
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri."
(Al-Isrâ':17:7)
---
"Kamu kenapa?" tanya Arkan saat melihat Mahya tampak mencebik di depan laptop.
"Kesel Mas, masak aku suruh observasi ulang." Arkan menghela napas, ini hal yang tidak dia sukai jika memiliki hubungan dengan orang yang bersangkutan di kampus, karena mau bagaimanapun hal itu membuat pekerjaan yang ada di kampus terbawa sampai rumah.
"Memangnya data kamu belum komplet?" tanya Arkan seolah tak tahu apapun. Dia melihat wajah terkejut Mahya, tapi dia juga bisa melihat wajah kesal Mahya yang mendominasi saat ini.
"Entahlah, dosen pembimbing aja yang kurang kerjaan." Mahya menutup laptop lalu dia menggelung kembali rambut panjangnya. Dia berjalan menuju ke tempat dia menaruh air minum dan mengambil duduk.
"Ya, data kamu perlu dilengkapi. Jadi kamu harus kembali ke sekolah yang kamu jadikan observasi skripsi." Mahya menaruh gelas dan tak lupa dia mengucapkan tahmid.
"Mas, SMAku itu jauh loh. Aku harus menempuh perjalanan lama, kamu gak kasian apa sama aku. Padahal belum juga satu pekan dan rasa jetleg belum sembuh." Mahya mencoba mendramatisir di depan sang suami, hal yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali. Dia melihat wajah terkejut Arkan, dan semua itu membuat dia malu. Mahya segera naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya.
"Membelakangi suami dosa, Ya." Arkan mengeluarkan suara dengan nada datar meski terkesan lembut.
"Malu Mas." Arkan tersenyum kemudian dia membalik tubuh Mahya.
"Bagaimana kalau jumat setelah Dzuhur lusa Mas antar?" Mahya membuka kedua tangannya, dia mengintip lalu menatap wajah sang suami.
"Diantar ke mana?" tanya Mahya tidak fokus, entahlah matanya menatap wajah sang suami, dia merasa getaran dalam tubuhnya yang menyebabkan dia mulai sedikit kehilangan napas dan lemas.
"Ke tempat jauh." Arkan menjawab dengan pelan.
"Iya, jauh itu ada namanya Mas." Mahya menjawab dengan pelan.
"Tempat di mana hanya ada kita berdua menyelusuri jauhnya jarak tempuh." Mahya melongo, dia mencerna ucapan sang suami yang terasa janggal. Bukan karena kalimat puitis, tetapi makna yang tersirat.
"Kamu kok lama pahamnya," kata Arkan sambil berdecak. Mahya semakin dibuat bingung.
"Observasi, Mahya." Mahya segera membentuk bibirnya menjadi bulat sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau, kalau ditemani." Arkan tersenyum lalu kembali duduk bersandar meninggalkan sang istri yang mati gaya dengan setengah terlentang.
"Tapi tidak gratis," kata Arkan sambil menutup buku tebal yang dia baca.
"Ya Allah Mas, sama istri sendiri perhitungan." Mahya menyempurnakan posisinya menjadi terlentang.
"Ya harus dong." Arkan menyibak selimut. "Kamu sudah wudhu?" tanya Arkan menoleh ke arah Mahya yang tampak fokus ke langit-langit.
"Sudah," jawab Mahya yang diakhiri dengan pekikan terkejut karena wajah sang suami saat ini sudah menggantikan pemandangan langit-langit kamar.
"Bismillah," kata Arkan sebelum menyatukan dua bibirnya dengan bibir sang istri. Keduanya terhanyut dalam lantunan lagu berirama yang mampu membawa keduanya menuju surga manusia yang ada di dunia.
---
Semua pasti telah mengetahui keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun, kapan malam tersebut datang? Lalu adakah tanda-tanda dari malam tersebut?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan bahwa pengampunan dosa pada lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah usai. (Lathaif Al-Ma'arif, hlm. 365-366)
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
"Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan." (HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
"Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa." (HR. Muslim)
Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Baribahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta'ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
"Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa." (HR. Bukhari)
Malam ini terasa begitu dingin, dengan angin yang sepoi-sepoi menerpa kulit yang tak tertutup dengan pakaian. Mahya mengeliyat pelan kala dia merasa selimut dia kenakan sendiri. Dia meraba keberadaan sang suami tetapi hasilnya adalah nihil, suaminya sudah tidak ada di atas tempat tidur.
Mahya segera duduk, dia melihat ke sekitar yang terasa sepi. Mahya menoleh cepat ke arah pintu kamar mandi tetapi pintu itu terbuka sedikit sebagai tanda bahwa kamar mandi dalam keadaan kosong.
Mahya menoleh ke arah dinding, menatap lekat jam yang menempel lalu dia menyibak selimut yang dia kenakan. Malam masih terasa terbukti dengan sang fajar yang belum kunjung menyapa, angin semilir membelai lembut permukaan kulit yang terbuka.
