap janji yang telah ia buat bersama orang itu. Walaupun orang itu tidak ada disini, tapi Arumi tau orang itu pasti ikut turut bahagia.
"Kamu menangis?" tanya Jason membalikkan badannya ke arah gadis itu.
"Aku terharu, dengan semua ini." ucap Arumi sambil menampilkan senyuman manisnya, agar Jason tak khawatir kepadanya.
"Simpan kekaguman mu nanti, sebab masih banyak yang belum kamu lihat."
"Pasti." ucap Arumi tersenyum lebar.
Jason tersenyum, kemudian mengusap kepala Arumi. Aku bahagia, jika kamu pun bahagia.