
POV Sara
Apakah aku berhak jatuh cinta, ya Robb? Apakah aku masih berhak bahagia? Aku tahu Marko menyukaiku dari dulu, dia selalu mengintip aku di mushola saat istirahat. Tidak menyangka sama sekali Marko berani mengungkapkan cintanya dan bilang ingin belajar Islam. Sungguh itu adalah kata-kata terindah yang pernah aku dengar selama hidup. Aku sampai ingin menangis karena bahagia kala itu.
Kemarin saat Aida bilang Marko dikeroyok Dika dan gengnya di jalan, aku merasa seperti poros bumi tiba-tiba berbalik. Aku takut. Sangat takut!
Seperti orang gila, aku menelefon siapa saja yang tahu alamat dia. Sampai akhirnya tahu dari Fandy, salah satu teman sekelasnya. Aku sudah tidak peduli dengan larangan perempuan berkunjung dan menemui laki-laki yang bukan muhrim, aku hanya ingin hati ini tenang dengan memastikan sendiri kalau Marko baik-baik saja.
Aku tidak menyalahkan takdirMu, ya Robb, karena aku tahu ketetapanmu adalah yang terbaik. Engkau tahu apa yang terbaik sedangkan aku tidak. Jika aku harus menikah dengan Pak Tengku, aku bisa apa? Tidak ada yang bisa kulakukan selain pasrah dan menjadikan pernikahanku nanti sebagai ladang pahala dan jalan untuk meraih surga.
Aku tahu saat itu ayah tidak punya pilihan lain. Waktu aku melihatnya berlutut memohon di depan pria yang sekarang menjadi calon suamiku, hatiku sangat sakit. Ayah meminta bantuan padanya agar menolong perusahaannya saat diambang kebangkrutan, tidak menyangka syarat yang diajukan Pak Tengku adalah meminta diriku. Dia setuju membantu perusahaan Ayah, asal aku bersedia menjadi istri keduanya.
Waktu aku SD, Pak Tengku dan istrinya__Bu Salma__selalu membelikanku es krim dan boneka. Aku tidak menyangka sama sekali orang baik itu akan menjadi suami dan maduku. Lima tahun terakhir ini Bu Salma sakit stroke, mungkin kebutuhan batin Pak Tengku sudah tidak bisa Bu Salma penuhi, makanya dia mencari istri kedua. Dan ternyata niatan itu disetujui oleh Bu Salma.
Ibu selalu bilang padaku, menikah itu bukan hanya perkara cinta, tapi pengabdian. Surga seorang istri terletak pada suaminya, dan surga seorang suami terletak pada ibunya. Semenjak Pak Tengku mengkhitbahku, ibu mendoktrin pikiranku dengan kata-kata itu.
Namun, izinkan hatiku mencintai orang lain! Hatiku telah digenggam oleh laki-laki bernama Marko. Laki-laki yang ingin mengenal Alloh lewat diriku. Izinkan aku dekat dengannya, izinkan aku mengenalkan Robb-ku padanya.
Aku tidak meminta hidup bersamanya, tapi aku meminta dikuatkan tanpanya. Karena mungkin aku akan lemah jika dia tidak bersamaku. Segera aku menepis air mata yang sudah membasahi pipi.
"Kamu habis dari mana, Sar? Kakak lihat tadi kamu turun dari mobil?" Suara Kakaku_Arka_membuyarkan lamunan. Dia bersandar di kusen pintu kamarku yang terbuka.
"Dari rumah teman, Kak. Dia sakit."
"Oh, tadi Ibu nyariin kamu, kamunya gak ada."
"Sekarang Ibu mana? Tadi aku ke kamarnya gak ada."
"Enggak tau, di dapur kali."
Aku beringsut dari tempat tidur dan pergi ke dapur. Namun, saat aku melewati Kak Arka, dia menahanku.
"Kamu gak apa-apa, Sar?" Dia bertanya mungkin tadi melihat aku nangis. Aku menggeleng. "Enggak."
Aku melihat di sorot mata Kak Arka ada sebuah rasa frustasi. Aku tahu, dia ingin menolongku, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kak Arka tahu betul aku sangat ingin kuliah dan bekerja sepertinya di kementrian keuangan. Namun, aku terpaksa mengubur mimpiku dalam-dalam demi kebaikan semuanya. Tidak apa, aku rela berkorban demi keluarga. Aku tidak mau melihat semua aset yang sudah didapatkan orang tuaku dengan susah payah disita, atau yang lebih parah, aku tidak mau melihat Ayahku dipenjara. Lalu Ibu, aku, dan Kak Arka menderita. Bahkan keluarga besarku juga mungkin akan sedih, terutama nenekku_ibunya Ayah_yang sampai sekarang masih sehat dan segar.
