Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 15



Setelah membaca WA-nya Sara, entah apa yang ada di pikiran gue saat itu, entah sisi gelap gue atau bukan. Waktu itu tercetus ide dalam kepala, gue akan membawa Sara pergi, gak peduli lagi sama apapun dan siapa pun.


Gue ngambil kunci mobil lalu cabut ke rumahnya Sara. Diam-diam gue bawa mobil Bokap ke sana. Waktu gue mau bawa mobil itu, sempet dilarang sama supirnya Bokap karena belum punya SIM, tapi gue gak peduli, saat itu yang ada dipikiran gue, gue pengen cepet ketemu Sara dan membawanya pergi.


"Den Marko, nanti papa marah, loh," kata Pak Gani.


Tanpa denger omongannya Pak Gani, gue langsung tancap gas.


Sar, tungguin gue!


Sekitar satu jam, gue pun nyampe di depan rumahnya Sara. Setelah di sana, gue malah bingung mau ngapain. Ya elah Ko, ngapain sekarang lo malah bengong? Ayo masuk! kata gue sama diri gue sendiri.


Tapi gue ngelihat pintu gerbang itu sudah terkunci, dan lampu-lampu pun padam sebagian. Apa Sara sudah tidur? Gue lihat jam di hape. Udah jam 10. Apa gue telepon aja kali ya?


Gue pun mutusin buat telepon. Lama Sara enggak ngejawab sampai akhirnya telepon gue mati sendiri. Gue coba telepon lagi, telepon lagi, sampe berkali-kali, tapi Sara tetap enggak ngejawab. Sara ... kamu serius, nih, gak mau berhubungan lagi sama aku? Sedih banget aku, Sar.


Tiba-tiba di otak gue tercetus ide gila.


Gue ngambil batu, lalu gue pukul-pukul tuh gerbang. "Sara ... Qaisara ...!" teriak gue. Gue gak peduli tetangga-tetangga Sara ngerasa terganggu dengan kegaduhan yang gue bikin. Gue cuma pengen ngelihat wajahnya Sara. Itu aja.


Sekitar lima menitan gue teriak-teriak gek jelas. Jujur aja ini adalah hal gila yang pernah gue lakuin. Tak lama lampu ruang tamu menyala, gue lihat ada seseorang yang mengintip dari balik gorden. Setelah ngintip dia keluar. Ah, itu Bokapnya Sara kayaknya. Tiba-tiba keringat dingin mengucur di dahi.


"Siapa ya?" tanyanya di teras rumah.


"Saya Marko, Pak, mau ketemu Sara," jawab gue dengan jantung deg-degan gak karuan.


"Sara?" Dia malah nanya.


"Iya, Om."


Mata bokapnya Sara ngelirik penuh curiga. "Sara enggak ada," katanya. Udah pasti dia lagi bohong.


"Biarkan saya ketemu sama dia sebentar, Om."


"Kamu siapa? Temen sekolahnya? Mau apa malam-malam mau nemuin dia?" tanyanya sinis. Gue menelan saliva. "A_ada perlu, penting," kata gue asal.


Sesaat setelah gue bilang begitu, gue lihat seseorang mengintip di balik gorden. Gue yakin itu Sara. Gue bisa tahu dia dari siluetnya saja. "Saraaaa ... aku tau kamu di situ, kan? Plis keluar sebentar, Sar!"


Bokapnya Sara menoleh ke belakang. Setelah itu siluet Sara menghilang dari sana. Gue sedih banget Sara beneran udah gak mau nemuin gue lagi.


"Sebaiknya kamu pulang. Tidak sopan malam-malam teriak-teriak di rumah orang! Dasar anak tidak tahu sopan santun!" tutur Bokapnya Sara sarkasme, setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian lampu ruang tamu kembali padam.


Gue mendengus frustasi. Apa sesulit ini mencintai kamu, Sar? Setelah Bokapnya Sara masuk, gue enggak langsung cabut dari sana, tapi berdiri bengong di depan gerbang sambil berharap tiba-tiba Sara keluar nemuin gue.


Sekitar lima menit gue berdiri gak ngapa-ngapain, tiba-tiba ada sorot lampu mobil menyilaukan mata. Gue mengernyit. Tak lama mobil itu berhenti, lalu si pengemudi keluar. Ternyata Bang Arka. Dia kayak yang syok gitu liat gue.


"Marko?"


Gue nunduk, Bang Arka mendekat. "Kamu sedang apa di sini, Ko?"


Gue gak ngejawab pertanyaan Bang Arka. Dia membuang napas kasar liat gue diem aja.


"Ko ...," sahut Bang Arka pelan. "Kamu ... jangan kayak gini, saya mohon!" Tenggorokan Bang Arka tercekat-cekat. Gue tahu pasti dia bingung sekaligus kasihan sama gue.


Bang Arka meraih pundak gue dan menepuknya pelan. "Saya sayang sama kamu, Ko. Saya ingin kamu ngedapetin yang terbaik." Gue mendongak menatap wajah Bang Arka dengan sendu, dan gue lihat mata Bang Arka pun berkaca-kaca tersinari lampu jalan.


