Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Dua Puluh Enam



Dikatakan oleh istri tercinta beliau, 'Aisyah radhiyallahu 'anha,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ


"Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima'), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya."


(HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174).


---


Pagi yang terasa berbeda dari biasanya, pagi ini tampak berkali lipat lebih indah kala diawali dengan kebersamaan dengan orang-orang yang disayangi. Mahya mengambil napas potong-potong, dia berhenti di depan gerbang rumah.


"Kamu menang, kamu boleh meminta hadiah," kata Arkan dengan wajah masih datar, selain itu juga tak ada napas yang ngos-ngosan seperti yang dialami oleh sang istri.


"Mas, kok gak capek. Aku saja udah kesulitan untuk bernapas." Mahya duduk di teras setelah menyusul sang suami yang berjalan lebih dahulu.


"Makanya sering olahraga, jadi bisa dengan mudah mengatur pernapasan." Mahya menoleh ke arah sang suami.


"Ambil napas banyak-banyak, lalu hembuskan perlahan. Ulangi hingga beberapa kali biar napasnya kembali teratur." Mahya mengikuti instruksi sang suami, dia mengambil napas banyak hingga dadanya mengembang lalu dia mengeluarkan dengan pelan pelan hingga berulang-ulang.


"Alhamdulillah," kata Mahya dengan ringan, dia lalu memberi senyum ke arah sang suami yang hanya menatapnya dalam diam.


"Kenapa Mas?" tanya Mahya.


"Gak papa." Arkan menjawab lalu berdiri, dia mengulurkan tangannya mengajak Mahayana untuk beranjak dari duduknya. Dengan senyum malu-malu Mahya menaruh tangannya di atas telapak tangan Arkan lalu dia mulai kembali berdebar kala tangan Arkan menggenggam lembut tangannya.


"Mas, aku bau." Mahya berkata dengan lirih, lalu dia segera melepas tangannya dari genggaman sang suami kala melihat sang ibu mertua.


"Kalian dari mana? Mengapa berkeringat seperti itu?" Arkan sedikit salah tingkah membuat Mahya menunduk malu.


"Selesai lari Umi," jawab Arkan lalu berpamitan untuk masuk membuat Mahya semakin salah tingkah karena ditinggal begitu saja oleh sang suami.


"Kenapa masih di situ, ayo masuk." Arkan menoleh ke arah Mahya kala dia tak melihat sang istri mengikuti langkahnya. Arkan memang tak banyak bicara, tapi bukan berarti dia tidak mengerti sikap sang istri.


"Bang, nanti antar Kania ke polres." Arkan menoleh ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu, wanita yang menjadi pelantara ulyang ditunjuk Allah supaya dia dapat melihat dunia.


"InsyaAllah." Arkan menjawab tanpa menanyakan kepastian dari hal yang diinginkan sang ibu. Dia menarik sang istri untuk segera masuk.


"Kania kenapa?" tanya Mahya kala keduanya sudah di dalam kamar.


"Mungkin Umi sudah luluh sehingga diizinkan membuat SIM." Mahya mengangguk lalu melepas mukenanya dan memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Kalau setiap hari kita berlarian, berarti setiap hari juga mukena harus dicuci." Mahya merapikan pakaian di dalam keranjang lalu dia menoleh ke arah sang suami yang masih duduk. Dia bisa merasakan kekalutan lelaki itu dalam diamnya.


"Mas," panggil Mahya lalu duduk di samping Arkan. "Ambil positifnya saja," Mahya kembali berujar kala sudah mendapatkan perhatian dari sang suami.


"Mas tidak bisa banyak bertindak, ada beberapa batasan yang tak bisa Mas lewati jika tentang Rizal dan Kania jika Abi sudah menyetujui." Arkan mengatakan itu lalu tersenyum tipis.


"Kamu tadi beli jeruk?" tanya Arkan membuat Mahya yang menatapnya kasian berubah mengerutkan keningnya heran.


"Kapan?" tanya Mahya.


"Ya Mas gak tahu, makanya Mas tanya." Mahya semakin dibuat bingung,dan ekspresi berpikir dari Mahya membuat Arkan cukup bersyukur karena dirinya bisa mengalihkan pikiran dan perhatian sang istri, dia tidak tahu sampai kapan tapi yang pasti untuk saat ini cukup seperti ini.


"Mahya gak ada beli jeruk," kata Mahya.


"Enggak ada?" tanya Arkan masih datar, tak ada wajah berubah dari Arkan.


"Enggak, memangnya Mas mau dibelikan? Nanti deh pulang dari kampus." Arkan menggelengkan kepalanya.


