
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »
"Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?" Beliau menjawab,"Katakanlah: 'Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anni' (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)."
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
---
Ramadhan menyapa dalam ukuran dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari, lalu waktu akan berjalan bagaimana semestinya seperti Ramadhan hanya sekedar musim yang datang bukan hal yang sangat diharapkan.
Kala di bulan Ramadhan, semua berlomba-lomba berbuat kebaikan tetapi mereka lupa untuk tetap meneruskan perbuatan baik itu hingga bulan-bulan selanjutnya, jadi jika motto Rasulullah adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin. Tetapi jika fakta seperti di atas, apa yang telah terjadi?
Dalam naungan bulan Ramadhan yang penuh maghfirah, mungkin kita sudah bisa mulai berdoa semoga menjadi manusia yang Istiqomah dalam menjalankan ibadah sehingga Ramadhan yang berlaku tidak mengubah pola ibadah dan kebiasaan kita.
Mahya menggenggam tangannya dengan erat kala tiga dosen di depannya mengangguk lalu mempersilakan Mahya untuk keluar ruangan. Alhamdulillah, hari ini Mahya sidang skripsi. Bertepatan pada tanggal dua puluh satu Ramadhan. Meski tidak cumlaude, Mahya cukup bangga dengan hasil belajarnya.
"Bagaimana?" tanya Zahra yang sudah ada di depan pintu. Mahya langsung menghambur lalu mengucapkan banyak tahmid.
"Alhamdulillah lancar," kata Mahya lalu dia mengurai pelukan.
"Pingin cepat lulus juga," kata Zahra dengan nada memelas.
"Skripsi dulu," sahut Kania yang membawa balon dan sebuah kotak kado.
"Selamat Mbakku," kata Kania lalu memeluk sang kakak ipar.
"Terima kasih."
"Selamat Mbak, semoga ilmunya bermanfaat."
"Aamiin, terima kasih Rizal."
"Ini buat Mbak," kata Rizal mengulurkan kadonya.
"Pas menikah aku gak kasih kado dan ini kado kelulusan sambil menunggu nanti cooming soon kalau udah ada ponakan." Mahya tersenyum sambil bersemu merah, Mahya gelisah sungguh dia butuh pelukan yang menenangkan dan yang memiliki pelukan itu hanya empat orang yang dekat dengan dirinya.
"Bagaimana kalau kita rayakan dengan buka bersama?" tanya Zahra dengan nada senang. Memang sudah empat hari ini Kania sering mengikuti Mahya sehingga sudah cukup dekat dengan Zahra.
"Boleh juga," kata Kania berseru senang.
"Saya yang traktir," kata Arkan yang sudah ada di dekat Rizal.
"Beneran Pak? Wah, pak Arkan mau syukuran ini karena Mahya kan mahasiswa bimbingan yang satu-satunya perempuan." Arkan hanya mengangguk.
"Kabari anak bimbingan yang lainnya," kata Arkan menoleh ke arah Rizal.
"Siap deh," jawab Rizal yang di angkuki dengan antusias oleh Kania dan Zahra.
"Tempatnya boleh memilih, Pak?" tanya Kania dengan iseng, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan lelah kakaknya, apakah kakaknya akan mempertahankan status Mahya atau justru akan melakukan go public.
"Yang terpenting meja cewek dan cowok dipisah."
"Sip," kata Zahra antusias, dia berpikir banyak hal. Mulai dari, dia yang sebentar lagi akan melihat langsung istri dosennya dan juga di mana lagi kesempatan makan bersama dengan dosen idola itu.
"Kamu gak izin dulu ke suami kamu, Mahya?" Mahya menoleh ke arah Zahra, dia meringis kecil dan bingung hendak menjawab seperti apa.
"Abang pasti memberi izin kok. Dan yang pasti Abang juga bakal hadir." Zahra menoleh ke arah Kania, dia baru ingat bahwa Kania adalah adik ipar Mahya jadi apa yang diucapkan pasti benar.
"Kalau adik ipar saja sudah memberi izin pasti suami kamu juga." Mahya menunduk sedangkan Kania sudah membuang muka untuk menghalau rawa gelinya.
"Saya belum memberi selamat bukan?" kata Arkan membuat semua mata tertuju ke arah Arkan. Kania menarik Zahra sedikit menjauh dari Mahya.
Suasana koridor yang awalnya sepi menjadi sedikit ramai karena ada pemandangan yang cukup langka, pemandangan di mana seorang Arkan Wijaya dosen yang anti bersosialisasi berlebihan dengan perempuan sedang berbincang dengaj akrab.
"Selamat, presentasi tadi sangat luar biasa." Arkan mengulurkan tangannya, Mahya dibuat bingung dia menatap ke arah mahasiswa yang menatap penuh minat ke arah mereka.
"Tidak mau menerima?" tanya Arkan, Mahya mendongak seraya meminta satu permohonan yaitu jangan saat ini Mahya belum siap. Tetapi sepertinya Arkan akan meminta maaf nanti karena pada kenyataannya dia tidak ingin menunda lebih lama lagi, apa lagi tadi pagi undangan resepsi pernikahan sudah menyebar di kalangan dosen jadi bukan hal buruk jika saat ini dia mulai go public.
