Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 7



Sepanjang perjalanan pulang, gue memikirkan apa yang barusan gue bilang ke Sara. "Ajarin aku Islam?" God, hati gue bimbang sekarang. Apakah gue yakin? Apa gue beneran pengen ngenal agama itu? Apa gue harus sejauh ini? Jujur aja, gue takut ortu gue tahu, dan gue gak kebayang gimana murkanya mereka, terutama Nyokap. Sedangkan Nyokap dan keluarganya adalah penganut Katolik yang taat. Yaaa, walaupun sebenarnya gue sendiri gak taat-taat amat. Biasa aja.


Sekarang apa yang harus gue lakuin? Tapi, gue pengen nolong Sara. Gue beneran gak mau dia dinikahin sama temen bokapnya. Apalagi kata Zulfa dia mau dijadiin istri ke dua.


Gue lihat orang-orang yang lalu lalang. Mereka terlihat happy dan baik-baik aja, mungkin di sini cuma gue yang galau. Sore itu langit sangat cerah. Semburat merah terpancar dari berbagai sudut cakrawala, tak lama gue denger suara adzan dari sebuah mesjid. Suara itu sudah tak asing di telinga gue.


Entah kenapa secara intuisi kaki gue melangkah mendekati mesjid itu. Gue lihat di dalam hanya ada beberapa orang saja, tapi tak lama orang-orang mulai berdatangan. Dari mulai orang tua sampai anak muda, yang berpakaian koko lengkap dengan peci, sampai dengan yang hanya memakai kaus oblong dan celana jeans, gue lihat juga banyak orang-orang kantoran berpakaian necis dan Abang ojol yang akan sholat di sana.


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang nepuk bahu. Gue noleh. Seorang pria muda berpakaian kemeja lengkap dengan dasi senyum ke gue. "Ayo kita sholat, Dek, keburu komat," ucapnya. Gue ngedadak mati gaya, gak tau mesti ngomong apa, sedangkan gue dari tadi cuma berdiri bengong depan gerbang mesjid. "Oh, i_iya, Bang." Gue dituntun ke dalam sama Abang yang lumayan ganteng itu.


"Baru pulang sekolah, ya?" tanyanya sambil membuka dasi kemudian menggulung lengan kemejanya sampe ke siku.


"Enggak, saya abis maen dulu, Bang," jawab gue sekenanya. Kita duduk di emper mesjid. "Yuk, kita wudhu," sahut Abang berjanggut tipis itu setelah buka sepatu. Dengan polos gue ngikutin dia ke tempat wudhu. Sumpah, gue gak tau kenapa gue kayak kehipnotis gitu sampe ngelakuin semua ini.


Gue memerhatikan si Abang gimana cara berwudhu, sepintas dia ngelirik gue rada aneh, mungkin dia berpikir apa gue gak bisa wudhu? Ya ... emang gak bisa, karena gak pernah. Hahaha.


Setelah wudhu gue masuk ke dalam mesjid. Entah kenapa pas kaki gue memijak lantai mesjid untuk pertama kali, hati gue bergetar hebat. Gue sendiri aneh apa yang terjadi pada diri gue sekarang. Walaupun di dalam dingin karena ada AC, tapi dahi gue berkeringat sampai mengucur ke pipi. Gue gugup, gue takut, tapi suara hati gue bilang kalau apa yang gue lakuin sekarang adalah benar.


Gue terus mengekor Abang ganteng itu dan berdiri di sampingnya. Posisi kita berada paling belakang, karena memang rada telat. Tak lama kemudian sholat pun dimulai.


Gue lirik kanan kiri, semoga enggak ada yang curiga kalau gue baru melakukan kegiatan ini untuk pertama kali. Seorang laki-laki terdengar memimpin sholat dengan bacaan-bacaan yang gue gak ngerti sedikit pun karena memakai bahasa arab. Gue memerhatikan gerakan orang-orang di dekat gue lalu gue ikutin. Namun, saat sujud, waktu imam berseru, "Allohuakbar" gue gak bangun-bangun sampai si Abang menepuk bokong gue.


Gue celingak-celinguk, malu, tapi orang-orang di dekat gue tetep khusuk dengan sholatnya.


Setelah lima menit sholat pun selesai dan satu persatu orang-orang keluar mesjid. Sekarang gue dan si Abang duduk di emper mesjid sambil memakai sepatu.


"Nama kamu siapa, Dek?" tiba-tiba si Abang bertanya.


