
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216).
---
Suasana ruang tamu itu menjadi hening beberapa saat, karena Pak Arkan yang sibuk membalik kertas di pangkuannya dan Mahya sedang meniti setiap bait kata yang diketik semalam. Mahya merasa heran dengan keadaan ini, terasa begitu tegang.
Apa iya, ini suasana orang yang sedang bimbingan. Membosankan.
"Ada beberapa yang perlu direvisi, dan saya harap ini bimbingan terakhir hingga nanti setelah lebaran." Mahya terkejut dengan akan hal itu, tanpa sengaja dia langsung menoleh ke arah Pak Arkan dan bertepatan dengan Pak Arkan yang menatapnya.
"Astaghfirullah," kata Mahya segera membuang muka. Dia menjinakkan sejenak dadanya yang mulai berdebar hebat. Ya Allah, ada apa dengan jantungnya? Apakah dia terkena serangan jantung hanya karena sekali saja dia tak menjaga pandangan?
"Tapi alasannya apa?" tanya Mahya setelah merasa jantungnya cukup tenang.
"Tidak ada alasan khusus."
"Tapi Pak, kalau seperti ini nanti saya tidak bisa ikut wisuda gelombang pertama." Mahya mengungkapkan kekhawatirannya.
"Insya Allah bisa."
"Apa jaminannya? kalau sampai sebulan penuh Mahya dilarang bimbingan." Mahya tiba-tiba menaikkan volume suaranya.
"Jaminannya adalah saya. Saya akan melakukan segala cara jika sampai kamu tidak bisa mengikuti wisuda gelombang pertama. Insya Allah."
"Awas Bapak ingkar janji."
"Tenang Bang Arkan bukan orang yang sering ingkar janji."
"Bukan orang yang sering berarti sesekali bisa ingkar janji, jadi gak ada jaminan." Mahya merapikan kertas yang dia taruh di meja. Dia sangat kecewa dengan keputusan sang dosen yang menurutnya sangat tidak sportif.
"Lalu kamu mau jaminan apa?"
"Tidak perlu jaminan cukup diizinkan bimbingan saja setiap waktu, saya tidak masalah jika harus di luar jam kuliah." Mahya mengatakan itu dengan nada ringan.
"Boleh." Mahya tersenyum dengan lebar dia tidak menduga bahwa nego dengan dosennya ini berjalan mudah, dia pikir akan ada adu urat yang alot.
"Mbak, Abang Mbak baik sekali." Mahya mengembangkan senyumnya dengan lebar lalu dia dengan semangat merapikan barang-barangnya.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Pak Arkan membuat Mahya menghentikan kegiatan.
"Jangan sulit-sulit syaratnya," kata Mahya dengan pelan.
"Kamu harus halal dulu buat saya baru kamu bisa bimbingan terus kapanpun dan di manapun." Mahya melongo, dia mencerna baik-baik syarat yang diucapkan oleh dosennya. Sungguh, apa itu tadi adalah sebuah ajakan menikah? Dalam artian dosen muda itu melamarnya? Benarkah?
"Tidak ada tawar menawar, Kania ajak dia makan siang sekalian. Kalau Umi tanya Abang ke mana, Abang mau ke rumah Pak RT dan langsung ke masjid."
"Iya Bang." Mahya menoleh ke arah dosennya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Arkan lalu berlalu meninggalkan Mahya yang masih belum juga menemukan suaranya.
"Mbak," panggil Mahya ke arah Kania.
"Dosen tadi waras, bukan?" tanya Mahya lirih. Sungguh dari sekian banyak kata mengapa dia malah menanyakan hal yang sangat amat tidak penting.
Mahya menoleh ke arah Kania yang saat ini sudah tergelak, gadis itu tertawa histeris hingga membungkukkan badannya dan mengalungkan dua lengannya di perut sendiri. Mahya semakin heran dengan hal yang tengah terjadi, sungguh dia merasa tidak ada yang lucu sama sekali tetapi mengapa adik dosennya itu justru tertawa bukan menjawab pertanyaannya.
"Kania, istighfar." Umi Arkan keluar dengan membawa makanan di Mampang dan juga minuman.
"Um, Umi harus tahu tadi Abang baru saja PHPin anak orang hingga syok." Kania mengatakan hal itu di sela tawanya. Sedang Mahya hanya bisa meringis.
"Maksud kamu apa?" tanya Umi sambil duduk.
"Dimakan Nak."
"Terima kasih." Mahya mengatakan itu dengan canggung, tidak tahu harus memanggil bagaimana ibu dosennya itu.
"Tadi Abang baru saja melamar Mahya, Um."
"Hust, Abang kamu udah ada calon. Kok kamu bilang melamar Mahya, gimana sih." Mahya dan Kania lalu saling memandang.
