
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni." (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
---
Sesungguhnya Allah mengkhususkan bulan Ramadan di bandingkan dengan bulan yang lainnya karena keutamaan dan keistimewaan yang banyak. Sebagaimana firman Allah Taala :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain" (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Di dalam bulan Ramadhan ada dua keistimewaan yang pertama adalah bulan Ramadhan adalah bulan di mana kitab suci Al-Quran diturunkan. Dengan turunnya Al-Quran maka ada sebuah keutamaan yaitu di mana manusia mendapatkan secercah cahaya menuju kebenaran. Karena Al-Quran adalah kitab suci yang menyempurnakan kitab suci sebelumnya.
Dan keutamaan kedua adalah puasa satu bulan penuh. Puasa pada hakikatnya bukan sekedar manahan lapar dan haus, tetapi puasa adalah bentuk penguji diri. Selain itu puasa banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh kita, dan masih banyak lagi hikmah di balik puasa.
Puasa di bulan suci Ramadhan adalah salah satu rukun Islam. Oleh sebab itu, bulan Ramadhan menjadi bulan yang spesial di bandingkan bulan yang lainnya.
Mahya berdiri di depan cermin, dia baru saja mengenakan hijabnya, dia akan bangun dan menyiapkan makan sahur. Di antara salah satu sunah Nabi saat berpuasa adalah mengakhiri waktu sahur.
Mahya keluar dari kamarnya, dia menyalakan lampu ruang tengah lalu melangkah ke dapur. Mahya menghangatkan makanan yang sudah di sediakan, tidak lupa dia membuatkan minum untuk keluarganya.
Tiada terasa Ramadhan begitu cepat berlalu, berjalan tanpa mampu dihentikan. Mahya menaruh makanan yang sudah dihangatkan ke atas meja. Lalu dia berjalan ke kamar sang adik untuk membangunkan. Di pintu ruang tengah di berpapasan dengan sang Kakak.
"Mau ke mana?"
"Bangunin Adik."
"Dia menginap di sekolahnya." Mahya menghela napas pelan lalu mengangguk begitu saja tak lama ayah dan ibunya bergabung bersama mereka untuk makan sahur.
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa, bedanya puasa orang Muslim dengan Ahli Kitab adalah makan sahur. Oleh sebab itu makan sahur adalah salah satu komponen yang penting dalam bulan Ramadhan.
Dalam sebuah artikel pernah dijelaskan, bahwa sahurlah meski hanya minum air putih. Dan bagi orang Indonesia pada umumnya kalau belum makan nasi berarti belum makan. Hal itulah yang menjadi patokan orang Islam Indonesia mayoritas, makan sahur berarti makan nasi, sayur, lauk dan minum yang manis-manis. Sama halnya makan seperti biasa.
Setelah menyelesaikan makan sahur, Mahya membereskan meja makan sedang kakak dan ayahnya ada di ruang tengah sedang saling menyimak bacaan Al-Quran. Mahya tersenyum mendengar suara sang kakak yang melafazkan ayat Allah dengan Tartil.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu Ika kepada Mahya.
"Adem banget kalau mendengar suara Abang."
"Iya, suara Abangmu memang bagus. Nanti kalau kamu punya anak, kamu juga harus membiasakan kedekatan ayah dan anaknya. Entah mengaji bersama atau berangkat ke masjid bersama. Pokoknya selalu beri waktu anak untuk ibadah bersama ayahnya, untuk membangun hubungan yang baik. Lelaki kadang memang sedikit tidak peka, jadi sebagai perempuan kamu harus bersabar dan membangkitkan kepekaan lelaki dengan melakukan kegiatan rutin yang akan dihafal oleh lelaki." Mahya terharu, entah mengapa sejak pulang dan mendengar banyak wejangan dari sang Ibu membuat dia menjadi cengeng.
"Dulu waktu menikah, bagaimana cara Bapak dan Ibu bertemu?" tanya Mahya.
