Mahya Hilyati

Mahya Hilyati
Lima belas



Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata,


كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril 'alaihis salam menemui beliau. Jibril 'alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila Jibril 'alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus."


(HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308.)


---


Mahya kesulitan membawa panci dan buah melon di tangannya, selain itu dia juga masih membawa sekantong beras. Dia berhenti di dekat rumahnya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman.


Mahya menaruh bungkusan plastik dan melon di depan rumah. Dia berjalan cepat dengan panci di tangannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Bang."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Banyak suara menjawab tapi Mahya heran di ruang tamu tidak ada orang.


"Kamu kenapa keringat begitu?" tanya sang kakak yang baru keluar.


"Ada tamu, Bang?" Bukan menjawab Mahya malah balik bertanya.


"Iya, kamu lewat pintu samping."


"Itu Bang, tadi dapat buah melon dan beras dari Pak Ipin dan Ko Wayan." Mahya menunjuk dengan panci yang dia pegang.


"Kamu baru malak?"


"Abang," kata Mahya dengan cemberut. Lihat, Mahya sangat ekspresif jika bersama saudaranya.


"Terus?"


"Itu oleh-oleh Iwan melonnya, terus kalau berasnya katanya Ko Wayan suruh icipi beras baru dari sawah sendiri."


"Ya sudah, Abang ambil. Kamu lewat pintu samping, mandi. Bau asem." Mahya hanya cengengesan, bagaimana tidak bau asem jika dia tadi bantuin Bu Nian membenarkan api di dapur, terus dia bantu nyonya Wayan mengantar makanan ke tetangga juga.


Mahya berjalan melalu pintu samping, dia heran mendengar sang ibu yang berbincang di dapur.


"Ibu sama siapa?" tanya Mahya lirih, lalu dia berjalan dengan cepat.


"Assalamualaikum," salam Mahya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, kamu dari mana?"


"Dari tempat Pak Ipin, Bu." Mahya menaruh panci berisi kolak buah labu dan kacang hijau.


"Kamu dapat apa?"


"Ini tadi Bu Nian bagian takjil di masjid, terus sama Bu Nian Mahya dikasih."


"Kamu main ke sana? Bukannya Iwan ada di rumah."


"Tadi dipanggil sama Pak Ipin, Bu. Mahya gak tahu kalau Iwan ada di rumah." Mahya lalu menoleh ke arah seorang paruh baya cantik yang sedang tersenyum ke arahnya. Mahya menunduk malu karena tidak bisa menjaga image di depan calon mertuanya.


"Assalamualaikum, Umi." Mahya mendekati paruh baya itu lalu dia menjabat tangannya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Kamu kok keringatan kayak gini." Mahya tersenyum malu.


"Mahya baru jalan jauh, Umi."


"Bohong Mbak, dia hanya jalan berapa puluh meter."


"Ibu," kata Mahya merajuk, Mahya tidak menduga kalau ibunya sudah akrab dengan calon mertuanya.


Ah, kenapa Mahya percaya diri sekali bahwa perempuan ini akan menjadi calon mertuanya?


"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu sana." Mahya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya.


"Tapi Ya, mana buah melonnya?" Mahya menoleh lalu nyengir.


"Toko buahnya tutup Bu," kata Mahya tersenyum canggung.


"Dlo, kok bisa? Terus kamu lama sekali tadi."


"Mahya muter-muter sama Abang, tapi tadi ada melon dari Iwan Bu. Masih diambil Abang di depan Mahya ke kamar dulu, Umi." Mahya lalu berjalan dengan cepat. Dia sedikit mengutuk dirinya sendiri yang lupa bahwa hari ini akan ada lamaran resmi dari keluarga dosennya.


Ah, khitbah. Mengatakan itu membuat dada Mahya bergetar, dia tidak bisa menafsirkan perasaan ini tetapi dia merasakan aura yang menyenangkan bak dia berada di taman bunga penuh warna dan kupu-kupu terbang menghiasi.


