
Allah Ta'ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu."
(QS. Al Baqarah: 185)
---
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh maghfirah, bulan penuh pengampunan. Di mana setan-setan dibelenggu, pintu Neraka ditutup dan pintu Surga dibuka selebar-lebarnya.
Bulan Ramadhan adalah bulan di mana terdapat malam yang lebih mulia dibandingkan dengan seribu bulan. Dan orang sering menyebutnya Lailatul Qadar, yang terjadi di hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.
Selain penuh pengampunan, bulan Ramadhan juga sering disebut bulan di mana doa-doa mudah dikabulkan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
"Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do'a maka pasti dikabulkan." (HR. Al Bazaar, dari Jabir bin 'Abdillah. Al Haitsami dalam Majma' Az Zawaid (10/149) mengatakan bahwa perowinya tsiqoh (terpercaya). Lihat Jaami'ul Ahadits, 9/224.)
Mahya dengan riang keluar dari kamar, dia mengenakan mukena berwarna ungu dengan renda warna senada. Dia teramat bahagia masih bisa bernapas di bulan Ramadhan. Dia menoleh ke arah sang adik yang sedang duduk di kursi.
"Kamu tidak ke masjid, Van?" tanya Mahya.
"Bentar lagi Mbak. Mbak tunggu Abang aja kalau mau ke masjid." Mahya mengangguk lalu duduk di sebelah sang adik.
"Kamu sibuk apa?"
"Ini Mbak, lagi melihat video tentang tugas." Mahya mengangguk lalu menoleh ke arah pintu kamar sang kakak.
"Bang, Ayuk." Mahya dengan penuh semangat, dia segera berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Kamu gak segera, Van?"
"Iya Bang, ini mau wudhu."
Mahya menoleh ke arah sang adik lalu dia meringis. Benar saja kalau adiknya itu selalu menjadikan sang kakak panutan jadi selalu saja menurut setiap diperintahkan oleh sang kakak.
"Ayo Dek." Mahya menoleh ke arah sang kakak lalu tersenyum.
"Apa yang membuat kamu tersenyum terus?" tanya Aidan, kakak Mahya.
"Ramadhan selalu memberikan keceriaan, Bang. Entahlah, setiap Ramadhan aku selalu merasakan sebuah kedamaian yang terasa berbeda." Mahya berjalan sambil menerawang.
"Bukan karena akan segera menikah?" tanya Bang Aidan dengan datar.
"Abang, bukan kali." Mahya melirik sengit ke arah sang kakak, tetapi bagi Mahya lelaki tetaplah lelaki tidak memiliki kepekaan yang tinggi.
"Sudah, nanti pulang tunggu Abang." Mahya dan Aidan berpisah di depan gerbang masjid. Mahya berjalan menuju tempat sholat perempuan dan Aidan tentu ke tempat lelaki.
Mahya mendirikan sholat sunah dua rakaat setelah sampai di masjid. Bagiamana telah dicontohkan oleh Rasulullah di dalam hadits yang diriwayatkanoleh Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu. Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda :
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
"Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk." (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)
Setelah melakukan sholat dua rakaat dia hendak berdiri lagi, dia akan melakukan sholat sunah rawatib sebelum sholat isya sejumlah dua rakaat juga. Sholat ini adalah sholat pengiring sholat wajib.
Shalat tarawih adalah shalat sunah yang dilaksanakan setelah melakukan shalat isya. Jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah 11 raka'at, beliau tidak pernah lebih daripada itu. Tetapi masih boleh mengerjakan shalat tarawih lebih daripada 11 raka'at dengan alasan: (1) Tidak ada pembatasan jumlah raka'at shalat malam dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, (2) rakaat shalat diperbanyak agar shalat malam bisa lebih lama, (3) kita diperintahkan memperbanyak sujud. Sehingga shalat tarawih dengan 23 raka'at masih dibolehkan, bahkan dianjurkan oleh jumhur (kebanyakan) ulama.
Adapun tata caranya shalat tarawih dilakukan dua raka'at salam, dua raka'at salam lebih afdhal. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim mengenai hadits "shalat sunnah malam dan siang itu dua raka'at, dua raka'at", beliau rahimahullah mengatakan, "Yang dimaksud hadits ini bahwa yang lebih afdhal adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka'at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua rakaat.
