
Allah Ta'ala berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
"Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)."
(An-Nisaa' : 34)
----
Gelap menyapa dengan ditandai ya sang senja yang sudah hilang dari pandangan manusia, angin menari dan hawa dingin seolah berdendang dengan penuh kesyahduan.
Langit tampak gelap, tetapi juga terang. Ribuan berlian tak ternilai harganya menyebar menghiasi kegelapan sang pekat. Bulan tanpa malu-malu untuk muncul, dia bersembunyi di balik away tipis yang menyamarkan.
Serangga malam bak lantunan lagu pemandu kasih, mengerik bersahutan seolah melontarkan syair lagu yang memang sudah tertuliskan. Kemarin bacaan Al-Quran terdengar dari segala penjuru arah, dan semua itu adalah tanda bahwa malam telah benar-benar datang.
Mahya masih di depan cermin, dia melihat wajahnya yang tidak lagi polos. Tadi setelah wudhu, ibunya memberi sebuah alat make-up. Dan dengan patuh Mahya mengenakannya. Dia mengenakan lipstik bening beraroma madu, bahkan rasanya manis kala tanpa sengaja Mahya mengecap. Kata sang ibu, ini adalah lip glows herbal yang di dapat dari toko herbal. Lalu dia menaburi bedak tipis di kulitnya yang berwarna kuning.
Mahya bukan gadis yang berkulit putih bersih, bukan. Mahya memiliki kulit berwarna kuning. Bahkan dulu dia memiliki kulit sawo matang saat kecil, dan berinjak dewasa kulitnya semakin bersih tanpa obat ataupun pemutih lainnya, natural.
Mahya lalu menengok ke arah gelas susu coklat kesukaannya, dia baru tahu bahwa ada sebuah kisah di mana Aisyah dan Rasulullah pertama kali bertemu setelah menikah. Saat menunggu di kamar, Aisyah membawa susu dan diberikan kepada Rasulullah. Lalu setelah Rasulullah meminum susu itu tidak sampai habis dan kemudian Aisyah melakukan yang sama di gelas yang sama dengan Rasulullah.
Pipi Mahya menghangat, dia bisa merasakan bahwa dia saat ini jantungnya berdebar-debar. Sungguh kalau bisa dia ingin ke kamar mandi untuk membasuh muka supaya rasa panas yang menjalar ini mulai hilang. Mahya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Mahya memundurkan kursinya, lalu dia menengok ke arah jam. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi mengapa Pak Arkan masih belum kunjung datang? Mahya memainkan sepuluh jari yang ada di pangkuannya. Sungguh, saat ini dia mengalami kecemasan yang lebih besar daripada saat akan bertemu di tahap nadhor.
Suara pintu terbuka membuat Mahya segera mendongak, dia menatap sosok yang terbit dari pintu. Saat sosok itu menatap ke arahnya Mahya segera menunduk malu.
"Assalamualaikum, اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ " Pak Arkan membelai ubun-ubun Mahya.
Mahya mendongak menjawab salam, lalu dia ikut tersenyum kala Pak Arkan juga tersenyum ke arahnya.
Arkan mengayunkan tangannya untuk dijabat oleh Mahya, lalu dengan malu-malu Mahya menerimanya dan dia juga mencium punggung tangan sang suami. Mahya jadi ingat sebuah hadits, Rasulullah pernah bersabda bahwa jikalau saja seorang manusia boleh sujud kepada sesama manusia, maka Rasulullah akan menyuruh seorang istri sujud kepada suaminya. Maka dari itu bisa dipastikan, kedudukan yang dimiliki oleh seorang suami amatlah tinggi maka sang istri harus menghormati dan mematuhi segala hal yang baik yang diperintahkan oleh sang suami.
Mahya merasakan keningnya dikecup, jantungnya bergetar dan tubuhnya terasa lemas.
"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa." Arkan berbisik pelan lalu dia melepas kecupan di kening Mahya.
"Sudah ambil air wudhu?" Mahya mengangguk dengan malu-malu.
"Sholat dulu, baru minum susu." Mahya menoleh ke arah gelas yang ada di meja rias.
"Iya," jawab Mahya sambil berdiri menuju ke arah mukena yang ada di atas tempat tidur.
Lalu keduanya melakukan shalat Sunnah pengantin, dua rakaat. Sungguh, ini bukan pertama kalinya Mahya diimami oleh Pak Arkan. Karena pada kenyataannya, Pak Arkan sering menjadi imam shalat di masjid fakultas. Setelah melakukan shalat dua rakaat, Mahya melepas mukenanya lalu melipatnya. Dia belihat Pak Arkan yang sedang mengamatinya sambil duduk di atas pinggir tempat tidur.
