Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Enam



وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ


"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."


(Ar-Rum : 21)


---


Pagi ini Mahya ada jadwal untuk mengikuti kelas Pak Arkan, dia masih gencar untuk melakukan teror terhadap dosen pembimbing skripsinya. Entahlah, ada rasa kesal di sudut hatinya disebabkan oleh perilaku berbeda dosennya. Tapi bisa jadi juga dikarenakan obsesinya yang ingin segera lulus kuliah, entahlah.


Mahya membenarkan posisi hijabnya, lalu menengok ke arah kalender lalu sekali lagi menerbitkan senyumnya. Semalam dia melakukan shalat istikharah dan menyebut nama seseorang yang biodatanya telah diterima, ada rasa bahagia tersendiri di sudut hati merasa cocok dengan nama lelaki itu dan sudah sejak malam itu dia meminjam nama lelaki itu untuk dia sebut dalam doa-doanya.


Mahya dengan riang berjalan menuju meja dan mengambil tas, masih  diingat ekspresi wajah om-nya saat Mahya memberikan biodata itu sesuai dengan perintah sang ayah. Iya, setelah mendapatkan biodata itu Mahya mengirimkan dalam bentuk foto kepada sang kakak lalu dilanjutkan ke sang ayah dan tak lama file foto itu terkirim dia mendapatkan telpon dari ayahnya dan mendapatkan banyak wejangan yang cukup panjang, mengingat jika ayahnya termasuk ke lelaki yang irit bicara membuatnya sedikit terharu.


Kembali lagi pada Om Galih yang beranggapan bahwa Mahya hanya bercanda, tetapi ternyata yang dilakukan Mahya dan diucapkan oleh Mahya adalah sebuah kebenaran. Mahya tersenyum sudah memikirkan lebih dalam lagi tentang lelaki itu, mencoba berharap hanya sekali berkenalan dengan lelaki dan langsung cocok, alias berjodoh.


"Yang mau nikah, auranya berbeda." Tante Ambar menyambut pagi Mahya dengan godaan.


"Apa sih Tante, biasa saja."


"Biasa di bibir tapi berbunga di dada." Mahya merona mendengar ucapan menggoda itu, dia lalu segera duduk dan mengambil makan sebelum Tantenya lebih gencar melempar godaan.


"Om Galih ke mana?"


"Om Galih kan lagi jadi intelek buat kamu."


"Tante," kata Mahya merengek. Sungguh tidak tahan dengan godaan sang Tante.


"Apa sih?" Tante Ambar mengatakan itu sambil tertawa kecil, gemas sekali dengan keponakannya.


---


"Mahya, woe!" Mahya mendengar panggilan Zahra tetapi masih asyik dengan buku yang ada di pangkuannya. Dia baru saja keluar dari kelas Pak Arkan dan hari ini harus terima kenyataan bahwa Pak Arkan tidak di kampus dan tadi hanya diberi kuis oleh asisten dosen.


Mahya merasa lelah dan kesal, ia  sudah memyempatkan pergi ke kampus tapi ternyata hasilnya tidak dia dapat sama sekali. Sedang pesan yang dikiriman kepada Pak Arkan sejak semalam juga belum mendapatkan balasan.


"Ya Allah Mahya, aku panggil juga," kata Zahra menggerutu lalu mengambil duduk di samping Mahya dan minum minuman Mahya.


"Buat apa teriak-teriak? Kalau pada kenyataannya kamu juga bakal kemari."


"Iya juga ya," kata Zahra membuat Mahya sedikit keki.


"Aku mau cerita," kata Zahra dengan antusias.


"Apa?"


"Tadi waktu berangkat ke kampus aku papasan sama siapa? Hayo tebak!"


"Kamu mau cerita atau mau main tebak-tebakan?" Zahra terkekeh.


"Iya juga sih, tapi tebak deh biar seru."


"Ketemu sama siapa memangnya?"


"Diminta menebak malah bertanya. Ck, emang dasar kamu ya!" Mahya terkekeh karena sikap temannya yang sedikit aneh.


"Tapi aku gak marah, karena hari ini aku lagi bahagia." Mahya kembali menggelengkan kepalanya, bagaimana tidak minuman yang dipesan sudah kandas berpindah tempat.


"Sebelum melanjutkan cerita, mungkin kamu lebih baik pesan minum lagi. Soalnya aku haus." Mahya seolah-olah tak peduli dengan sahabatnya yang sedang nyengir.


