Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Sepuluh



"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." 


(QS Ali 'Imran: 196-197)


---


Mahya bukan orang yang ribet dalam berbagai hal. Dia hanya gadis biasa dengan pola pikir dan pola hidup biasa. Mahya merapikan buku yang ada di meja, lalu dia merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan, sebelum ditinggal pulang kampung kamar harus rapi.


Mahya meraih map biru, dia menerbitkan senyumnya. Kalau boleh jujur ini semua di luar harapannya, karena sebenarnya dia ingin menyelesaikan skripsinya terlebih dahulu baru melanjutkan tahap perkenalan ini ke yang lebih dalam. Tetapi sayang, dosennya itu membuat semuanya berubah tanpa bisa dia cegah.


"Kamu tidak berbenah?" tanya Tante Ambar masuk ke dalam kamar Mahya.


"Ini lagi berbenah, Tante." Mahya memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel. Meski dia harus dilarang untuk bimbingan tapi bukan berarti dia berhenti mengerjakan skripsi.


"Wah, malam ini malam terakhir tidur di sini dong." Tante Ambar mengatakan itu dengan nada lemah, Mahya tertawa kecil.


"Nanti abis lebaran juga masih tidur di sini." Mahya merapikan beberapa buku yang ingin dia bawa.


"Kok bisa, emangnya kamu gak mau ikut suami kamu?" Mahya menghentikan gerakannya, dia menoleh ke arah sang Tante.


"Iya ya, kok Mahya lupa." Mahya mengatakan itu dengan nada tidak percaya. Sungguh waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa, tetapi dia tidak menyesali semua itu dia bersyukur atas segala keadaan yang telah dia alami. Ada sedikit ketakutan yang merayapi pikirannya.


"Mungkin kamu belum terbiasa saja, nanti juga lama-lama biasa."


"Ciye, Tante kayak udah pengalaman." Mahya mengatakan itu dengan nada menggoda.


"Mahya," kata Tante Ambar memperingati Mahya yang terkikik geli.


"Tapi aja Tan, memang menikah itu gambarannya seperti apa?" tanya Mahya sedikit lebih pelan.


"Ya halal hidup bersama." Mahya mengerutkan keningnya, kalau sekedar itu Mahya tahu benar tetapi yang dia inginkan bukan hanya sekedar itu.


"Tante," kata Mahya merajuk.


"Kamu memangnya punya impian menggelar pernikahan seperti apa?" Mahya berdiri lalu duduk di kursi. Dia menatap jauh ke depan, kalau boleh jujur Mahya tidak memiliki impian menggelar pernikahan ala masa kini. Dengan dekor mewah dandanan yang ala putri-putri kerajaan. Sungguh tidak, dia tidak memiliki stok muka setebal itu.


Mahya adalah sosok sederhana, yang menyukai hal sederhana. Dan harapannya tentang pernikahan selama ini dia rencanakan adalah menikah di malam Lailatul Qadar, atau sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Berada di masjid dan mengadakan buka bersama di masjid dan dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah. Itu sudah lebih dari cukup baginya.


Tetapi, kadang sebagian dari hati Mahya bertanya-tanya. Seperti apa sebenarnya pernikahan itu digelar yang sesuai dengan aturan agama. Pernah dulu Mahya berbincang dengan Zahra tentang impian pernikahan, tetapi Zahra dengan santai ingin membuat garden party ala putri-putri kerajaan. Mahya jelas langsung tahu gambarannya dan itu bukan yang diinginkan oleh hatinya.


"Kenapa malah bengong?" tanya Tante Ambar.


"Mahya gak ada pikiran, hanya saja Mahya ingin menikah di tanggal akhir bulan Ramadhan waktu di mana Al-Quran diturunkan dengan cara berangsur-angsur." Mahya menerbitkan senyum tipisnya.


"Bagus kalau kamu tidak memiliki pemikiran pernikahan ala-ala Barat." Tante Ambar berkomentar dengan lega, Mahya mengerutkan keningnya.


"Kenapa Tante?" tanya Mahya sedikit heran, karena kebanyakan orang menyukai pesta pernikahan seperti itu.


"Karena tidak sesuai dengan syariat."


"Bagaimana bisa?" tanya Mahya dengan polos.