Mahya menyimpan mukena di laci meja rias, dia membawa segelas susu ke arah sang suami. Her, rasanya sungguh berbeda kala menyebut kata suami. Terasa ada yang meletup-letup di dalam dada.
"Terima kasih," kata Pak Arkan menerima uluran dari sang istri. Setelah meminum hingga setengah, Pak Arkan mengulurkan kembali kepada Mahya dan dengan pelan dan syarat akan sikap malu-malu Mahya meneguk susu itu. Mahya tidak sanggup untuk menghabiskan, lalu dia melihat Pak Arkan mengulurkan tangannya.
"Kenapa?"
"Mana gelasnya," kata Pak Arkan lembut. Mahya dengan ragu memberikan kepada sang suami. Dia melongo kala Pak Arkan kembali meneguk susu itu hingga habis.
"Tidak baik menyisakan makanan atau minuman, mubadzir." Mahya menunduk malu dengan sikap sang suami.
"Disunnahkan berkumur setelah minum susu, kamu mau ikut berkumur?" Mahya mendongak, dia menatap sang suami lalu mengangguk.
"Ada peralatan mandi baru? Atau aku harus berbagi peralatan denganmu?" Mahya tidak menjawab lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk melihat.
"Ada yang baru, Pak." Arkan mengangguk lalu dia menyusul Mahya untuk mewujudkan ke dalam kamar mandi. Keduanya tampak canggung tetapi dengan mudah Arkan bergerak dengan cepat. Dia lelaki dewasa jadi dia harus bertingkah lebih dewasa dibandingkan dengan Mahya. Arkan menaruh pasta Gigi di atas sikat gigi dengan pegangan berwarna ungu berkombinasi putih lalu mengulurkan ke arah Mahya. Arkan lalu mulai mengambil sikat giginya sendiri, dan keduanya tampak sibuk menyikat gigi masing-masing.
Sepasang pengantin itu lalu kembali ke kamar dan mendudukkan diri di atas tempat tidur dengan jarak yang cukup jauh.
"Kenapa menjauh?" tanya Pak Arkan kepada Mahya yang memilih di ujung tempat tidur.
"Mendekatlah," kata Pak Arkan membuat Mahya bergerak perlahan, saat tinggal beberapa centimeter Pak Arkan bergeser lalu menyentuh dagu sang istri supaya mendongak.
"Jangan menunduk, aku ingin melihat wajah perempuan yang halal untuk ku pandang." Pak Arkan kembali memberikan senyumnya, lalu tanpa aba-aba dengan melafazkan bacaan basmalah bibir Pak Arkan menyapu lembut bibir Mahya.
Lalu keduanya menyatu sebagaimana seharusnya, atas dasar ibadah yang sudah ditentukan oleh Allah. Malam sebagai saksi dimana dua nak manusia melebur menjadi satu tujuan atas ridho Allah Taala.
---
"Mas membangunkanmu, Mahya?" tanya sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di pinggir tempat tidur di dekat posisi Mahya tidur.
"Sudah pagi ya, Mas?" Mahya bukan menjawab pertanyaan dari sang suami justru balik bertanya.
"Pukul tiga, kamu mau bangun atau mau kembali bergulung dengan selimut." Mahya merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya, dia merasa angin semilir dan rasa dingin mampu menyengat hingga ke tulangnya.
"Dingin," kata Mahya pelan lalu memejamkan matanya, sungguh dia merasa sangat letih dan mengantuk saat ini.
"Baiklah, silakan tidur. Nanti Mas bangunkan saat mau sahur." Mahya hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah terbelai kembali dalam belaian sang mimpi.
Mahya merasa tubuhnya diguncang dengan pelan, dan ada benda dingin berada di pipinya. Dia membuka pelan kelopak matanya lalu berusaha menetralkan mata dengan silau ruangan itu.
"Bangun, ayo sahur." Mahya langsung terlonjak bangun, dia terkejut dengan keberadaan sosok lelaki yang sedang menatapnya bingung.
"Ada apa?" tanya sang suami merespon keterkejutan Mahya.
"Gak papa," jawab Mahya dengan suara seraknya, lalu dia menggelung rambutnya yang masih terasa basah karena mandi semalam.
"Sudah hampir subuh, mau mencuci muka atau langsung keluar makan sahur. Tadi Ibu sudah dua kali mengetuk pintu." Mahya menoleh ke arah pintu lalu dia menoleh kembali ke arah sang suami. Sungguh dia merasa malu karena bangun kesiangan.
