
Umar Ibnu Khathab Radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan:
"Janganlah kalian memahalkan mahar, seandainya hal itu dapat memuliakan kalian di dunia dan akhirat, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan orang yang paling berhak melakukannya. Sesungguhnya tidaklah beliau memberi mahar kepada para isterinya dan tidak pula seorang dari putrinya diberi mahar lebih dari 12 uqiyah."
[Hadits Shahih, lihat "Irwaul Ghalil" no. 1927].
---
Mahya duduk di samping Sari yang sejak tadi mengikutinya. Sari pikir mungkin saja dia akan menemui Pak Arkan. Karena tadi Mahya memang mengaku mengenal Pak Arkan sebagai dosen pembimbing skripsinya. Tapi pada kenyataannya, Mahya tidak ada niat sedikitpun untuk menemui dosennya atau sudah meningkat jabatannya menjadi calon suami. Arr, rasanya Mahya ingin tersenyum sendiri memikirkan akan hal itu.
"Mbak, suaranya merdu ya." Mahya hanya mengangguk, dia lebih antusias mendengar kajian ini dari pada mengikuti kelas Pak Arkan. Karena menurutnya memang berbeda justru sangat jelas dengan Pak Arkan yang di kelas.
"Nanti kalau kuliah aku bakal ambil kelas Ustadz Arkan." Mahya menoleh lalu tersenyum tipis, dia tidak terpengaruh akan hal itu. Nanti, jika Sari jadi mengambil kelas Pak Arkan dia sendiri akan berkomentar bagaimana membosankan kelas Pak Arkan. Tapi untuk saat ini dia tak akan membuka kartu itu, supaya dia tidak dianggap menjatuhkan idola orang.
"Kata Mas Ahmad, yang melobi ustadz ini Bang Aidan. Berarti Bang Aidan kenal sama dosen Mbak Mahya?" Mahya menoleh, dia tidak pernah berpikir kalau yang melobi Pak Arkan adalah kakaknya, dia sungguh tidak menduga sama sekali.
"Bisa jadi," kata Mahya pelan lalu memberi kode dengan jari telunjuk yang ada di depan bibirnya supaya Sari diam dan mendengarkan kajian. Selain itu dia juga sedang tak ingin direcoki.
Kajian berjalan dengan lancar, pukul sembilan tepat kajian ditutup. Memang waktunya tak sepanjang biasanya karena hari ini ada di bulan Ramadhan yang waktu terpotong dengan shalat tarawih.
Mahya masih menunggu sang kakak di dekat gerbang yang menuju ke rumahnya. Memang di masjid ini ada tiga gerbang di setiap mata angin menuju masjid. Mahya menggerakkan kakinya bosan sedangkan Mbak Yuni yang ada di sampingnya bermain ponsel.
"Kenapa bosan?" tanya Mbak Yuni.
"Iya, kok Abang lama sih."
"Masih ngobrol mungkin. Ini tadi aku baru chat Mas Ahmad suruh buru-buru." Mahya menoleh ke arah Mbak Yuni, bukan rahasia pribadi lagi tentang hubungan dua orang itu, Mas Ahmad dan Mbak Yuni.
"Kapan Mbak mau diresmikan?" tanya Mahya dengan nada menggoda, dia memang cukup dekat dengan Mbak Yuni. Karena dulu waktu kecil dia selalu ikut bermain dengan Mbak Yuni dan Iwan.
Ah, Iwan. Nama itu cukup berpengaruh dulu untuknya. Iya, anak Pak Ipin itu bisa dibilang cinta pertama Mahya kecil, karena dengan lelaki itu dia dekat setiap saat selain dengan sang Abang dan juga Mbak Yuni dan Mas Ahmad.
Iya, Mbak Yuni, Iwan, Bang Aidan dan Mas Ahmad adalah satu umuran, jadi saat Mahya bermain dengan mereka maka Mahya menjadi yang paling kecil dan paling dimanja. Oleh karena itu, Mahya tidak dekat dengan anak seumuran.
"Enggak tahu, kamu sendiri kapan diresmikan. Mbak dengar Iwan balik kemarin." Mahya hanya tersenyum tipis.