"Dasar Abang, dia benar-benar." Kania mengatakan hal itu dengan geram sedang Mahya hanya menghela napas. Dia tidak menduga jika semua itu hanya bercandaan. Tapi baginya semua itu tidak lucu sama sekali, sebuah pernikahan itu bukan hal yang bisa dibuat becandaan.
---
Sebuah kedewasaan itu bukan dinilai dari umurnya, tetapi dari bagaimana bersikap dan menghadapi sebuah masalah. Mungkin umur juga berpengaruh dalam terbentuknya sikap dewasa seseorang, tetapi tinggal bagaimana orang tersebut menghadapi dan menilai arti sebuah perjalanan dalam kehidupan.
Mahya duduk di kursi taman kota, dia menatap keramaian banyak keluarga yang berkelompok membentuk sebuah kebersamaan yang amat nyata. Mahya seolah ditarik ke sebuah kenyataan bahwa keluarga adalah sebuah wahana untuk kita berbagi banyak hal.
Mahya kembali menekuni buku yang dia baca, sesekali dia menulis di note tentang apa yang dia anggap penting. Mahya tidak sedikitpun terganggu dengan keramaian tetapi yang saat ini dia rasakan hanya sebuah kenyamanan untuk menikmati setiap bait kata yang dia simpan dalam pikiran.
"Kita bertemu lagi," kata seorang lelaki yang berdiri di depan Mahya. Dari mana Mahya dapat melihat sosok itu lelaki? Dari celana yang dipakai cowok itu dan juga suara cowok itu saat menyapa Mahya.
"Iya." Mahya menjawab dengan singkat. Dia mengenal suara lelaki itu, lelaki yang sama yang sering menegur dirinya belakangan ini.
"Kamu sendiri?" tanya cowok itu.
"Tidak, saya sedang menunggu teman." Mahya masih menundukkan pandangan. Dia merasa serba salah saat dia menunduk dia akan mendapati pemandangan pakaian cowok itu yang tepat di depannya hanya sebatas lutut jika cowok itu bergerak sedikit saja maka aurat lelaki itu akan terlihat.
Membahas tentang aurat, saat ini tanpa terasa bukan sekedar wanita yang selalu mengumbarnya. Tetapi, banyak dari kalangan lelaki juga melakukan hal itu tanpa diduga. Dalam Islam, aurat lelaki dan perempuan itu berbeda. Jika lelaki memiliki aurat pusar hingga lutut maka perempuan seluruh tubuhnya selain wajah dan dua telapak tangan.
"Teman?" tanya cowok itu dengan nada sedikit aneh.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Zahra.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Mahya dan lelaki itu menjawab bersamaan.
"Dlo, kok ada Fahmi." Mahya menerima jabat tangan Zahra. Oh, jadi lelaki itu namanya Fahmi.
"Jadi dia temanmu?" tanya Fahmi entah kepada Mahya atau Zahra. Dan keduanya mengangguk secara bersamaan.
"Kok kamu gak mengenalkan kepadaku?" tanya Fahmi dengan nada menuntut. Mahya heran, tetapi dia hanya diam saja.
"Penting banget aku mengenalkan temanku?" tanya Zahra dengan nada sinis. Fahmi adalah tetangga kakak Zahra yang memiliki tingkat keisengan yang cukup tinggi, Fahmi tampak anak penurut jika di lingkungan rumah tetapi kalau sudah keluar dari kandang dia lebih dari sekedar singa yang memiliki aturan. Mungkin begitulah, sikap seorang anak yang terlalu terkekang.
"Iya dong, punya teman cantik begini gak bagi-bagi."
"Emang coklat dibagi. Please deh, cowok Playboy cap cicak putus ekornya jauh-jauh dari Mahya. Kamu gak cocok sama dia," kata Zahra membuat Mahya sedikit geli dengan julukan yang diberikan untuk Fahmi.
"Yang bener saja," kata Fahmi tidak terima.
"Mau kamu apa?" tanya Zahra dengan keras.
"Bagaimana kalau saya traktir makan."
"Dalam rangka apa?" tanya Zahra curiga, dia cukup mengenal cowok satu ini.
"Mau melamar teman kamu." Mahya melirik ke arah Zahra lalu dia memasukkan bukunya kedalam tas. Dia sudah tidak minat membaca. Bagaimana bisa membaca kalau dua orang itu terus berdebat tak pasti.
"Jangan mimpi, dia sudah punya calon."
"Benar yang dibilang Zahra?" tanya Fahmi yang kali ini menoleh ke arah Mahya yang tampak sibuk sendiri.
"Iya."
"Ah, selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan."
"(Seorang) mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya. Oleh karena itu tidak halal bagi seorang mukmin membeli atas pembelian saudaranya dan tidak pula meminang atas pinangan saudaranya hingga dia meninggalkannya." Tiga orang itu menoleh ke arah sumber suara, ternyata tak jauh dari tempat duduk Mahya berdiri seorang lelaki berkacamata. Mahya ingat, cowok itu adalah cowok yang sama saat memberi dia air mineral di halte.
