
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
Artinya: "Pada hari ini terkumpul bagi kalian dua hari raya, barangsiapa yang ingin mencukupkan dengan (shalat id) dari shalat Jum'at, maka itu cukup baginya, tetapi kami tetap shalat Jum'at bersama".
HR. Abu Daud (1/647, no. 1073), Ibnu Majah (1/416, no. 1311), Al Hakim (1/277), Al Baihaqi (3/318-319) dan Al Khathib di dalam kitab Tarikh Baghdad (3/129)dan Ibnu al-Jauzy di dalam Al 'Ilal Al Mutanahiyah (1/437, no. 805), (dan dishaihihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al- Jami' (no. 4365), pent).
----
Titik peluh membasahi dahinya, dengan sisa tenaga yang dimiliki wanita itu menggeser meja besar yang cukup berat untuk ia lakukan seorang diri. Jemari lentik itu menghapus lembut titik-titik peluh yang dihasilkan wajahnya dengan pipi yang bersemu merah die mendesah kala benda di depannya berpindah beberapa centimeter.
"Astaghfirullah, berat sekali." Wanita itu mengucapkan dengan pelan, dia menunduk lalu menatap ke arah pintu seolah dia tengah berharap ada tenaga datang membantunya.
"Kenapa berhenti?" tanya sebuah suara membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Mas Arkan!" seru Mahya antar terkejut dan juga antusias.
"Kenapa?" tanya Arkan yang sudah keluar dari kamar mandi. Dia menggantung handuknya di bahu lalu berjalan mendekati sang istri.
"Kapan Mas pulang? Kok aku gak lihat." Mahya menatap wajah sang suami heran. Benar saja, sejak tadi dia fokus dengan cara menggeser meja kerja Arkan supaya tidak menghalangi langkah saat menuju jendela.
"Sejak kamu mondar-mandir mengukur jarak meja, besar meja dan tenaga yang dibutuhkan." Mahya meringis kala mendengar jawaban Arkan, karena pada kenyataannya dia tadi menerapkan konsep fisika itu sebelum mencoba menggeser meja.
"Kok aku gak dengar."
"Kamu terlalu berkonsentrasi, Sayang." Arkan mendekati Mahya dan menyerahkan handuk ke tangan sang istri.
"Ada kalanya konsep itu tidak diperlukan untuk kegiatan nyata. Seperti saat ini, kala kita seorang diri mengangkat meja yang ukuran lebih besar. Kamu butuhkan adalah cara yang memudahkan bukan tenaga yang dibutuhkan." Arkan mengangkat ujung meja sebelah kanan lalu bergantian dengan sebelah kiri dan meja sudah bergeser dengan mudahnya.
"Kok Mas Arkan lebih bisa?" Mahya merengut lalu dia meremas kertas hitungan yang dia buat.
"Jangan marah, sudah pada kodratnya kalau lelaki itu lebih kuat dari perempuan. Ingat suami itu penopang istri jadi harus lebih kuat makanya kalau istri gak bisa menikah lagi sedangkan suami bisa menikah hingga tiga." Mahya melotot mendengar ucapan santai dan datar Arkan. Dia sungguh tidak terima dengan kalimat terakhir sang suami.
"Mas Arkan sudah janji kalau tidak akan poligami!" Arkan menaikan satu sudut bibirnya.
"Siapa yang bilang mau poligami?"
"Tadi?"
"Di bagian mana?" tanya Arkan santai.
"Kalau suami boleh menikah dua hingga tiga." Arkan tertawa kecil.
"Memangnya itu salah, sesuai aturan Islam itu tidak dilarang."
"Tuh kan Mas Arkan. Jangan bilang kalau Mas Arkan mau menikah lagi." Arkan tertawa kecil lalu dia menarik pinggang Mahya sehingga tubuh keduanya bersentuhan.
"Mas bukan orang yang suka mengikuti nafsu. Kamu tahu, hingga saat ini tak sedikitpun terbersit keinginan untuk menduakanmu. Kamu harus yakin itu, Mahya." Arkan memeluk sang istri membuat Mahya sedikit lebih tenang.
"Mas, ingat puasa."
"Iya, Mas ingat kok." Arkan masih mengeratkan pelukannya.
"Mas, tadi Bu Dina ke mari."
"Bu Dina?" tanya Arkan melepas pelukan lalu menatap penuh tanya ke arah Mahya.
"Iya, beliau mencari Mas Arkan."
"Kenapa?"
"Gak tahu. Soalnya dia pamit pulang dan akan datang lagi nanti kalau sudah ada Mas Arkan."