"Marko, Bang," jawab gue.


"Saya Arka." Arka? Nama yang cakep, secakep orangnya.


"Kamu sekolah kelas berapa?"


"Kelas 12, Bang."


"Wah, bentar lagi lulus, dong. Saya juga punya adik SMA kelas 12 juga, cewek, dia sekolah di SMA 33."


"Wah, itu sekolah saya, Bang." Gue rada kaget juga ternyata adiknya si Abang satu sekolah sama gue.


"Jangan-jangan kamu kenal sama adik saya. Nomong-ngomong kalo udah lulus rencana mau kuliah di mana?"


"Belum tau, Bang. Maunya ortu sih kuliah di Inggris, tapi saya gak mau. Kebetulan bokap orang sono."


"Wah, pantesan muka kamu bule, ternyata emang kamu setengah Eropa. Kenapa gak mau?"


Gue nunduk. Gak mungkin kan, bilang ke Bang Arka gue gak mau pergi ke Inggis karena Sara?


"Saya pengen ikut SBMPTN, Bang. Keren aja gitu, kalau lolos."


Bang Arka tersenyum. "Semoga kamu bisa ikutan SBMPTN dan lolos, saya doain!"


"Makasih, Bang. Ngomong-ngomong Bang Arka kerja di mana?"


"Noh, di gedung seberang."


"Kantor pajak?"


"Iya."


"Keren." Gila, udah ganteng PNS pula, kerja di kementrian keuangan, kan, mimpinya banyak orang.


"Ah, biasa aja, enggak keren." Bang Arka tiba-tiba duduk menghadap gue. "Marko, sori nih, ya, saya lihat tadi waktu sholat dan wudhu kamu kayak yang__"


"Saya emang gak tau cara-cara sholat dan wudhu, Bang." Gue memotong omongan Bang Arka, karena gue tahu betul apa yang mau dia bilang.


Bang Arka terlohok agak kaget gitu. "Kenapa? Kamu gak pernah belajar, ya?" tanyanya.


"Mmm ... Bang, sebenarnya saya ... non muslim."


"Apa?!" Sekarang Bang Arka benar-benar kaget. Mukanya sampe kelihatan syok gitu.


"Lalu ... kenapa kamu tadi__" Bang Arka sampe kehilangan kata-kata kayaknya. Gue senyum, dan gue mandangin mukanya Bang Arka dengan tatapan sendu.


"Kenapa, Ko? Ada problem, kah? Cerita aja sama saya, saya akan dengerin."


Entah kenapa, pas Bang Arka bilang begitu, hati gue nyesek gitu, Man! Melow banget rasanya, kemudian tanpa dikomando tiba-tiba mata gue berair. Belum pernah gue begini sebelumnya. Gak ngerti kenapa gue merasa lain sama Bang Arka, padahal kan kita baru ketemu.


Ah, air mata gue netes juga. Sialan!


Gue lihat Bang Arka tersenyum ke gue, lalu menepuk-nepuk bahu gue pelan. Gue ngusap air mata yang udah nyeberang ke pipi.


"Sabar ya, Ko, ini ujian buat kamu. Kamu pengin kenal Islam karena seorang cewek, menurut saya itu enggak benar, sih. Takutnya kalau kamu kecewa sama dia, kamu jadi berpaling lagi dari Islam, jadi jatohnya kamu kayak mainin agama. Mantepin dulu hati kamu, Ko. Tanya sama diri kamu sendiri, berpikir dulu secara rasional, apakah kamu bener-bener ada iman sama Islam atau enggak. Jangan buru-buru ngambil keputusan. Saya enggak ngelarang kamu belajar Islam atau masuk Islam, tapi kalau semua itu hanya karena seorang wanita, lebih baik jangan, deh," tutur Bang Arka panjang lebar.


Gue nunduk sambil nelen ludah. Ada benernya juga sih apa yang Bang Arka bilang, gue gak boleh masuk Islam karena Sara, tapi harus karena iman.


"Bang, boleh gue minta nomor hape Abang? Gue pengin ngobrol lagi sama Abang lain kali. Boleh gak?"


Bang Arka tertawa kecil. "Boleh-boleh, entar saya kenalin kamu ke temen saya yang lebih paham sama Agama."


"Iya, Bang, makasih."


