
"Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya. Jika mereka terlunta-lunta (tidak mempunyai wali), maka penguasa adalah wali bagi siapa (wanita) yang tidak mempunyai wali."
(HR. At-Tirmidzi no. 1102)
---
Perjalan hidup itu terasa begitu cepat jika dipikir dan kadang begitu lambat saat dalam masa yang berat. Kehidupan tidak pernah ada yang bisa menebak bagaimana jalan ceritanya, jika ending cerita dunia hanya satu, mati. Tetapi setelah kematian jangan lupa bawah masih ada lagi perjalanan yang lebih abadi dan kekal.
Mahya berjalan keluar dari kamarnya, sejak tadi setelah makan siang belum sempat meluangkan waktu untuk berbincang dengan ayah dan ibunya. Jika dua saudaranya bisa dipastikan bahwa keduanya jarang ada di rumah.
Mahya lahir dari pasangan suami istri yang begitu penyayang. Ayah Mahya seorang guru PNS dan Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Keluarganya memiliki usaha empang atau kolam pelihara ikan. Mahya tiga bersaudara, dia anak kedua dan satu-satunya perempuan. Jadi bisa dipastikan bahwa adik dan kakaknya ada cowok semua.
Mahya dulu sempat menempuh pendidikan di pesantren selama satu tahun, tepat di awal masuk ke SMA. Tetapi, dia tidak bisa sampai lulus karena tidak betah dengan mode persahabatan yang menurutnya tidak sehat hingga membangun karakter Mahya yang cenderung pendiam dengan orang-orang baru.
Mahya melihat sang ibu sedang menjahit di ruang tengah, mendekati lalu duduk di sebelah mesin jahit. Dia mengamati kegiatan sang ibu yang tampak sibuk sendiri dengan dunianya.
"Ibu menjahit baju siapa?" tanya Mahya memecah keheningan.
"Ini, sejak kemarin Ibu ada kain bagus. Siapa tahu kamu berkenan mengenakannya saat menikah nanti." Mahya tersenyum haru mendengar jawaban sang ibu, biasanya ibunya itu cerewet dan mengomentari ini itu tentang dirinya. Tetapi, sepertinya hari ini tidak sebab dia akan menikah dalam waktu dekat dan yang menjadi hal paling mengejutkan lagi adalah, ibunya tidak melarang dia menikah di usia muda.
"Sayang Ibu," kata Mahya memeluk sang Ibu.
"Kamu itu, sayang kalau ada maunya saja. Kalau dibikin senang baru bilang sayang kalau sedang mode diam bilangnya lebih sayang Bapak."
Mahya hanya terkekeh geli mendengar gerutu sang Ibu, dia tahu di balik segala ucapan ibunya yang kadang pedas dan tak tersaring terdapat sebuah perhatian tak kasat telinga. Coba kalian resapi setiap ucapan yang ibu kalian lontarkan kepada diri kalian. Apakah pemikiran saya benar?
"Tapi aja Bu, memangnya Ibu dan Bapak sudah memberi restu?"
"Tergantung," jawab sang ibu membuat Mahya heran.
"Maksudnya bagaimana?"
"Tunggu, cerita sama ibu bagaimana kamu bisa kenal Nak Arkan." Mahya melepas tangannya yang mengalungkan di leher sang ibu, kembali duduk di kursi lalu menerawang seolah dia tengah mengingat-ingat.
"Sejujurnya, Mahya belum pernah ketemu sama Arkan." Ibu Mahya menoleh dengan cepat.
"Jangan bercanda." Ibu Ika memberikan lirikan mautnya sambil menggerakkan pemotong benang.
"Beneran ibu, itu Cece Ais yang memberi rekomendasi. Pas waktu itu Mahya bilang izin mau cari jodoh itu terus Mahya bikin semacam proposal begitu untuk diajukan ke Ikhwan melalu perantara Cece Ais. Itu loh Bu, yang tinggal beberapa ruko dari ruko Tante Ambar."
"Yang kayak orang Tionghoa itu?"