"Dari mana dia dapat alamat rumahku?"
"Kok Mas tanya aku, jelas aku tidak tahu."
"Benar, kamu pasti tidak tahu."
"Ya bisa jadi Mas tanpa sadar sudah memberitahu Bu Dina." Arkan menggelengkan kepalanya.
"Mas gak pernah memberikan alamat rumah ini. Soalnya Mas tidak pernah membawa orang kampus ke rumah." Mahya hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, tapi tunggu dulu. Kalau Mas tidak mengizinkan orang kampus ke rumah, lalu kenapa waktu bimbingan Mas mengizinkan aku datang."
"Itu beda lagi ceritanya."
"Hayo, apa yang Mas sembunyikan?"
"Kok Mas cium bau asem sih." Mahya menatap horor ke arah sang suami lalu dia segera mundur.
"Mahya mandi dulu, Mas baju buat shalat udah aku siapkan." Mahya segera pergi ke dalam kamar mandi tak menghiraukan panggilan Arkan yang akan memberitahu bahwa Mahya belum mambawa bahu ganti. Arkan tertawa geli kala sang istri yang tidak percaya diri dengan bau badannya sudah melenggang pergi.
---
Warna langit tampak syahdu dengan mendung menyelimuti tipis-tipis dan suasana menjadi terasa manja kala terasa angin semilir terdengar menggerakkan dedaunan juga ranting saling bergesekan.
Sore ini Mahya masih sibuk dengan kue nastar yang baru dia masukkan ke dalam mika-mika plastik. Dia menata dengan pelan, sedangkan sang mertua sudah sibuk dengan para saudara lainnya untuk menyiapkan makanan berbuka di akhir bulan Ramadhan.
"Perlu bantuan?" Arkan berdiri di samping sang istri.
"Mas yang memberi pelekat, lalu disimpan di plastik." Mahya menunjuk ke tumpukan nastar yang sudah dia tata rapi.
"Baiklah, Bismillah." Arkan mulai menarik plaster untuk menutup cela-celah mika.
"Kamu sudah beli beras untuk zakat?" tanya Arkan.
"Sudah Mas, nanti tinggal di kumpulkan." Mahya menjawab dengan tenang, kemarin dia memang sempat izin kepada Arkan untuk pergi ke supermarket dengan Kania untuk membeli beras sebagai alat membayar zakat dan sepertinya dia lupa bahwa belum memberitahu Arkan Tetang keberadaan benda tersebut.
"Biasanya suasana seperti apa yang kamu alami di hari menjelang lebaran."
"Maksudnya?"
"Ya, mungkin kamu dan keluarga memiliki kebiasaan tertentu."
"Oh, tidak ada yang spesial. Di malam hari raya kami justru tidur lebih awal supaya pergi ke lapangannya tidak terlambat." Mahya mengucapkan itu dengan raut wajah tampak berfikir, dia mencoba mengingat setiap hal yang dia lalui tetapi sepertinya dia tidak menemukan hal yang spesial.
"Beli baju baru?" tanya Arkan.
"Aku tidak pernah beli baju di luar Mas, hampir seluruh baju itu buatan tangan ibu atau hasil jahitan sendiri." Mahya menerbitkan senyumnya, dia cukup bersyukur dan bangga dengan kelebihan yang dia miliki.
"Kamu bisa menjahit?" tanya Arkan sedikit terkejut dan merasa aneh.
"Bisa, tapi kalau motong belum bisa."
"Jadi ini sebabnya kamu menoleh beli baju kemarin?" tanya Arkan, sejujurnya Arkan sedikit tak enak hati dengan sang istri. Karena kemarin sebelum Dina datang ia berjanji akan mengantar Mahya menuju sebuah rumah jahit yang khusus untuk akhwat. Tetapi karena ada tamu membuat Arkan memundurkan rencananya, dan hasilnya adalah Mahya tak mau diajak keluar rumah di malam hari.
"Bukan." Mahya menjawab dengan singkat.
"Lalu?"
"Kamu tidak merajuk karena kedatangan Bu Dina, bukan?" Mahya menoleh ke arah Arkan lalu dia tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Mahya mengatakan itu dengan tegas, dia tak memiliki sedikit rasa marah atau kesal kepada suaminya hanya karena datangnya dosen yang menjadi rekan kerja suaminya.
"Nanti malam kamu mau pergi dengan Mas setelah shalat isya?"
"Kemana?" tanya Mahya.
"Kamu ikut saja." Arkan berdiri sambil merapikan bungkusan nastar.