"Pak," kata Zahra tidak berlanjut karena sudah dibekap oleh tangan Kania. Kania tak ingin Zahra merusak suasana yang sudah dibangun oleh sang kakak.
Dengan berat hati dan tangan bergetar Mahya meraih tangan Arkan dan saat hendak melepasnya, dia terkejut karena Arkan menarik Mahya hingga menubruk tubuh tegap sang suami dan terdengar pekikan yang cukup kencang dari mahasiswa yang terkejut dengan ulah Arkan.
"Mungkin satu pelukan," kata Arkan menghalau Mahya yang berontak ingin dilepas.
"Mas ini kampus," kata Mahya pelan.
"Aku tahu, tapi saat ini aku tidak sedang menjadi seorang dosen, aku sedang menjadi seorang suami yang sedang memeluk istrinya." Mahya melemaskan tubuhnya, dia tak bisa melawan sang suami bukan hanya tak bisa tapi saat ini dia memang membutuhkan pelukan ini.
"Aku secara pribadi yang akan terus mengawasi kamu, aku akan memastikan bahwa ilmu yang kamu dapat benar-benar kamu terapkan." Mahya mengangguk dalam pelukan sang suami dia menyembunyikan wajahnya.
"Tapi sekarang sebaiknya bawa aku pergi dari sini, aku malu." Arkan tersenyum samar, lalu dia menoleh ke arah Kania.
"Nia, Abang pulang dulu. Kamu atur semuanya nanti Abang transfer." Kania mengacungkan jempol.
"Bang ingat bulan Ramadhan." Kania memberikan hal itu membuat semua orang menatap horor ke arah Kania.
Arkan menggandeng tangan Mahya berjalan menuju parkiran.
"Mas, ini gak papa?" tanya Mahya.
"Lihat, Mas menggunakan tanda pengenal?" Mahya mendongak lalu menggelengkan kepalanya.
"Mas bukan dosen kamu tetapi suami kamu ini Mas Arkan bukan Pak Arkan." Mahya tersenyum lalu mengangguk, dia akan menyiapkan diri untuk segalanya mulai dari sekarang.
Beberapa langkah di belakang sepasang suami istri itu, tampak Zahra yang masih terkejut dengan yang baru saja terjadi.
"Kok Mahya digandeng Pak Arkan?" cetus Zahra membuat Kania menoleh ke Zahra.
"Kenapa?" tanya Kania sedang Rizal sudah menghilang dari tempat semula.
"Tadi, kamu panggil Pak Arkan apa?"
"Abang." Kania menjawab dengan santainya lalu menarik tangan Zahra.
"Jadi?"
"Ya Allah kamu loading kok lama sekali. Mbak Mahya itu istri Pak Arkan atau Abangnya aku."
"Gak mungkin!" teriak Zahra dengan cepat.
---
Gelap pekat seolah menyelimuti kala sang fajar belum kunjung menyapa dengan membawa harapan baru, pagi. Aroma pergantian terasa pekat menyelimuti terbawa hembusan angin semilir meresapi kulit-kulit makhluk hidup.
Waktu beredar tanpa bisa dihentikan seolah baru kemarin Ramadhan tiba tapi siapa yang bisa menduga bahwa dalam dua hari ke depan lebaran akan menyapa.
Suara pintu dibuka membuat Mahya menoleh, dia bisa melihat sang suami yang baru saja pulang dari masjid, i'tikaf.
"Sahur sekarang?" tanya Mahya sambil melipat mukena.
"Iya, sebentar lagi subuh." Mahya membawa arah pandang ke jam dinding lalu dia mengangguk setuju.
"Ayo," kata Mahya memimpin jalan keluar kamar.
"Nanti pagi ada acara kerja bakti di lapangan, jadi kita tidak lari pagi." Mahya menoleh ke rahim sang suami lalu mengangguk.
"Persiapan shalat idul Fitri?" tanya Mahya.
"Iya, kebetulan lapangan cukup luas dibandingkan dengan tempat parkir yang ada di ujung gang." Mahya mengangguk setuju.
"Memang biasa di sana ya?"
"Iya, biasanya di lahan parkir. Soalnya kadang ada pekan raya di lapangan." Mahya mengangguk lalu menoleh ke sekeliling, ia sedikit heran kala meja makan terlihat sepi.
"Rizal dan Kania di rumah Mbak Gaby, kalau Umi dan Abi udah selesai sahur." Mahya menoleh ke arah Arkan.
"Kok Mas tahu?"
"Tahu apa?"
"Tahu kalau aku sedang memikirkan itu."
"Hanya menebak." Mahya mengangguk lalu menyiapkan makan untuk sang suami lalu keduanya terlibat perbincangan ringan sambil makan bersama.
---
Mahya tampak sibuk dengan adonan nastar yang ada di depannya, tak selang beberapa waktu mendengar suara pintu diketuk lalu ia menoleh ke tahap sang ibu mertua yang sedang memindahkan loyang dari rak oven.
