Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Sembilan



Berdasarkan hadis dari sahabat Abu Humaid Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,


إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً، فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَةٍ، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَم


"Apabila kalian melamar seorang wanita, tidak ada dosa baginya untuk me-nadzar-nya, jika tujuan dia melihatnya hanya untuk dipinang. Meskipun wanita itu tidak tahu."


(HR. Ahmad 23603, At-Thabrani dalam Al-Ausath 911. Hadis ini dinilai shahih oleh Al-Albani, sebagaimana keterangan beliau dalam Silsilah As-Shahihah, no. 97)


----


Mahya menyantap makanan yang ada di depannya dengan lahap, Mahya bukan sosok yang pilih-pilih dalam makanan selama ada rasa pedas dan asin dia akan makan dengan lahap.


"Oh ya, bagaimana bimbingan kemarin?" tanya Zahra.


"Dikunyah dan ditelan dulu baru bicara, nanti nyembur ke mana-mana." Mahya melihat sahabatnya itu hanya nyengir tak jelas. Mahya menerbitkan senyumnya.


"Itu sepertinya bakal menjadi bimbingan terakhir, soalnya sampai selesai Ramadhan Pak Arkan melarang aku bimbingan." Mahya jadi tidak selera dengan makanan yang ada di depannya karena ingatan itu.


"Mengapa begitu?"


"Entahlah, emang dosen satu itu sedikit aneh." Mahya menjawab dengan seadaanya, Mahya bisa melihat raut curiga di wajah Zahra.


"Kamu tidak sedang mengumpat Pak Arkan, bukan?" Mahya melotot ke arah Zahya.


"Ya enggaklah, mana berani."


"Syukur deh, karena kalau kamu lupa aku masih fans berat Pak Arkan." Mahya menghela napas, dia masih sangat ingat bahwa sahabatnya itu sangat mengidolakan dosen pembimbing skripsinya. Tapi herannya, mengapa dan bagaimana bisa? Itu yang menjadi teka-teki hingga saat ini.


"Pas di sana Pak Arkan bagaimana?"


"Pak Arkan saja gak tahu kalau muridnya itu aku, jadi ya dia terkejut begitu." Mahya tertawa kecil ingat wajah terkejut Pak Arkan.


"Terus, apa yang kamu lakukan di sana?"


"Bimbingan, lalu diajak makan siang sama Umi-nya Pak Arkan."


"Terus?"


"Pulang."


"Wah lunch bareng Pak Arkan dong?"


"Enggak."


"Bagaimana bisa?"


"Habis bimbingan aku ditinggal pergi gitu saja sama Pak Arkan."


"What?? Di rumah, doi masih gak peduli sama keberadaan kamu." Mahya hanya mengangguk seadanya.


"Wah, benar-benar suamiable." Mahya hanya bergumam tidak jelas.


"Eh Ya, itu si Rizal bukan sih." Zahra menoleh ke kanan.


"Rizal siapa?"


"Rizal ya tadi." Mahya mengikuti arah mata Zahra. Di sebuah meja dia bisa melihat lelaki bernama Rizal itu duduk bersama Kania. Iya Kania yang itu, adik Pak Arkan.


"Itu mahasiswi yang digosipkan calon istri Pak Arkan." Mahya menoleh ke arah Zahra dan Kania bergantian.


"Jangan asal berbicara, nanti jatuhnya fitnah." Mahya kembali makan, dia seolah tidak peduli dengan kehadiran dua orang itu.


"Benar, kamu tahu Bu Anis, dosen sastra Arab. Beliau kan suka sama Pak Arkan dan kemarin Beliau baru bergosip kalau Pak Arkan akan segera menikah. Dan dari sekian banyak cewek yang bisa dekat dengan Pak Arkan hanya perempuan itu, si Kania anak BEM." Mahya mengerutkan keningnya, dia hanya menyahut di dalam hati. Jelas saja Kania bisa dekat dengan dosennya, karena Kania adalah adik dari dosen idola itu.


"Apa jangan-jangan mereka selingkuh," kata Zahra membuat Mahya tersedak.


"Ya Allah, Ya. Pelan-pelan." Zahra memberi minum ke arah Mahya.


"Kamu kalau bicara hati-hati." Mahya memberi peringatan. "Sudah, jangan ingin tahu masalah orang lain." Mahya menarik tangan Zahra supaya kembali fokus ke arah meja.


"Tapi Ya, aku penasaran banget."


"Ingat, rasa penasaran yang kamu alami bisa mendorongmu menuju neraka. Jadi lebih baik tahan saja."