Mahya membersihkan hidungnya dengan bernapas lebih berat dan menutup satu lubang hidung bergantian sebanyak tiga kali lalu di menggeser kakinya untuk menyentuk sendal yang ada di samping tempat tidur.
"Jam berapa Mas Arkan bangun?" tanya Mahya kepada sang malam, sebab tak ada satu orangpun yang saat ini berada di dalam ruangan itu.
Setelah merasa tubuhnya sudah berkumpul sempurna, dia mengangkat tubuhnya untuk berdiri lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Ia akan membersihkan diri dan melakukan qiyamullail sebelum membantu ibu mertuanya mempersiapkan makan sahur.
Mahya berjalan menuju dapur, dia sedikit heran saat tidak melihat siapapun di sana. Dia menghela napas lalu mulai membuka Buffett penyimpanan makanan, di sana dia melihat ada semangkok sayur ikan.
Mahya menoleh ke arah lemari es lalu dia membuka laci di sampingnya di sana dia menemukan aneka jenis minuman. Dia menoleh ke arah kompor lalu berjalan menuju tempat panci digantung.
"Kok sendiri, Mbak?" Mahya menoleh ke arah Rizal yang sudah duduk di meja makan.
"Iya, kamu tidak ke masjid?" Mahya membuat racikan minuman.
"Enggak, baru bangun." Mahya mengangguk lalu dia pura-pura sibuk dengan aktivitasnya, kalau boleh jujur Mahya merasa canggung dengan Rizal.
"Kania biasanya minum susu yang itu Mbak buat sahur." Rizal menunjuk sebuah toples di atas kulkas.
"Oh, iya." Mahya segera mengambil lalu memasukkan ke dalam gelas.
"Dua sendok tanpa gula," kata Rizal dengan nada sedikit bergetar, Mahya meringis karena dia tidak tahu takarannya.
"Kalau Mbak Mahya biasanya sahur minum apa?" Mahya menoleh ke arah Rizal yang masih setia duduk, lalu dia kembali menunduk memainkan sendok yang dia pegang.
"Apa aja, saya tidak pilih-pilih." Mahya tidak mendengar sahutan dari Rizal, lalu dia mendongak dan masih melihat Rizal duduk dengan posisi berubah. Jika tadi dia menyandarkan kepalanya di atas meja sekarang Rizal menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan melipat dua lengannya di dada.
"Biasanya perempuan pemilih," kata Rizal.
"Tidak semua perempuan, mungkin sebagian saja tapi kadang memang suka dipukul rata." Mahya mengatakan itu lalu dia beranjak mengambil sayur yang baru dia hangatkan dan menyajikan di atas meja.
"Menurut Mbak Mahya, sulit mengerti cowok atau cewek?" Mahya yang sudah beranjak posisi sedikit terkejut dengan pembahasan yang diambil oleh Rizal.
"Tergantung sudut pandang dan juga karakter setiap orang. Sifat manusia itu pad hakikatnya berbeda-beda tapi suka dipukul rata." Mahya menaruh nasi di atas meja lalu dia mengambil buah di dalam kulkas.
"Maksudnya?"
"Perempuan dan lelaki itu bukan sebuah perbedaan yang mencolok. Di zaman sekarang, banyak karakter perempuan seperti karakter laki-laki begitu pula sebaliknya. Tapi jikaenurut penelitian bahwa antara lelaki dan perempuan berbeda, kalau menurut pendapatku semua orang berbeda. Jadi wajar bukan ada yang namanya perselisihan pendapat."
"Sering kali cowok dibilang tidak peka," kata Rizal dengan nada santai.
"Kadang aku juga berpikir seperti itu, tapi pada kenyataannya tidak semua cowok tidak peka. Ada memang yang benar-benar tidak peka ada juga cowok yang peka tetapi memiliki pemikiran atau penyelesaian dengan caranya sendiri yang kadang tidak dimengerti oleh cewek atau bahkan kaum cowok itu sendiri."
"Nah ini, cewek berpemikiran seperti Mbak Mahya ini yang langka." Mahya menghentikan gerakan tangannya lalu dia menoleh ke arah Rizal.
"Karakter itu dibentuk sejak kita di dalam kandungan. Tidak serta Merta seseorang itu memiliki kepribadian baik, oleh sebab itu saranku nanti jika menikah lihat secara rinci karakter pasanganmu. Bukan mencari yang sempurna tetapi memastikan diri sendiri mampu tidak melengkapi kekurangan calon pasangan kita." Mahya menuang air putih ke setiap gelas.
"Ngomongin apa sih? seru banget." Kania keluar dengan wajah bantalnya.
"Urusan orang dewasa, anak kecil gak bakalan paham." Rizal menjawab dengan santai membuat Kania merenggut kesal.
---