
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."
(HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa'ad.)
---
Salah satu sunah berpuasa adalah menyegerakan berbuka, tapi bukan berarti belum waktunya lalu berbuka terlebih dahulu. Bukan, karena Rasulullah memberikan contoh kalau berbuka itu adalah saat matahari terbenam dan ditandai dengan terdengarnya seruan adzan Maghrib.
Mengapa dianjurkan untuk menyegerakan berbuka? Karena di dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa umat Rasulullah selalu meneladani sunahnya, dan berbuka puasa dengan menunggu munculnya bintang bukanlah sunah Rasulullah.
Dalam hadits diriwayatkan :
لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ
"Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa." (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih).
Dengan menyegerakan berbuka bukan berarti kita menggunakan banyak waktu untuk makan, tetapi kita disunnahkan untuk makan kurma basah, atau kurma kering dan jika tidak ada cukup dengan air putih. Sebagai orang Indonesia, bukan berbuka jika kita belum makan nasi. Jadi alangkah lebih baik jika mendahulukan mengerjakan sholat Maghrib.
Mahya mengeluarkan beberapa gelas dari keranjang. Dia menoleh ke sekitar yang tampak sepi. Iya, semua orang pergi ke masjid sedangkan dirinya shalat di rumah seorang diri. Mahya membuat air jeruk untuk penetrasi nanti setelah makan.
"Sudah shalat, Dek?" tanya Bang Aidan yang baru masuk.
"Sudah Bang," jawab Mahya masih sibuk memindahkan gelas ke nampan.
"Gak terasa waktu berjalan begitu cepat, dulu kita masih bermain bersama dan sekarang kamu sudah mau menikah saja." Mahya menoleh ke arah sang kakak yang sedang memancarkan aura mellow.
"Benar Bang, kadang Mahya juga berpikir begitu." Mahya menatap wajah sang kakak sendu. Ada kerinduan yang tak bisa dia ungkapkan, jujur selama tinggal di rumah Tantenya orang yang paling dirindukan adalah lelaki yang memiliki status sebagai kakaknya, Abang Aidan.
Bagaimana bisa? Jelas itu bisa terjadi, karena pada hakikatnya dia tumbuh besar dengan perlindungan dan kemanjaan yang diberikan oleh Bang Aidan. Abangnya selalu mengutamakan dirinya di atas kepentingan dirinya yang kadang tidak terlalu mendesak.
Dulu pernah, saat sudah malam sekali. Mahya lupa membeli beberapa bahan untuk melukis dan kakaknya dengan rela pergi ke toko malam-malam hanya untuk membelikan Mahya. Padahal, saat itu kakaknya sedang mengerjakan tugas. Dan hasilnya adalah sang kakak bergadang hingga dini hari. Padahal semua itu salah Mahya, tetapi saat mendapat teguran dari sang ayah tentang larangan tidur malam, kakaknya tak sedikitpun menyebut alasan sebenarnya. Dan masih banyak lagi pengengorbanan seorang Muhamad Aidan.
"Sudah, buruan dirapikan. Nanti tamu keburu datang." Mahya masih menatap punggung sang kakak yang berjalan menuju kamarnya. Tanpa terasa setitik air mata jatuh tanpa terduga.
"Assalamualaikum," salam banyak suara.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Mahya menjawab dengan pelan. Dia segera menghapus sisa air matanya lalu memberikan senyum kepada dua ibu yang baru saja masuk.
"Sudah Shalat, Ya?"
"Sudah Bu." Mahya masih menerbitkan seulas senyum.
"Ini mukenanya, terima kasih." Mahya menerima mukena lalu mengangguk.
"Itu air apa?" tanya Umi Arkan.
"Air jeruk Mbak. Mahya punya kebiasaan kalau setelah makan yang berminyak kita diberi air putih dengan beberapa tetesan air jeruk nipis. Katanya biar tenggorokan dan mulut tidak berminyak. Maklumlah nanti Mbak, kalau kamu menemukan hal yang aneh pada sikap anakku."
"Enggak aneh, toh ada tujuan yang jelas dan tidak menyalahi aturan agama." Ibu Ika mengangguk, dia tersenyum.
"Bang, bawa ke depan. Kaum Adam makan di ruang tengah saja."
"Iya Bu." Mahya tersenyum sambil membatu mengantar hingga batas pintu, dia bersembunyi di balik dinding jadi tidak terlihat dari depan.
"Mari Mbak, seadanya ya." Ibu Ika mengajak calon besannya untuk duduk.
"Kalau ada asam manis begini biasanya yang makan banyak si Rizal." Mahya yang baru saja duduk menoleh ke arah calon mertuanya.