---


Seperti di lingkungan rumah Mahya, setiap hari diberi jadwal untuk membuat takjil di masjid untuk berbuka puasa. Karena kebanyakan warna lingkungan rumah orang tua Mahya selalu datang ke masjid detik-detik mendekati adzan dan melakukan buka bersama di depan masjid. Selain berjaga-jaga kalau ada musafir juga untuk memperkuat ukhuwah.


Hari ini keluarga Mahya tidak melakukan rutinitas itu, selain karena ada tamu juga karena keluarga Mahya memiliki kebiasaan yang sedikit berbeda. Ayahnya tidak biasa makan di tempat ramai, sehingga sering kali beliau tidak bisa makan hanya minum air putih. Jadi, keluarga Mahya selalu melaksanakan buka puasa di rumah. Ya, kadang sesekali mereka ke masjid.


Mahya memasukan bajunya ke dalam keranjang, lalu dia kembali mengenakan baju yang bersih. Dia membenarkan posisi hijabnya di dalam kamar lalu dia tersenyum kala mengingat ada orang yang menunggunya di luar.


Mahya berjalan menuju kalender yang menempel di dinding. Dia melingkari tanggal hari ini dan menulis satu kata 'khitbah' lalu dia berjalan keluar setelah menaruh pena di tempatnya.


Mahya berjalan menuju ke dapur, temat dua perempuan yang sedang berbincang dengan asyiknya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Ibu Ika. Mahya mengangguk.


"Kamu kalau mau buat jus melon sudah Ibu kupas," kata Ibu Ika sekali lagi.


"Gak deh Bu, kan ada kolak kacang hijau." Ibu Ika menoleh ke arah Mahya lalu mengangguk.


"Ya sudah," kata sang ibu lalu berjalan menuju meja samping, tempat beberapa peralatan makan di simpan.


"Umi sudah sampai sejak tadi?" tanya Mahya beramah-tamah. Sejujurnya dia tidak terbiasa tetapi dia harus membiasakan diri.


"Lumayan, tadi barengan kamu yang di jalan yang sebelah pas pulang dari toko yang tutup." Mahya tersenyum canggung, jadi calon ibu mertuanya tadi melihat Mahya yang mengambil jalan memutar.


"Oh, tadi Mahya sengaja ambil jalan putar. Supaya lebih sore sampai di rumah." Mahya mengatakan itu dengan pelan, dia sedikit tak enak hati dengan ibu dosennya itu.


"Gak papa, yang penting pergi kemanapun bersama mahramnya." Mahya meringis mendengar akan hal itu, karena jujur itu adalah hal tersulit yang dia alami. Dia sering keluar rumah seorang diri jika di Kota.


"Umi tidak menyangka kalau kamu itu perempuan yang sama dengan yang menjadi anak bimbingan Abang."


"Saya juga gak tahu, Um."


"Kok bisa? Kan ada biodata data lengkap. Kok kalian sama-sama enggak tahu." Mahya meringis, dia memang tahu nama lelaki yang mengajak ta'aruf itu adalah Arkan tetapi dia tidak pernah menduga jika Arkan yang ini sama dengan Arkan yang menjadi dosen pembimbing skripsinya. Karena sungguh, Mahya tidak pernah sedikitpun terbersit di hatinya untuk memiliki sekedar angan hubungan pribadi dengan dosennya.


"Nama Arkan banyak Umi, selain itu kan saya gak menduga kalau Umi ada saudara dengan Cece Ais."


"Bisa sih, tapi bukannya kalau mengerjakan skripsi kamu harus minta tanda tangan Abang dan ada namanya. Dari sana juga tahu."


"Mungkin ini cara Allah untuk menjaga kami dari hal-hal yang dilarang." Mahya melihat ibu dosennya itu mengangguk tanda setuju.


"Benar juga, kalau kamu dan Abang tahu bisa-bisa kalian nanti sering ketemuan dan melakukan yang iya-iya." Mahya menoleh cepat ke arah ibu dosennya.


