
Allah ta'ala berfirman,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."
(Qs. Ali Imran: 159)
---
Mahya dan Arkan sampai di rumah keluarga Arkan tepat pukul sembilan malam, keduanya disambut oleh anggota keluarga. Ada sang ayah, ibu dan dua adiknya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Mahya dan Arkan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Kok malam sekali, Bang?" tanya Umi sambil menghela dua anaknya untuk duduk.
"Umi, Abang baru menikah jadi wajar kalau mau berdua-duaan dulu." Mahya menunduk malu mendengar ucapan Kania.
"Hust, kamu ini." Umi menghentikan keinginan Kania untuk menggoda dua kakaknya.
"Tadi kami mampir di beberapa tempat, Um. Jadi sedikit terlambat." Arkan mengatakan dengan nada yang lembut.
"Umi pikir ada apa-apa di jalan," kata Umi menjawab dengan nada khawatir.
"Maaf tidak memberi kabar terlebih dahulu."
"Ya sudah, ajak istrimu ke kamar. Ini yakin Mahya butuh istirahat." Mahya hanya tersenyum canggung.
"Anggap saja ini rumah kita, bukan sekedar menganggap tetapi rumah ini sekarang juga rumah kamu. Jangan sungkan, kalau mau bereksperimen di dapur kamu tinggal bilang sama Umi."
"Iya Um, terima kasih."
"Kami ke kamar dulu, Um." Arkan menoleh ke arah Mahya, memberi kode supaya dia mengikuti langkah kaki Arkan.
"Bang, jangan banyakan kode. Belum tentu Mbak Mahya mengerti." Kania kembali bersuara dan terdengar teguran dari sang ibu mengiringi langkah kaki Mahya dan Arkan menuju kamar.
"Ini kamarnya, memang sengaja aku ambil di bawah. Karena selain dekat dengan luar juga dekat dari kamar Umi." Arkan menghela masuk sang istri ke dalam kamar.
"Barang-barang kamu ada di sana, maaf Mas lancang merapikan beberapa pakaian." Mahya menoleh dengan cepat, dia sedikit heran dengan informasi yang baru saja dia terima.
"Barang kamu, Mas ambil dua sebelum hari pernikahan. Jadi Mas ada waktu untuk merapikan beberapa buku dan pakaian." Mahya mengangguk lalu dia menoleh ke arah koper lalu dia menoleh ke arah Arkan.
"Mas, kamar mandinya?"
"Di pintu itu, tapi kamar mandinya hanya shower. Kalau yang pakai bak ada di luar di dekat dapur dan dekat kamar Umi." Mahya mengangguk lalu dia mendekati koper.
"Bajunya sudah berpindah ke lemari, Mahya." Mahya menoleh dengan horor ke arah Arkan.
"Di sebelah kanan lemari gantung tempat gamis kamu dan beberapa pakaian dalam di rak atas. Kalau baju tidur dan baju di rumah satu lemari dengan milik Mas yang di dekat pintu kamar mandi." Mahya menunduk malu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa suaminya dengan mudah mengatakan soal pakaian dalam.
"Jangan khawatir, yang merapikan pakaian dalam dan pakaian rumah kamu Kania." Mahya mendongak lalu tersenyum tipis, meringis lebih tepatnya.
"Mas mandi dulu, kamu boleh bereksplorasi dengan kamar ini." Mahya mengangguk lalu dia berjalan menuju rak buku yang ada di dekat jendela, lalu ada meja kerja dengan beberapa tumpuk buku, kertas, laptop dan banyak benda-benda kecil lainnya.
Mahya mendudukkan dirinya di atas kursi kerja, dia sedikit terkejut dengan beberapa materi yang ada di atas meja. Itu adalah materi skripsi yang dia kerjakan. Mengapa sang suami memiliki kopian berkas skripsi?
"Kamu kenapa?" tanya Arkan yang sedang mengeringkan rambut.
"Mas, bagaimana bisa berkas skripsi ada di sini." Mahya mengangkat setumpuk dokumen.
"Oh, Mas kopi saat terakhir kamu bimbingan sebelum bimbingan di rumah." Arkan duduk di pinggir meja di dekat Mahya.