"Iya, dia suka sekali. Bahkan bagian kepala ini akan dimakan sama dia." Mahya menerbitkan senyumnya.
"Ini masakan Mahya, Mbak. Mahya juga suka sekali sama asam manis, tapi dia gak suka ikan paling ayam kayak yang ada di depannya itu."
"Oh, nanti kalau di rumah Umi kamu harus terbiasa dengan menu seafood. Soalnya keluarga Umi kalau sama makanan laut bukan suka lagi tapi lebih dari itu." Mahya hanya meringis lalu mengangguk.
"Dia gak pilih-pilih kok Mbak. Ya gitu, kalau gak cocok makannya sedikit. Kalau cocok habis-habisin."
"Ibu," kata Mahya merajuk membuat dua orang paruh baya itu tertawa.
"Anak perempuan sih beda sama anak lelaki, Dek Ika. Makan banyaknya anak perempuan makan sedikitnya anak lelaki. Kamu harus terbiasa itu Mahya."
"Benar, di sini ada dua anak lelaki sudah bisa jadi contoh, Mbak."
"Tapi kok gak gemuk ya?" tanya Mahya dengan pelan mengundang tawa untuk yang kesekian kalinya.
---
Mahya membereskan meja ruang tengah setelah diskusi masalah tanggal dan kelangsungan acara pernikahan berakhir karena terdengar suara adzan Isya.
"Kamu gak ke masjid?"
"Halangan Bang." Abang Aidan tersenyum penuh arti.
"Wah cepat dapat ponakan kalau seperti itu." Mahya menoleh ke arah sang kakak.
"Kok gitu," kata Mahya sedikit sewot.
"Coba kamu hitung, nanti pas kamu menikah adalah masa-masa mendekati subur. Jadi bisa jadi kalau Allah berkehendak kalian segera mendapat momongan." Pipi Mahya memerah seketika, dia tahu benar bahwa abangnya adalah lelaki paling sempurna sesuai penilaiannya. Jarang sekali lelaki memahami semua itu, bahkan saat haid pertama sang kakak yang menjelaskan banyak hal.
"Sudah, Abang ke masjid. Pintu tidak Abang kunci. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Iya, waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Mahya menyentuh dadanya yang berdebar lalu dia tersenyum. Dia menikmati setiap detik yang penuh kejutan ini. Dia lalu segera beristighfar dan kembali melanjutkan pekerjaannya supaya segera selesai dan melakukan pekerjaan lainnya.
Ibu Ika sudah berpesan jika nanti setelah sholat tarawih, Mahya diminta menghidangkan kue kering dan salad buah. Jadi saat ini Mahya sedang berkutat dengan kue dan memasukkan ke dalam toples yang berukuran lebih kecil.
Di dalam hati Mahya banyak mengucapkan tasbih, tahmid dan takbir bergantian untuk mengisi waktu yang luang dalam otak. Dari pada dia hanya diam atau memikirkan hal yang tidak-tidak.
Mahya masuk ke dalam kamar setelah membereskan semua pekerjaannya, dia duduk di kursi menghadap ke meja. Dia membuka sebuah cincin tanda pinangan, harusnya tadi sebagai formalitas sang calon mertua memasangkannya untuk pengganti sang calon suami. Tetapi Mahya terlanjur malu jadi dia meminta cincin itu untuk di simpan.
Cincin itu bukan berlian yang harganya tak ternilai, cincin itu hanya cincin emas berkarat 24. Keluarga calon suami Mahya bukan konglomerat atau pengusaha besar sehingga bisa dibilang masuk jajaran perangkat paling kaya di Indonesia, bukan. Keluarga Pak Arkan adalah pengusaha biasa yang memiliki banyak cabang.
Mahya menyentuh mata cincin dengan lembut, lalu dia menerbitkan senyumnya. Ternyata bahagia itu sederhana, kita tinggal tersenyum dan mensyukuri segalanya. Dan yang lainnya adalah perkara nanti dia mencari jalan keluarnya.
Mahya menaruh kotak cincin itu bergabung dengan beberapa perhiasan yang dia miliki. Mahya bukan sosok yang glamor, dia memang suka menyimpan uangnya dalam bentuk emas tetapi dia jarang menggunakannya, bukan jarang bahkan belum pernah menggunakannya selain cincin yang ada di jari manisnya.
Mahya mendengar keributan di luar, dia menduga bahwa semua orang sudah kembali dari masjid. Mahya merapikan pakaiannya lalu dia bergegas keluar. Di luar sudah duduk calon mertuanya.
"Salad buah Umi," kata Mahya menaruh satu mangkuk.
"Terima kasih."
