
Allah berfirman:
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS. An-Nisa': 19).
---
Jantung yang awalnya berdebar dengan kecepatan tinggi itu perlahan menghilang digantikan dengan perasaan nanar dan gelisah. Tidak ada lagi pemikiran berbunga-bunga seperti beberapa menit yang lalu, semuanya terasa hambar dan menghilang dalam sekejap.
Mahya masih meremas kedua tangannya di atas pangkuan, dia di dalam hati berdoa semoga apa yang dia alami saat ini hanya sebatas halusinasi karena rasa bahagia yang membuncah di dalam dadanya. Mahya mengeluarkan keringat dingin, dia sungguh tidak bisa membayangkan wajah kecewa yang akan tercetak jelas di wajah sahabatnya. Sungguh, dia tidak ingin menjadi penyebab kekecewaan itu. Meskipun Mahya tahu bahwa jodoh Allah yang menentukan, tetapi di dalam hati dia selalu berdoa semoga tidak ada perselisihan dalam datangnya jodoh di hadapannya.
"Kalian sudah saling kenal?" Suara ayah Mahya memecah keheningan.
"Iya Pak, saya dan Mahya satu universitas. Satu angkatan tetapi beda fakultas."
"Kamu kenal Rizal berarti, Dek?" tanya Bang Aidan.
"Hanya tahu namanya," jawab Mahya lirih. Kemudian semuanya kembali hening, seolah suara ayat-ayat Al-Quran yang terdengar sayup-sayup itu adalah sebuah lantunan lagu yang menghiasi galaksi.
"Maaf, tadi Umi telepon." Mahya segera mendongak saat mendengar suara yang datar tapi terkesan maskulin.
"Pak Arkan?" panggil Mahya pelan. Meski Arkan tidak menoleh ke arahnya Mahya bisa melihat sudut bibir Arkan tertarik ke atas sedikit.
"Kamu kenal dengan Nak Arkan, Mahya?" tanya Pak Haki dengan nada geli, dia masih ingat bagaimana sang putri dengan bersungut-sungut menceritakan tentang dosen pembimbing skripsinya beberapa hari yang lalu.
"Beliau dosen pembimbing skripsi Mahya, Pak."
"Dla, berarti sudah saling kenal." Mahya menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa? Bagaimana Pak Arkan?"
"Mahya tidak pernah mengikuti kelas saya sebelumnya Pak. Tetapi dia mulai mengikuti kelas saya secara ilegal beberapa hari yang lalu."
"Itu karena salah Pak Arkan."
"Mahya," kata sang kakak penuh peringatan. Mahya menghembuskan napas pelan-pelan supaya dia tidak kembali mendapatkan teguran.
"Mahya, kamu tahu Nak Arkan bukan. Dia lelaki yang malam ini datang untuk proses nadhor." Mahya mengangguk saja, dia cukup lega karena bukan Rizal lelaki yang mengajukan proposal kepadanya.
"Mungkin Abang bisa mengajak Nak Rizal untuk ke dalam atau jalan-jalan dahulu." Mahya menoleh ke arah sang Abang yang siap berdiri. Sebelum berdiri dia bisa merasakan usapan lembut di atas kepalanya.
Setelah anak sulungnya mengajak pergi saudara calon menantunya, Pak Haki duduk dengan tegak. Dia menoleh ke arah anaknya dan lelaki yang siap menanggung beban anaknya.
"Bagaimana kalau kita mulai?" tanya Pak Haki.
"Maaf sebelumnya Pak, sejujurnya saya tidak masalah dengan apapun yang ada pada Mahya. Justru jika langsung melamar diizinkan saya berkenan menghubungi orang tua saya untuk datang kemari dan melamar Mahya." Pak Haki tersenyum bijak, dia tahu kesungguhan yang diberikan oleh pemuda di depannya ini.
"Tidak perlu terburu-buru, bukankah saya sudah bilang. Kalau putri saya ini ingin menikah di sepuluh hari akhir Ramadhan. Jadi, saya ingin mewujudkan impian putri saya."
"Baik Pak."
"Baiklah, mari kita nikmati proses sebelum halal ini." Pak Haki memecah ketegangan dengan nada jenaka.
"Dalam beberapa pendapat ada lima yang boleh dilihat, kamu ingin memulai dari mana?"
