Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Dua Puluh Lima



Dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ


"Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya." Setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa; "Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubanaa 'ala tho'atik" [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu].


(HR. Muslim no. 2654).


Awas ada typo, tolong diberi tanda!


---


Kalau boleh jujur, berbincang dengan Rizal berdua di dapur bukanlah pilihan yang baik menurut Mahya. Karena, Rizal adalah saudara ipar laki-laki yang artinya dia bukanlah mahram bagi Mahya. Jadi, kala Kania muncul hal itu cukup membuat Mahya bertahmid di dalam hati sebanyak-banyaknya.


"Wah, Mbak baik banget." Kania mengangatkan gelas susu yang memang tampak berbeda dengan yang lainnya.


"Wah, rasanya pas."


"Jangan mau dipuji Kania, Mbak. Itu hanya modus Kania supaya sering dibuatkan." Rizal mengambil coklat panas dan menyesapnya sedikit.


"Apa sih Zal, ini bukan masalah malas atau enggak tapi ini masalah selera yang sudah pas." Kania menjawab dengan sewot, Mahya hanya menggelengkan kepalanya. Melihat perdebatan keduanya Mahya jadi ingat dengan Rivan, ah adik kecilnya yang suka sekali mendebat. Adik kecilnya yang berbeda karakter dengan Mahya juga Aidan. Rivan, sosok remaja yang begitu mengidolakan sang kakak lelakinya.


"Mbak Mahya aja gak keberatan, kenapa kamu yang sewot?" Seru Kania kencang membuat Mahya kembali ke kepada dua remaja seusianya tetapi kali ini keduanya bersikap bak seorang anak kecil.


"Tapi aja kamu merepotkan."


"Siapa bilang?" tanya Kania masih dengan nada tak terima. Mahya mengambil duduk dia menopang dagu menyaksikan kedekatan dua saudara itu. Pertengkaran antara saudara satu dengan yang lainnya kadang tidak selalu perkara permusuhan tetapi kadang tentang sebuah keakraban yang tercipta dengan rasa yang berbeda, percayalah bahwa dua remaja seusianya Mahya itu saling menyayangi satu sama lain.


"Aku yang bilang, kamu bagaimana sih Nia?"


"Kan bukan Mbak Mahya," kata Kania dengan sewot lalu melanjutkan minum susu.


"Kalian tidak malu berdebat di depan kakak ipar kalian?" tanya sebuah suara bass yang cukup mampu menghentikan drama saudara itu.


"Rizal Bi yang memulai," kata Kania menghampiri sang ayah yang sudah berdiri di pintu penghubung ruang makan dan ruang keluarga, di sana juga berdiri Arkan yang wajahnya tampak segar.


"Kamu tidak membela diri, Zal?" Arkan berjalan meninggalkan Kania yang sedang merajuk ke sang ayah. Dia berjalan mendekati sang istri yang tersenyum geli.


"Percuma Bang, kalah banyak kalau sama Abi." Arkan hanya menggelengkan kepalanya, dia heran dengan saudaranya yang tampak sulit dipahami.


"Kamu kenapa tersenyum?" tanya Arkan mengambil duduk di sebelah Mahya.


"Mereka lucu," jawab Mahya kemudian tangannya mengulur cangkir coklat panas yang ada di dekatnya kepada sang suami.


"Kamu seleranya aneh, bising begitu dibilang lucu." Arkan dengan santai menyesap coklat setelah mengucapkan basmalah.


"Mereka tidak serius, Mas. Keduanya hanya menyalurkan rasa sayang dengan cara berbeda." Mahya lalu menoleh ke arah Kania yang tampak merajuk kepada ayah mertuanya. Lalu dia sedikit heran kala wajah Kania berseri-seri.


"Udah terpenuhi," kata Rizal mencibir.


"Sudahlah Zal, biarkan saja." Arkan mengatakan dengan nada pelan.


"Memangnya apa, Mas?" tanya Mahya bingung.


"Kania ingin mobil sendiri, makanya sejak semalam merayu Abi terus." Arkan mengatakan itu lalu dia menggenggam tangan Mahya dan menaruh di atas pahanya.


"Dingin Mas," kata Mahya berbisik.