"Iya." Mahya menjawab dengan antusias, karena ibunya masih mengingat orang yang pernah ia ceritakan padahal Mahya ingat benar bahwa ibunya hanya satu kalau tidak dua kali bertemu itupun hanya sekedar menyapa mata dan anggukan kepala.
"Kamu yakin? Dia orang Islam bukan?"
"Iya Bu, Cece Islam sejak lahir seperti kita kok. Hanya wajahnya saja yang keturunan Chinese, karena Bapak Cece itu orang China."
"Kamu beneran yakin mau menikah dalam waktu dekat? Menikah itu bukan perkara kita bisa melakukan apa saja, tapi itu perkara hati, niat yang paling utama. Bukan karena dorongan manusia, keadaan ataupun yang lainnya. Tetapi karena niat tulus dalam hati." Mahya mengangguk.
"Selain itu, menikah tidak sama dengan bermain peran seperti yang dulu kamu sering lakukan saat di sekolah. Ini tentang kehidupan penentuan bagi kamu, harus bisa jaga diri bukan sekedar tentang kamu tetapi tentang orang lain yang paling utama adalah tentang suamimu. Kamu yakin mampu?" Mahya menatap wajah sang ibu, tidak merasa terbebani sama sekali dengan ucapan panjang itu, justru bersyukur memiliki ibu yang begitu perhatian meski tampak tak peduli.
Bagaimana bisa dibilang peduli kalau ibunya mengatakan hal itu tanpa memandang ke arah Mahya sedikitpun, ibunya itu masih sibuk dengan kain dan pendedel pakaian.
"Insya Allah, doakan Mahya ya Bu. Lagi pula usia Mahya sudah cukup untuk menikah."
"Menikah itu bukan perkara usia, Ndok. Menikah itu perkara kesiapan lahir dan batin bagi pelakunya. Dan ibu lihat lelaki itu delapan tahun lebih tua darimu, sebenarnya Ibu tidak menghawatirkan itu hanya saja takut kalau sifat kekanak-kanakan kamu keluar dan suami kamu tidak bisa menerima. Karena menikah itu yang baik-baik kadang tidak terlihat justru banyak yang kelihatan perkara buruk dari pasangan."
"Tapi aja Mahya siap menerima, Ibu. Mahya sudah sholat istikharah dan Mahya semakin matang untuk melangkah ke jenjang itu."
"Kamu gak pingin kerja dulu, mengaplikasikan ilmu yang kamu punya terlebih dahulu." Mahya tersenyum lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Enggak Bu, Mahya pingin mengaplikasikan ilmu nanti ke anak Mahya."
---
Mahya berjalan menuju kursi di meja makan, melihat sang kakak sedang menikmati kopi dan di seberang meja duduk ibu dan ayahnya.
"Abang kapan pulang?" Mahya mendekati sang kakak sambil menjabat tangannya.
"Sejak sore, tadi kamu masih tidur Abang lihat."
"Oh, iya tadi Mahya mengantuk, udah ditahan tapi tetap aja terlelap." Mahya mengatakan hal itu dengan dana tak enak. Karena memang bukan rahasia umum lagi kalau tidur setelah sholat Asar itu dilarang keras.
"Bagaimana kuliah kamu?"
"Baik, Mahya ada sahabat yang baik juga."
"Alhamdulillah kalau begitu, lalu skripsi kamu bagaimana?"
"Ih Abang, kenapa menanyakan skripsi. Mahya jadi ingat sama dosen Mahya." Mahya kembali teringat ucapan Pak Arkan yang melarangnya bimbingan sampai selesai lebaran.
"Memangnya ada apa dengan dosen kamu?" tanya Pak Haki.
"Masak ya Pak, Mahya dilarang bimbingan sampai habis lebaran." Mahya bercerita dengan nada bersungut-sungut.
"Padahal hari itu bimbingan pertama kali Mahya sama Pak Arkan face to face. Soalnya selama hampir dua bulan Mahya bimbingan tanpa bertemu dengan orangnya."
"Orangnya sibuk kali, Dek. Bukankah kampus kamu walau swasta tapi terbaik di kota jadi wajar kalau sering sibuk." Bang Aidan menimpali dengan santai.