"InsyaAllah ya Mas." Mahya menjawab dengan lembut, Arkan hanya mengangguk tanda setuju. Arkan mendongak kala mendengar langkah sang istri menjauh dari tempatnya, dia tersenyum tipis dan mengucapkan tahmid di dalam hatinya.
"Sedang apa, Kan?" tanya Gaby yang baru masuk ke ruang makan. Arkan tidak menjawab dia menunjukkan plastik yang dia pegang.
"Butuh bantuan?" tanya Gaby menawarkan diri.
"Tidak perlu, ini sudah selesai." Arkan menunduk, dia bukan malu tetapi menjaga pandangan. Gaby memang saudara sepupu dari kakak ibunya tetapi mau bagaimanapun saudara sepupu bukanlah mahram.
"Ya sudah, aku ke belakang bantu Tante dan yang lain." Arkan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Itu tadi Mbak Gaby?" tanya Mahya yang menghampiri Arkan.
"Iya." Mahya kadang heran menatap wajah sang suami yang tampak tak nyaman kala berkumpul dengan saudara yang lainnya.
"Kamu mau buka bersama Mas di luar?" Mahya mendongak dengan cepat kala mendengar pertanyaan Arkan yang menurutnya cukup mengejutkan.
"Mengapa? Gak enak dong Mas sama saudara yang lain."
"Lebih baik gak enak dari pada terlepas tak bisa menjaga diri." Mahya kini tahu alasan sang suami, dia mengangguk lalu dia mendekat ke arah sang suami.
"Tapi Mas Arkan yang bilang sama Umi." Mahya menerbitkan senyum manisnya, Arkan mengelus puncak kepala Mahya lalu mengangguk.
"Iya, nanti Mas yang bicara." Mahya mengangguk secara antusias. Dia hanya sedikit bingung saja hendak ke mana suaminya ini membawa dia pergi.
----
Mahya dan Arkan berjalan beriringan, keduanya hanya diam tak bersuara. Mahya masih berkecimpung dalam pikirannya tentang pikirannya sendiri dan Arkan dengan hal yang tak bisa dipahami oleh Mahya sendiri.
Tadi, setelah shalat Asar Mahya dikejutkan dengan ucapan Arkan yang mengabarkan bahwa mereka diizinkan untuk makan di luar. Mahya hanya bingung sendiri karena Mahya pikir keduanya akan pergi dengan naik kendaraan tetapi pemikiran itu salah karena keduanya saat ini sedang berjalan kaki beriringan.
"Kita akan kemana?" tanya Mahya akhirnya, karena dia tak sanggup menahan rasa penasaran yang sudah menggerogoti pola pikirnya. Sungguh, Mahya akan menjadi wanita super kepo kalau bersama sang suami karena sang suami yang cenderung bersikap dan berkata secara tersirat daripada tersurat.
"Kita akan ke blog sebelah," jawab Arkan masih berjalan dengan membawa beberapa bahan masakan. Hal itu tak luput dari perhatian Mahya tetapi dia tak bisa bertanya lebih lanjut, pasalnya tadi dia sudah bertanya dan jawaban Arkan adalah jawaban yang paling bisa ditebak siapapun.
"Mas," panggil Mahya sambil mendesah.
"Kenapa? Kamu capek?" tanya Arkan. Mahya mengangguk, dia tidak bohong kalau saat ini dia sedang lelah.
"Mau digendong?" tanya Arkan dengan raut wajah datar.
"Tidak, terima kasih." Mahya berjalan dengan cepat mendahului Arkan lalu kala dia sudah berjalan cukup jauh dia menengok ke arah Arkan yang hanya diam di depan sebuah rumah minimalis dengan cat rumah berwarna krem. Mahya merengut karena sang suami menunjuk ke arah rumah itu sambil tersenyum tipis.
"Kok Mas Arkan gak bilang kalau sudah sampai?" tanya Mahya sambil mengamati rumah yang tampak asri.
"Kamu tidak bertanya." Arkan menjawab dengan santai lalu membuka gerbang dan mempersilakan Mahya untuk masuk lebih dulu.
"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Mahya melihat bunga-bunga yang banyak di samping carport.
"Rumah kita." Arkan menjawab dengan santai lalu membuka pintu. Arkan tak melihat Mahya yang sibuk dengan kolam kecil di dekat green area depan rumah.
"Ayo masuk!" ucap Arkan saat menoleh mendapati sang istri justru mengobok-obok kolam kecil yang sebagai tempat tinggal ikan-ikan aneka warna.
"Ikannya lucu," kata Mahya sambil beranjak membawa langkahnya menuju ke pintu.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Mahya menatap ke sebuah ruangan yang tampak kosong tak ada perabot kecuali rak sepatu dan gantungan baju.