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu mengatakan sesuatu yang belum tentu benar. Sudah lupakan, jika si Rizal itu jodohmu pasti akan datang pada saat dan keadaan yang tepat. Tidak perlu mengurusi urusannya saat ini. Dan kamu harus ingat, saat kamu memutuskan untuk mencintai dalam diam, maka kamu juga harus siap untuk patah hati dalam diam jua. Karena jatuh cinta dan patah hati itu ada pada satu paket." Mahya bisa melihat wajah lesu sahabatnya, tetapi sungguh, sebagai sahabat dia tidak ingin Zahra terjerumus dalam kehidupan tidak benar.


"Kamu mau acara makan kita bubar gara-gara masalah ini? Padahal lusa aku sudah harus pulang ke rumah Ibu." Mahya mengatakan itu lalu dia minum dengan pelan.


"Kamu mau pulang kampung?" tanya Zarha dengan nada cukup keras.


"Iya."


"Kenapa?" Mahya menaruh gelasnya lalu merapikan sendok yang ada di atas piring.


"Kata Om Galih, calon suamiku mau melanjutkan ke tahap lebih dekat. Jadi setelah ta'aruf dengan proposal keluarga mereka ingin nadhor."


"Terus?"


"Karena aku sudah tidak ada keperluan di kota ini jadi aku pulang, dan rencana semua proses dilakukan di rumah orangtuaku."


"Yach, aku gak bisa ikut dong." Zahra mendesah kecewa.


"Biasanya kalau acara seperti itu hanya keluarga saja sih. Gak pakai undangan."


"Yach terabaikan." Mahya tertawa kecil.


"Siapa bilang? nanti waktu nikahan aku undang."


"Kamu gak lupa kan kalau aku masih kuliah." Mahya tertawa kecil


"Ya nanti kamu yang harus mengusahakan." Mahya menjawab dengan enteng.


"Siapa namanya?"


"Nama siapa?" tanya Zahra dengan antusias.


"Kamu jangan tertawa tapi," kata Mahya memberi peringatan.


"Kenapa aku tertawa?"


"Namanya Arkan." Zahra melotot tidak percaya.


"Jangan-jangan," kata Zahra menggantung.


"Kok bisa."


"Ya gitu." Mahya menjawab dengan tidak peduli.


"Tunggu dulu, itu Pak Arkan bukan?" Zahra menatap sosok yang berdiri di depan pintu.


"Jangan bercanda." Mahya masih sibuk dengan berbenah.


"Benar, Beliau melangkah ke mari." Mahya segera menolah, dan benar saja dosen pembimbing skripsinya saat ini sudah berdiri di dekat mejanya.


"Assalamualaikum, Mbak hijab biru." Mahya menoleh ke arah Zahra, keduanya saling memberi kode.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab keduanya.


"Pak tapi di antara kita berdua tidak ada yang berhijab biru." Benar saja keduanya heran, karena saat ini Mahya mengenakan pakaian dengan warna senada, hitam. Dan Zahra mengenakan jubah berwarna hitam dengan hijab berwarna kuning gading.


"Pertama melihat dia mengenakan hijab berwarna biru." Pak Arkan menunjuk ke arah Mahya. Mahya mengingat kapan pertama kali dia berinteraksi dengan dosen muda itu. Lalu dia ingat kejadian di kelas hampir dua pekan yang lalu.


"Tapi aja saya sudah gak pakai hijab warna biru."


"Tapi saya terlanjur mengenal kamu dengan nama itu." Mahya menghela napas, dia tidak ingin berdebat berang dosen yang memiliki banyak sekali jawaban itu.


"Apa yang Bapak lakukan di sini?" Mahya harus bersyukur dengan keberadaan Zahra.


"Oh, saya ada janji dengan dua orang yang ada di sana." Mereka membawa penglihatan menurut sisi yang ditunjuk oleh Pak Arkan.


"Oh," jawab Zahra sedang Mahya hanya mengangkat bahu tidak peduli.


"Baiklah, saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Keduanya menjawab lalu Mahya segera berkutat kembali dengan merapikan barangnya.


"Jangan berspikulasi apapun." Mahya segera membuka suara sebelum Zahra mengomentari keberadaan dosennya.


"Ini benar-benar hot news."


"Ingat, gosip itu kalau benar jatuhnya ghibah dan kalau salah jatuhnya fitnah." Mahya berdiri dari duduknya meninggalkan Zahra yang masih berbenah.