"Mau gosok gigi dan cuci muka dulu." Mahya beranjak dari tempat tidur.
"Ganti baju juga," kata Arkan mengingatkan. Mahya dengan cepat menoleh ke arah baju yang dia kenakan, dia meringis lalu dia mengambil baju ganti.
Keduanya berjalan menuju ruang makan yang tampak ramai, karena hari ini Rivan ada di rumah. Rivan adalah sosok yang tak banyak bicara tetapi kalau sudah bicara seperti kereta api yang tak bisa berhenti.
"Kamu kesiangan, Dek?" tanya Bang Aidan dengan nada menggoda, lihatlah! Saudaranya memang seperti itu. Tapi banyak bicara tapi kalau sudah menggoda akan sambung-menyambung menjadi satu, seperti Indonesia.
"Iya Bang." Mahya mengambil duduk di kursi yang ditarik oleh sang suami.
"Bang, kayak lihat adegan di film romansa." Kini gantian Rivan yang mengambil porsi dialog, Mahya hanya melotot lalu diam tak menjawab.
"Semalam ngapain aja sih, Bang? Kok Mbak Mahya sampai kesiangan. Biasanya yang lain masih tidur Mbak Mahya sudah sibuk di dapur." Rivan mengabaikan pelototan dari sang kakak, dia justru menatap dengan berbinar ke arah suami Mahya.
"Enggak ngapain. Tidur." Rivan mengeluarkan aura jahilnya, tetapi langsung berhenti kala Mahya menaruh makanan di depan sang suami dan Mahya sibuk dengan makanannya sendiri.
"Jangan ganggu orang makan, nanti bisa tersedak." Bang Aidan sepertinya sudah sadar lebih dulu, dia memberi peringatan kepada sang adik bungsu.
Rivan masih tersenyum geli, tetapi semuanya lalu terfokus ke makanan yang ada di hadapan masing-masing.
"Bapak sama Ibu ke mana?" tanya Mahya memecah keheningan. Dia merasa tak enak dengan suasana makan yang terasa kaku.
"Sudah ke masjid." Mahya mengangguk lalu kembali melanjutkan makan. Memang kebiasaan Pak Haki dan Bu Ika setiap selesai makan sahur pergi ke masjid untuk menunggu waktu shalat subuh tiba.
"Kamu sudah selesai, nitip ya Dek." Bang Aidan menaruh piring bekas makan dan gelasnya di atas milik Rivan.
"Abang mau ke mana?" tanya Rivan tak terima.
"Mau ke kamar mandi." Rivan mendesah kesal. Memang di keluarga Mahya sudah sejak dulu dibiasakan setiap selesai menggunakan peralatan makan harus mengembalikan dalam posisi bersih.
"Sudah taruh saja, biar Mbak yang mencuci." Mahya melihat wajah Rivan berbinar senang, dia hanya diam lalu kembali melanjutkan makan.
"Tapi kamu jangan berangkat tidur lagi, mandi sana terus ke masjid." Mahya memberi peringatan kepada sang adik, karena dia tahu pasti kebiasaan Rivan yang satu itu.
"Iya," kata Rivan sambil berjalan menuju kamarnya.
"Kok ke kamar Van," kata Mahya.
"Kamar mandi masih dipakai Abang, Mbak."
"Awas kalau sampai aku lihat kamu tidur. Aku siram pakai air es, gak peduli kasur kamu basah." Mahya mengatakan itu dengan nada datar, tidak ada intonasi sama sekali seolah-olah dia bukan mengeluarkan kalimat ancaman.
"Iya." Mahya merapikan peralatan makan, lalu dia menoleh ke arah sang suami yang sedang tersenyum geli. Mahya menggaruk pelipis yang terasa gatal, dia salah tingkah. Tadi sepertinya dia melupakan keberadaan sang suami.
"Kamu galak sekali sama adik." Mahya menumpuk piring kotor.
"Bukan galak, Mas. Tapi tegas, dalam pendidikan itu bukan mengeluarkan sisi galak ala ibu-ibu tetapi harus dengan sikap tegas dan konsisten, dan jangan lupa memberi contoh." Mahya memang sudah sepakat dengan sang suami untuk menggunakan panggilan Mas semalam.
"Iya, sebagai calon ibu kamu harus berubah menjadi perempuan yang cerewet Sholihah untuk mendidik anak-anak." Mahya tersenyum malu mendengar kalimat dari sang suami. Dia sungguh belum terpikir tentang anak, bahkan mereka baru semalam menikah. Sungguh, lelaki di sampingnya adalah lelaki penuh pertimbangan dan pemikiran ke depan.
---