"Bayangkan saja, mereka melakukan foto prewedding. Padahal keduanya belum halal." Mahya mengangguk lalu dalam pikirannya terlintas sesuatu yang sedikit tidak meyakinkan tetapi bukankah kita dilarang berprasangka buruk.


"Bisa jadi foto itu adalah foto editan, Tante. Gak baik ah kalau berprasangka buruk."


"Dla, Tante tidak berprasangka buruk. Tante hanya memaparkan keadaan yang cukup nyata." Tante Ambar tidak terima. Mahya hanya mengangguk sambil lalu, dia tidak ingin berdebat dengan sang Tante. Toh pada kenyataannya memang ada yang menggunakan pendapatnya dan ada pula yang menggunakan pendapat dari Tantenya.


"Apa lagi pakaian dan dandanannya, selain itu juga pergelaran yang mencampur adukkan antara lelaki dan perempuan. Masih banyak lagi, Tante jadi ingat pernah membaca sebuah kisah. Tentang Rasulullah yang takut jika umatnya nanti saat ditinggal beliau akan terlena dengan nikmat dunia yang fana dan terlena dengan budaya yang masuk dalam Islam yang nyatanya tidak sesuai dengan Islam tetapi menjamur di kalangan Islam." Mahya termenung, dia melupakan akan hal itu, dia juga pernah membahas ini di salah satu mata kuliahnya. Entah karena apa dosennya waktu itu membahas tentang budaya yang masuk ke Indonesia yang menjamur di kalangan orang Islam padahal budaya itu bukan budaya Islam.


"Terus, menurut Tante Ambar pernikahan yang syar'i bagaimana?"


"Sederhana Ya, acara lamaran tidak dengan rempong dengan acara yang panjang. Cukup kedua wali mempelai dan calon mempelai. Terus untuk mahar memilih yang sederhana, sebagaimana sebuah hadits bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang murah maharnya. Lalu saat acara resepsi pernikahan tamu lelaki dan perempuan dipisah, tidak ada acara selfie sana sini untuk mempertontonkan kemewahan atau kebahagiaan. Acara makan pun harus sederhana, tidak perlu berlebihan sehingga makanan banyak yang mubadzir. Terus acara apa lagi?" Mahya masih menyimak, dia tersenyum melihat ekspresi berpikir Tantenya.


"Itu pakaian dan riasan kamu. Ingat kita hanya boleh berdandan di depan suami kalau kamu dandan di depan orang banyak itu kan dilarang." Mahya mengangguk sambil tersenyum, dia tahu jika masalah itu. Bahkan dia memang gadis polos yang jarang bersentuhan dengan berbagai macam make up.


"Terus apa lagi, Tante?"


"Pokoknya tidak ada musik yang seperti saat Tante. Ah, kalau Tante tahu sejak dulu mungkin Tante tidak akan mau menikah dengan acara yang super rempong dan ternyata jauh dari aturan Islam."


"Iya itu sangat penting, semoga bisa Istiqomah."


"Aamiin."


"Kamu packing yang ingin kamu bawa ke rumah suami kamu juga, nanti biar tinggal mengirim ke sana setelah acara pernikahan." Mahya mengangguk. Lalu dia terpaksa menurunkan koper yang ada di atas lemari.


"Ayo kamu yang mengeluarkan jubah kamu. Tente yang membantu menata di dalam koper."


"Iya, terima kasih Tante. Sungguh, aku tidak tahu jika tidak ada Tante. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mengirimkan Tante sebagai penolong." Mahya langsung mengamburkan tubuhnya ke dalam pelukannya Tantenya, dia sungguh amat bersyukur dengan takdirnya.


"Kamu belum tentu menikah juga, Ya. Orang calon kamu tampan dan Sholeh begitu. Mana mau sama kamu yang cengeng ini."


"Aku bilangin Om Galih loh, kalau Tante memuji calon suami keponakannya." Mahya dan Tantenya tertawa bersama dan masih betah saling berpelukan.


---


Menapaki tanah kelahiran itu seperti masuk ke dalam pelukan ayah dan ibu. Seolah kembali kepada masa di mana dia masih begitu tergantung dengan uluran tangan kedua orang tuanya. Begitulah kurang lebih rasa haru yang menyelimuti perasaan Mahya saat ini.