"Tapi tetap saja itu gak adil, Bang. Masak sama mahasiswa lainnya bisa terus pas sama Mahya selalu tidak bisa, padahal Bang Mahya selalu mengirim pesan terlebih dahulu sebelum bimbingan. Dan beliau selalu membalas tempatnya, dan anehnya selalu menghilang begitu saja."
"Kamu sudah tanya alasannya?" tanya Pak Haki.
"Belum secara langsung, hanya spekulasi dari teman saja. Mungkin karena Pak Arkan tidak aku bertemu dengan Mahya, pasalnya dosen itu sedikit killer. Dosen itu tidak pernah berinteraksi dengan mahasiswi, dan tentang Mahya yang jadi mahasiswi bimbingannya itu dikarenakan tinggal satu kursi itu saja yang ada." Mahya mengatakan dengan lesu, dia melirik ke arah sang ibu dan hanya diam saja. Dan ternyata sang ibu tengah memasang kancing baju.
"Nah itu, dosen kamu berarti lurus." Mahya mengangguk tanda setuju, karena dia juga berpikir demikian.
"Iya lurus banget, sampai digoda sama dosen seksi tidak terpengaruh. Padahal Bang, dosen cewek itu dosen terseksi di kampus, tinggi semampai, selalu berpakaian modis," kalimat Mahya terpotong dengan teguran sang kakak.
"Kamu boleh bercerita adalah jangan mendeskripsikan dengan detail, Abang tidak mau zina pikiran dengan membayangkan bentuk dan wajah dosen kamu." Mahya hanya meringis, dia tahu benar maksudnya.
"Hehehe, maaf Bang."
"Dosen perempuan kamu kenapa?"
"Dia menyatakan cinta ke Pak Arkan, Pak. Padahal di depan umum." Pak Haki mengangguk beberapa kali. Mungkin hal ini bukan sesuatu yang baru di zaman modern ini, kata para perempuan ini adalah masa emansipasi wanita jadi wanita memiliki kedudukan sama dengan pria, padahal salah Islam jelas tidak seperti itu karena mau bagaimanapun lelaki tetap memiliki satu tingkat di atas perempuan.
"Lalu apa yang dilakukan Dosen pembimbing kamu?"
"Beliau hanya diam saja," jawab Mahya dengan pelan lalu dia terlonjak antusias. " Tapi Pak, masak beberapa hari selanjutnya dosen cewek itu menjadi jaga jarak gitu sama Pak Arkan. Kalau menurut gosip sih Pak Arkan menolak dosen itu dengan halus dan tidak di depan umum. Tapikan dosen cewek itu sudah kepalang malu juga."
"Sudah, kok malah pada ghibah." Ibu Ika berdiri dari duduknya, meninggalkan tiga orang yang sedang meringis.
"Itu tandanya dosen pembimbing kamu orang baik, Dek. Dia tidak menolak langsung di depan umum tetapi dia menjaga harga diri perempuan itu dengan menolak di belakang."
"Iya sih. Tapi aja Mahya tetap kesal dengan Beliau." Mahya memang mengakui jika secara pengetahuan agama pak Arkan mungkin lelaki yang baik dan suamiable seperti yang dikatakan oleh Zahra, tetapi entah mengapa di sudut hati Mahya masih tersimpan rasa kesal karena semua hal yang sudah terjadi.
Mungkin benar adanya yang dijelaskan dalam surat Al-Insyirah ayat delapan tertantang kita yang hanya boleh bersandar kepada Allah. Karena saat kita bersandar kepada selain Allah tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan merasakan yang namanya kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi yang kita miliki.
Mungkin karena Mahya sudah memiliki pemikiran yang sangat tinggi sehingga saat dia merasa gagal maka dia merasa kecewa. Dan yang menjadi sasaran kekecewaan itu sendiri adalah orang yang menggagalkan ekspektasi yang dia bangun. Padahal, pada kenyataannya jika dirinya sendiri yang melakukan kesalahan.
---