"Kania kok tidak ikut, Umi?" Mahya mulai mencoba membuka pembicaraan.
"Gak boleh sama Abang." Mahya menoleh meniti ekspresi geli wanita yang ada di depannya. Dia tidak menduga bahwa wajah yang mulai keriput itu masih menyisakan aura kecantikan di setiap sudut wajahnya. Binar matanya yang teduh dan menenangkan.
"Kok gak boleh?"
"Abang memang sedikit aneh, Ya. Jadi nanti kamu harus sabar. Abang itu orangnya keras meski memiliki sisi lembut juga tetapi apa yang dia kehendaki selama itu tidak menyalahi aturan dia akan memperjuangkan hingga titik penghabisan." Mahya termenung sejenak, meski terlihat dominan tetapi sebenarnya dosennya itu sering mengalah dengan orang lain. Terlihat jelas dari dosennya yang mengalah dengannya dan membiarkan dirinya bimbingan di rumah orang tuanya di jam luar. Tetapi, Mahya tidak akan menyela yang diungkapkan oleh ibu dosen-nya. Karena jelas wanita itu paling mengerti karakter yang dimiliki oleh anaknya dan Mahya harus banyak belajar cara menghadapi Pak Arkan kepada ahlinya.
"Kamu harus banyak mengalah, tetapi jika suami-mu itu nanti salah langkah kamu harus berdiri kokoh untuk meluruskan menuju langkah yang benar." Pipi Mahya terasa panas, dadanya bergemuruh dan perutnya terasa melilit, tidak sakit tetapi ada sensasi yang berbeda. Dia tidak tahu gejala apa yang dia rasakan tetapi kala wanita di depannya itu mengungkapkan kata suami segala rasa itu menyerangnya tanpa terkendali ataupun ada aba-aba.
"Terus Kania?"
"Abang pikir, acara lamaran itu sederhana. Orang tua dan calon mempelai sudah cukup, tidak perlu berlebihan dengan membawa beberapa orang. Nanti malah membuat sang tuan rumah kerepotan. Dan atas dasar itu, Abang melarang Kania dan Rizal untuk ikut. Dia bilang ini acara sakral antara dua orang tua dan anak, bukan bersama semua keluarga." Mahya mengangguk, dia memang sependapat dengan Pak Arkan kali ini. Karena pada kenyataannya dia tidak menyukai acara yang berlebihan sehingga menimbulkan banyak madhorot.
Oh ya, tentang Rizal. Rizal adalah anak kembar pasangan orang tua Arkan. Sebenarnya, Arkan dan ayahnya itu adalah seorang Om dan ponakan. Tetapi karena Om Arkan- adik ayahnya- menikah dengan ibunya sehingga menjadi ayah tirinya.
Ayah kandung Arkan meninggal saat Arkan masih dalam kandungan, ayahnya meninggal mendadak tanpa sebab. Begitulah kematian, datang tanpa disangka-sangka. Jadi, ayah yang saat ini mendampingi Arkan adalah ayah biologis Rizal dan Kania.
Mahya terharu dengan kisah cinta yang ada dibayangkannya tentang orang tua Arkan, tetapi dia tidak tahu kisah nyatanya seperti apa. Dia hanya menduga dengan bayangan indah.
"Rizal bilang dia kenal kamu sudah lama? Kamu tahu Rizal bukan?" Mahya menoleh, dia tampak berpikir kapan kali pertama dia bertemu dengan Rizal. Dan hasilnya adalah nihil, karena pada kenyataannya dia tidak mengingat scene kejadian itu.
Mahya hanya ingat, dia pernah diberi minum air mineral oleh Rizal di halte bus beberapa pekan yang lalu. Selain itu, pertemuan mereka di taman dan juga pertemuan di kafe. Dan yang paling ter-update adalah beberapa hari yang lalu kala Rizal menemani kakaknya nadhor.
"Kok saya gak ingat ya Um."
"Dla, masak? Rizal banyak cerita tentang kamu. Dia tahu kamu sejak semester dua, dia bilang kalau kamu adalah mahasiswi tak tersentuh dan paling lurus di kampus." Mahya menoleh dengan cepat, tanpa dia sadari dia membuka mulutnya seolah hendak mengeluarkan suara tetapi tertelan oleh peradaban.
"Kalau itu saya tidak tahu, saya tahu Rizal sekitar dua pekan yang lalu."
"Wah, berarti benar kata Rizal. Kalau kamu itu terlalu lurus sehingga tidak bisa melihat orang di sekitarmu." Mahya hanya meringis tak enak. Entahlah, dia yang terlalu lurus atau dia yang terlalu takut untuk menatap sekitar.
----