"Untuk menjaga diri, alangkah lebih baik jika saya hanya melihat wajah dan dua telapak tangannya saja. Bagian yang bukan termasuk aurat untuk menjaga kehormatan Mahya dan juga untuk menjaga pandangan saya." Pak Haki tersenyum penuh kagum dengan lelaki yang akan melamar putrinya, dia berdoa di bulan penuh magfirah ini semoga keputusan yang dia ambil dengan menikahkan putrinya dengan pemuda di depannya ini adalah sebuah kebaikan.
"Tunjukan wajah dan dua telapak tanganmu, Ndok." Mahya menoleh ke arah sang ayah, saat melihat sang ayah mengangguk Mahya mendongakkan kepalanya dan mengangkat dua telapak tangannya. Mahya tidak berani membawa matanya menatap dosennya dia hanya membawa matanya ke segala arah.
"Sudah cukup," kata Pak Arkan membuat Pak Haki terkekeh geli. Dia semakin yakin dengan keputusannya, dan anaknya meski untuk pertama kali telah membawa calon suami yang tepat.
"Kalau begitu ada yang ditanyakan?"
"Sungguh, langsung saja Pak. Kapan saya bisa langsung melamar?" Tawa Pak Haki menggema, dia lalu menggeleng kepala dengan geli.
"Kenapa terburu-buru?"
"Bukan terburu-buru, Bapak. Saya hanya ingin menyegerakan tindakan yang baik."
"Memangnya kamu sudah mengantongi jawaban Mahya, Le?" Pak Arkan bagai diingatkan akan hal itu dia menoleh ke arah Mahya yang sudah menundukkan kepalanya, lalu dia menghirup napas pelan.
"Lanjut dulu ya," kata Pak Haki yang mau tidak mau harus diiyakan.
"Kamu ada pertanyaan buat Nak Arkan, Ndok?"
"Hanya ingin tahu niatnya menikah, Pak."
"Kamu bisa menjawab langsung," kata Pak Haki mempersilakan kepada calon menantunya itu.
"Yang jelas mengikuti sunah Rasulullah, dan membuktikan bahwa saya adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup sendiri." Mahya mengangguk.
"Kalau seumpama Mahya kerja setelah menikah, apa boleh?"
"Tergantung niat kamu, kalau kamu berniat kerja untuk mencari nafkah saya tidak berkenan karena mencari nafkah adalah tugas dari suami. Kalau niat kamu ingin bersosialisasi atau merasa jenuh di rumah, saya juga tidak berkenan karena saya pasti ada saatnya membawa kamu bersosialisasi dengan orang lain di lain waktu dan jika kamu jenuh ada banyak hal yang masih bisa kamu lakukan untuk menghilangkan jenuh kamu dan saya siap mewadahi."
"Jadi intinya tidak boleh bekerja?" tanya Mahya dengan pelan.
"Boleh, saya tidak akan mengekang kamu. Kamu boleh bekerja tetapi kamu harus memaparkan alasan yang bisa membuat saya mengizinkan." Mahya mengangguk begitu saja.
"Tapi kalau tidak salah ingat, bukankah kamu tidak ada niatan untuk bekerja? Katanya mau mengaplikasikan ilmu langsung kepada anak dan keluarga."
"Iya kamu benar." Pak Arkan menyerah dengan cepat daripada dia harus berdebat dengan mahasiswi yang menurutnya sangat berbeda.
"Ada lagi?" tanya Pak Haki ke arah sang putri.
"Tidak ada Pak. Sebentar, Pak Arkan benar-benar belum menikah, bukan?"
"Saya pikir begitu, bahkan menjalani prosesi ini adalah pertama kali." Mahya mengangguk lalu berujar. "Saya perempuan yang mudah patah, jika saya sudah melimpahkan sebuah kepercayaan kepada seseorang saya berharap orang tersebut juga melimpahkan kepercayaan kepada saya dan tidak akan mengkhianati kepercayaan saya."
"Insya Allah kamu dapat melimpahkan kepercayaan kamu kepada saya." Mahya mengangguk.
"Nak Arkan ada yang ditanyakan?" Mahya bersiap untuk mendengarkan pertanyaan dosennya.
"Tidak, saya sudah sedikit banyak mengenal Mahya meski tidak langsung." Pak Haki tersenyum lalu menoleh ke arah Mahya.
"Kamu bisa kembali masuk, Ndok." Mahya beranjak dari duduknya.
"Eh, kamu belum beri jawaban." Mahya hanya diam lalu menoleh ke arah sang ayah.
"Mahya minta waktu untuk sholat istikharah dulu, Pak."
"Bagiamana Nak Arkan?"