"Maksudnya iya-iya?"


"Kamu kan selalu sewot sama Abang, bisa jadi kamu bakal menolaknya. Kalau sudah sampai di tahap ini jelas kamu akan sulit menolaknya." Mahya terpungkur dengan jawaban itu.


"Mungkin sudah jodoh, Mbak. Jadi Arkan ditunjukan jalan yang benar, dia mendatangi kami sebelum mendatangi putri kami. Karena kalaupun putri kami satu ini pergaulan jaman Now, tapi tetap pemikiran jaman old."


"Maksudnya bagaimana, Dek Ika?"


"Iya, langkah Arkan untuk menemui kami itu benar. Selain berdasarkan agama juga berdasarkan prinsip anak gadis saya. Anak gadis saya ini memiliki prinsip kalau lelaki yang akan menikah dengannya bukan yang sekadar mencarinya tetapi yang mendatangi orang tuanya. Kalau kami setuju maka dia juga akan setuju tetapi atas izin Allah, dengan shalat Istikharah. Kolot banget bukan?"


"Benar Mahya? Subhanallah, berarti Arkan melalui jalan yang benar. Seperti inilah takdir Allah, selalu memberi jalan sesuai dengan aturan jika kita mau melibatkan-Nya."


"Ibu bilang Mahya kolot, bukankah itu juga hasil didikan Ibu yang mengajari dan meracuni pikiran Mahya tentang jodohkan Ibu." Ibu Ika hanya terkekeh geli melihat anaknya sedikit sensitif. mungkin saat ini putrinya sedang terkena sindrom pra-nikah.


"Oh ya Mbak, nanti kalau Mahya jadi menikah dengan Arkan. Harap dimaklumi ya, bukan jangan dimaklumi tapi pertegas saja tentang tugasnya. Dia sedikit agak banyak sifat malasnya, apa lagi kalau lagi sedang ingin nyiyir pasti semuanya dibicarakan. Jadi, saya harap Mbak mau menerima Mahya dengan segala kekurangan yang dia miliki. Beginilah saya mendidik dia, mungkin kadang yang terlewatkan. Saya hanya manusia biasa, saya berharap Mbak mau menerima Mahya seperti anak Mbak sendiri." Mahya terharu dengan segala kata yang keluar dari bibir ibunya, jika sudah seperti ini dia tidak akan mampu menahan air mata.


"Lihat Mbak, begini saja dia sudah menangis. Banyak sekali sifat buruknya putri saya satu-satunya ini."


"Ibu," kata Mahya merajuk. Membuat dua ibu itu tertawa.


"Kamu benaran mau menikah, Dek. Kamu cengeng begini, bagiamana kamu bisa menghadapi suamimu." Mahya semakin terisak dengan pertanyaan sang ibu.


"Jangan menangis, nanti puasanya batal."


"Gak ada ya Bu, menangis tidak membatalkan puasa. Kecuali kalau Mahya menangis lalu minum air banyak-banyak."


"Nanti, kalau Mahya sudah menikah dengan Arkan. Mahya sudah menjadi istri Arkan berarti dia juga menjadi anak saya Dek Ika. Arkan anak sulung saya, dan Mahya akan jadi anak saya sebagai anak menantu. Tapi Insya Allah, saya berusaha tidak membeda-bedakan."


"Kamu dengar itu Mahya, Ibu mertua kamu sangat baik. Kamu harus juga bersikap baik, jangan bandel dan tidak merepotkanya."


"Ibu, Mahya belum menikah dengan Pak Arkan. Kalau begini jadi gak mau nikah di rumah saja."


"Hai, bagaimana bisa begitu?" seru Ibu Ika dengan cepat.


"Habis Ibu buat Mahya gak tega meninggalkan Ibu." Tak lama dua orang itu saling berpelukan seolah melupakan kehadiran ibu Arkan.


---