Bang Arka memeluk sambil menepuk-nepuk bahu gue. "Makasih, Ko, makasih banyak udah mencintai adik saya. Sara beruntung dicintai pemuda baik kayak kamu. Tapi keadaannya enggak memungkinkan kalian buat bersatu, Ko. Dan saya sedih banget melihat kenyataan ini, jujur aja, hati saya juga sakit, Ko," tutur Bang Arka dengan suara tercekat-cekat menahan tangis. Dan malah gue sekarang yang nangis di bahu Bang Arka.


Bang Arka melepas pelukannya. "Saya yakin, kamu bisa dapetin cewek yang seratus kali lipat lebih baik dari Sara. Sekarang kamu pulang ya, udah malem, besok sekolah juga kan?"


Gue beneran gak bisa ngomong apa-apa. Perkataan Bang Arka bikin gue speechless. Dalam hati, ada sebuah penolakan atas apa yang Bang Arka ucapin.


Apa sekarang gue harus menyerah Tuhan? Apakah langkah buat memperjuangkan cinta gue ke Sara harus berakhir sampai di sini? Keadaan gue dan Sara memang sangat sulit dan semuanya nampak seperti benang kusut. Enggak ada harapan.


Gue ngambil kunci mobil di saku celana, membuka kunci, masuk ke mobil, kemudian cabut tanpa mengatakan apapun ke Bang Arka.


***


Setelah malam itu, hari-hari gue disibukan dengan belajar, belajar dan belajar karena UN tinggal beberapa hari lagi, bahkan Nyokap ngedadak manggil guru les khusus buat ngajarin gue dan si Brian. Kalau udah gini, enggak ada yang bisa gue lakuin selain menurut. Positif juga, kan?


Lalu hubungan gue sama Sara? Kita beneran putus komunikasi! Entahlah, kayaknya gue diblokir. Di sekolah pun doi ngehindari gue. Namun, sehebat apapun dia ngehindar, tapi gue masih bisa melihat dengan jelas pancaran rasa rindu dan cintanya saat mata kita beradu.


Sara ... aku sudah berusaha memantaskan diri buat kamu, aku juga sudah berjuang semampu aku, Sar, tapi ... aku enggak bisa berjuang sendirian. Itu sama aja dengan berlari dengan satu kaki. Enggak bisa!


Sara ... kalau kamu rindu aku, enggak apa-apa tatap aku sepuasmu, aku enggak akan menghindar seperti yang kamu lakukan. Mencintai kamu, buat aku adalah anugerah. Kenapa aku bilang anugerah? Karena berkatmu, aku bisa mengenal Tuhanku sekarang. Aku enggak menyesal sedikit pun dengan jalan yang sudah aku ambil. Demi Tuhan aku enggak menyesal, Sar. Terima kasih atas semuanya. Atas rasa yang sulit aku jelasin dengan kata apapun. Semoga kamu bahagia, Sara.


Aku akan tetap memandangmu di kejauhan dan membiarkan rasa cinta untukmu selalu ada. Aku enggak akan mengusirnya ataupun membunuhnya.


Aku akan membiarkannya mengakar di hatiku entah sampai kapan.


***


Hari ini adalah hari paling mendebarkan buat seluruh siswa SMA seluruh negeri, karena hari ini adalah UN hari pertama. Gue lihat satu-satu wajah tegang temen-temen gue, entah kenapa kok rasanya gue enggak setegang mereka ya, hahaha. Elo emang paling santuy, Ko.


Oh iya, sebentar lagi bulan puasa, dan ini akan jadi puasa pertama gue. Jujur aja gue agak worry, tapi gue sering komunikasi sama Bang Syahrul, dia terus memotivasi gue tiap hari. Dan puasa kali ini kayaknya akan gue lewatin di Eropa sana. Dan sialnya, di sana pas musim panas. Lo tau sendiri, di Eropa kalau musim panas siangnya akan lebih lama, jam sepuluh malem baru bisa buka puasa. Hahaha, badan gue udah cungkring gini, entar secungkring apa lagi coba?


Tapi ... gak apa-apa, ini adalah tantangan keimanan buat gue pribadi. Dan gue seneng ngelakuinnya. By the way, sampe sekarang Bokap, Nyokap, dan si Brian enggak tau gue udah mualaf. Gue gak akan ngasih tau mereka, biarin aja mereka tahu dengan sendirinya. Yang gue khawatirkan adalah Nyokap. Gue takut kalau dia tahu gue mualaf, dia bakal pingsan atau bahkan anfal. Ah, gue gak mau bayangin yang enggak-enggak dulu, biarkan saja mengalir seperti air. Kata Habib Huza, Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Gue percaya itu.


Habib Huza dan Bang Syahrul udah gue anggap sodara sendiri sekarang. Kadang gue lebih nyaman sama Habib Huza ketibang Bokap gue sendiri. Hahaha.