Mahya berjalan menuju kasir, dia akan membayar semua makanan yang sudah dia pesan. Sesekali dia menoleh ke arah Zahra yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Maaf Mbak, bill sudah dibayar." Mahya menatap lekat sang kasir.


"Coba dicek ulang, Mbak. Karena kami belum membayar."


"Oh, tadi dibayar sama Mas yang ada di sana. Yang mengenakan kacamata." Mahya menoleh ke arah yang ditunjuk sang kasir.


"Kenapa?"


"Bill kita sudah dibayar."


"Ya sudah, ayo pulang."


"Tapi bukan aku yang bayar."


"Lalu?" tanya Zahra bingung.


"Rizal yang bayar." Mahya mengatakan itu dengan nada lirih, syarat akan nada bingung dan ragu.


"Aku gak mau punya budi. Berapa Mbak yang harus kami bayar?"


"Ini Mbak."


Mahya mengikuti langkah Zahra, dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Dia takut kalau Zahra akan meledak karena dia merasa tak suka dengan tingkah Rizal. Berlebihan memang, tetapi Mahya mengenal Zahra dengan cukup baik. Sahabatnya itu sangat anti dibayarin saat makan atau belanja, karena entah dengan alasan apa.


----


Mahya hanya diam berdiri di dekat meja, dia masih mengamati empat orang yang masih dalam diam itu. Sesekali dia melirik ke arah Kania yang sepertinya sedang menahan tawanya, entah apa yang lucu menurutnya sehingga gadis itu ingin sekali tertawa.


"Zahra," panggil Mahya lirih sambil menarik hijab kunginnya.


"Maaf Zal, tapi ini uang ganti." Zahra mengeluarkan uang pas dari dompetnya. Mahya hanya harap-harap cemas.


"Saya mentraktir Mahya bukan kamu. Kalau kamu tidak berminat saya traktir uang ini bisa kamu masukkan ke dalam kotak infaq yang ada di meja kasir." Mahya menoleh ke arah meja kasir, dan benar saja di sana ada sebuah kotak.


"What?" seru Zahra terkejut.


"Kenapa?"


"Kalau kamu mau masukin ya masukin aja sendiri, kenapa harus menyuruh saya." Mahya mengamati ekspresi wajah sahabatnya, lalu dia meringis.


"Kenapa harus? Kan itu uang kamu."


"Tapi uang itu adalah uang ganti kamu bayar makanan yang saya makan tadi."


"Saya tidak minta diganti dan suka rela membayarnya."


"Kamu memang suka rela, tapi kami tidak suka rela dibayarin."


"Bukankah perempuan biasanya suka gratis, hemat." Mahya menoleh ke arah dosennya yang baru saja membuka mulutnya.


"Saya bukan perempuan biasa, saya luar dan dalam biasa." Mahya menyembunyikan senyum gelinya.


"Karena tidak ada yang mau memasukkan uangnya, biar saya saja. Dan terima kasih atas traktir makannya, Rizal. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan." Mahya menarik uang yang ada di meja.


"Kamu mau pulang atau tidak, kita jadi tontonan." Mahya berbisik di dekat Zahra lalu berjalan menuju kasir untuk memasukkan uang ke dalam kotak amal.


"Mahya, kenapa mengalah?" tanya Zahra.


"Sudah jelas, berdebat itu tidak akan menemukan jalan keluarnya. Lebih baik berdiskusi." Mahya menjawab dengan santai.


"Tapi aja mengesalkan."


"Ya sabar, mungkin kamu sedang diuji." Mahya berjalan menuju sebuah warung di pinggir jalan dia akan membeli beberapa lauk untuk dibawa pulang.


"Habis ini kita ke mana?"


"Pulang Zahra, sudah hampir petang."


"Ah, mengatakan petang aku jadi ingat setan perempuan pada Zaman Nabi Sulaiman." Mahya menoleh ke arah Zahra yang tampak menerawang. Dia juga mengingatnya, karena dia dulu sempat membaca, dan juga tahu secara nyata.


Di desa masih sangat kuno dulu menurutnya, karena setiap menjelang senja anak-anak selalu di masukkan ke dalam rumah dan pintu ditutup. Kalau orang desa bilang ada setan' lewat, tetapi setelah dewasa dan mengikuti beberapa kajian dia tahu. Bahwa di waktu senja memang ada setan' perempuan yang sering mengganggu anak kecil, makanya sering di waktu petang banyak anak kecil yang rewel. Ini bukan sekedar mitos karena kisah ini ada sejak zaman Nabi Sulaiman.


---