"Kok bisa, buat apa?" tanya Mahya.
"Ya bisa, kamu kan meninggalkannya di meja kerjaku. Coba bayangkan kalau setelah Mas koreksi lalu Mas taruh di meja kembali kalau hilang nanti kamu minta pertanggungjawaban." Arkan menjawab dengan santai, meski aura datar masih mendominasi.
"Besok kamu bisa ke kampus, kembalikan saja buku-buku yang kamu pinjami karena Mas ada buku-buku itu." Mahya menoleh ke arah yang ditunjuk sang suami. Lalu dia berjalan mendekati dan meneliti sejumlah buku-buku yang tertata rapi. Jadi, selama ini dosennya memiliki referensi untuk skripsi yang dia usung.
"Kok Mas gak bilang kalau punya?" sungut Mahya.
"Mas baru saja bilang," kata Arkan berdiri dari duduknya lalu dia menggerai handuk yang dia gunakan di hanger.
"Ya kemarin-kemarin. Kan lumayan Mahya gak harus nyari sulit di perpustakaan dan membawa ke sana-kemari untuk memperpanjang masa pinjaman." Arkan menoleh ke arah sang istri.
"Memangnya kemarin kamu siapa aku?" tanya Arkan meninggalkan Mahya yang berdiri diam di dekat rak buku. Benar, memangnya kemarin dia siapa Arkan? Bukan siapa-siapa, kenal saja tidak.
Mahya menghela napas lalu dia mengeluarkan beberapa sabun dari tas, Mahya memang tidak menggunakan make up tetapi dia masih menggunakan pembersih wajah. Mahya akan membersihkan diri, dia tidak mandi karena memang Mahya tidak tahan dengan dingin malam.
---
Rasa dingin membelai lembut dan merasuki pori-pori kulit yang terbuka, gelap sang malam masih pekat menemani dengan dihiasi suara serangga dan suara ayam jago berkokok.
Mahya menggeser tubuhnya, dia mencari posisi yang membuat tubuhnya menghangat tanpa menyadari hal yang telah dia lakukan. Beberapa kali Mahya juga menarik kain tebal yang mampu melindunginya dari dingin udara yang tak mampu dia tolak.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan merasa sang istri sedikit mendesak tubuhnya.
"Sudah lebih baik?" Arkan menggerakkan tangannya dengan seirama di punggung sang istri.
"Terima kasih," kata Mahya setengah sadar lalu dia kembali dalam belaian sang mimpi. Arkan melihat jam yang semakin berputar, dia lalu menatap lekat wajah sang teman hidupnya.
"Kamu sudah tidur?" tanya Arkan, dan sepertinya dia tahu jawabannya. Karena, Mahya tak kunjung menjawab berarti kalau istrinya sudah kembali terlelap. Arkan bergerak pelan, dia melepas tangan sang istri yang mencengkram kaosnya dengan erat. Dia hendak beranjak karena sepertiga malam sudah mulai menyapa dan dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
Arkan mengenakan sendalnya lalu dia mengambil jaket tebal yang dia miliki, dia memasangkan jaket besar itu ke tubuh mungil sang istri lalu kembali menyelimuti. Arkan mengecup kening sang istri dengan lembut sebelum dia berangkat ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum kembali bersujud di atas selembar kain dan meninggalkan semua yang dia miliki di dunia.
---
Mahya berjalan menyelusuri koridor fakultas ekonomi. Dia masih dengan kebiasaan yang dia miliki menunduk dan berjalan tanpa bertegur sapa dengan siapapun.
"Kamu tadi lihat, Pak Arkan keluar dengan cewek cantik yang pernah kita pergoki kemarin."
"Iya, itu istrinya mungkin. Kan biasanya mereka gak pernah satu mobil dan hari ini satu mobil."
"Benar-benar patah hati masal."
Mahya mendengar kasak-kusuk dari beberapa mahasiswa yang sedang duduk lesehan di teras, dia hanya menghela napasnya saja. Dia cukup heran dengan kebiasaan yang dimiliki wanita, selalu ikut campur urusan orang lain.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," Mahya menepuk bahu Zahra.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, Maya, kehidupan!" Zahra langsung berujar dengan cepat dan memeluk tubuh Mahya.