"Baiklah," kata Zahra sambil beranjak. Mahya menatap kepergian sang sahabat dengan mata bersinar berbeda.


Mahya cukup betah di kota ini kalaupun tidak memiliki banyak teman. Dia hanya memiliki beberapa kenalan saja dan yang paling dekat dengannya hanya Zahra. Tetapi, sedekat apapun Mahya dengan Zahra  masih membatasi diri tentang hal-hal yang menyangkut pribadi. Mahya bukan sosok yang terbuka.


"Mahya, aku seneng banget." Zahra masih menggebu-gebu dalam berbicara. Membuat Mahya sedikit diliputi rasa penasaran. Pada hakikatnya, Mahya hanya remaja biasa yang juga memiliki rasa keingintahuan tinggi tetapi pandai dalam menyikapi dan menahan semua di dalam pikiran saja.


"Pelankan suara kamu, ingat suara wanita itu adalah aurat. Jangan terlalu kencang atau mendayu-dayu," kata Mahya mengingatkan Zahra. Selain demi kebaikan sahabatnya itu juga demi kebaikan dirinya sendiri.


"Tadi, aku duduk di samping Rizal. Kamu tahu kan Rizal Wiguna, anak satu angkatan yang jadi idola banyak cewek di kampus. Ituloh, yang wajahnya mirip dengan Pak Arkan." Mahya menatap ke arah Zahra sambil meringis, dia tidak mungkin berbohong kepada sahabatnya bukan. Karena Mahya ingat pesan sang Abang.


'Dalam berteman, kamu harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Bukan sekedar dalam berteman tetapi dalam berbagai aspek. Ingat, tidak ada kebohongan demi kebaikan. Semua kebohongan itu tidak baik, jadi jujurlah meski pahit rasanya.'


"Jangan bilang kamu tidak tahu," tebak Zahra dengan menatap tajam ke arah Mahya, sisa-sisa binar bahagia lenyap digantikan dengan ekspresi terkejut.


"Kamu beneran tidak tahu?" tanya Zahra, dan dengan pelan Mahya mengangguk tanda menyetujui ucapan Zahra.


"Subhanallah, kamu gak tahu cowok terkece itu?" Mahya menggelengkan kepalanya.


"Ya Allah, selama tiga tahun di kampus kamu habiskan buat apa sih, Ya?"


"Buat belajar, itukan tujuan setiap hari aku ke kampus." Mahya menjawab dengan santai, dia tahu bahwa temannya sedikit kesal dengannya tapi entah mengapa itu seperti hiburan tersendiri untuknya.


"Itu loh Mahya, salah satu anggota BEM yang pakai kacamata." Mahya bukan membayangkan sosok yang dipikirkan oleh Zahra, dia justru teringat dengan cowok yang sudah menerima dia minum waktu di halte itu. Astaghfirullah, kenapa aku malah mengingat dia lagi, Mahya bergumam di dalam hati.


"Kamu tahu bukan Ra, kalau aku itu gak tahu anggota BEM."


"Kamu emang gak tahu, tapi seringkali kamu menghafal wajahnya." Mahya mengangkat bahunya.


"Ya sudah deh, lain kali saja. Kebetulan aku sedang bahagia malas jadinya berdebat dengan kamu." Mahya hanya mengangguk saja, dia tidak ingin mencari masalah. Mahya cukup sadar, bahwa mereka bisa saja menjadi pusat perhatian semua pengunjung kantin kalau sampai Zahra heboh seperti beberapa saat yang lalu.


"Oh ya, kamu pernah jatuh cinta gak?" Mahya mendongak, dia menatap wajah sahabatnya. Dia sebenarnya heran dengan pertanyaan Zahra, bukan heran tetapi lebih ke penasaran. Bukan tentang perasaan Zahra, tetapi lebih kepada dirinya sendiri. Pernahkah dia jatuh cinta?


"Aku tidak tahu, karena pada kenyataannya aku tak bisa mendefinisikan cinta itu seperti apa." Mahya menjawab dengan santai, seolah-olah dia tak terpengaruh dengan pertanyaan itu, tetapi pada kenyataannya di dalam diam dia mencoba mencerna segala rasa yang dia pernah miliki.