Sholat tarawih ditutup dengan sholat sunah witir (shalat sunah yang rakaatnya berjumlah ganjil) dan yang lebih penting lagi boleh menambah shalat malam setelah tarawih karena jumlah rakaat shalat malam tidak ada batasannya. Yang penting tidak ada dua witir dalam satu malam.
Dari Thalq bin 'Ali, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam." (HR. Tirmidzi, no. 470; Abu Daud, no. 1439; An-Nasa'i, no. 1679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
---
Bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan, dan bulan di mana pahala dengan mudah didapatkan. Salah satunya adalah dengan tadarus Al-Qur'an.
Mahya tersenyum, tiada terasa ternyata Ramadhan begitu cepat berlalu. Dia tersenyum kala melihat di kalender bahwa dia sudah melewati empat hari di bulan Ramadhan. Mahya menaruh Al-Quran di atas meja lalu dia melepas mukenanya.
Mahya baru saja melakukan sholat Dhuha dan dilanjutkan membaca Al-Quran. Mahya kembali tersenyum saat mengingat bahwa nanti malam setelah shalat tarawih lelaki yang mengajukan proposal kepadanya akan datang untuk melakukan proses nadhor.
Menurut peraturan yang ada, seseorang boleh melakukan nadhor jika memang sudah pasti bahwa dia akan diterima lamarannya, dan saat ini Mahya menjadi berdebar sebab akan bertemu dengan lelaki yang akan menjadi pemimpin dalam biduk rumah tangga yang akan dijalani.
Beberapa hari ini Mahya sudah sibuk dengan doa-doa yang menurutnya terlalu percaya diri bahwa dia akan menikah. Padahal kegagalan itu bisa saja terjadi tanpa bisa diduga, tapi nyatanya Mahya menaruh segala rasa dalam dadanya untuk menyambut masa depan yang menjadi impian.
Mahya membaringkan tubuhnya, di rumah seorang diri. Karena ayah dan ibunya sedang ke rumah yang ada di dekat kolam ikan dan saat ini sungguh Mahya ingin memejamkan matanya supaya tidak berpikir yang belum saat nya dia pikirkan.
---
Mahya terlihat begitu antusias, bukan tidak sabar untuk menemui lelaki itu tetapi tidak sabar mendengarkan suara lelaki yang akan menanggung hidupnya menyebut nama lengkapnya di depan ayahnya dan membantu memikul segala hal tentang dirinya kedepannya.
Aneh?
Memang, Mahya sedikit berbeda. Gadis itu seolah memiliki harapan yang begitu tinggi. Mahya tersenyum kala melihat proses ijab kabul dan hal itu di lakukan di rumah Allah dan bertepatan pada malam di mana lebih baik dari seribu bulan.
Subhanallah, sungguh itu adalah impian yang amat besar Mahya yang ingin segera dia raih. Selama ini Mahya tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, karena selama ini mencoba menjaga dirinya supaya calon suaminya kelak juga melakukan hal yang sama.
Mahya kembali tersenyum kala mengingat ucapan salah satu ustadz yang dia ikuti kajiannya. Bahwa jodohmu adalah cerminan dirimu. Oleh sebab itu Mahya senantiasa memperbaiki diri dan memantaskan diri supaya kelak dia mendapatkan jodoh yang baik pula.
"Dek," panggil sang kakak membuat Mahya salah tingkah.
"Dilarang bertabarruj. Ingatlah berdandan hanya boleh di depan suami bukan di depan calon suami."
"Siapa sih Bang yang dandan?" Mahya menjawab dengan nada manja dan malu-malu.
"Terus apa yang kamu lakukan di depan cermin?" tanya Bang Aidan lalu masuk ke dalam kamar.
"Mahya tadi hanya membenarkan hijab." Mahya lalu duduk di samping Abang Aidan, karena dia bisa membaca kode sang kakak yang menepuk sisi kanan tempat dia duduk.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" Mahya menoleh ke arah sang kakak.
"Iya Bang."
