
Dari An Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
"Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)."
(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
---
Siang ini tampak begitu cerah, dengan sang raja siang yang menyebarkan cahaya dengan kokohnya. Dan langit tampak melengkapi dengan warna biru terang yang dihiasi dengan seraput awan putih tipis. Udara tampak sedikit menghangat, dan kala angin berhembus maka kesegaran menyapa setiap raga.
Mahya masih duduk santai di depan dosen pembimbing skripsinya, dia mengamati dengan detail wajah sang suami yang tampak serius. Dia menunduk lalu menerbitkan senyum tipis, dia bahagia. Sudah beberapa kali dia bimbingan dengan sang suami secara normal sebagaimana yang dilakukan oleh mahasiswa lainnya, tetapi entah karena apa senyum di bibirnya selalu mengukir kala dia mengingat semua itu, dia benar-benar bersyukur atas segala takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya.
"Ada revisi di bagian ini, sepertinya kamu perlu observasi ulang di bidang yang ini." Mahya secara responsif memajukan sedikit bibirnya, dia kesal dengan keformalan sang suami dan yang lebih lagi adalah dia harus observasi ulang hal yang menurutnya cukup menjengkelkan.
"Kamu dengar saya," kata Arkan saat menyadari bahwa perempuan di depannya tampak tak fokus.
"Dengar Pak." Mahya menjawab tanpa menatap wajah Arkan, dia sedang berkecamuk dalam segala pemikiran yang merajut dalam otaknya.
"Kamu hanya perlu menyelesaikan semua itu dan Minggu depan kamu bisa daftar sidang skripsi lalu mungkin setelah lebaran kamu sudah sidang dan bisa mengikuti wisuda gelombang pertama." Arkan menutup tumpukan kertas yang dijepit dengan klip.
"Harus banget Pak, observasi ulang?" tanya Mahya.
"Bukan observasi ulang hanya melengkapi beberapa data yang menurut saya belum lengkap, seperti ini." Arkan menunjukan beberapa diagram di bagian bab empat.
"Baiklah, jadi ini belum ACC?" Mahya mendongak dan menatap sang dosen.
"Bagaimana, lengkapi dulu."
Mahya mengangguk lalu dia hendak mengambil bendel skripsinya.
"Kenapa murung?" tanya Arkan sedikit memajukan tubuhnya.
"Tidak papa Pak. Kalau sudah saya mau permisi." Mahya segera menarik bendel skripsinya, dia memasukan ke dalam ransel lalu beranjak dari duduknya tapi tangannya di tahan oleh Arkan. Mahya melotot terkejut lalu menoleh ke sekeliling, dia bersyukur di dalam hati karena tak ada yang melihatnya. Dia segera melepas tangannya lalu menunduk seolah-olah sedang membenarkan tas ranselnya.
"Saya gak mau digosipkan menjadi pelakor, Pak."
"Kenapa begitu?"
"Jelas karena saya ingin nama baik saya terjaga."
"Bukan itu, mengapa harus pelakor?"
"Ya jelaslah, karena saya dianggap menggoda dosen pembimbing skripsinya yang jelas-jelas baru saja melangsungkan pernikahan beberapa pekan yang lalu."
Arkan terkekeh geli dengan sikap jengkel sang istri. Dia menyandarkan tubuhnya lalu menatap lekat wajah Mahya, membuat yang punya wajah salah tingkah dengan jantung yang bergejolak tak tenang.
"Silakan." Arkan mengatakan itu dengan tenang, Mahya hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan dosen pembimbing skripsinya setelah mengucapkan salam.
Arkan memangku dagunya di atas meja, dia menunduk untuk menyembunyikan senyum tipis yang tercetak di bibirnya. Sungguh dia masih ingat cerita sang istri tentang gosip di kalangan mahasiswa dan dosen tentang hubungannya dengan Kania.