"Cinta itu, kita berdebar-debar saat bertemu, merasa malu, ingin selalu bersama, ingin diperhatikan dan dilindungi. Dan masih banyak lagi rasa yang menyenangkan. Karena kata Tere Liye, 'cinta itu menyenangkan, kalau tidak menyenangkan bukan cinta namanya.' Dan sepertinya, aku sedang merasakan hal itu." Zahra mengatakan itu dengan pandangan menerawang, entah pandangan itu berkelana ke arah mana. Tapi, yang jelas Mahya tahu bahwa perempuan di depannya itu sedang mengarungi sebuah rasa seni yang sering menghiasi masa-masa remaja.


"Ingat, dan janganlah kamu mendekati zina. Dan memikirkan cowok yang belum halal buat kita itu masuk ke dalam katagori zina pikiran." Mahya mengucapkan itu dengan nada pelan, dia tak ingin orang lain mendengar. Bukan karena apa, sang kakak pernah mengatakan bahwa saat menasihati seseorang jangan melakukan di depan umum, kita harus melakukan dalam keadaan hening supaya tak menimbulkan rasa malu pada sosok yang kita nasihati.


"Astaghfirullah, kamu benar. Dasar Zahra lalai," kata Zahra seolah di kagetkan. Lalu dia menoleh ke arah Mahya sambil cemberut.


"Kok aku jadi ingin menikah muda," kata Zahra membuat Mahya tersedak.


"Ya Allah, hati-hati Maya. Dasar kehidupan." Mahya memutar bola matanya ke atas, dia sangat kesal kalau ada yang membuat plesetan dengan namanya. Memang di Indonesia kebanyakan nama menggunakan Maya dibandingkan dengan Mahya.


"Ingat, Al-Hujurat ayat sebelas. Bahwa kita harus menjaga kerukunan dan tidak memberi julukan yang jelek." Mahya mengatakan itu lalu segera meneguk kembali minumannya.


"Iya, Maaf. Bercanda kali Ya, kamu serius amat." Mahya hanya mengangguk tak peduli, dia memang tahu bahwa sahabatnya sedang bercanda tetapi dia hanya takut jika Zahra beranda sedemikian rupa kepada orang yang salah sehingga mampu menyinggung perasaan orang tersebut. Mahya mengkhawatirkan sahabatnya yang suka ceplas-ceplos itu.


"Oh ya, dengar-dengar Pak Arkan mau cuti menikah. Wah, patah hati deh." Mahya menoleh ke arah Zahra.


"Kamu serius? Lalu bagaimana nasib skripsi aku?"


"Please deh Mahya, ini sahabat kamu lagi patah hati. Kamu masih memikirkan skripsi kamu saja." Mahya menatap Zahra tak mengerti, tadi dia seolah-olah seperti orang yang jatuh cinta sekarang dia bilang sedang patah hati, sungguh labil.


"Tapi tunggu dulu, itu bisa saja hanya gosip. Kamu ingat, setahun yang lalu dosen itu juga digosipkan menikah. Masak iya menikah lagi, bisa jadi bukan bahwa Pak Arkan sebenarnya sudah memiliki istri." Mahya berkomentar dengan santai, dia tidak menghiraukan wajah terkejut Zahra. Pasalnya, ini baru kali pertama Mahya mau menanggapi gosip yang dia bagikan, karena biasanya Mahya hanya mengangguk dan menjadi pendengar setia. Sungguh, ini adalah kejadian langka.


"Kamu sehat, Mahya?" tanya Zahra membuat Mahya menghela napas. Dia tadi sebenarnya kelepasan saja, sungguh selama ini sebenarnya dia ingin sekali berkomentar tetapi dia sering berpikir bahwa itu adalah sia-sia jadi lebih baik jika diam. Bukankah diam itu emas. Tapi sayang, diamnya selama ini ternodai dengan kalimat yang baru saja dia lontarkan.


"Aku mau ke perpustakaan, bukankah kamu ada jam setelah shalat?" Mahya merapikan barangnya, dia tak ingin membahas hal itu lebih jauh, jadi dia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Iya, tapi dosennya gak ada. Aku ikut kamu ke perpustakaan saja." Mahya mengangguk lalu keduanya meninggalkan meja dan berjalan beriringan menuju perpustakaan dan berbincang sesuatu, lebih tepatnya Zahra bercerita dan Mahya mendengarkan semuanya.


---