Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Tujuh belas



"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."


[Yûnus/10:26]


---


Di dalam sebuah riwayat Rasulullah menjelaskan bahwa, memberi makan buka puasa akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa


Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Selain itu dengan banyak berdermawan melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.


Dari 'Ali radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ


"Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya." Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur." (HR. Tirmidzi no. 1984. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Lihatlah bagaimana keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang menggabungkan antara memberi makan dengan amalan lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), "Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?" Abu Bakar berkata, "Saya."


Beliau bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?" Maka Abu Bakar berkata, "Saya."


Beliau kembali bertanya, "Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?" Maka Abu Bakar mengatakan, "Saya."


Lalu beliau bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit." Abu Bakar kembali mengatakan, "Saya."


Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda, "Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga." (HR. Muslim, no. 1028).


Begitu istimewa bulan Ramadhan, sehingga banyak sekali cara bagi kita untuk melakukan kebaikan.


Mahya duduk di teras samping rumah, dia di rumah seorang diri karena ayah dan ibunya pergi ke rumah saudara untuk mengabarkan tentang pernikahannya yang akan berjalan dua hari lagi. Iya dua hari lagi, sungguh cepat waktu berputar dan berjalan tanpa disadari.


Mahya mengamati langit sore dalam diam, pernikahan yang harusnya terjadi di tanggal dua puluh satu Ramadhan dimajukan menjadi tanggal tujuh belas Ramadhan. Bukan karena Mahya atau Pak Arkan yang kebelet ingin segera menikah tetapi semua ini karena satu faktor, skripsi.


Mahya menatap langit yang tampak biru membentang, dia mengingat dengan teliti kala dulu masih remaja di menyukai lelaki yang sudah cukup dewasa padahal dia masih SMP. Mahya menyukai sosok itu karena sering pergi ke masjid, tetapi dia tidak pernah tahu sepak terjangnya di luar.


Dan saat dia menginjak SMA dan lelaki itu menikah karena kebobolan lebih dulu, ada rasa kesal dan juga tidak suka menghampiri. Dia merasa salah menyukai orang, karena ternyata lelaki itu melakukan sebuah kesalahan. Mahya dulu tidak berpikir secara kritis dan logis dia hanya remaja yang masih mencari jati diri jadi sangat wajar jika dia sering suka terhadap seseorang.


Dia juga pernah suka ke salah sepupunya, tetapi sayang sepupunya itu tidak pernah berdekatan dengan Mahya. Entah karena alasan apa cowok itu tidak begitu suka dengan Mahya. Mungkin karena Mahya yang sering mengamati gerakan sepupunya itu sehingga sepupunya menjadi risih dan illfeel dengannya.


Mahya menggelengkan kepalanya, dia sosok yang begitu baper dulu. Dia selalu menggunakan perasaannya untuk segala hal. Lihat saja di gudang banyak sekali barang milik Mahya. Karena dia adalah collector yang baik, banyak hal yang dia dokumentasi dalam bentuk gambar, barang juga tulisan.


Mahya menghela napas lalu dia beranjak dari duduknya, dia masuk ke dalam kamar. Lalu dia berjalan menuju sebuah gamis cantik yang akan dia kenakan di hari pernikahan. Dia tersenyum bahagia karena gamis yang dia kenakan di hari bahagia adalah jahitan dari tangan ibunya, seorang wanita yang menjadi panutan dan idolanya.


Mahya membelai lembut brukat yang menempel di bagian atas, dia tersenyum dengan bahagia. Dia ingat dulu kala ibunya selalu membuatkannya gamis polos, tidak ada kombinasi sama sekali mungkin hiasan hanya bordil di bagian lutut atau lengan.


Kala itu dia sempat bertanya kepada sang ibu tentang alasannya, dan ibunya menjawab bahwa jika selama ini kita memakai pakaian yang monoton kelak di hari bahagia kita akan merasa bahagia dengan baju yang terasa berbeda meski murah harganya. Dan dari situ Mahya tidak pernah protes dengan pakaian polos yang dia gunakan. Bahkan kadang Mahya selalu beli baju yang polos tanpa kombinasi atau bordir karena dia merasa nyaman.