"Iya, sesuai dengan yang diharapkan oleh Mahya." Pak Haki tersenyum kembali, dia tidak menduga kalau begitu cepat waktu berjalan.
---
Hari-hari Mahya berjalan dengan begitu lancar, keceriaan menghiasi wajahnya. Entah mengapa, tingkat kebahagiaan yang dia miliki berlipat-lipat sejak dua hari yang lalu. Dia tidak tahu rasanya jatuh cinta, yang dia tahu saat ini dia hanya ingin melengkungkan bibirnya ke arah atas.
"Dek," panggil kakak Mahya.
"Iya Bang," jawab Mahya yang sedang menjemur baru di samping rumah.
"Ada teman kamu di depan." Mahya mengerutkan keningnya, karena dalam otak Mahya tidak ada satu kandidat nama teman yang akan bermain ke rumahnya.
Mahya adalah sosok yang berkepribadian introvert. Jadi sejak dulu dia tidak memiliki teman yang akan sering datang ke rumahnya. Mahya memiliki gangguan kepercayaan terhadap orang lain.
Masa pubertas Mahya terisi dengan hal yang kurang menyenangkan, sehingga membuat dia menjadi pribadi yang kurang terbuka terhadap orang lain, hanya segelintir saja yang bisa dekat dengannya itupun tidak sepenuhnya dia menceritakan tentang dirinya.
"Siapa Bang?"
"Tidak tahu, cewek yang jelas." Mahya mengangguk lalu dia mengerikan tangannya dan berjalan menuju kamar untuk mengganti hijabnya ke hijab yang lebih besar dan lebar.
"Assalamualaikum warahmatullah," salam Mahya menyapa sosok gadis berhijab hitam yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Hai," sapa Kania dengan ramah. Mahya menerbitkan senyum tipisnya.
"Sendiri?" tanya Mahya.
"Enggak, tadi sama Rizal tetapi dia ada di teras.
Keduanya lalu diam, tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ada setitik keinginan untuk menanyakan keadaan dosennya tetapi sayang sekali dia tidak memiliki keberanian.
"Saya cuman mampir tadi, kata Abang suruh ambil jawaban dari kamu." Mahya mengangguk lalu dia undur diri ke belakang untuk mengambil surat yang sudah dia tulis.
Mahya kembali ke depan dengan yakin, dia yakin akan jawaban yang sudah dia berikan.
"Ini," kata Mahya mengansurkan kertas yang sudah dia lipat.
"Kabar baik bukan?" tanya Kania.
"Insya Allah." Mahya menjawab dengan senyum tipis.
"Ini titipan dari Abang. Saya permisi ya, soalnya tiga puluh menit lagi kereta berangkat." Mahya menoleh ke arah jam lalu mengangguk tanda setuju. Mahya memang tak banyak bicara dia hanya mengatakan sesuatu seperlunya.
"Aku berharap nanti saat kita bertemu lagi aku sudah memanggil kamu 'Mbak'." Mahya mengangguk dan tersenyum.
Setelah mengantar tamunya hingga depan pintu, Mahya kembali melanjutkan kegiatannya menjemur pakaian. Lalu dia menyapu dan membersihkan rumah. Setelah semua terasa cukup dia masuk ke dalam kamar mandinya dan menyiapkan pakaian bersih untuk dirinya sendiri. Mahya jadi merasa geli saat membayangkan kelak dia akan mengambil pakaian untuk suaminya.
Mahya segera beristighfar dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia akan mandi lalu persiapan sholat Dhuha.
Setelah selesai melakukan rutinitas sehari-hari, Mahya ingat akan kertas yang diberikan oleh Kania. Dia berjalan mengambil lipatan yang dia simpan di meja. Dia lalu membaringkan tubuhnya untuk membuka lipatan kertas itu, dengan hati berdebar dan penuh kelembutan menatap setiap baris kata yang tertulis.
Tidak ada hal yang patut dipuji dan disyukuri dalam membuat sebuah hubungan selain.
Dari dua raga dan dua jiwa yang saling menjaga.
Tidak mengenal tetapi saling mendoakan
Tidak saling memandang tetapi menetapkan
Tidak bertemu tetapi saling menunggu
Tidak saling berbagi perasaan tetapi saling memantaskan.
Arkana Arya Wijaya
Ada sebaris senyum tercetak di bibir Mahya, dia tidak menduga jika sosok dosen yang dia anggap tak memiliki ekspresi itu memiliki sisi romantis yang cukup mampu mengembangkan dada.
---