"Ibu dijodohkan. Padahal waktu itu ibu masih baru mau masuk SMA." Mahya memang tahu kisah cinta kedua orangtuanya, ibunya lebih muda sembilan tahun dari ayah. Karena keduanya dijodohkan oleh orangtuanya, kakek Mahya.
"Terus bangun chemistry berdua bagaimana, Bu?"
"Entahlah, waktu itu berjalan begitu saja. Dan setahun selanjutnya lahir Abangmu." Mahya mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring.
"Ya sudah, sana persiapan shalat. Ibu mau ikut Bapak ke Masjid." Mahya mengangguk lalu dia masuk kembali ke dalam kamar, dia akan persiapan shalat karena adzan sudah berkumandang.
----
Mahya berjalan membereskan tempat tidurnya, rutinitas yang dilakukannya tidak ada yang berubah. Hanya beberapa pekerjaan berkurang dan berganti jam.
Setiap pagi setelah membersihkan rumah dan membersihkan diri Mahya akan melakukan shalat Dhuha dan membaca beberapa ayat Al-Quran. Mahya memiliki sebuah idealisme harus khatam Al-Quran paling tidak satu kali dalam satu bulan. Maklum, Mahya adalah pribadi yang mudah lelah, napasnya tidak panjang jadi jika membaca Al-Quran terlalu lama maka suaranya akan tersendat-sendat.
Setelah membaca Al-Quran biasanya dia membaca atau menulis beberapa hal sambil menunggu waktu untuk tidur siang. Seperti biasanya, Mahya selalu membiasakan diri tidur sebelum waktu shalat Dzuhur tiba. Selain karena itu termasuk sunah, dia juga sudah terbiasa dengan hal itu.
Setelah bangun tidur Mahya membersihkan diri dan melakukan sholat Dzuhur beserta shalat sunah yang mengiringinya. Mahya kembali berkutat dengan Al-Quran.
Menjelang waktu shalat Asar Mahya beranjak menuju dapur, dia akan menyiapkan beberapa bahan masakan. Dia akan memasak nanti setelah dia melaksanakan shalat Asar dan berdzikir sore.
Mahya mengelap tangannya setelah dia mencuci panci. Dia tersenyum melihat hasil masakannya. Sore ini Mahya masak makanan sederhana. Dia membuat urapan, sayur tumis kentang dan udang dan satu menu spesial yaitu gurami asam manis.
Mahya melihat penuh takjub karyanya, dia lalu menoleh ke arah sang ibu yang sedang membuka lemari es.
"Ya, melon yang kemarin sudah habis?" tanya Ibu Ika kepada putrinya yang tampak nyengir. Bukan rahasia lagi di wilayah rumah itu, jika anak gadis Pak Haki adalah pecinta melon. Jika sudah mendapatkan buah hijau itu dia sudah hampir melupakan makanan lainnya.
"Maaf Bu, semalam Mahya makan setelah shalat tarawih." Mahya mengaku hal yang dia lakukan semalam.
"Kamu habiskan separuh?" tanya Ibu Ika sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Enggak Bu, sama Abang dan Adik kok."
"Bang?"
"Apa?" Mahya duduk di sebelah sang kakak.
"Anterin ke toko buah yang diujung gang."
"Mau ngapain?"
"Mau tanggungjawab, Bang. Kan semalam kita menghabiskan separuh buah melon persediaan Ibu."
"Abang hanya makan beberapa potong, kamu yang banyak."
"Tetap saja Bang, kita makannya berdua." Mahya menutup dengan cepat laptop sang kakak lalu menarik tangan sang kakak.
---
Mahya berjalan menuruni motor sang kakak, dia menatap sendu toko yang ada di depannya. Bohong kalau Mahya tidak letih dan lemas, karena tidak ada orang puasa yang tidak lapar. Tetapi tinggal bagaimana setiap orang menyikapi.
"Bang kok tutup?" kata Mahya dengan nada merajuk.
"Ya Abang gak tau, Dek."
"Abang," kata Mahya masih merajuk. Entahlah, mungkin faktor anak perempuan satu-satunya membuat dia kadang manja tidak ketulungan.