"Ini rumah kita," Arkan menarik tangan Mahya untuk masuk lebih dalam lalu Mahya bisa melihat ruang tamu yang cukup luas dengan skat dinding di kanan dan kiri.
"Mas," panggil Mahya tapi tak dihiraukan oleh Arkan.
"Mas bilang ini rumah kita?" tanya Mahya kala sudah ada di sebuah dapur dengan kitchen set minimalis.
"Iya," jawab Arkan sambil mencolokkan kabel lemari es.
"Kok bisa?" tanya Mahya heran.
"Rumah ini Mas beli sekitar dua tahun yang lalu secara kredit ke Abi dan baru kembali sebulan yang lalu karena selama setahun terakhir Mas sewakan." Arkan berjalan menyalakan lampu.
"Maaf belum sempat membersihkan, sejujurnya Mas belum mau mengajak mau kemari sebelum direnovasi tapi mungkin ini yang sudah menjadi kehendak Allah sehingga kamu saat ini di sini sebelum direnovasi." Mahya merengut lalu dia mengamati sekeliling. Tak jauh dari dapur dia bisa melihat ada empat pintu.
"Mau lihat-lihat?" tanya Arkan sambil mengeluarkan kotak makan. Ternyata di dalam kresek yang dibawa Arkan bukan sekedar bahan makanan tetapi ada juga makanan matang siap santap.
"Iya," jawab Mahya.
"Dari pintu sini," kata Arkan berjalan lebih dulu.
"Ini tempat cuci baju dan kamar mandi. Sengaja dibuat menjadi satu tempat biar memudahkan."
"Kamar mandinya hanya satu?" tanya Mahya.
"Iya, tapi di kamar tidur ada westafel untuk cuci muka dan gosok gigi."
"Ini akan Mas buat gudang. Meskipun Gudang tetapi tidak dibuat acak-acakan karena di tempat ini kita akan menyimpan beberapa bahan makanan, peralatan masak, mandi dan lain-lainnya yang tidak sering dipakai." Mahya mengangguk.
"Di situ?" tanya Mahya menunjuk ke pintu di sebelah ruangan yang akan dibuat gudang.
"Itu kamar kita. Kamarnya hanya ada satu tapi di dalam itu ada tiga ruangan." Arkan menarik tangan Mahya lalu mengajaknya masuk. Tadi dia sudah sempat merapikan tempat tidurnya tinggal memasang sprei saja.
"Kok banyak pintu." Mahya berjalan masuk.
"Iya, pintu sebelah kanan itu akan kita pakai sebagai tempat pakaian dan westafel yang Mas bicarakan tadi. Kalau pintu yang satunya itu adalah kamar untuk anak kita nanti." Mahya menoleh cepat ke arah sang suami. Matanya berkaca-kaca menatap Arkan tanpa suara, entah mendapatkan keberanian dari mana dia berjalan dengan cepat ke arah sang suami dan memeluk Arkan.
"Kok rasanya Mahya beruntung sekali mendapatkan Mas Arkan sebagai suami," kata Mahya sambil terisak, entahlah dia merasa terharu dengan semua yang dilakukan oleh suaminya.
"Kalau bersyukur berarti ucapkan tahmid, dan senantiasa memperbaiki diri bersama dalam suka ataupun duka." Mahya mengangguk.
"Alhamdulillah, Mahya senang." Sambil tersenyum Mahya mendongak menatap wajah sang suami.
"Mari kita bangun rumah tangga bersama, dengan satu tujuan dan berjalan beriringan. Saling mengingatkan dan saling menjaga satu sama lain dan menyiapkan diri sebagai orang tua yang akan mendidik anak-anak berdasarkan kitab Allah dan Sunnah Rasulullah." Mahya menangis terisak lalu mengangguk. Arkan tersenyum manis membuat senyum itu menular kepada sang istri.
"Kita sedang puasa," kata Arkan menghapus lembut air mata yang meleleh di pipi sang istri. Mahya mengangguk kemudian tertawa, sungguh sejak tadi kalau boleh jujur Mahya sudah sangat ingin menghujani kecupan di wajah sang suaminya.
Mahya kembali memeluk sang suami, lalu dia bergumam dengan cukup jelas.
"Aku mencintaimu karena Allah, dan atas izin Allah aku akan senantiasa mencintaimu, Mas Arkan."
"Begitu pula denganku wahai bidadari duniaku, Mahya Hilyati. Semoga nanti Allah juga menyatukan kita berdua di akhirat."
---END---