
وَ مِنۡهُمۡ مَّنۡ يُّؤۡمِنُ بِهٖ وَمِنۡهُمۡ مَّنۡ لَّا يُؤۡمِنُ بِهٖؕ وَرَبُّكَ اَعۡلَمُ بِالۡمُفۡسِدِيۡنَ. وَاِنۡ كَذَّبُوۡكَ فَقُلْ لِّىۡ عَمَلِىۡ وَلَـكُمۡ عَمَلُكُمۡۚ اَنۡـتُمۡ بَرِيۡٓــُٔوۡنَ مِمَّاۤ اَعۡمَلُ وَاَنَا بَرِىۡٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُوۡنَ
"Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur'an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang Aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Yunus: 40-41)
---
Rumah ini tampak begitu kokoh, dengan cat berwarna putih salju dipadu dengan biru muda. Terasa dingin dan nyaman untuk bersantai-santai.
Mahya duduk dengan tenang menunggu sang pemilik rumah menyapa. Tadi saat dia datang yang membukakan pintu adalah pengurus rumah tangga, seorang paruh baya perempuan berhijab merah muda.
"Hai, teman Nia atau Arkan?" tanya seorang perempuan berkulit putih, wajahnya cantik seperti boneka Barbie dan yang jelas rambutnya panjang sepunggung. Bagaimana Mahya bisa tahu? Dia tahu karena perempuan yang menyapanya tidak mengenakan hijab.
"Saya mahasiswi Pak Arkan, Mbak." Mahya menyambut uluran tangan perempuan cantik itu. Dia sedikit minder melihat perbedaan warna kulit yang cukup mencolok.
"Oh, udah janjian sama Arkan?"
"Sudah Mbak."
"Berarti sebentar lagi dia akan datang, Arkan pantang untuk ingkar janji." Mahya hanya mengangguk saja, sebenarnya penasaran siapa gerangan perempuan ini. Apa benar dugaannya kalau sang dosen sudah memiliki istri? Tapi sepertinya tidak, apa iya perempuan di depannya ini istri Pak Arkan?
"Oh ya, kenalin saya Gabriel. Panggil saya Gaby." Mahya mengangguk saja. Entahlah dia tidak tahu cara berbasa-basi.
"Aku pikir kamu teman Arkan, tumben sekali berteman sama cewek."
"Maaf?"
"Iya, Arkan tidak pernah dekat dengan cewek. Jangankan bukan keluarganya, aku aja yang keluarganya selalu dihindari." Mahya mengangguk, dia salah menebak ternyata perempuan cantik yang ramah ini adalah keluarga dosennya. Mahya tersadar dari pemikiran itu lalu ia jadi ingat bahwa Arkan juga menghindari dirinya di setiap bimbingan. Berarti ini memang sikap dosennya yang tidak terlalu suka berbaur dengan perempuan, wah lelaki yang lurus.
"Kadang saya heran dengan orang Islam," kata Gaby membuat Mahya menoleh dengan cepat. Pikiran tentang dosennya segera buyar dengan kalimat sederhana yang sangat mengejutkan.
"Maaf, aku bukan orang Islam." Mahya mengangguk tahu, lalu tersenyum tipis.
"Sejak berumur lima belas tahun Arkan tidak pernah mau bertemu dengan aku, terlebih saat aku berkunjung dia selalu ada aja alasan buat menghindari." Mahya mengangguk lagi.
"Kata Tante, dia lagi menjaga diri untuk istrinya nanti." Mahya menerbitkan senyum tipisnya.
"Kamu tahu?" Mahya menoleh ke arah Gaby.
"Tahu apa?" tanya Mahya dengan lembut.
"Tahu alasan di balik semua itu?" Mahya melihat wajah penasaran Gaby.
"Di dalam Islam memang diperintahkan untuk menjaga pandangan. Dalam agama apapun, saya yakin tidak ada yang memperbolehkan zina. Nah, Islam selain melarangnya juga memberi perintah untuk mencegahnya seperti menjaga pandangan itu sendiri." Mahya mengucapkan dengan lugas dan menggunakan suara yang lembut.
"Mengapa demikian?" tanya Gaby.
"Maaf sebelumnya, bukan saya terlalu membanggakan Islam tapi memang saya membanggakan Islam." Mahya tertawa kecil membuat Gaby juga tertawa.
"Kamu lucu dan menggemaskan," komentar Gaby membuat Mahya menoleh cepat.
"Baru satu orang yang bilang begitu, biasanya saya terkenal karena angkuh dan pongah."
"Oh ya, kok gak kelihatan ya? Mungkin yang menilai kamu seperti itu perlu obat mata dan obat otak." Mahya hanya tersenyum kecil.
"Bentar, lanjut ke yang tadi."