"Mbak, aku dan dia gak ada hubungan. Memang dua orang tua sempat ingin menjodohkan tapikan dia gak mau karena suka sama perempuan lain." Mahya menjawab dengan santai, toh semua itu tidak berpengaruh apapun lagi untuknya. Karena dia sudah memiliki calon suami yang lebih berpotensial meskipun dia belum mengenal secara rinci tapi dia sudah bisa menilai semua itu.
"Tapi tetap saja dia belum menikah dengan cewek itu," kata Mbak Yuni. Mahya hanya terkekeh, bagaimana mau menikah jika yang disukai adalah perempuan yang memiliki ikatan dengan sahabatnya sendiri. Iya, Iwan itu suka sama Mbak Yuni tetapi Mbak Yuni suka sama Mas Ahmad. Sudah lengkap bukan?
"Siapa tahu itu hanya alasan dia supaya kamu tetap melanjutkan kuliah?" Mahya terkekeh, lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mbak ini nyata. Dan Insya Allah Mahya gak akan menikah dengan lelaki itu." Mahya mengatakan dengan tegas, seolah dia tahu saja takdir yang ada di depan mata. Karena kadang yang sudah di depan mata bisa lenyap tanpa tersisa tanpa kita duga, dan Mahya saat ini sedang melupakan fakta itu.
"Oh ya, ada syukuran apa memangnya lusa? Kok dapat makanan dari orang tua kamu."
"Walimah Mbak." Mahya menjawab dengan jujur.
"Siapa yang menikah? Kamu?" Mbak Yuni justru mengejeknya, dia tak percaya dengan ucapan jujur Mahya. Kadang memang lucu pola pikir manusia.
"Iya, lusa Mahya nikah." Aku Mahya dengan terkekeh geli. Dia mengatakan kejujuran dengan nada bercanda tapi pada kenyataannya ada keseriusan di dalamnya.
"Iya, lusanya bakal panjang. Entah lusa tahun keberapa?" Mahya tertawa kecil mendengar ucapan Mbak Yuni yang seolah tak percaya dengan ungkapan jujurnya.
"Ih, Mbak Yuni gak percaya."
"Kamu serius." Mahya mengangguk dengan pelan sambil tersenyum.
"Jangan bilang kamu menikah dengan Iwan." Mahya langsung melotot, saat dia hendak menjawab Bang Aidan dan Pak Arkan berdiri di dekat gerbang dan memberi kode ke arah Mahya.
"Mbak Yuni gitu, udah aku pulang dulu. Terima kasih sudah menemani menunggu Abang. Itu di sana ada Pangeran berkemeja merah yang siap mengantar tuan putri. Assalamualaikum." Mahya beranjak menuju sang kakak dan calon suami. Tetapi, Mahya baru beberapa langkah dia melihat sang calon suami pergi lebih dulu. Mahya menunduk lalu melanjutkan perjalanan menuju ke sang kakak.
---
Langit tampak cerah dengan sang surya bersinar dengan terang, tak ada kabut ataupun awan hitam yang menghalanginya sang surya untuk berbagi kehangatan. Suara binatang liar terdengar bersahutan, entah itu kumbang atau burung yang berterbangan.
Kemarin kedua keluarga sepakat untuk membagikan sarung dan hijab lebar sebagai cenderamata bentuk syukur dan bahagia kedua mempelai yang sudah mengumumkan pernikahannya.
Mahya tersenyum sesekali digodok oleh sepupunya.
"Ya, minta mahar apa? Kamu beneran minta pesawat kayak waktu kecil kamu bilang?" Mahya merona mendengar hal itu, dulu saat menghadiri pernikahan dia sempat bertanya kepada sang kakak sepupu. Dia bertanya mahar itu apa dan sang sepupu menjawab hadiah dari mempelai laki-laki khusus untuk mempelai perempuan sesuai dengan keinginan sang mempelai perempuan. Dan kala itu Mahya masih begitu polos, dia tidak tahu sama sekali akan hal itu dan dengan santai dia mengatakan bahwa dia nanti kalau mau menikah akan meminta mahar pesawat terbang, biar bisa pergi kemanapun tanpa kesulitan kehabisan tiket.
Asal mula keinginan Mahya itu sederhana, dulu saat sang Kakek yang tinggal di Medan jarang sekali berkunjung ke rumahnya, selalu memberikan alasan kehabisan tiket pesawat karena mendekati hari raya idul Fitri. Oleh sebab itu, Mahya begitu ingin memiliki pesawat sendiri supaya tidak bergantung dengan pesawat umum yang tak bisa dia gunakan kapan saja.