Mahya berjalan keluar dari stasiun kereta, dia menghela napas seolah dia telah membuang napas panasnya ibu kota dan beberapa saat dia mulai menghisap dengan rakus udara kota kelahirannya. Dia menerbitkan senyum kala angin semilir membelai wajahnya, tak lama senyumnya semakin merekah kala dia melihat sesosok paruh baya yang masih tampak gagah meski usianya menjelang senja.


Mahya dengan cepat berjalan setengah berlari, dia menatap wajah sang ayah dengan bola mata yang berkaca-kaca. Sungguh, dia begitu merindukan ayahnya.


"Assalamualaikum," salam Mahya mendekati sang ayah lalu menjabat tangan. Tidak ada adegan pelukan atau mencium pipi di tengah keramaian yang ada hanya saling menatap dengan penuh haru.


"Bagaimana perjalanan, lancar?" tanya Pak Haki, ayah kandung Mahya.


"Alhamdulillah lancar, Pak. Bapak apa kabar? Mahya kangen." Mahya merangkul dengan mesra pengaturan kokoh sang ayah. Lengan yang selama ini menjadi perantara pengais rejeki.


"Alhamdulillah baik. Kamu harus banyak cerita nanti sampai rumah."


"Ok, setuju."


"Ayo pulang, Ibu sudah tidak sabar menunggu." Mahya menerbitkan senyumnya, dia sudah membayangkan wajah sang ibu. Mengingat sang ibu maka dia juga harus siap dengan rentetan ceramah panjang yang akan dia terima. Tetapi sungguh, Mahya tidak pernah mengeluhkannya karena baginya begitulah sang ibu mencurahkan kasih sayangnya.


"Ayuk!" Mahya dan ayah berjalan beriringan, sesekali Mahya bercerita tentang kondisi di ibu kota juga bercerita tentang perjalanannya membuntuti ilmu. Mahya akan berubah menjadi perempuan aktif dan banyak bicara jika sudah bergabung bersama keluarganya. Karena itu sudah tuntut keadaan, jika dia hanya diam saja maka dia harus siap menerima kuliah tujuh jam bersama ibunya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Mahya pulang." Mahya membuka pintu lalu segera masuk ke dalam rumah.


Tak lama seorang paruh baya keluar dari arah dapur sambil menggelengkan kepalanya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, anak gadis kok suka teriak. Cuci kaki dan tangan dulu." Ika, ibu Mahya memperingati perintah yang tidak bisa diganggu gugat.


"Iya Bu." Mahya melepas tasnya lalu berlari menuju kamar mandi. Setelah melakukan hal yang diperintahkan sang ibu Mahya segera keluar dan memeluk sang ibu dengan kencang.


"Kangen ibu," kata Mahya sambil mengecup kedua pipi sang ibu.


"Kangen kok gak pernah sambang pulang," kata Ibu Ika membalas pelukan sang anak.


"Mau bagaimana lagi, Mahya sibuk kuliah Bu."


"Sibuk kuliah kok sempat-sempatnya ada lelaki yang mendatangi Bapakmu. Kamu tidak melakukan hubungan yang dilarang agama, bukan?"


"Maksud ibu?" tanya Mahya mengurai pelukan.


"Sudah-sudah, dibicarakan nanti lagi. Sekarang kamu ke kamar saja istirahat." Pak Haki melarang istrinya mencerca sang putri kesayangannya, karena selain sudah mendekati waktu shalat dan juga pasti putrinya itu masih lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


"Ya sudah, sana istirahat Ibu bikinkan minuman." Mahya mengangguk setuju. Dia mengecup pipi sang Ibu lalu membawa ranselnya menuju kamar. Dia butuh istirahat sebelum mendengar penjelasan dari sang ibu tentang ucapannya tadi dan selain itu dia juga harus segera membersihkan diri karena waktu Dzuhur sudah hampir tiba. Mahya masih ingat sebuah hadits yang dia ketahui dari ustadz yang mengajar dulu saat dia masih di pondok.


Dari Ummu Farwah, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, "Shalat di awal waktunya." (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Dengan berbekal hadits itu, Mahya selalu berusaha sholat di awal waktu dan tidak berleha-leha menunda sholatnya.


Mahya tersenyum lalu dia menoleh ke arah kalender yang menempel di dinding. Dia tersenyum lebih lebar dan berkata dengan penuh keriangan.


"Besok tanggal satu Ramadhan."


----