
PART 23
__POV Naira__
“Umi, aku mau keluar sebentar ya?”
“Kemana, Nai? Ketemu Kak Sara?”
“Iya, Kak Sara udah janji mau ngajarin aku bikin cerpen, tugas dari Pak Umar.”
“Ya udah hati-hati, ya.” Aku mencium tangan Umi sebelum berlalu keluar rumah.
Aku baru beberapa bulan mengenal Kak Sara. Entah pastinya berapa lama, mungkin lima bulan. Namun, walaupun baru sebentar, aku merasa telah mengenalnya tahunan. Punya dua orang kakak laki-laki dan mendamba punya kakak perempuan membuatku merasa senang bertemu dengan wanita panutanku itu.
Pertemuan pertamaku dengannya berawal dari aku yang kekurangan uang waktu membeli cemilan di mini market. Kak Sara yang meminjami aku uang. Dia bilang, gak apa-apa tidak diganti, tapi aku enggak enak. Akhirnya aku memaksa meminta alamatnya. Dari sana kami menjadi dekat selayaknya kakak adik.
Kak Sara itu pintar menulis, bahkan beberapa cerpennya telah lolos masuk antologi sebuah penerbitan indie. Orangnya cantik dan sangat salihah. Dia cerita padaku bahwa dia sedih kehilangan putrinya karena sakit dan diceraikan oleh suaminya.
Oh, Allah. Aku baru tahu bahwa ada laki-laki bodoh yang tega meninggalkan wanita sesempurna dia. Aku sendiri sangat ingin seperti dirinya.
Aku mengendarai motor metikku ke rumah Kak Sara yang hanya beberapa kilometer dari rumah. Saat akan berbelok ke gang, aku melihat sesosok orang yang sangat aku kenal berjalan ke arah rumah Kak Sara.
"Bang Marko? Ngapain dia ke sini?" gumamku.
Diam-diam aku melihatnya berdiri di depan rumahnya Kak Sara. Apakah Bang Marko mengenal Kak Sara? Tak lama aku melihat Kak Sara keluar menemui Bang Marko, Kak Sara terlihat kaget, sedangkan Bang Marko tersenyum senang dan seperti malu-malu, macam orang yang jatuh cinta. Walaupun umurku masih 17, tapi aku tahu betul ekspresi orang yang sedang jatuh cinta.
Beberapa meter jarak aku dari mereka sekarang, tapi aku seperti merasakan suasana penuh cinta antara keduanya. Aku mencoba mengenyahkan segala pikiran yang membuat hatiku sakit. Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa Bang Marko terlihat senang? Entah kenapa, seperti ada percikan api cemburu yang membara dalam dada. Pandanganku terus tertuju pada Bang Marko, dan saat aku melihat Kak Sara pun tersenyum padanya, gejolak di dada ini terasa mengiris setiap inci hatiku, hanya aku dan Allah yang tahu.
Aku tahu Allah meletakan rasa sakit yang tepat. Dan Dia tahu aku kuat. Entah apa yang mereka bicarakan, aku melihat mereka menikmati moment berdua dengan pembicaraan yang nampak serius.
Tanpa diduga waktu aku akan berbalik pulang, Kak Sara menoleh dan melihatku.
"Nairaaaa," serunya. Aku lihat Bang Marko terkejut melihatku. Kak Sara menyuruhku mendekat dengan satu gerakan tangan. Sudah kepalang basah, aku pun menghampiri mereka.
"Kalian saling kenal?" tanya Bang Marko dengan muka bingung.
"Kamu kenal Naira?" tanya Kak Sara.
"Ya Allah kebetulan sekali ya. Sar, Naira ini adik aku," terang Bang Marko. Aku menoleh tidak percaya pada Bang Marko. Adik? Abang cuma menganggapku adik? Ya Allah, itu nyakitin aku banget, Bang.
"Benarkah? Kok bisa? Bukannya adiknya cowok ya?" ucap Kak Sara. Kak Sara tahu Bang Marko punya adik cowok? Aku aja enggak tau. Wah, benar berarti mereka udah saling kenal dekat.
"Kamu bener, Sar. Naira ini anak bungsunya Habib Huza, udah aku anggap kayak adik aku sendiri." Aku berusaha meluncurkan senyum pada Kak Sara.
"Iya, aku tau Nai putrinya Habib, tapi aku enggak nyangka aja, kalian ternyata dekat." Kak Sara tersenyum tulus padaku dan Bang Marko.
"Nai, kamu mau ngerjain tugas cerpen, kan? Marko, maaf aku sibuk, nih," ucap Kak Sara.
Ngedadak aku enggak enak melihat Bang Marko seperti yang kecewa dengan kehadiranku.
"Oh, gitu. Ya sudah aku pulang dulu kalau gitu. Nanti malam aku boleh ke sini lagi kan, Sar? Ada hal yang mau aku katakan sama kamu, penting."
Kak Sara terdiam sejenak, tak lama dia pun mengangguk. Bang Marko tersenyum, sebelum pergi dia menggodaku seperti biasa.
"Nai, dapet salam tuh dari Gus Lutfi, hehe." Bang Marko ketawa usil lalu pergi.
"Ish!" Aku mencoba baik-baik saja dengan mengacungkan tinjuku seperti biasa.
"Ayo kita masuk, Nai," ucap Kak Sara setelah Bang Marko benar-benar pergi.
***
"Kak Sara kenal Bang Marko di mana?" Aku mulai meredakan rasa penasaran di hati.
Kak Sara menoleh padaku lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat aku sukai dari dirinya. Kak Sara menutup bukunya. "Dia temen SMA aku," katanya.
