Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Dua puluh satu



Allah azza wa jalla berfirman,


وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِين


"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk."


(QS. Al-Baqarah - 43).


---


Siang ini sang pijar bersinar tanpa malu-malu, dia memancarkan teriknya dengan sekuat tenaga seolah sedang menguji kesabaran orang yang sedang berpuasa. Akan sanggupkah mereka menahan lapar dan dahaga?


Mahya dan Arkan sudah ada di dalam mobil, keduanya dalam perjalanan pulang ke rumah keluarga Arkan. Tak ada suara selain lantunan ayat-ayat Al-Quran di dalam mobil. Karena keduanya sama-sama diam sibuk dengan pikiran dan fokus masing-masing.


Arkan membelokkan arah mobil ke kanan, lalu dia menoleh ke arah Mahya sejenak sebelum tangannya mengukur mematikan murotal yang dia nyalakan sejak mobil mulai dia jalankan.


"Kenapa dimatikan?" Mahya menoleh ke arah Arkan.


"Aku ingin berbicara denganmu." Arkan mengatakan itu dengan tegas, tanpa menoleh karena dia masih fokus dengan jalan yang cukup padat meski tidak sampai macet.


"Tapi bisa sambil mendengarkan, Mas." Arkan hanya diam saja membuat Mahya sedikit keki.


"Di dalam surat Al-A'raf ayat 204 dijelaskan bahwa, jika terdengar atau dibacakan ayat-ayat Al-Quran maka kita harus mendengarkan dan tenang. Jadi, kalau kita akan berbicara alangkah lebih baik kalau dimatikan?" Mahya menoleh ke Arkan lalu mengangguk patuh.


"Mas mau bicara apa, Mas?" tanya Mahya.


"Kamu tidak papa kan kalau kita tinggal bersama Abi dan Umi?" tanya Arkan dengan fokus jalan.


"Ya gak papa, Mas. Memang kenapa?"


"Alhamdulillah kalau begitu, tidak papa. Hanya ingin memastikan." Mahya menoleh lalu dia mengangguk saja, padahal dia tidak paham maksud yang diucapkan oleh sang suami.


"Ada sebagian perempuan yang takut atau tidak suka tinggal bersama mertua."


"Tapi aja aku gak termasuk." Arkan menoleh lalu mengangguk.


"Aku tahu, kalau selamanya seorang lelaki itu miliki ibunya. Jadi jika seorang istri memiliki kewajiban berbakti kepada sang suami maka begitu pula sang suami yang memiliki kewajiban berbakti kepada kedua orangtuanya. Sebab itu, aku sebagai istri akan ikut berbakti sebagai mana sang suami berbakti." Mahya mengatakan itu dengan lugas dan jelas.


"Kata Bang Aidan kamu pernah tinggal di pondok?" tanya Arkan mengubah pembahasan dengan berbelok sangat tajam, karena sangat jelas tidak ada sangkut pautnya.


"Iya, tapi gak betah. Lalu pulang deh." Mahya mengatakan dengan jujur, toh Arkan kini adalah suaminya jadi tidak ada rahasia di antara keduanya.


"Mengapa begitu? Maksudnya apa yang membuat kamu tidak betah?" Mahya menunduk, dia memainkan dua tangannya. Entahlah, kalau harus menceritakan semua itu dia belum sanggup.


"Boleh pass gak, Mas?" Arkan berhenti di lampu merah, dia menoleh ke arah sang istri. Entah kenapa dia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mahya.


"Iya, tapi lain kali gak ada kesempatan untuk pass lagi, hanya dua kesempatan." Arkan mengatakan itu dengan nada seringan dia bisa, meski masih terdengar datar untuk Mahya.


"Berarti masih ada satu kesempatan lagi, Mas. Kan ada dua." Mahya menatap sang suami sambil tersenyum, Arkan mengangguk lalu menjalankan mobilnya kala dia menoleh tepat warna hijau.


"Iya, kamu yakin mau menggunakan itu dalam waktu dekat? Kamu tidak sebentar bersama aku, selamanya." Mahya mengangguk lalu dia dengan nada menggoda mengatakan. "Berarti Mas harus memberiku banyak kesempatan juga, mana cukup hanya dua kesempatan."


"Ya, bagaimana ya? Tergantung usaha kamu saja." Meski dengan wajah datar tapi Mahya tahu kalau suaminya itu sedang menggodanya.


"Beri contoh usaha yang haru aku lakukan, Mas." Mahya masih meladeni godaan sang suami. Arkan tampak seolah-olah sedang berpikir dengan wajah datarnya.


"Apa ya? Kayaknya aku gak tahu. Mungkin kamu lebih tahu." Arkan mengatakan itu sambil memutar stir ke kanan.


"Shalat Asar di sini saja, sekalian ikut jamaah." Mahya menoleh ke arah masjid.


