
Diantara doa yang sudah masyhur di telinga kita ialah doa yang terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Doa tersebut ialah,
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
"Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan" (HR. Abu Dawud no. 2130).
----
Pernikahan merupakan sunnah para Rasul sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَاكَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِئَايَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan suatu ayat (mu'jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu)." (Ar-Ra'du: 38)
Selain itu, pernikahan merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla untuk hambaNya, karena dalam pernikahan tersimpan segala kebaikan agama dan dunia, bagi pribadi dan masyarakat.
Oleh sebabnya itu Islam sangat menganjurkan pernikahan, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." [An-Nuur: 32]
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga ********." [HR. Bukhari no. 1905, 5065, Muslim no. 1400].
Hendaklah kita semua mensyukuri nikmat ini dan tidak menodainya dengan berbagai kemungkaran pernikahan yang beraneka macam, sesuai dengah kemajuan zaman dan adat istiadat yang dipertahankan, mulai sejak awal pernikahan hingga penutupan. Semua ini hendaklah menjadikan setiap muslim untuk berhati-hati dan waspada dari kemungkaran-kemungkaran tersebut, selanjutnya berusaha menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sebatas kemampuan masing-masing.
Dalam sebuah hadits Rasulullah juga pernah sangat menekankan untuk menikah, Samapi beliau berkata bahwa jika tidak menikah maka bukan kaumnya. Jadi, menikah adalah hal yang amat penting bagi kita kaum muslim.
Pada dasarnya menikah itu adalah ibadah yang sederhana dan tidak membuktuhkan konsisten seperti ibadah lainnya. Menikah hanya membutuhkan dua mempelai, mahar sederhana, dua saksi dan yang paling utama wali. Selama komponen ini sudah ada, mengapa harus ditunda lagi?
Menikah tidak membutuhkan dewasa, tetapi membutuhkan kesiapan. Menikah tidak membutuhkan mapan, tetapi cukup mahar. Lalu, kalau tidak mapan bagaimana cara menghidupi keluarga. Percayalah bahwa menikah itu adalah nikmat maka kala kita menikah Allah pasti mendatangkan rejeki dari arah yang tak diduga, kalaupun ada rasa kurang itu hanya manusia itu sendiri yang terlalu serakah akan harta sehingga menyebabkan dia kufur akan nikmat ya g sudah diberikan.
Karena pada nyatanya dalam surat An-Najm dijelaskan bahwa Allah menerima kekayaan dan rasa cukup. Tidak ada keterangan yang menyebut bahwa Allah beri kekayaan dan kemiskinan.
"Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan; Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan." (QS. An - Najm [53] : 43 - 48)
Hari ini acara pernikahan Mahya akan digelar, tepatnya nanti beberapa menit sebelum adzan Maghrib. Mahya masih sibuk dengan membereskan kamarnya dibantu salah satu sepupunya.
"Kamu yakin mau menikah, Ya?" tanya Hita, sepupu Mahya yang baru datang tadi pagi.
"Ya yakin dong Mbak. Udah siap begini." Mahya memindahkan kopernya ke samping meja.
"Menikah itu bukan perkara bahagia, tapi menikah itu perkara kita siap bersama dalam suka dan duka. Mbak gak ingin kalau kamu mengambil keputusan yang salah, soalnya pernikahan itu kalau bisa sekali seumur hidup. Pastikan hanya ada satu imam di dunia dan akhirat." Mahya menoleh sejenak lalu dia menerbitkan senyumnya.
"Insya Allah, Mbak." Mahya merasa terharu dengan ucapan sang sepupu. Dia tahu bukan tanpa sebab sepupunya melakukan hal itu. Sepupunya ingin yang terbaik untuk dirinya.
"Orang Mana?"
"Kota Mbak."
"Kenal di mana?" Mahya mendudukkan diri di dekat Hita.
"Sebenarnya Pak Arkan itu dosen pembimbing skripsinya Mahya, Mbak. Tetapi kami menjalin taaruf atas perantara tetangga Tante Ambar.
"Oh, kamu jadi udah kenal dulu. Terus pas tahu kamu langsung mau begitu?" Mahya menggelengkan kepalanya.
"Gak gitu Mbak, aku tahunya pas nadhor. Emang dasar aku yang gak teliti, pas baca hanya baca namanya dan tempat tinggalnya saja tidak membaca secara rinci. Jadi, pas sana menyatakan bahwa mau lanjut ke tahap nadhor aku sholat istikharah dulu, setelah mantap aku mengiyakan. Lalu kami melalui proses nadhor dan di sana baru tahu kalau lelaki itu adalah dosenku. Drama banget gak sih?"
"Wah, itu malah sweet tahu Ya. Dulu Mbak berpikir, sebenarnya drama atau sinetron yang meniru kehidupan nyata atau kehidupan nyata yang meniru sinetron." Mahya yang Hita sama-sama dia lalu terkekeh bareng.
"Benar Mbak, kadang terasa begitu mirip."
"Iya. Terus rencana setelah menikah?"
"Belum tahu, yang jelas melanjutkan skripsi." Mahya menjawab sambil memainkan jarinya, memang belum ada pembicaraan sama sekali antara dirinya dan Pak Arkan selama ini.
"Masih calon Mbak." Mahya meralat ucapan Hita.
"Tetap saja bakal jadi suami terhitung beberapa jam lagi."
"Tapi kita tidak bisa mendahului kehendak Allah, kita tidak tahu yang terjadi beberapa waktu ke depan. Bisa jadi Allah mencabut nyawa Mahya."