"Siapa yang bilang?" tanya Fahmi tidak terima.
"Saya yang bilang, itu adalah sebuah aturan yang jelas diucapkan oleh Rasulullah di dalam hadits dijelaskan." Mahya hanya tersenyum tipis lalu dia tidak peduli dengan semuanya.
"Kamu siapa?" tanya Fahmi.
"Dia Rizal, temen satu angkatan kita kok." Zahra mengatakan itu dengan ogah-ogahan. Mahya menoleh cepat ke arah Zahra, tadi Mahya tidak salah dengar bukan kalau lelaki itu bernama Rizal. Jangan bilang bahwa cowok itu adalah cowok yang ditaksir oleh Zahra selama ini.
"Oh, jadi ini yang namanya Rizal. Pantesan banyak cewek kepincut. Ternyata tampangnya lumayan," kata Fahmi dengan nada meremehkan.
"Iya saya Rizal. Salam kenal." Rizal mengucapkan itu dengan nada datar. Mahya menghela napas lalu memberi kode kepada Zahra untuk meninggalkan lelaki itu.
"Kami permisi dulu, Assalamualaikum." Mahya berpamitan.
"Tunggu dulu," kata Fahmi.
"Apa lagi?" tanya Zahra dengan malas.
"Bagaimana dengan tawar tadi?"
"Tawaran apa"? tanya Zahra.
"Bukan kamu, tapi dia."
"Bukankah sudah jelas, bahwa tidak boleh meminang perempuan yang sudah dipinang."
"Tapi kami belum pada tahap itu kan?" Mahya tertohok dengan kalimat itu, dia memang belum pada tahap itu bahkan tahap nadhor saja belum dia lakukan.
"Tetap saja, saya dalam proses menuju ke sana. Dan tidak boleh ada dua orang dalam satu proses, ini bukan sebuah kompetisi."
"Kenapa kamu begitu tidak suka dengan aku?" tanya Fahmi dengan tajam.
"Saya tidak begitu," kata Mahya lalu dia hendak beranjak.
"Ingat dalam kitab Al-Qur'an dijelaskan bahwa apa yang kamu benci bisa jadi apa yang akan kamu sukai. Jangan terlalu sombong." Mahya segera menarik tangan Zahra yang hendak berbalik dan menjawab ucapan Fahmi. Bagi Mahya itu tidak penting, jadi lebih baik dihindari. Bukankah lebih baik menghindar dari perbuatan sia-sia?
"Kenapa kamu tarik aku? Aku mau membungkam mulut Fahmi."
"Tidak perlu, buat apa kita melakukan hal yang sia-sia." Zahra mendengus kesal, dia tahu benar watak sahabatnya.
"Kalau boleh tahu, apa dia Rizal yang itu?" tanya Mahya berhenti lalu menoleh ke arah Zahra. Dia ingin melihat ada kebohongan atau tidak dalam ucapan Zahra.
"Iya." Zahra berjalan begitu saja melewati Mahya.
"Kenapa kamu tidak meminjam namanya saja untuk disebut dalam doa?" Mahya mensejajarkan langkahnya dengan Zahra.
"Sudah. Tapi tak ada perubahan."
"Kamu tahu, doa itu adalah bentuk rindu dan cinta yang paling cepat sampai ke hati. Ingat selalu berprasangka baik kepada Allah, mungkin Allah masih menangguhkan dia kamu hingga waktu yang tepat. Jadi kita diminta untuk lebih dekat kepada-Nya." Zahra menghentikan langkahnya.
"Apa ada jaminan bahwa orang yang aku sebut dalam dia akan menjadi jodohku?" tanya Zahra menghentikan langkahnya, saat ini dia ada di depan sebuah kafe yang memiliki konsep perpustakaan. Jadi bisa sambil membaca saat berada di dalam.
"Bisa jadi, ada dua kemungkinan yang terjadi. Jika kita tidak berjodoh dengan orang yang kita sebut dalam doa berarti mungkin kita berjodoh dengan seseorang yang menyebut nama kita di dalam doa. Dan satu kemungkinan lagi, Allah sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuk kita. Jadi yang kita lakukan saat ini hanya memantapkan diri dengan berdoa dan berusaha." Mahya berjalan menuju pintu kafe meninggalkan Zahra yang masih mencerna kalimat panjang yang dikeluarkan oleh mulutnya. Kalau boleh jujur, segala ucapan Mahya itu tadi keluar begitu saja karena pada kenyataannya dia sendiri tidak bisa mengerti tentang jodoh karena saat ini dia dalam masa pencarian yang sama dengan Zahra.
---