***


Malam itu, waktu mau solat isya, gue lupa enggak ngunci pintu. Biasanya setiap mau sholat, gue selalu ngunci pintu, biar enggak ada orang yang nyelonong masuk gitu aja. Baru juga mau takbirarul ihram, tiba-tiba ....


Braaaaakkkkk! Sebuah keranjang cucian yang dibawa Bi Ecin lepas dari tangannya, dan menggelinding masuk ke kamar. Gue kaget, dong, tapi sepertinya Bi Ecin yang lebih kaget lihat gue.


Dia speechless, berdiri bengong di ambang pintu sambil nganga. Cepet-cepet gue narik tangan Bi Ecin masuk ke kamar, lalu mengunci pintu.


Bi Ecin jam segini emang biasanya mau ngambilin cucian di kamar gue.


"D__Den Marko, apa yang Den Marko lakuin ini?" tanya Bi Ecin syok sambil lihat sajadah, dan tampilan gue yang lengkap memakai baju koko pemberian Sara, sarung, dan peci.


"Menurut Bibi aku mau ngapain?"


"Den Marko mau sholat?" suara Bi Ecin agak stereo, gue langsung meletakan telunjuk ke bibir. Gue ngangguk. ART yang sudah gue anggap ibu sendiri itu, matanya terlihat berkaca-kaca haru.


"Allahuakbar," ucap Bi Ecin pelan. Serta-merta gue dipeluk, punggung gue diusap-usap. Bi Ecin menangis, dan itu bikin gue terharu. Bi Ecin seneng banget ngelihat fakta yang dilihatnya sekarang.


Bi Ecin melepas pelukannya. "Sejak kapan Den Marko? Tuan sama Nyonya tau?"


"Belum lama, Bi. Mama Papa enggak tau. Bi Ecin enggak boleh bilang-bilang sama siapa pun, ya? Ini rahasia kita berdua!"


Bi Ecin ngangguk-ngangguk sambil menyeka air matanya. Bi Ecin ngusap-usap tangan gue sambil terus menatap haru, masih syok kayaknya dia. Hehehe.


Ah, Bi Ecin ada-ada aja deh, sekarang gue harus wudhu lagi, kan. Hadeuh.


***


"Marko ...!"


Gue noleh. Zulfa, sahabatnya Sara, lari menghampiri gue. Dia membenarkan jilbabnya setelah di depan gue.


"Marko, lo mau pulang ya?" tanyanya.


"Iya. Kenapa Zul?" Setelah UN, bebas lo mau pulang kapan aja terserah. Kita tinggal menunggu kelulusan.


"Ko, gue ... mau ngasih tau lo soal Sara."


Saat nama itu disebut, jantung gue langsung berdebar. Wah, ada apa, nih?


"Kenapa sama dia, Zul?"


"Sara mau nikah minggu depan, Ko," cetus Zulfa dengan nada prihatin. Mungkin dia kasian sama gue.


"Apa!?"


Tiba-tiba gue ngerasa oksigen seperti lenyap dari bumi. Tungkai pun ngedadak gemetar gak keruan.


"Sori, Ko, gue rasa lo harus tau soal ini," ucap Zulfa, masih dengan tatapan prihatin.


"Makasih, ya, Zul, lo udah ngasih tau gue."


"Lo gak apa-apa kan, Ko?"


Gue berusaha tersenyum di depan gadis hitam manis itu. Gue menggeleng pelan. Entah kenapa buat mgejawab pertanyaan Zulfa, rasanya enggak ada tenaga.


"Sara akan menikah secara siri katanya, gue gak tau alasan mereka enggak nikah secara resmi, tapi feeling gue, ini ada hubungannya dengan harta. Kalau Sara dinikahi secara sah, nanti dia akan mendapat bagian yang lebih jelas, tapi kalau siri kan enggak."


Mendengar semua itu, entah kenapa dada ini rasanya panas. Jadi Sara akan jadi pemuas bandot tua itu aja? Walaupun gue gak mau Sara nikah sama pria tua itu, tapi kalau Sara cuma dinikahi secara siri, jelas gue gak setuju! Sara harus mendapatkan statusnya secara jelas, kan? Jahat banget orang tuanya. Apa mereka enggak kasihan sama Sara?


"Marko!" seru Zulfa melihat gue bengong. Gue mengerjap.


"Iya, Zul?"


"Lo mau datang kalo Sara nikah?"


"Datang? Buat apa? Kalau gue dateng, itu sama aja dengan bunuh diri."


Zulfa mengerjap. "Gue ikut sedih ya, Ko. Padahal elo sama Sara tuh, serasi banget tau."


Gue senyum getir. "Gue cabut dulu ya, Zul, makasih infonya." Gue balik badan pergi ninggalin Zulfa.


Gue melangkah seperti melayang, di depan mata gue semuanya suram, abu-abu, kelam. Langit cerah hari itu, tapi enggak buat gue.


Marko, sekarang apa yang akan lo lakuin?