"Ayo naik, kita coba ke swalayan yang ada di jalan besar. Siapa tahu di sana ada buah melon." Mahya menoleh ke arah sang kakak.
"Tapi saja di sana mahal. Mahya gak mau, udah mahal buahnya gak fresh."
"Kok gak fresh sih Dek. Di sana malah segar-segar."
"Iya, karena didinginkan." Mahya menjawab dengan sewot lalu dia naik kembali di jok belakang sang kakak.
"Kita putar Bang, sambil menunggu adzan magrib." Bang Aidan hanya mengangguk, menuruti kemauan sang adik. Dia juga merindukan kebersamaan dengan sang adik. Dulu kala dia masih remaja, dia dan adiknya ini sering naik sepeda bersama-sama di setiap setelah subuh dan asar.
"Bang, kenapa cowok itu kebanyakan gak peka?"
"Cewek aja yang gak ngerti kalau cowok peka dengan cara yang berbeda."
"Beda gimana? Orang tetap gak peduli gitu." Mahya yang duduk di belakang masih tak mau kalah.
"Kamu sedang membicarakan siapa?"
"Enggak tahu." Mahya menjawab dengan cepat.
"Bang, Bang. Dipanggil pak Ipin." Mahya menarik baju sang kakak lalu menepuk bahu dengan cukup kencang karena sang kakak tidak juga mengindahkan ucapannya.
"Itu mobil siapa, Dek?"
"Berhenti Bang, dipanggil Pak Ipin." Bang Aidan menghentikan motornya di pinggir jalan. Mahya langsung turun dan berkata. "Mahya mau ke Pak Ipin dulu."
Mahya berjalan dengan jarak yang cukup jauh karena sang kakak tak jua berhenti sejak tadi. Rumah Pak Ipin hanya berkisar empat rumah dari rumah Mahya.
"Assalamualaikum warahmatullah, Pak Ipin."
"Waalaikumsalam, aku pikir tadi kamu tidak mendengar." Mahya hanya tersenyum canggung. Pak Ipin salah satu tetangga yang begitu dekat dengan keluarga Mahya, selain karena masih saudara jauh juga karena pak Ipin begitu menyukai Mahya, maklum dia tidak memiliki anak. Dulu sempat mau besanana sama keluarga Mahya tapi sayang anak bungsunya yang umurnya dua tahun di atas Mahya malah menikah dengan pacarnya. Sedang anak tengahnya yang dulu begitu dekat dengan Mahya hingga saat ini belum ada kepastian, sibuk dengan pekerjaannya. Membuat baik keluarga Mahya atau keluarga pak Ipin tidak jadi meneruskan.
"Bapak dengar dari Bapakmu kalau kamu mau lamaran, Ya?" Mahya menunduk malu dengan pertanyaan atau pernyataan Pak Ipin.
"Kamu sudah besar," kata Pak Ipin lagi dengan nada pelan.
"Iya Pak, doakan semoga lancar."
"Iya, Aamiin."
"Itu Bu Nian tadi buat kolak untuk ke masjid, mau ngantar ke rumah kamu belum sempat. Kamu bawa sekalian ya."
"Wah, terima kasih Pak Ipin."
"Ayo masuk," kata Pak Ipin. Namun Mahya berhenti saat melihat Iwan, anak kedua Pak Ipin berdiri di teras.
"Saya tunggu di sini saja." Mahya mengatakan itu dengan pelan, lalu dia menoleh ke arah sang kakak yang ternyata sudah tidak ada. Mahya ditinggal.
"Ya sudah, Bapak punya melon buat kamu. Kemarin Iwan bawa empat lumayan besar, katanya inget kamu pas lihat buah melon yang ranum." Mahya tersenyum malu. Dia lalu membalikan badan saat Pak Ipin masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin berbincang dengan Iwan, bukan karena tidak mau, tetapi dia malu. Selain itu, dia tidak ingin berkhalwat dengan lelaki yang bukan mahramnya.
---