"Abang ridho kalau itu yang terbaik buat kamu, Dek. Ingatlah bahwa tidak ada matan saudara di muka bumi ini. Jadi jangan pernah sungkan untuk mengadu apapun kepada Abang, yang terpenting bukan aib suami."
"Bang, Mahya belum menikah hari ini. Kenapa Abang kasih petuah seolah-olah Mahya menikah sekarang."
"Soalnya, kalau kamu ridho dinikahi malam ini. Abang juga ridho. Karena perkara yang baik itu harus disegerakan." Mahya melotot tidak percaya dengan ucapan sang kakak. Pasalnya, Abang Aidan adalah kakak yang protektif. Akan menjadi hal yang aneh jika sang Abang langsung setuju padahal belum mengenal baik calon suaminya.
"Abang kok gitu, sudah tidak sayang sama Mahya?"
"Memangnya Abang pernah gak sayang? Kalau Abang gak sayang Abang bakal melarang kamu melangkahi Abang untuk menikah." Mahya meringis mendengar hal itu.
"Sebenarnya Abang kenal calon suami kamu. Beberapa hari yang lalu dia datang meminta izin kepada kami untuk langsung melamar, dan dia menginap di sini dua hari."
"Apa????"
"Kenapa kamu begitu terkejut. Dia lelaki yang baik dan bertanggungjawab. Ya walaupun dia tidak banyak bicara. Kamu tahu alasan kebanyakan lelaki tidak banyak bicara bukan?"
Mahya mengangguk, dia tahu mengapa lelaki tidak banyak bicara. Karena lelaki itu yang dianut adalah ucapannya, lihat perceraian bisa terjadi hanya dengan ucapan sang suami berbeda dengan istri. Oleh sebab itu lelaki banyak diam supaya tidak mengungkapkan sesuatu yang berimbas tidak baik.
"Menurut Abang, kamu cocok dengannya. Dia akan mampu menjadi pemimpin yang baik, tetapi tetap saja kamu harus menjadi patuh pada suamimu supaya tugas suami diberikan kemudahan."
"Abang kenapa begitu percaya dia baik?"
"Kan Om Galih sudah menyelidiki, selain itu lelaki itu bukan hanya mengumbar janji tapi bukti dengan mendatangi walinya dari pada mendatangi calon mempelai perempuannya."
"Iya ya, kok aku justru belum kenal calon suamiku, sih." Mahya cemberut melihat sang kakak tertawa. Tapi di dasar hatinya dia bersyukur karena ternyata lelaki yang baik itu diterima dengan baik oleh keluarganya. Dia pikir akan ada drama keluarga yang berkepanjangan tetapi ternyata tidak, benar janji Allah bahwa akan memberi kemudahan dalam perkara kebaikan.
"Kalian kenapa di sini?" tanya Ibu Ika masuk ke dalam kamar Mahya.
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Itu Nak Arkan sudah datang sejak tadi," kata Ibu Ika membuat jantung Mahya berdebar kencang. MasyaAllah apa ini sensasi jika akan bertemu dengan calon suami.
"Ayo, kamu antar minum ke depan. Jangan lama-lama di depan, belum halal."
"Iya Bu." Mahya mengikuti langkah ibunya ke dapur sedangkan Mahya dari sudut matanya melihat sang kakak berjalan ke depan.
"Ini kamu taruh ke depan, lalu kamu duduk di samping Abang." Mahya mengangguk lalu dia berjalan menuju ke ruang tamu.
"Minumnya Bang," kata Mahya kepada sang kakak. Saat Mahya hendak duduk dia tidak sengaja menoleh ke arah satu orang yang dia yakini calon suaminya.
Mahya melotot tidak percaya dengan yang dia lihat. Dia sampai mengucek matanya untuk meyakinkan.
"Rizal?" tanya Mahya lirih.
"Hai Mahya," kata Rizal dengan nada ramah. Mahya menoleh ke arah sang kakak.
"Bang, calon Mahya namanya Arkan bukan?"
"Nama saya juga Arkan, Mahya. Lebih panjangnya Arkan Rizal Wiguna." Mahya menunduk tetapi orang bisa melihat bahwa gadis itu sedang membulatkan matanya dengan sempurna.
---