"Kangen," kata Zahra seolah-olah keduanya lama tak berjumpa.
"Ya Allah, segitu kangennya kamu sampai menitihkan air mata." Mahya tersenyum tipis lalu mengurai pelukan.
"Kamu tahu, ini perpaduan antara rindu dan patah hati." Zahra menarik tangan Mahya menuju sebuah kursi yang cukup berisi tiga orang di dekat taman depan fakultas.
"Benar kata Dilan, kalau rindu itu berat. Tapi ternyata patah hati jauh lebih berat." Mahya mengerutkan keningnya.
"Dilan siapa sih? Kamu punya teman baru?" Zahra menatap Mahya dengan melotot, demi apa? Sahabatnya itu tidak mengenal Dilan. Sosok yang sangat populer di tahun ini karena sikapnya yang menurut para jomblowati romantis.
"Kamu," kata Zahra menggantung, dia seolah tak memiliki kemampuan untuk mengatakan apapun. Lidahnya terasa keluarga dan pikirannya terasa buntu.
"Ya Allah, istri Pak Arkan cantik sekali," kata Zahra membuat Mahya mengerutkan keningnya semakin dalam. Dia tidak biasa mencerna informasi yang baru dia terima.
"Huwa, aku patah hati." Zahra menepuk-nepuk paha Mahya dengan cukup kencang hingga membuat sang pemilik meringis.
"Kamu kenapa?" tanya Mahya.
"Lihat itu," kata Zahra menunjuk ke arah dosen pembimbing skripsinya dan sang adik ipar.
"Kenapa?" tanya Mahya.
"Dia istri Pak Arkan." Mahya membulatkan matanya, dari mana berita itu bersumber. Sungguh itu berita tidak benar, bagaimana bisa adik tiri Pak Arkan dibilang istrinya. Mahya tersenyum tipis, dia jadi sedikit geli.
Pagi tadi Kania memang ada jam pagi dan begitu pula dengan suaminya. Berhubung sopir Kania, Rizal sedang berangkat siang jadi Kania ikut mobil Pak Arkan. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali kalau mendengar cerita dari Kania tetapi dia sudah ke yang sekian kali tetapi biasanya Kania meminta turun di dekat kosan temannya tidak di kampus. Sedangkan Mahya sendiri hari ini berangkat bersama sang ayah mertua, karena berangkat siang.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Mahya.
"Itu bukan tahu dari mana, seluruh mahasiswa jelas tahu." Zahra mengatakan itu dengan lemas.
"Ingat puasa." Mahya mengatakan itu dengan nada menggoda.
"Pantas saja Pak Arkan jatuh cinta, orang Kania secantik itu." Mahya menoleh lalu dia mengangkat bahunya, dia tak ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Biar waktu yang menjawab semuanya.
"Ya Allah," pekik Zahra dengan cukup kencang.
"Kenapa?"
"Aku terlalu fokus ke Pak Arkan sampai lupa," kata Zahra.
"Apa?" tanya Mahya.
"Bagaimana suamimu? Seperti apa rupanya?" tanya Zahra membuat senyum tipis Mahya memudar.
"Habis lebaran InsyaAllah kami akan mengadakan resepsi di sini. Jadi mungkin bisa kamu lihat sendiri nanti." Mahya menjawab dengan pelan.
"Gak asik ah," jawab Zahra seraya membuang muka.
"Ingat, ini rahasia rumah tangga." Zahra berdecak kesal lalu dia menoleh ke arah Mahya kembali.
"Apa?"
"Kamu kok ke kampus?" tanya Zahra sedikit heran, karena waktu itu Mahya bercerita bahwa tidak akan bimbingan sampai selesai lebaran.
"Pak Arkan berubah pikiran, jadi hari ini aku mulai bimbingan."
"Subhanallah, Demi apa? Sungguh istri Pak Arkan membawa banyak perubahan." Mahya hanya mengangguk dan menerbitkan senyum tipis.
---