"Umi, ada tamu. Mahya buka pintu dulu," kata Mahya, dia mencuci tangannya setelah mendapat jawaban dari sang ibu.
Mahya berjalan ke depan setelah mengeringkan tangannya, dia tak merasa heran dengan tahu yang akan datang sebab suaminya sudah mengatakan bahwa lebaran di rumah selalu ramai. Karena dulu rumah ini adalah rumah nenek dan kakeknya jadi sudah menjadi tradisi kalau lebaran pertama selalu mengumpul di rumah ini.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," Mahya menjawab salam lalu membuka pintu yang sebenarnya tidak dikunci.
"Bu Dina?" Mahya menyebut ragu nama salah satu dosennya.
"Iya, kamu mahasiswi saya kan?" Mahya mengangguk.
"Mari Bu, silakan masuk." Mahya menggeser tubuhnya lalu mempersilakan dosen cantik itu masuk.
Dina adalah salah satu dosen mata kuliahnya dulu, dia cukup mengenal perempuan muda, modis dan cantik ini tetapi dia tidak tahu menahu soal tujuan dosen cantik ini menyambangi rumah mertuanya. Mahya jadi mulai berpikir yang tidak-tidak, tetapi Mahya selalu menasihati dirinya untuk selalu berprasangka baik.
"Kamu masih saudara Pak Arkan?" tanya Dina. "Pantas saja Pak Arkan menerima kamuenjadi anak bimbingannya." Lanjut Dina mengutarakan spekulasinya.
"Saya bukan saudara Pak Arkan, Bu." Mahya mengatakan itu dengan pelan.
"Tidak perlu sungkan, saya mengerti takut dikira nepotisme kan? Sudahlah santai saja ini hanya sebagai rahasia kecil di antara kita." Mahya meringis mendengar hal itu.
"Kalau boleh tahu, Bu Dina mencari siapa?" tanya Mahya, dia tak ingin repot lagi meluruskan biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
"Saya mau cari Pak Arkan?" Mahya mendongak.
"Ada perlu apa ya?"
"Kamu gak perlu tahu, saya hanya ingin menyampaikan langsung kepada Pak Arkan." Mahya mengangguk saja, dia tak ingin menjadi kepo hanya pada hal sederhana. Toh, suaminya tidak pernah merahasiakan apapun kepada dirinya.
"Pak Arkan tidak di rumah. Hanya ada saya dan Umi. Jadi mau menitipkan sesuatu?"
"Umi di mana?" tanya Dina.
"Ini sedang di belakang. Mau saya panggilakan."
"Gak perlu, kamu tunjukan saja jalannya." Mahya mengerutkan keningnya tipiring, dia cukup tak yakin dengan sikap dosennya ya g serasa sedikit agresif.
"Mari," kata Mahya masuk ke dalam memimpin jalan.
"Umi, ini ada Bu Dina." Mahya berjalan menuju wastafel untuk cuci tangan.
"Assalamualaikum Ibu. Masih ingat saya, yang pernah ketemu di rumah zakat." Mahya menoleh sejenak lalu dia mengabaikan dua orang yang sedang asik berbincang itu. Dia kembali berkutat dengan segala yang harus dia selesaikan.
"Kamu kenal Dina, Mahya?" tanya sang ibu mertua.
"Iya Umi, kebetulan Mahya sempat masuk kelas Bu Dina semester lima kemarin."
"Saya gak tahu kalau Mahya ini saudara Pak Arkan." Dina menyerobot begitu saja.
"Siapa yang bilang?
"Dla, memangnya siapanya Bu kalau bukan saudara, tetangga?"
"Dia ini istri Arkan, Bu Dina." Dina menoleh cepat ke arah Mahya dia menatap tidak suka.
"Bukanya Pak Arkan belum menikah?" tanya Dina.
"Sudah. Siapa yang bilang belum?"
"Waktu di rumah zakat, Ibu bilang ingin cari mantu untuk anaknya."
"Iya, Arkan menikah dua pekan yang lalu."
"Kok begitu," celutuk Dina tak terima.
"Mengapa?"
"Tapi, Mahya itu mahasiswinya bukannya dikira nepotisme kalau dia bisa jadi istri Pak Arkan? Apa lagi dia itu mahasiswi bimbingannya Pak Arkan."
"Saya sudah ujian skripsi kok, Bu." Dina tampak tak terima.
"Nanti saya kemari lagi, saya permisi dulu." Dina tiba-tiba menatap jam tangannya dan segera menjabat tangan ibu Arkan dan melenggang pergi tanpa menoleh ke arah Mahya.
"Itu tadi kenapa?"
"Mahya juga gak tahu Umi," jawab Mahya dengan pelan lalu dia mulai kembali membentuk adonan menjadi bulat dan mengisi adoann dengan selai nanas.
"Sudah lupakan, ah Ini jadi lupa harus mengangkat loyang." Mahya tersenyum melihat ibu mertuanya tergopoh-gopoh. Bukan mau berperilaku tidak sopan tetapi akan lebih tidak sopan lagi kalau sang ibu mertua tersenyum dan tertawa kecil dia tidak ikut melakukan hal itu.
---