"Iya, di luar dingin."


"Ayo makan, gak usah menunggu." Umi keluar dengan hijab merah maroon.


"Iya Mi." Mahya menjawab dengan pelan.


"Lepas dulu Mas, aku ambilkan makanan." Mahya mengatakan itu dengan nada pelan, dia tak ingin yang lainnya mendengar.


"Sebentar," kata Arkan tanpa menoleh ke arah Mahya.


"Rizal, kamu pokoknya harus mengantarkan aku nanti." Kania mengatakan itu dengan nada penuh ancaman tapi terkesan manja.


"Enggak mau," jawab Rizal.


"Kamu memangnya ada agenda apa, Zal?" tanya Wiguna, ayah Rizal.


"Hari ini ada kuliah pukul sembilan, kosong hanya siang Bi." Wiguna kemudian menoleh ke arah anak sulungnya.


"Kalau kamu, Bang?" Arkan menoleh ke arah sang ayah.


"Gak ada sih, tapi aku tidak mau mengantar Kania mengurus pembuatan SIM karena tetap pada pendirianku semalam bahwa Kania seorang perempuan dia cukup menjadi penumpang bukan pengendara." Arkan melepas tangannya yang menggenggam tangan Mahya.


"Sekali tidak tetap tidak Kania." Arkan mengatakan dengan nada tegas. "Jika Abi mengizinkan, silakan. Tapi jangan libatkan Arkan di dalamnya."


"Jangan banyak-banyak," kata Arkan saat melihat Mahya memasukan kuah sayur ayam.


"Umi," kata Kania.


"Umi tidak memiliki pendapat lain, Umi sependapat dengan Abang kamu. Kamu tidak membutuhkan itu jadi tidak memiliki bukan masalah besar, toh ada banyak orang yang siap mengantar kamu kemanapun. Sudah, jangan bahas ini di meja makan." Kemudian semuanya mengikuti pemintaan sang ibunda tercinta, semuanya terlarut dalam suasana sahur yang hening.


"Kamu tidak makan Mahya?" tanya Wiguna. Mahya tersenyum tipis lalu menoleh ke arah sang suami.


"Ini dimakan kok, Bi." Mahya mulai menyuap nasi yang sudah dia masukan ke dalam sendok. Lalu semuanya kembali larut dalam keheningan.


---


Suasana paling terasa itu adalah suasana subuh, karena terasa gelap tetapi sang surya akan menyapa dalam hitungan tak lama. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa waktu subuh adalah satu waktu yang mulia karena banyak malaikat yang berkeliaran.


Mahya berjalan beriringan dengan sang suami, keduanya baru saja pulang dari shalat subuh berjamaah di masjid kompleks. Dalam keheningan keduanya berdzikir dalam hati berperang dengan jarak tempuh.


"Mau mengambil jalan yang lebih jauh?" tanya Arkan membuka percakapan.


"Apa untungnya?" tanya Mahya.


"Kamu perasaan anak fakultas tarbiyah, kok jadi ketularan anak ekonomi?" Arkan mengatakan itu dengan nada datar, tapi Mahya tidak merasa tersinggung karena dia tahu bahwa sang suami hanya bercanda.


"Bagaimana ya? Soalnya aku sudah jadi seorang istri. Kata salah satu dosenku, seorang istri itu selain pemimpin di rumahnya dia juga merangkap sebagai sekretaris, bendahara juga sebagai pelaksana. Jadi wajar sekali bukan kalau aku sekarang berusaha mengatur ekonomi keluargaku?" Mahya menjelaskan dengan semangat, lalu dia menunduk menyamakan langkah dengan sang suami.


"Jangan cepat-cepat," kata Mahya. Arkan menoleh lalu mengangguk dan hal itu sudah cukup sebagai jawaban untuk Mahya.


"Kita belok ke kanan," kata Arkan.


"Memangnya gak papa aku pakai mukena, begini?"