Sungguh aku tidak mau itu terjadi. Membayangkannya saja sudah takut.
"Kalau ada apa-apa kasih tau Kakak, ya?"
Aku mengangguk, lalu pergi ke dapur.
Aku lihat Ibu sedang mengupas apel ditemani Mbak Yuni, asisten rumah tangga yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
"Eh, Sara, kamu habis dari mana? Tadi ibu cari-cari enggak ada."
"Aku habis dari rumah temen, dia sakit."
"Teman, siapa? Zulfa? Aida? Nadia? Atau Aisha?"
Ya, Ibuku tau semua teman-temanku, bahkan dia tahu siapa saja laki-laki yang suka padaku. Kecuali Marko.
"Bukan, Bu. Teman Sara yang lain."
"Siapa? Awas ya, kalau kamu diem-diem nemuin laki-laki. Dosa tau! Kamu itu sudah dikhitbah sama__"
"Gak perlu terus-terusan ngingetin aku kayak gitu, Bu! Aku juga tau." Aku memotong sinis.
Perkataanku ini membuat Mbak Yuni menoleh kepadaku. Mungkin menurutnya aku sudah tidak sopan pada Ibu.
Ibu menghela napas mengontrol dirinya sendiri, kemudian dia berkata, "Oh, iya Sar, ada yang mau ibu tunjukin sama kamu. Ayo ikut ibu." Ibu ngeloyor duluan dari dapur lalu aku mengikuti.
Sekarang Ibu sudah duduk di sofa ruang tengah sambil memangku sebuah buku, atau majalah? Setelah aku duduk di sampingnya barulah aku tahu kalau itu sebuah katalog kebaya muslimah.
"Sar, pilih yang kamu suka," ucap Ibu. Aku tahu arah pembicaraan ini kemana. Ibu ingin aku memilih pakaian untuk pernikahanku nanti.
"Yang mana aja." Aku berucap tanpa melihat gambar-gambar dalam katalog itu.
"Jangan gitu dong, Sar. Kamu harus pilih salah satu, biar nanti ibu enak ngomong ke Bu Yati-nya." Bu Yati adalah designer kenalan Ibu.
"Ya udah, yang ini." Aku menunjuk sembarang.
"Yakin yang ini? Enggak mau lihat-lihat yang lainnya?"
"Enggak," ucapku, berdiri, lalu meninggalkan Ibu.
Untuk apa? Untuk apa gaun indah kalau untuk rasa duka! Rasa duka yang hanya akan aku rasakan sendiri. Aku tidak menginginkan gaun indah atau hal-hal mewah lainnya.
Yang aku inginkan adalah, sesuatu yang tidak mungkin aku dapatkan.
Sesampainya di kamar aku mengunci pintu, lalu menumpahkan tangisku dengan puas ke atas bantal.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis hingga tertidur, dan bangun ketika waktunya sholat sepertiga malam.
Aku kembali membasahi sajadahku dengan air mata. Aku mengadu pada Robb-ku, aku mencurahkan isi hatiku padaNya tanpa malu, tanpa ragu.
***
Matahari pagi ini bersinar dengan malu-malu, dia bersembunyi di balik awan yang bergumpal-gumpal seperti permen kapas. Namun, seketika hatiku cerah hingga mengalahkan mentari saat melihat Marko sekolah setelah dua hari tidak masuk karena insiden pengeroyokan.
Aku menghampirinya yang berjalan ke arah kelas. Marko melihatku lalu langsung melukis senyum di bibirnya. Ah, ini sungguh mood booster!
"Hai," sapa Marko.
"Kamu udah baikan?"
Marko membentangkan tangannya sambil terus menatapku penuh cinta. Aku sangat suka dengan tatapan itu.
"Kamu lihat sendiri, aku udah baik. Bonyok di mukaku juga udah mendingan."
"Jangan terluka lagi, Marko. Aku sedih." Marko mengangguk.
"Maaf ya, aku udah bikin kamu sedih," ucapnya pelan.
"Mau mulai belajar Iqro nanti sore?" tawarku.
"Mau. Aku tunggu kamu di tempat biasa, ya."
Marko berlalu ke kelasnya. Aku menatapnya dengan rasa kagum yang hanya bisa aku mengerti sendiri.