"Kamu bilang apa sih, Ya." Hita menegur ucapan Mahya yang sedikit mengusik pikirannya. Hita adalah sosok parno, sejak dia menemani sang mertua yang menghadapi sakaratul maut beberapa bulan yang lalu. Dia seolah memiliki ketakutan tersendiri jika membahas tentang kematian, dia memang menyadari bahwa kematian akan datang setiap waktu tanpa diduga, tetapi pikirannya tak bisa dialihkan dengan mudah jika sudah membayangkan akan hal itu.
---
Sore ini masjid dekat rumah Mahya tampak begitu ramai seperti biasanya, hanya saja yang membuat berbeda adalah adanya sebuah bangun tandu di depan masjid dan beberapa tempat duduk. Selain itu ada pembatas antara bagian kanan dan kiri.
Kalau biasanya warga datang lima menit atau beberapa menit sebelum waktu magrib tiba, hari ini tampak berbeda karena warga datang lebih awal untuk mengikuti acara pernikahan Mahya.
Mahya duduk di samping sang Ibu, sesekali dia berbincang dengan saudara atau beberapa orang yang menyapa. Dia jadi ingat ekspresi wajah Sari dan Mbak Yuni tadi, keduanya tampak terkejut hingga histeris dan beberapa kali memukul paha Mahya, tapi Mahya tidak membalas memukul dia hanya membalas dengan senyuman tipis di bibirnya.
Akad nikah akan dilaksanakan beberapa menit lagi. Mahya merasa tubuhnya mulai meremang, ada rasa asing yang menelusup ke pori-pori kulit hingga membuat hawa panas membelai pipinya. Mahya meremas tangan sang ibu pelan lalu dia menunduk. Kala suara sang ayah menggema tanpa diperintah dua kali Mahya sudah menitihkan air matanya.
Dan kala suara serentak mengatakan kata sah dan bacaan tahmid, Mahya langsung menaruh kepalanya di atas pangkuan sang ibunda. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan derai air mata, dia hanya mampu terisak dalam diamnya.
Mahya merasakan belaian di kepalanya, dia hanya diam terisak-isak.
"Barokallahu laka wabarokaalaika wajam a baianakuma diri khoir. Kamu sudah menjadi istri, Ya." Mahya kembali terisak tanpa jeda dia sungguh merasakan sensasi yang sangat luar biasa.
Setelah acara pernikahan, dilanjutkan dengan kutbah singkat sambil menunggu adzan Maghrib berkumandang. Mahya menerima ucapan doa dari beberapa orang. Dia sudah bisa memamerkan senyumnya kembali meski wajah masih terlihat sembab.
Setelah waktu adzan berkumandang, semua orang secara bersemarak berbuka puasa dengan tiga biji kurma dan air mineral. Lalu akan dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah.
Nanti, setelah sholat Maghrib berjamaah baru akan diedarkan nasi kotak untuk berbuka puasa ala orang Indonesia. Dan semuanya makan di luar masjid, berada di tenda yang sudah disediakan.
Alasan menggunakan nasi kota adalah supaya makanan tidak mubadzir. Siang porsi sedang, jika tidak habis bisa dibawa pulang. Dan tentang orang-orang yang diundang, baik keluarga Mahya atau Pak Arkan hanya mengundang saudara dekat sedangkan tamu lainnya adalah seluruh warga di sekitar masjid.
Tidak ada acara tamu spesial, karena Mahya ingat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa saat walimah dilarang mengundang hanya orang kaya saja tetapi juga orang-orang miskin dan tetangga.
"Assalamualaikum, Kakak Ipar?" Mahya yang sedang merapikan hijabnya setelah shalat langsung menoleh, dia mendapati wajah Kania di sampingnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Mahya melihat wajah Kania yang tampak berseri.
"Sudah buka?" tanya Mahya.
"Belum, aku mau berbuka sama kakak ipar." Kania mengatakan itu dengan nada yang dibuat-buat. Mahya mengangguk lalu dia melipat mukenanya.
"Sebentar ya," kata Mahya. Kania mengangguk tanda setuju. Sebagian warga dan undangan sudah pulang, hanya tinggal beberapa panitia pelaksanan buka bersama. Mahya meringis kala dia melihat wajah cemberut Sari, dia tahu maksud dari ekspresi itu.
"Mau buka di mana?" tanya Mahya sambil menaruh mukena di lemari.
"Di luar, sudah ditunggu Umi." Maya mengangguk lalu mengikuti langkah sang adik ipar. Mahya sesekali menerima jabat tangan dan doa dari beberapa orang yang menyapanya, dia tersenyum merasa ada rasa yang membuncah di dalam dada.
"Makan dulu, Ya." Ucapan sang ibu mertua menyambut Mahya yang hendak duduk.
"Gitu, mentang-mentang punya anak baru yang lama diabaikan." Mahya melirik ke arah Kania, dia ingin tahu kejujuran di ekspresi Kania.
"Bukan begitu, kamu kan sudah buka kotak nasi sedangkan Mbakmu kan belum."
"Ciye, udah jadi Mbakku aja." Mahya tersenyum malu-malu kala mendengar godaan dari Kania.
"Sudah, segera makan. Kamu suka sekali menggoda." Teguran dari sang ibu membuat Kania nyengir dan Mahya tersenyum tipis. Dia lalu membuka kotak nasi, ini bukan kali pertama dia makan dengan mertuanya tetapi tetap saja rasanya ada yang berbeda.
____