Ariani Kania Wiguna. Ia adalah adik tirinya. Tetapi, karena sempat berangkat bersama membuat satu kampus gempar berita pernikahan diantara dirinya dan adiknya. Sesuatu yang cukup menggelikan dan yang lebih menggelikan lagi adalah kala sang istri mengatakan bahwa dia merasa minder menjadi istri seorang Arkan Arya Wijaya yang memiliki banyak fans dan penggemar fanatik di luar sana.
Setelah mendengar semua berita itu, Arkan masih menyembunyikan sosok nyata sang istri. Bukan karena dia malu atau merasa kasian dengan Mahya, bukan. Dia melakukan ini karena dia tidak ingin dicapai sebagai dosen yang pilih kasih atau menerapkan sistem nepotisme. Kalau boleh jujur, dia tidak peduli dengan level yang diberikan oleh orang lain, karena baginya penilaian manusia itu tidak penting yang terpenting adalah bagaimana kenyataan yang sudah kita lakukan. Dan semua itu berbeda dengan pemikiran sang istri yang tak ingin merusak nama baik sang suami.
Dan untuk kali ini dia setuju untuk menyembunyikan semuanya untuk sejenak, tapi dia berjanji bahwa itu hanya sampai istrinya itu sidang skripsi dan selanjutnya kita lihat saja apa yang akan terjadi.
"Pak Arkan baik-baik saja?" Arkan mengangkat wajahnya, dia melihat salah satu rekannya menyapa.
"Iya, ada apa Pak?"
"Tumben bimbingan di sini?" Arkan menoleh ke sekitar lalu dia tersenyum.
"Iya Pak, tinggal finishing saja." Arkan menatap wajah jahil rekannya, dia tahu bahwa saat ini lelaki di depannya tengah tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.
"Bukan seorang Arkan."
Arkan hanya mengangkat bahunya.
"Dia spesial?" pertanyaan itu dijawab Arkan hanya tersenyum tipis.
---
Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk bentuk berbuat baik dari suami pada istri dan menunjukkan akhlak terpuji seorang suami.
Coba lihat bagaimanakah contoh dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah.
عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ
Ingatlah suami yang paling baik adalah suami yang paling baik pada istri, anak dan keluarganya. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku." (HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sore telah tiba, dan kesibukan membuat takjil untuk dikirim ke masjid perumahan sedang berada di rumah keluarga Arkan. Arkan menatap sang istri yang sibuk memasukkan beberapa jenis makanan ke dalam kotak nasi kertas.
"Ada yang mau dibantu?" tawar Arkan mendekati Mahya.
"Belum ada Mas." Mahya menjawab tanpa menoleh, dia terlalu fokus ke arah beberapa potong tahu dan tempe yang dia masukkan ke wadah.
"Yakin?" tanya Arkan lalu menoleh ke arah sang adik.
"Kenapa Bang? Nia gak sedang mau bercanda,udah habis tenaga buat bungkam mulut-mulut penggemar fanatik Abang." Kania mengatakan itu dengan nada kesal.
"Emang apa yang mereka lakukan?"
"Biasa, bergosip." Mahya menoleh ke arah Kania, dia merasa tak enak hati. Selain itu, dia juga meringis ngilu dengan jawaban Kania. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana nasibnya, jika semua orang tahu bahwa dirinya yang biasa inilah istri sebenarnya.
"Abaikan saja, yang penting jangan menjawab karena jika kamu menjawab atau membalasnya kamu tidak ada bedanya dengan mereka." Kania menoleh ke arah sang kakak seraya menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencetak nasi.
"Abang sih belum merasakan jadi Kania," kata Kania sewot, sungguh dia tidak tahu pola pikir yang dimiliki kakak sulungnya
"Memang siapa yang digosipkan selama ini?"
"Iya juga sih. Tapi tetap saja rasanya berbeda karena Abang tidak mendengar secara langsung." Mahya tidak menyela sedikitpun pembimbing adaan keduanya Mahya pikir mungkin alangkah lebih baik jika dia hanya diam saja.
"Yang terpenting kita tidak memasukkan ke dalam hati, abaikan." Arkan beranjak dari duduknya dia menoleh ke arah Mahya. "Kalau perlu bantuan Mas ada di dalam kamar."