"Tempat wudhunya dipisah, Mas?" Arkan menoleh lalu dia menepuk keningnya.


"Maaf, saya tidak biasa pergi dengan perempuan jadi kebiasaan mengambil tempat sholat secara rancak." Mahya mengangguk maklum.


"Kalau begitu kita ke masjid ujung sana, di sana tempat wudhunya pisah."


"Iya," jawab Mahya sambil tersenyum tipis. Dia hanya berpikir, jika Arkan mengaku tidak pernah pergi dengan perempuan lalu bagiamana dengan Umi dan Kania? Mereka perempuan juga bukan?


---


Senja beberapa menit lagi akan menyapa, tetapi baik Mahya atau Arkan masih terjebak dalam padatnya kendaraan di jalan menuju kota. Keduanya hanya diam seraya mendengar suara murotal dalam keheningan.


Mahya mengamati setiap kendaraan yang mendahului atau didahului mobil Arkan. Dia jarang pulang dengan kendaraan pribadi, biasanya dia sering menggunakan kereta api atau bus. Selain menghemat waktu juga menghemat tenaga. Mahya melirik ke arah sang suami yang tampak letih, bagaimana tidak? Keduanya sudah berkendara sekitar delapan jam dan berhenti istirahat sejenak di waktu shalat.


Mahya menekan tombol pouse tepat di akhir ayat surat An-Najm. Lalu dia menoleh ke arah sang suami, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi seolah lidahnya kilu tak ingin bergerak. Sungguh dia masih begitu canggung.


"Ada apa?" tanya Arkan masih sibuk dengan jalanan yang mulai dipadati oleh kendaraan.


"Itu," kata Mahya menggantung, dia menggaruk pelipis lalu dia menoleh ke arah kiri, tampak bingung mengucapkan yang ada di pikirannya.


"Katakan saja, tidak dipungut biaya." Arkan membelokkan mobilnya ke kiri, terdengar samar tanda lampu sein menyala.


"Apa tidak sebaiknya," kata Mahya ragu. Arkan menoleh menunggu sang istri menyelesaikan ucapannya.


"Apa?"


"Katakan dengan jelas, Mas gak tahu maksud kamu, Mahya." Arkan menggerakkan setir ke kanan.


"Istirahat Mas, itu matanya Mas merah begitu." Mahya menunduk setelah mengucapkan kalimat yang mungkin terasa rancu. Sedangkan Arkan hanya tersenyum geli melihat wajah sang istri malu-malu. Sungguh, khas gadis perawan.


"Ini sedang cari tempat makan yang dekat masjid." Mahya menatap ke sekeliling, dia bisa melihat bahwa mobil yang dikendarai sang suami sudah tidak berada di jalan utama terbukti dengan jalan yang sedikit sempit dan terdapat beberapa pedagang takjil di pinggir jalan.


"Mahya baru tahu kalau di daerah ini dipenuhi penjual kalau di bulan Ramadhan." Mahya menatap takjub pedagang yang ada di sepanjang jalan.


"Kamu tinggal di Kota, berapa tahun?" Mahya mulai menekuni jarinya lalu dia mengangkat tangannya dengan dua jari tertekuk.


"Tiga tahu lebihlah." Arkan menoleh ke arah sang istri.


"Lalu? Selama itu apa yang kamu lakukan?"


"Kuliah, pulang, belajar, lalu melakukan segala kegiatan di rumah dan saat waktu kuliah kembali kuliah." Arkan menoleh lalu dia memarkir mobil di sebuah halaman minimarket.


"Kok berhenti?" tanya Mahya.


"Kamu belum pernah kemari bukan?" Mahya mengangguk. "Jadi tidak ada salahnya kita berjalan, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit. Di sana ada rumah makan dan di beberapa ruko ke kanan ada masjid juga."


Arkan keluar dari pintu dan disusul oleh Mahya, tidak ada adegan di mana seorang pangeran membukakan pintu mobil untuk sang putri.


"Kita berjalan ke mana?" tanya Mahya sambil merapikan pakaiannya.


"Bagaimana kalau ke sana, tadi aku lihat ada beberapa aneka minuman." Mahya mengangguk lalu keduanya berjalan beriringan. Mahya menatap ke arah tangan sang suami yang menggantung, bebas. Di dalam hati, ada sedikit rasa ingin digenggam tangannya lalu berjalan beriringan seraya berbincang banyak hal, tetapi Mahya tak berani mengungkapkan keinginannya.


Mahya masih berjalan di sebelah Arkan dengan satu langkah di belakang, karena dia tidak bisa mengimbangi langkah lebar sang suami. Mahya menoleh ke arah kanannya, dia bisa melihat beberapa jenis makanan dan minuman berjajar di meja dan dikerumuni beberapa orang.