"Mbak," kata Mahya merajuk.
"Aku juga penasaran, minta mahar apa?" tanya Dina, sepulu yang sesuai dengan Mahya.
"Rahasia, nanti Mbak tiru." Mahya menjawab dengan santai sambil kembali membungkus kado di depannya.
"Ini kok aneh ya?"
"Aneh gimana Mbak?" Mahya masih sibuk, tetapi dia juga masih meladeni pertanyaan sang sepupu. Orang tua Mahya memang anak bungsu semua jadi semua sepupu dia panggil Mbak dan Abang tidak peduli tua atau muda.
"Ya kan biasanya, pengantin yang dapat hadiah. Dla ini pengantin yang memberi hadiah." Mahya mengangguk setuju. Tapi memang ini ide dia sih, bukan tanpa sebab dia melakukan ini. Seperti yang sudah dia ungkapkan bahwa ini adalah bentuk bahagia dua mempelai.
"Ya kan anti mainstream." Mahya menyahut dengan santai. Lalu dia beranjak dari duduknya saat dia mendengar ponselnya berbunyi.
Mahya melangkah, menuju kamarnya setelah berpamitan kepada saudaranya karena dia akan mengangkat telepon.
Mahya masuk ke dalam kamar, dia duduk dan menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Mahya mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam warahmatullah, Mahya. Kamu kok kejam sekali sih." Suara Zahra terdengar di ujung sana. Mahya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Mahya dengan santai, dia tahu alasan Zahra berteriak tapi dia seolah tidak tahu.
"Kamu kenapa memberikan informasi pernikahan mendadak?" suara Zahra kesal.
"Iya sih, sebenarnya rencana pernikahan ini diajukan makanya aku memberi info terkesan mendadak. Padahal sebenarnya tidak." Mahya mengatakan sejujurnya. Setelah rencana pernikahan ditentukan saat acara lamaran waktu itu, Mahya lalu berpikir tentang kuliahnya. Lalu dia ingat ucapan Pak Arkan tentang dia boleh bimbingan di manapun dan kapanpun kalau dia sudah berstatus halal untuknya, jadi dia minta kepada sang ayah untuk berembuk kembali dan pilihan ada di tanggal tujuh belas Ramadhan.
Memang harapan Mahya yang menikah di tanggal akhir Ramadhan tidak terpenuhi, tetapi paling tidak pada tanggal tujuh belas Ramadhan adalah tanggal di mana malam ayat Al-Quran diturunkan.
"Oh begitu, memangnya alasannya apa?" tanya Zahra.
"Karena aku pingin ikut wisuda gelombang pertama, jadi aku nanti akan merecoki Pak Arkan biar diizinkan bimbingan." Mahya tersenyum, lalu dia mengubah posisi dudukku.
"Terus, aku gak bisa ikut dong." Mahya tersenyum, memang itu yang dia harapkan karena dia tak ingin Zahra tahu tentang sosok suaminya. Bisa gawat kalau itu terjadi sebelum dia wisuda.
"Nanti di kota bakal mengadakan resepsi, sebagai bentuk pengumuman pernikahan kok. Jadi kamu aku undang yang acara di sana saja. Bagaimana?" Mahya mencoba mencari solusi.
"Baiklah, soalnya besok aku ada kuis. Dan kuliah sore." Zahra tampak bersungut-sungut menjelaskan.
"Iya, gak papa. Lusa kita berjumpa lagi Insya Allah." Mahya dengan sabar mengatakan itu, dia tersenyum geli. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah sahabatnya jika dia menikah dengan idolanya. Sungguh tak pernah dia membayangkan akan semua itu, apa lagi Mahya sempat bilang bahwa dia tidak tertarik dengan dosennya itu. Sungguh Allah maha membolak-balikkan hati.
"Baiklah, sudah dulu ya. Aku ada kelas, oh ya. Kemarin adalah hari patah hati sekampus." Mahya mengangguk lalu dia mengerutkan keningnya.
"Bagaimana bisa?"
"Nanti deh ceritanya, semoga lancar. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Mahya menatap layarnya yang sudah menghitam. Dia tidak mengerti dengan ungkapan terakhir sahabatnya.
"Hari patah hati sekampus? Apa maksudnya?" Mahya mengatakan itu seorang diri.
---