Dan saat untuk pertama kalinya dia mendapat pakaian cantik ini, benar kata ibunya bahwa rasa bahagia itu membuncah. Gamis hitam dengan dua warna kombinasi ini membuat dia benar-benar bahagia, meski dia tahu harganya tak mahal tetapi dia sudah merasa sangat istimewa.


Gamis yang akan digunakan Mahya lusa adalah gamis dengan potongan variasi di bagian pinggang. Bagian atas sama gamis dengan bagian bawah tetapi yang membuat beda adalah tempelan borkat di bagian depan hingga sebatas atas paha, perut. Mahya kemarin sempat mengatakan kepada sang ibu, bahwa gamisnya yang berbokat percuma karena tidak akan ada yang melihat kecuali dirinya sendiri. Tetapi dengan nada menggoda ibunya berkata bahwa pendapatnya itu salah karena ada sang suami juga yang akan melihat keindahan pakaian ini melekat pada tubuhnya.


Mahya menutup wajahnya, memikirkan hal itu membuat dia malu. Lalu dia beranjak menuju kamar mandi dia akan membersihkan diri dan persiapan berbuka. Hari ini tidak ada banyak masakan di rumah karena semua keluarga sejak dua hari yang lalu sudah mendapatkan banyak undangan buka bersama dari berbagai kalangan. Sedangkan Mahya sendiri, hari ini akan berbuka bersama dengan sang kakak di masjid. Karena malam ini akan ada acara kajian rutin yang diikuti sang kakak.


---


Mahya menunggu sang kakak yang masih di masjid, tadi siang Mahya juga ada di masjid untuk membantu persiapan buka bersama tetapi Mahya harus pulang setelah sholat Asar karena sang ibu dan ayah akan berpergian dan sekarang dia sedang menunggu sang kakak untuk menjemput dirinya.


Mahya sudah rapi dengan gamis bermata coklat tua, seperti biasa gamis yang dia kenakan selalu polos. Mahya menoleh ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan batas Hanssock berwarna coklat senada dengan gamisnya. Magrib akan datang sebentar dalam lima belas menit, harusnya dia sudah di sana membantu para panitia untuk menyambut tamu. Mahya menunduk lalu dia mendongak kala dia melihat sosok kakak yang tersenyum ke arahnya.


"Maaf, Abang hampir lupa." Mahya tidak merasa kesal ataupun jengkel, dia tersenyum membalas senyum merasa bersalah sang kakak. Karena memang pada kenyataannya dia jarang ikut buka bersama di masjid, dia hanya datang di habis asar untuk membantu dan pulang sebelum magrib dan berbuka di rumah. Jadi wajar jika sang kakak tidak biasa dengan hal ini.


"Nanti kalau kamu menikah, kamu bakal punya gandengan baru buat safari ke rumah saudara. Gak menyangka ya, lebaran kali ini Abang bukan lagi pasangan kamu."


"Abang ah, jangan gitu buat Mahya melow aja." Mahya menjawab dengan pilihan, dia belakangan ini menjadi sedikit sensitif. Sepertinya matanya memproduksi banyak air mata dengan cepat. Mahya menggandeng lengan tangan sang kakak dengan manja, dia mengabaikan keterkejutan sang kakak. Dia juga mengabaikan nasihat sang kakak yang melarangnya melakukan kemesraan atau hubungan di muka umum. Untuk kali ini dia ingin sedikit egois dan melakukan yang ingin dia lakukan.


"Bang, cepat menikah ya nanti setelah Mahya menikah. Ibu dan bapak sudah menginjak usia senja, beliau butuh sosok anak perempuan yang bisa bersama mereka dan itu pasti bukan Mahya. Karena pada kenyataannya Mahya akan mengikuti kemanapun perginya suami Mahya, karena Mahya milik suami Mahya berbeda dengan Abang yang milik orang tua, ibu."


"Kamu kok melow sih Dek, iya nanti Abang akan menikah dengan perempuan cantik dan pengertian melebihi kamu Dek."


"Kok Abang gitu," kata Mahya membuat Bang Aidan terkekeh.