"Bau rasa jeruk di sini." Kalimat Arkan membuat Mahya mengkerut. Dia menoleh ke sekeliling, mencoba mencari buah yang dimaksud sang suami.


"Bukan bau jeruk, tetapi bau rasa jeruk."


"Maksudnya?"


"Bau asem." Mata Mahya langsung membola lalu dia segera berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia sangat malu bau tubuhnya tercium oleh sang suami. Kalau boleh jujur dia memang mencium bau tidak sedap itu sejak tadi tapi dia abaikan. Tapi tunggu dulu, kalau dia bau berarti sang suami juga. Jadi, suaminya sedang menggodanya? Ah, dia tidak sadar. Bagaimana mau sadar kalau wajahnya tetap datar seolah tahu sedang menggoda. Inilah rasanya memiliki suami tak banyak ekspresi.


---


Langit biru membentang, sang pijar dengan sabar beredar menyinari sebagian permukaan bumi. Angin semilir membelai memberikan kesejukan dari rasa gerah dan pemandangan di depan terlihat lebih asri dengan pepohonan hijau dan tinggi menjulang.


Mahya berjalan keluar dari ruang dosen, dia baru saja melakukan bimbingan selanjutnya dan berhasil meminta kelonggaran sehingga lusa dia sudah bisa daftar sidang. Dia mengubah beberapa data sehingga dia tidak perlu melakukan observasi ulang, hal ini tadi membuat Arkan sedikit terkejut karena dia tidak menduga jika ternyata istri sudah menyiapkan dua kemungkinan dalam skripsi.


Mahya tersenyum lalu dia berjalan untuk menggandakan draf skripsinya lalu mengajukan tanda tangan dan dia akan mengajukan sidang hari ini juga. Dia tersenyum, dia berharap masih ada waktu untuknya sidang sebelum Ramadhan usai.


Berkutat dengan skripsi bukan hal mudah bagi Mahya, dia mengerjakan skripsi sejak semester enam hingga semester tuju usai. Dia memang baru bimbingan akhir-akhir ini tetapi dia sudah menyiapkan beberapa bahan sejak lama. Sejak awal Mahya memang sudah merencanakan semuanya dia ingin segera lulus dan menerapkan apa yang dia miliki, tapi dengan tanda garis dibawah kalimat bahwa dia ingin menerapkan semuanya untuk keluarga.


Setelah menyelesaikan segala persyaratan yang diminta, Mahya mengisi dua form dan di form ke dua dia masih bisa menentukan sidang skripsinya. Dia tersenyum lalu dia mengambil di hari paling dekat, bukan mau sombong dengan mengambil hari terdekat tetapi dia memang sengaja melakukan hal ini supaya dia terlepas dari beban dengan cepat dan masalah presentasi bisa dia pikirkan dengan cepat pula.


"Gak kecepatan ini? Ambil saja di jam ini." Mahya menggelengkan kepalanya.


"Enggak Mbak, saya pingin cepat lulus." Mahya mengatakan dengan tegas lalu mengajukan form itu.


"Baiklah, ditunggu prosesnya. Semoga sukses."


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Mahya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Sedang apa Mbak?" tanya Rizal sambil mengawasi sekeliling.


"Baru daftar sidang, kamu mau ke mana?" Mahya menunduk.


"Mau ke bagian akademik melihat jadwal. Ya sudah, aku duluan Mbak. Dari pada nanti jadi pusat perhatian." Mahya mengangguk lalu dia berlalu setelah menjawab salam dari Rizal.


"Bicara apa sama Rizal?"


"Astaghfirullah, kamu buat aku kaget." Mahya berseru kesal pada sahabat yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Gak usah ngeles, kamu tadi bicara apa?" tanya Zahra dengan curiga.


"Dia tanya sedang apa? Lalu aku jawab mendaftar sidang dan akhirnya kembali bertanya mau ke mana dia jawab ke bagian akademik dan sudah." Mahya menjawab dengan jujur, lalu dia berjalan meninggalkan Zahra.


"Maya, hai kehidupan!" Mahya semakin meningkatkan kecepatan berjalan. Dia tidak suka namanya dijadikan gurauan.


"Mahya!" seru Zahra kencang dan kesal. Mahya menoleh lalu berhenti melihat Zahra yang cukup tertinggal jauh.


"Ada apa?"


"Suami kamu bukan Rizal, bukan? Karena nama depan Rizal juga Arkana." Mahya melebarkan dua matanya, ia terkejut dengan sebuah informasi yang baru saja dia terima. Memang bukan sesuatu yang rahasia tentang nama tetapi dia tak menduga jika secepat itu Zahra menyadarinya.