"Enggak masalah yang penting menutupi aurat." Mahya mengangguk dan tersenyum. Dalam hati dia bersyukur karena sang suami memiliki kepedulian yang cukup kuat tentang aturan yang ada karena sebagai perempuan kalau boleh jujur Mahya senang diperhatikan dalam bentuk nasihat dan menjaga hal-hal yang dilarang dan diperintahkan oleh Allah dari pada perhatian yang klasik seperti tentang makan, tidur atau istirahat. Karena menurut Mahya, tentang makan, mandi, tidur dan lainnya itu sudah menjadi perkara pribadi yang berpengaruh pada diri sendiri jadi tidak perlu diingatkan, tetapi kalau diingatkan Mahya juga tidak menolak.


"Kamu ingin resepsi pernikahan seperti apa?" Mahya sedikit terkejut dengan pertanyaan sang suami, pasalnya selama ini keduanya tidak pernah membahas hal ini.


"Kalau boleh jujur, aku gak ada pandangan." Mahya mengatakan itu dengan pelan.


"Bukankah setiap perempuan memiliki impian tentang resepsi pernikahannya?" Mahya menggelengkan kepalanya, dia menolak benar pendapat itu karena pada kenyataannya dia tidak memiliki pemikiran yang seperti itu.


"Aku buktinya tidak," kata Mahya berbisik.


"Kamu memang lain dari yang lain." Arkan menoleh ke arah sang istri. "Tapi maaf, kali ini Mas gak bisa menuruti keinginan kamu. Karena, kita diwajibkan menggelar resepsi pernikahan oleh Abi."


"Kenapa minta maaf?" tanya Mahya.


"Ya, karena tak bisa memenuhi permintaan kamu." Arkan lalu menoleh ke sekeliling. Jalan komplek nampak sepi lalu dia menoleh ke arah sang istri.


"Kamu mau melakukan sunah Rasul?" Mahya menatap heran sang suami, dia semakin heran kala sang suami mengambil mukena bawahan dan sajadah dari tangannya.


"Mumpung sepi, ayo balap lari. Rumah sudah terlihat di depan." Mahya mengangguk menyadari hal yang diinginkan sang suami lalu dia tersenyum canggung.


"Tapi Mahya gak pernah lari, Mas. Kalau berlari-lari biasanya ditegur Abang karena satu hari selanjutnya pasti paha dan betis meninggalkan tanda biru-biru." Arkan menoleh sedikit terkejut, tetapi dia lalu mengambil napas.


"Itu karena kamu tidak terbiasa, mungkin sepuluh hari terakhir ini kita bisa membiasakan untuk jalan pagi. Atau kalau tidak setiap hari kita jadwal jalan entah sore, siang atau pagi. Bagaimana?" Mahya mengangguk secara langsung tanpa berpikir ulang, karena dia merasa bahagia. Seperti yang sudah dia katakan, hal itu memang salah satu alasan mengapa Mahya tidak pernah lari, bahkan dulu saat di sekolah.


"Mari kita mulai," kata Arkan mengambil ancang-ancang.


"Tunggu dulu," kata Mahya menahan sang suami, Arkan menoleh.


"Kenapa?"


"Hadiahnya apa?" tanya Mahya dengan nada menggoda.


"Hadiahnya sesuai keinginan yang menang, bagaimana?" Mahya mengerutkan keningnya, dia tampak menimang.


"Tapi jangan mahal-mahal kalau Mas yang menang. Karena yang banyak uang itu Mas bukan aku." Arkan terkekeh.


"Kamu lupa, uang suami itu miliki istri dan suami bersama. Jadi kalau Mas banyak uang berarti kamu juga banyak uang." Mahya tersenyum geli meniti wajah datar sang suami. Meski Arkan masih berekspresi datar tetapi Mahya cukup bersyukur karena suaminya itu teman berbincang yang baik.


"Baiklah, kalau nanti Mas memang aku akan minta uang ke Mas untuk membelikan hadiah yang mas minta." Arkan mengangguk lalu memberi kode dengan mata.


"Kamu siap?" tanya Arkan.


"Siap," jawab Mahya. Lalu Arkan menghitung hingga hitungan ke tiga dan keduanya mulai berlari. Jika Arkan memang sejak tadi melepas sendalnya kini Mahya juga mengikuti yang dilakukan oleh sang suami. Jadi, siapa gerangan yang akan memenangkan lomba lari ini?


----