Dulu, saat teman-temanku membicarakannya karena parasnya yang tampan, aku tidak antusias. Karena aku pikir orang seperti Marko sudah pasti populer dan banyak yang suka. Aku tidak suka cowok populer.
Waktu kelas sepuluh kebetulan aku sekelas sama Marko, tapi hubunganku dengannya biasa saja. Kesan pertama yang aku lihat adalah, Marko itu cowok yang cuek sama cewek walaupun banyak yang suka. Setiap hari dia didekati murid-murid perempuan, bahkan beberapa kakak kelas pun ikut mendekati. Dan yang paling gencar adalah Vita.
Aku pikir Marko menyukai Vita karena dia cantik dan seiman dengannya, tapi ternyata tidak, Marko malah menyukaiku. Kenapa aku?
Marko sangat aneh karena setiap istirahat tiduran di bangku dekat Mushola. Ngapain coba? Apa dia enggak pernah jajan? Saat aku menatapnya, dia memalingkan wajah seperti malu. Aku ingin menyapanya, tapi segan. Lalu suatu hari dia bermimpi aku meminta tolong padanya. Aku kaget! Karena jujur saja, saat itu aku memang membutuhkan pertolongan. Pertolongan yang tidak mungkin bisa ditolong siapa pun!
Kenapa Marko bisa bermimpi seperti itu? Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman padanya, bahkan aku sampai menangis di depannya. Aku melihat di sorot mata Marko seperti ada sesuatu, entahlah, yang pasti tatapan itu berhasil membuatku ingin bertemu lagi dengannya, selalu memikirkannya setiap saat. Dan sekarang__rindu.
Ampuni aku, ya Robb!
Aku tahu, dekat dengan Marko pasti membuat perempuan pemujanya tidak senang. Seperti sekarang, mereka tengah menatapku dengan tatapan sinis. Ah, aku tidak peduli, yang harus aku pikirkan sekarang adalah, Marko yakin dengan agamaku, dan membuat pria itu mualaf.
***
Sore itu aku datang terlambat ke tempat biasa kami bertemu. Marko sudah di sana duduk sendiri sambil membaca buku. Hari ini dia mulai belajar Iqro.
"Hai," sapaku. Marko mendongak lalu tersenyum. Kalau dipikir-pikir, aku mulai terbiasa melihat senyuman dia. Aku suka.
"Sudah sholat Asar?" tanyanya. Aku mengangguk. "Suatu saat kita akan sholat Asar bareng, kan?" tanyaku.
Marko terhenyak, dia terdiam sesaat lalu mengangguk. "Bahkan aku sudah sholat magrib berjamaah di mesjid," ucapnya.
"Hah?" Aku kaget sekali.
"Beneran, Sara! Aku sudah pernah sholat, tapi ... aku gak ngerti, cuma ngikutin gerakannya aja."
Aku tertawa lalu duduk di sampingnya. "Nanti kita belajar, ya."
"Oke," cetusnya.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Marko menutup bukunya lalu mulai belajar Iqro. Sepintas aku melihat buku yang dia baca; SAPIENS. Bacaan Marko ternyata buku-buku ilmiah seperti itu. Pantas saja dia pintar.
Marko memang pintar, makanya dia pun cepat mengerti pelajaran sore ini.
Diam-diam aku memerhatikannya dari samping. Aku mengagumimu, Marko, sungguh! Kamu pintar, akhlakmu juga baik, tapi ... aku tidak mungkin mengatakannya padamu.
Rasa ini akan aku simpan sendiri. Rasa cinta ini pun biarlah cuma Alloh yang tau, tidak pantas aku utarakan padamu.
Perlahan aku mulai merasakan mataku menghangat. Kelenjar air mata mulai bekerja, tapi sekuat tenaga aku menahannya agar tidak jatuh. Aku tidak boleh menangis lagi di depannya.
Pernah dengar cerita cinta diam-diam Fatimah pada Sayidina Ali? Sungguh itu adalah cerita paling romantis yang pernah aku tahu. Fatimah sangat beruntung diberi oleh Alloh kisah cinta sehebat itu. Aku bukan Fatimah, aku hanya manusia penuh dosa, dan aku tidak berharap diberi kisah cinta yang sama seperti Fatimah. Namun, biarkan aku melukis masa remajaku dengan indah yang hanya tinggal dua bulan lagi bersama Marko, karena setelah itu, aku akan menjadi seorang istri dan ibu sambung untuk anak-anak Pak Tengku, dan mungkin ibu untuk anakku sendiri.
***