"Ya, Islam itu agama yang kompleks menurut saya. Karena dalam Islam perkara kecil saja ada aturannya. Contohlah, masuk dan keluar kamar mandi. Ada aturannya yaitu masuk mendahulukan kaki kiri dan keluar mendahulukan kaki kanan ada doanya juga. Masuk ke dalam rumah dengan kaki kanan dan keluar dengan mendahulukan kaki kiri lalu ada doanya juga. Dan masih banyak lagi aturan dalam Islam yang di baliknya ada sebuah pelajaran yang tersirat." Mahya membenarkan duduknya.
"Apa karena itu kamu memilih Islam daripada agama lainnya?" Mahya tersenyum tipis sedikit bimbang, belum pernah menghadapi orang non Islam ini baru pertama kalinya. Dia sedikit ragu karena takut untuk salah menjawab.
"Kalau saya, jujur saja. Islam adalah agama yang diajarkan oleh orang tua saya. Jadi saya mengikuti langkah orang tua."
"Jadi, kalau orang tua tidak Islam kamu tidak akan memeluk agama Islam?"
"Saya tidak tahu, karena pada kenyataannya bahwa. Anak yang baru lahir itu dalam keadaan fitrah, entah nanti setelah orang tua mereka memberi warna. Entah warna Islam, Kristen, Hindu, Budha atau agama lainnya."
"Lalu bagaimana dengan orang yang pindah agama?"
"Itu hak mereka. Tapi kalau saya, saya sangat yakin dengan Islam. Maaf tidak bermaksud," kata Mahya menggantung.
"Tidak masalah, saya tuhu hal itu. Dalam agama saya juga diajarkan untuk menghargai agama orang lain." Mahya mengangguk dan tersenyum.
"Dlo, siapa ini?" tanya seorang perempuan berhijab hijau daun. Mahya merasa familiar dengan wajah perempuan itu. Dia mencoba mengingat-ingat, siapa tahu mengenalnya.
"Teman Mbak?" tanya perempuan berhijab hijau daun.
"Kania," perempuan itu mengenalkan dirinya.
"Mahya," jawab Mahya pelan.
"Kita satu kampus ya? kayaknya pernah melihat kamu." Mahya mengangguk, ingat bahwa gadis di depannya ini adalah salah satu anak BEM di kampusnya.
"Dla, terus apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kania dengan heran.
"Kamu gimana sih, Nia. Dia kan mau bimbingan skripsi, wajar kalau ada di sini."
"Kamu mau bimbingan?" tanya Kania dengan nada heran.
"Iya."
"Waw, tumben kali si Abang mau melayani di jam luar kerja." Mahya mengangguk lalu heran saat melihat Kania tertawa. Mahya berpikir, tadi Kania bilang 'Abang' berarti Kania adalah adik dari Pak Arkan? Atau jangan-jangan pikirannya beberapa waktu yang lalu benar, bahwa dosennya itu tidak lagi single, tetapi beristri. Astaghfirullah, kenapa sejak tadi pikiran demikian selalu muncul.
"Kamu orang pertama pertama yang mengunjungi rumah ini. Bahkan para dosen saja kalau ingin bertemu diajak bertemu di luar, tidak pernah ke rumah." Mahya mengangguk saja, toh tidak terpengaruh dengan ucapan itu. Baginya itu tidak ada yang spesial.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam dari luar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Mahya dan Kania bersamaan, sedang Gabriel hanya diam memainkan ponselnya.
"Dlo, ada tamu," kata seorang perempuan bergamis dan berhijab lebar.
Mahya ikut berdiri saat Kania dan Gabriel menjabat jangan perempuan paruh baya yang tak lain ibu Kania.
"Siapa namamu, Nak?" tanya ibu Kania.
"Saya Mahya," jawab Mahya dengan pelan.
"Ya sudah lanjutkan," kata Ibu Kania.
"Abang mana Um?" tanya Kania.
"Masih di depan mengeluarkan belanjaan."
"Biar Kania bantu, kasian Mahya udah menunggu sejak tadi." Kania berlari keluar.
"Iya," jawab Mahya membuat ibu Kania yang juga ibu Arkan itu mengerutkan keningnya.
"Ada perlu apa?" tanya Ibu Arkan.
"Mau bimbingan skripsi." Ibu Arkan tersenyum lalu pamit untuk ke belakang.
Mahya menoleh ke arah Gabriel, dia melihat Gabriel yang menoleh ke arah pintu lalu berjalan masuk ke dalam begitu saja. Entahlah, yang jelas Mahya sedikit terusik dengan tingkah aneh perempuan yang baru dia kenal itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Arkan saat masuk ke dalam rumah, sedikit terkejut dengan kehadiran Mahya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Mahya.
"Itu Bang, tadi Mahya katanya mau bimbingan." Ibu Arkan mengambil alih barang yang ada di tangan Arkan.
"Kamu Mahya?" tanya Arkan dengan nada cukup terkejut.
"Iya Pak." Mahya merasa heran.
"Dla, kamu gimana di Bang."
"Abang gak tahu Mi, Abang pikir Mahya dan gadis ini berbeda." Pak Arkan menaruh kantong plastik di dekat meja lalu dia menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Temani Abangmu, Kania." Kania hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Mahya.