Mahya menoleh ke arah Arkan lalu mengangguk, dia menjawab tanpa suara dan dia yakin suaminya memahami maksud yang dia berikan.
"Mbak," panggil Kania.
"Iya."
"Buat berapa kotak?" Kania sudah menghitung kotak nasi yang sudah jadi.
"Kata Umi kita biar seratus lima puluh." Mahya menoleh ke arah kotak yang tersisa.
"Tapi kok tinggal sedikit?"
"Tadi aku dan Umi sudah dapat seratus sebelum kamu datang." Kania mengangguk tanda mengerti, terjawab sudah kebingungan yang dia miliki.
"Ini untuk takjil sudah ada Mbak?"
"Sudah tadi Umi buat kolak kacang hijau." Mahya masih merapikan sisa yang ada di tangannya.
"Mbak," panggil Kania pelan. Mahya menghentikan gerakan tangannya lalu mendongak, dia melihat senyum Kania terbit melengkung indah di bibirnya bak Selasa bulan sabit yang ada di tengah pekat langit malam, indah.
"Kenapa?" tanya Mahya.
"Entahlah, menyebut kata 'Mbak' untukmu terasa menyenangkan. Aku merasa sesuatu yang berbeda, karena mungkin Mbak orang luar yang tiba-tiba dekat dengan kami." Mahya mencerna ucapan Kania, dia mulai berpikir bahwa saat ini Kania sedang memujinya?
"Yang lebih jelas?" Kania kembali tersenyum.
"Mbak, selain menjadi kakak ipar apa Mbak mau menjadi temanku?" Mahya menatap wajah yang semula bersinar itu kini berubah menjadi cemas.
"Iya." Mahya menjawab dengan tenang, meski sejujurnya saat ini dia merasa porak-poranda. Entahlah, tawaran menjadi seorang teman cukup membuat dirinya gemetar.
"Berarti aku boleh sewaktu-waktu curhat padamu?" Mahya mengangguk pelan lalu tersenyum tipis untuk menutupi getaran pada tubuhnya. Dia meyakini bahwa Kania adalah adik iparnya dan adik iparnya ini adalah perempuan baik-baik. Jadi adik iparnya tidak akan pernah menusuknya dari belakang.
"Rizal memang jarang di rumah?" tanya Mahya setelah keduanya sama-sama sibuk.
"Enggak juga sih, biasanya juga di rumah tapi udah dua hari ini dia ngurus beberapa hal di toko Abang. Jadi Rizal sering tidur di toko dibandingkan pulang ke rumah karena lebih dekat dengan kampus."
"Toko?" tanya Mahya heran.
"Abang belum cerita kalau Abang punya beberapa toko sebagai usaha kami bersama?" Mahya menggelengkan kepalanya.
"Dulu, saat kami lulus SMA kami diberi modal usaha oleh Abi. Jadi, kami sudah tidak pernah meminta uang jajan kepada Abi lagi. Sebenarnya awalnya kami berdua bingung mau diapakan uang itu, sedangkan kami tidak memiliki ke ahlian di bidang usaha. Terus kami mendapat tawaran dari Abang untuk membuka toko bersama dengan title cabang dari toko onderdil Abang. Dan kami saat ini memiliki usaha itu, saat Bang Arkan tidak bisa menangani karena jam terbangnya yang banyak, maka Rizal yang akan menggantikan." Mahya cukup terkejut dengan cerita ini, bukan karena apa? Hanya karena pola pendidikan keluarga Arkan yang cukup menakjubkan.
Mahya menunduk, dia menjadi merasa kecil. Karena hingga saat ini, dia belum pernah merasakan mencari uang sendiri jadi sungguh dia merasa tidak memiliki kemampuan dan dia merasa tak berpengalaman. Tetapi, meski dalam keadaan demikian, Mahya masih bersyukur atas segala yang telah terjadi. Dia tidak menyalahkan kedua orangtuanya karena tak mengenalkannya dengan pekerjaan mencari nafkah, karena dia menyadari bahwa ini memang sudah menjadi takdirnya.
----