"Bukan. Tenang saja aku bisa memberi jaminan kalau sampai detik ini dia masih single, itupun kalau dia tidak backstreet dari keluarganya." Kalimat yang ungkapan Mahya bukan membuat dia terhindar dari kecurangan Zahra justru membuat Zahra semakin cerita dengannya.


"Dari mana kamu tahu?"


"Dari sumber yang dapat dipercaya." Mahya menjawab lalu berjalan dengan santai menuju ke arah taman.


"Aku serius," kata Zahra masih belum puas.


"Dari sumber yang akurat." Mahya mengambil duduk di sebuah bangku. Dia mengamati wajah tak terima dari Zahra.


"Kamu yakin gak ada hubungan?" tanya Zahra masih belum usai. Mahya menghela napas, lalu dia menarik tangan sahabatnya supaya mengambil duduk di sebelahnya. Mahya masih bungkam, menikmati kebiruan sang langit yang nyaman untuk dipandang dan juga menikmati kesejukan angin yang berhembus menelusuri setiap celah.


"Aku gak yakin kalau istri Pak Arkan itu si cantik Kania."


"Mengapa?"


"Karena aku sering melihat Kania pergi berdua dengan Rizal, anak BEM yang wajahnya mirip Pak Arkan."


"Bisa saja Rizal adik Pak Arkan."


"Kalau mereka adik, gak mungkinkan kalau Rizal bakal mengenalkan diri di depan Pak Arkan waktu workshop kemarin."


"Iya juga sih. Tapi siapa tahu mereka saling kenal tetapi gak saling tegur di kampus."


"Itu bisa terjadi, tapi sepertinya Pak Arkan bukan tipe lelaki yang seperti itu jadi kemungkinan besar itu tidak mungkin terjadi."


"Kamu kenal banget ya sama Pak Arkan."


"Iya, dulu Pak Arkan itu teman kakakku. Tapi sejak kakakku menikah aku tak pernah bertemu lagi dengan Pak Arkan dan bertemu waktu kuliah ini."


"Sudah, ke perpustakaan yuk!"


"Ayuk!"


Mahya dan Zahra saling menoleh satu sama lain, dia bukan mau menguping tetapi dia mendengar suara itu secara tidak sengaja. Hal itu disebabkan oleh kursi taman yang saling membelakangi. Mahya menghela napas, dia tidak yakin dengan apa yang sudah terjadi ada setitik keraguan dan ketakutan tersendiri. Tetapi dengan sisa-sisa keyakinan yang dia miliki dia mencoba menghalau segalanya.


"Emang ada benarnya yang mereka bicarakan." Zahra menghela napas, lalu dia menoleh ke arah Mahya. "Bagaimana pendapatmu?"


"Jangan diteruskan nanti kita malah ghibah atau malah jatuh ke fitnah." Mahya tidak memberikan komentar apapun, dia menjaga diri dari pembicaraan yang sia-sia.


"Astaghfirullah puasa," kata Zahra.


"Bulan Ramadhan itu bukan sekedar bulan musiman, yang apabila Ramadhan kita melakukan banyak kebaikan dan menghindari perkara sia-sia dan dusta. Tetapi, di bulan Ramadhan ini kita jadikan bulan tarbiyah. Di mana kita mencoba memperbaiki diri dan melakukannya sepanjang sisa hidup kita. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja."


"Iya-iya ustadzah." Mahya menggelengkan kepalanya lalu dia kembali menatap langit.


"Kamu cukup percaya bahwa Kania bukan istri Pak Arkan dan Rizal masih single. Jangan berpikir jauh, aku juga akan mendoakan supaya kamu berjodoh dengan Rizal." Mahya memejamkan matanya, dia mengulas senyum tipis.


"Dari mana kamu tahu?"


"Kania dan Rizal adalah saudara kembar dan mereka adalah adik tiri suamiku." Mahya mengakui kebenaran, dia tidak ingin Zahra salah paham dengan sosok suami yang dia sembunyikan. Dia tidak ingin Zahra mempertanyakan tentang hubungan diantara keduanya sehingga Mahya menyembunyikan fakta seperti ini, dan diam dalam kubangan berita yang tak masuk akal.


"Jadi mereka bersaudara?" tanya Zahra menetralkan keterkejutan yang menimpanya, tetapi sepertinya tidak bisa.


"Iya."


"Lalu Kania dan Pak Arkan?" tanya Zahra penuh antusias. Mahya menoleh lalu mengangkat bahu, kalau boleh jujur dia hanya mencoba bersikap cuek tetapi aslinya di dalam dada dia sudah tidak memiliki ketenangan sama sekali.


---