"Oh, temen SMA."
"Iya, kami baru ketemu lagi sekarang. Sejak hari kelulusan kami udah hilang kontak, dan waktu aku periksa ke rumah sakit ternyata ada dia."
"Dulu, kalian deket banget, ya?"
Kak Sara mengerjap. Seketika dia terlihat malu dan salah tingkah. Setiap pergerakan yang menunjukan seseorang tengah jatuh cinta pun, tertangkap olehku.
Kak, jangan coba-coba nyembunyiin perasaan Kakak padaku, itu enggak akan berhasil. Tapi bukannya Bang Marko mau nikah? Jangan-jangan wanita yang akan dinikahi Bang Marko adalah Kak Sara? Tapi ... mana mungkin! Kata Kak Sara mereka baru ketemu lagi. Mana ada orang yang baru bertemu lagi langsung nikah, ya, kan? Ah, pikiranku kacau rasanya.
"Nai, Naira! Kok, bengong?" Suara Kak Sara menyadarkan aku dari lamunan.
"Eh, iya, Kak, sori."
"Kamu pasti udah deket banget sama Marko, ya?"
"Hah? Mmm, gitulah. Bang Marko itu udah tinggal di pondok dari waktu aku masih SD."
"Apa? Serius kamu, Nai?" Kak Sara kaget banget.
"Iya, Kak. Aku enggak tau pasti kenapa tiba-tiba Bang Marko tinggal di pondok. Abi sama Umi gak pernah bilang sama aku. Awalnya aku kira dia salah satu Gus di pondok, tapi ternyata bukan. Dia udah dianggap anak sama Abi dan Umi."
"Begitukah?"
Aku mengangguk.
Aku lihat Kak Sara tercenung. Sorot matanya nanar dan seperti ada yang tersirat di sana. Aku enggak tau apa itu. Ada apa Kak? Apakah ada sesuatu di balik semua ini?
***
"Naira ...."
Bang Marko memanggil saat aku keluar dari garasi habis memasukan motor.
Aku menoleh. "Iya, Bang?"
"Bisa bicara sebentar?" tanyanya.
Aku lihat sore itu tatapan Bang Marko agak beda padaku. Aku ngerasa ada yang lain aja, tapi entah apa. Ketika aku berhadapan dengannya, hatiku mendadak merasa sakit. Sakit karena mencintainya secara diam-diam.
Sebenarnya aku lelah dengan perasaan ini, perasaan yang tak pernah terbalas, perasaan yang tumbuh sendiri dengan harapan tak pasti.
"Iya, Bang?" Sekuat tenaga aku berusaha terlihat wajar dan seperti biasa di depannya.
Bang Marko duduk di teras rumahku. Perlahan aku mengikutinya ke sana.
"Duduk, Nai," ucapnya. Bang Marko sudah sangat dekat dengan keluargaku, jadi kami terlihat wajar saja duduk bersebelahan seperti ini. Tidak ada yang memandang tabu, padahal aku dengannya bukan mahram.
"Ada apa, Bang?" tanyaku setelah duduk di sampingnya.
"Kamu ... sudah berapa lama kenal sama Sara?" tanyanya. Sudah kuduga, ternyata dia mau tanya-tanya tentang Kak Sara.
"Belum lama, Bang."
"Kamu tahu siapa dia?" tanyanya.
Aku mengernyit. Maksudnya apa dia tanya itu padaku? Ya mana aku tahu, yang aku tahu Kak Sara adalah wanita cantik salihah yang baru saja kehilangan putrinya dan suaminya.
Aku menggeleng pelan.
"Dia adalah cinta pertama Abang, Nai. Dulu kami pisah karena dia dijodohin sama ortunya. Dia juga yang menuntun Abang berada di jalan ini sekarang. Qaisara itu detour kehidupan Abang, tanpa dia Abang enggak bakal ada di sini sekarang." Bang Marko menghela napas sejenak. "Sekarang Abang menemukannya lagi, dan enggak akan Abang lepasin lagi. Abang mau mengkhitbah dia."
Gemuruh di hati ini sungguh membuatku merasa sesak, tapi aku menahan agar gemuruh itu tidak berubah menjadi badai. Aku harus menguatkan hatiku agar air mata ini tidak menyembul ke permukaan. Seberapa pun besar aku berharap cinta darinya, nyatanya cinta itu takkan pernah aku miliki.
Oh, Allah, kenapa harus Bang Marko? Kenapa hatiku berlabuh pada sosoknya yang telah sejak lama melabuhkan cintanya pada wanita lain? Dan wanita itu adalah Kak Sara, wanita yang sangat aku kagumi, panutanku. Melihat kenyataan ini, aku merasa menjadi wanita termalang di bumi, karena aku tidak bisa membenci wanita yang dicintai Bang Marko.
Oh, Allah, jika memang dia bukan pilihan-Mu untuk menjadi pelengkapku, aku mohon hilangkan rasa ini yang semakin hari semakin berkembang dan bermetamorfosis. Seharusnya sejak awal rasa ini tidak bersarang di hatiku, seharusnya aku tidak membiarkan rasa ini semakin tumbuh subur di hatiku. Sekarang tunjukan jalan untukku ya Allah.
"Maaf, Bang, Nai harus ke dalam dulu."
Cepat-cepat aku meninggalkan Bang Marko, karena nyatanya hatiku tidak sekuat yang aku bayangkan, gemuruh itu telah menjadi badai di sana dan akan menciptakan air mata. Aku tidak kuat, sungguh!
***
Dokter Marko