Mahya memasang wajah serba salah merasa tak enak hati, tapi tunggu dulu tadi ibunya Pak Arkan bilang 'abangmu' jadi cewek cantik ini adalah adik Pak Arkan. Kok cantik ya? Iya, kalau ganteng jadi cowok bukan cewek.
"Santai saja, Abang orangnya suka begitu. Tapi aku kadang heran, bagaimana bisa perempuan di kampus pada jadi fans-nya." Mahya mengangguk dengan semangat.
"Saya juga heran," jawab Mahya lirih.
"Kamu berarti bukan salah satu fans, Abangku." Mahya menggelengkan kepalanya lalu dia menoleh ke arah Mahya dan Arkan bergantian.
"Kamu serius?"
"Iya, memangnya harus begitu mengidolakan Pak Arkan."
"Ya, semua perempuan sepertinya begitu."
"Saya tidak." Mahya menjawab dengan cepat, dia memang bukan termasuk ke dalam fans Arkan.
"Kalian membicarakannya seolah-olah saya tidak ada di sini."
"Biar gak ghibah, Bang." Mahya melirik ke arah Arkan yang menggelengkan kepalanya.
"Dan kamu, kamu yang sering menyelusup di kelas saya. Bukan?"
"Iya," jawab Mahya dengan jujur membuat Kania tergelak. Dia tahu Mahya perempuan yang terkenal dengan sifat angkuh dan sombongnya karena sangat tidak suka berinteraksi dengan orang lain. Tetapi, sepertinya penilaian itu harus diubah saat ini. Karena Mahya yang terkenal di kalangan anak kampus dengan Mahya yang ini sangat berbeda, gadis di sampingnya ini terlihat polos dan lugu.
"Apa maksudmu?" tanya Arkan.
"Tidak ada," jawab Mahya pelan.
"Lalu?"
"Saya hanya merasa ada diskriminasi saja, karena setiap saya mau bimbingan Pak Arkan selalu ada saja alasannya. Jadi saya sengaja konfrontasi langsung ke Pak Arkan dengan selalu menyusup ke kelas Pak Arkan."
Kania tergelak dengan ucapan polos dan jujur Mahya, dia sungguh tidak sanggup untuk berkomentar lagi. Di zaman seperti ini masih ada sosok jujur dan sepertinya sangat alim terbukti dengan selama ada Arkan Mahya menunduk tidak menatap Arkan sama sekali.
"Saya tidak berniat memungut kamu jadi anak bimbingan saya."
Mahya menegang sejenak. Dia tidak tahu maksud kalimat Arkan yang terkesan menusuk.
"Bang, yang halus sama perempuan." Kania menasihati kakaknya, karena dia tahu jika Mahya bisa saja tersinggung dengan ucapan kata 'memungut'.
"Kalau begitu saya minta maaf," kata Mahya dengan nada pelan dan tegas.
"Besok saya akan ke bidang akademik untuk meminta perubahan pembimbing skripsi." Mahya masih mencoba tegas meskipun nada suaranya mulai goyah.
"Tidak perlu, saya berubah pikiran." Mahya meremas kain yang ada di bawah tangganya. Dia merasa emosinya dipermainkan di sini.
"Bang," kata Kania dengan nada memperingati.
"Mahya," panggil Arkan.
"Iya Pak."
"Apa yang membuatmu mendatangi rumah saya?" tanya Arkan dengan nada santai.
"Kata Ayah saat saya saat mengeluh kemarin adalah bukan guru yang mencari muridnya tetapi murid yang mencari gurunya. Karena ilmu itu didapat dengan usaha bukan leha-leha."
"Mahya, kamu akan melakukan hal ini lagi suatu saat nanti?" tanya Pak Arkan membuat Mahya menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu Pak."
"Kenapa?"
"Karena setelah ini saya tidak mau lagi sekolah formil. Saya pikir ilmu yang saya dapat di sekolah formil sudah cukup," kata Mahya membuat Kania menoleh dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Kania.
"Saya mau menikah saja, mau mengaplikasikan ilmu yang di dapat." Mahya menjawab dengan malu-malu. Dia tidak tahu tapi yang jelas merasa nyaman di rumah ini. Mungkin karena cat yang sangat menenangkan menurutnya.
"Di mana rumahmu?" tanya Pak Arkan kepadanya. Mahya masih menunduk lalu dia menoleh ke arah Kania.
"Abang tanya kamu, Mahya?"
"Kenapa Bapak tanya rumah saya?"
"Mau ketemu Bapak kamu."
"Untuk apa? Jangan macam-macam Pak." Mahya menjawab dengan nada gusar. Dia menoleh ke arah Kania yang menahan tawa.
"Kamu segitu tidaksukanya sama Bang Arkan?"
"Bukan tidak suka, hanya saja aneh saja Pak Arkan menanyakan rumah Ayah."
"Abang mau melamar mungkin," kata Kania dengan nada bercanda.
"Jangan," kata Mahya dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Kania dan Pak Arkan bersamaan membuat Mahya membeku seketika.
----