"Sudah sana, kamu bantu-bantu. Abang juga mau ke sana. Oh ya, kamu tahu pengisi kajian remaja nanti malam?" Mahya menoleh ke arah sang Abang lalu melepas tangannya.


"Siapa?"


"Mau tau?"


"Jangan bercanda Abang. Ah, tapi gak penting juga yang penting ilmunya bukan orangnya." Mahya mengatakan itu dengan santai, memang itulah prinsip Mahya dalam menuntut ilmu. Dia tidak peduli dengan kegalakan, kejudesan, kesinisan atau sifat buruk lainnya dari sang guru karena baginya itu tidak sepenting ilmu yang akan dia berikan kepadanya.


"Bagus kalau begitu," kata sang kakak meninggalkan Mahya tapi belum jauh dia kembali berbalik.


"Nanti kamu pulang atau tetap di masjid setelah berbuka?"


"Pulang Bang, mau menyiapkan beberapa parsel untuk lusa. Lumayan nanti untuk mengansur pekerjaan, supaya besok tidak begitu berat."


"Ya sudah, nanti tunggu di sini Abang antar." Mahya mengangguk lalu menjawab salam yang diucapkan sang kakak. Dia tersenyum lalu berjalan ke kerumunan panitia buka bersama.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Mbak Yuni."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, kamu datang. Aku pikir tak datang soalnya gak muncul-muncul."


"Tadi menunggu Abang, Beliau lupa menjemput." Mahya membantu Mbak Yuni memotong pipa air mineral.


"Oh ya, kenalkan ini Sari, ia anak remaja masjid juga." Mbak Yuni menunjukkan ke arah seorang perempuan seusia Mahya dengan pakaian modis. Gadis itu tampak cantik dan anggun, sungguh menarik.


Setelah berkenalan dengan beberapa anggota lainnya, Mahya masih setia bersama Mbak Yuni duduk sambil estafet gelas minum.


"Mbak, nanti ikutan kajian rutin?" tanya Sari di samping Mahya.


"Insya Allah." Mahya menjawab dengan pelan, selain karena tak ingin berbincang banyak hal yang tidak berguna Mahya juga sedang tidak ingin beramah-tamah kepada orang asing.


"Pengisian masih muda dan single Mbak, dengar-dengar sih dia itu dosen. Wah muda gitu sudah menjadi dosen." Mahya mengerutkan keningnya, dia pikir setelah dia menjawab dengan singkat Sari akan diam tetapi ternyata dugaannya salah, karena Sari memiliki antusias yang tinggi.


"Memangnya yang mengisi bukan orang sekitar ini?"


"Bukan Mbak, kalau kajian mingguan biasanya pengisi orang sekitar sini tapi kalau khusus bulanan seperti ini ibarat kata bintang tamunya, spesial." Mahya mengangguk lalu dia menoleh ke arah Sari yang sedang memasang wajah bahagia, tidak ada garis-garis letih atau lemah karena berpuasa tampak begitu segar dan bersemangat.


"Mbak penasaran gak, namanya? Nanti kalau aku sudah lulus SMA aku akan berusaha supaya diterima di Universitas Kota biar bisa ketemu sama dosen muda itu." Mahya menoleh kala nama kampusnya disebut. Dia heran, siapa gerangan dosen yang dimaksud oleh Sari.


"Kamu gak perlu jauh-jauh, Sar. Ini di Mahya kuliah di universitas Kota." Mahya bisa melihat binar takjub di wajah Sari, dia jadi ingat tentang sahabatnya, Zahra.


"Beneran Mbak? Jadi Mbak kenal pengisi kajian hari ini?"


"Dosen di kampus itu banyak sekali, bahkan setiap fakultas memiliki dosen yang berbeda-beda. Jadi kemungkinan besar saya tidak kenal."


"Namanya Arkana Wijaya, Mbak." Mahya yang sedang menunduk merapikan hijabnya yang terkena es mendongak.


"Kenapa?" tanya Mahya, menoleh ke Mbak Yuni.


"Kok kenapa sih, Mbak. Itu nama pengisi kajian." Mahya mengangguk lalu dia jadi ingat ucapan sang kakak tadi.


"Sudah adzan cepat batalkan puasanya," kata Mbak Yuni membuat dua orang itu mengangguk.


---