"Kenapa berjalan di belakang?" tanya Arkan menghentikan langkahnya. Mahya menoleh ke arah sang suami lalu berjalan mendekati sang suami yang ternyata ada beberapa langkah di depannya.


"Maaf, terlalu fokus ke arah penjual." Mahya kembali mengikuti langkah Arkan.


"Kamu ingin sesuatu?" tanya Arkan.


"Masih belum." Mahya kembali menoleh ke arah pedagang, tanpa terasa dia kembali tertinggal. Mahya menggenggam kedua tangannya di depan lalu dia berjalan pelan sesekali dia berhenti karena penasaran.


"Kita beli jus buah segar di sana saja," kata Arkan menggandeng tangan sang istri yang tampak berjalan jauh di belakang.


"Buah apa?" tanya Mahya dengan lugu, dia saat ini sedang menenangkan detak jantungnya, dia tidak menduga jika keinginan yang terpenuhi tidak baik untuk kinerja jantungnya.


"Buah segar itu," kata Arkan sambil menjulurkan tangannya ke arah stan yang cukup sepi.


"Tunggu dulu, Mas." Mahya melepas genggaman tangannya, lalu dia berhenti dan menunduk dengan tangan kiri berada di lutut dan tangan kanannya menempel di dada.


"Ya Allah, apa aku sakit jantung?" Mahya menyuarakan pikirannya membuat Arkan menoleh dengan cemas.


"Kamu kenapa?" tanya Arkan, dua tangannya sudah mengangkat dua bahu sang istri. Mahya menatap Arkan dengan napas putus-putus.


"Kenapa wajah kamu memerah, Mahya? Kamu sakit?" Arkan menyentuh kening Mahya lalu dia menoleh ke arah kursi yang baru saja ditinggal pergi. Dia lalu menuntun sang istri untuk duduk.


"Kamu lelah?" tanya Arkan.


"Gak tahu, tadi pas Mas pegang tanganku rasanya jantungku berdetak kencang dan lututku terasa lemas." Arkan menatap ke arah sang istri, dia tersenyum geli dengan hal yang baru saja dia dengar. Sungguh, dia merasa khawatir bercampur dengan rasa geli mendengar ucapan sang istri.


"Sekarang bagaimana?" tanya Arkan berjongkok di depan Mahya.


"Sudah mendingan." Arkan tersenyum lalu mengelus puncak kepala Mahya, ingin rasanya dia menghujani kecupan di wajah menggemaskan dan polos itu, tetapi dia tahu tempat dan situasi. Dia adalah lelaki dewasa yang harus memiliki pemikiran yang dewasa pula dan bermesraan di tempat umum bukanlah sikap dewasa dan bijak.


"Ya sudah, kamu duduk di sini. Mas pesan jus buat berbuka lalu kita kembali ke mobil dan mencari tempat shalat sebelum ke rumah makan." Mahya mendongak ke arah sang suami yang berdiri dari jongkok.


"Aku gak mau ditinggal sendiri," kata Mahya pelan. Arkan mengangguk lalu dia mengulurkan tangannya.


"Ayo!" Mahya menatap tangan sang suami lalu menatap sang suami, dengan ragu dia menyatukan tangannya dengan tangan sang suami.


"Mas pegangin biar gak jatuh," kata Arkan lalu mengajak sang istri berjalan beriringan, sesekali dia melirik sang istri yang tampak sibuk dengan mengamati sekeliling.


"Kenapa tidak langsung ke rumah makan, Mas?" tanya Mahya kala sang suami masih sibuk dengan kemacetan, sungguh jalannya tampak merayap kala sang senja hendak meninggalkan singgasana.


"Mas tetap lelaki walaupun sudah menikah," jawab Arkan dengan cepat dia menyalakan lampu sein lalu membelokkan mobilnya ke sebuah gang yang cukup sepi.


"Terus?"


"Kamu masak lupa?" tanya Arkan membuat Mahya heran.


"Apa sih Mas?" Arkan menoleh ke arah Mahya dia memberikan senyum kecil.


"Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda : Seorang lelaki buta menjumpai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku berjalan ke masjid. Lalu ia memohon kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga boleh shalat di rumahnya. Lalu beliau membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau memanggilnya dan bertanya: "Apakah kamu mendengar adzan shalat?" Ia menjawab: "Ya". Beliau pun menyatakan: "Maka datangilah!". Kalau orang yang tak tahu arah ke masjid dan mengandalkan indra pendengaran saja diminta mencari, mengapa Mas yang memiliki semua ini tidak pergi ke masjid?"


"Iya sih, laki-laki wajib shalat berjamaah." Mahya menyambung dengan suara pelan.


"Kita berbuka dengan jus buah dan kurma dulu, kamu ambil di kotak." Mahya menuruti apa yang diperintahkan oleh sang suami. Karena mau bagaimana suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.


---