💖💖💖


Sudah ribuan kali gue berpikir tentang apa yang Bang Arka bilang di mesjid tadi. Berpikir rasional, tanya sama diri gue sendiri, gak boleh belajar Islam dan masuk Islam hanya karena seorang wanita. Lalu ... kenapa pas gue masuk mesjid, denger imam membaca bacaan sholat, dan mengerjakan semuanya, hati gue merasa bergetar? Apakah itu iman? Sumpah, gue gak tahu!


Akhirnya gue punya ide, untuk membuktikan apakah itu iman atau bukan, besok gue berencana ke gereja dan masuk ke dalamnya, apakah gue merasakan hal yang sama atau enggak.


Besoknya setelah pulang sekolah, gue ketemu lagi sama Sara di depan kios foto copy Bang Doni, hari ini rencananya gue akan akan belajar agama dengan Sara sesuai apa yang kita sepakati kemarin.


Saat itu Sara membawa beberapa buku di tangannya. "Ko, bacalah buku-buku ini, semoga ini membantu kamu buat belajar dan memahami Islam. Aku seneng kamu pengin belajar Islam, semalam aku sampe gak bisa tidur mikirin kamu. Aku ... berdoa semoga hati kamu semakin mantap buat belajar Islam," tutur Sara.


Gue speechless denger apa yang barusan Sara bilang. God, apakah gue jadi begini karena doanya Sara juga?


Setelah itu, Sara menerangkan salah satu buku warna biru tua yang berjudul TAUHID, dia bicara panjang lebar menjelaskan secara rinci, dan gue mendengarkan dengan saksama. Namun, saat gue dan Sara tengah asik dengan kegiatan kita, tiba-tiba ada Dika nyamperin. Dia terlihat tidak suka lihat gue dengan Sara. Sedangkan Sara seperti bingung melihat Dika seperti itu.


"Gila ya, elo beneran nusuk gue dari belakang!" Dika natap gue dengan tatapan membunuh.  "Sara, ngapain kamu deket-deket sama orang kafir ini? Kamu tau kan, si Marko ini kafir!" tutur Dika sadis. Darah gue seketika mendidih, rasanya gue pengin saat itu juga nonjok muka dia, tapi gue tahan karena ada Sara.


"Maksud kamu apa, Dika?" Sara berdiri.


"Sara, kamu tau kan, kalau aku suka sama kamu, tapi kenapa kamu malah deket-deket sama orang kafir ini?"


Gue ikut berdiri, si Dika bener-bener udah keterlaluan rasanya.


"Dika, sebaiknya elo pergi deh, jangan ganggu gue sama Sara," sungut gue. Dika malah pasang badan ke gue, nantangin.


"Ngapain lo?" Dika melihat buku-buku yang tergeletak di bangku. "Oh, elo modusin Sara dengan pura-pura belajar agama biar elo deket sama dia, gitu? Gila, ya! Gue gak nyangka elo bertindak sejauh ini cuma karena cewek."


Gue lihat Sara mulai ketar-ketir.


Emosi gue rasanya sudah berada di ubun-ubun. Lalu tanpa bisa gue kontrol, tinju gue bendarat juga di mukanya si Dika. Sara menjerit mencoba melerai perselisihan gue dan Dika. Orang-orang di sekeliling pun mulai memerhatikan kita karena denger Sara menjerit.


Emosi gue sedikit mereda karena melihat Sara, tapi si Dika membalas nonjok gue sampe gue terhuyun dan jatuh. Sara kembali menjerit. Gila! Pukulan si kampret kenceng banget, padahal tadi gue gak sekuat tenaga mukul dia. Gue berusaha bangun sambil nahan sakit. Sara deketin gue dengan muka cemas dan ngebantu gue bangun.


"Dika, lo pergi sana!" sentak Sara. Dari sana hati gue mendadak adem Sara belain gue, hehehe.


"Tapi, Sar, kamu gak boleh deket-deket sama si Marko, dia itu kafir!" Lagi-lagi si Dika bilang gue kafir. Nyebelin banget tuh anak.


"Terserah gue, mau deket sama siapa. Elo gak berhak larang-larang gue!"


Nyeeeesss banget dah hati gue, sumpah! Ah, Qaisara terima kasih kamu udah ngebelain aku. Pasti hatinya si Dika sakit banget, tuh! Emang enak. Hahaha.


"Awas aja, lu, Ko!" ancam Dika sebelum pergi.


Gue kembali duduk di bangku demgan Sara.


"Sori, ya, Sar. Kamu pasti takut ya tadi?"


Sara nunduk. "Iya," katanya lirih.


"Marko, aku harap, apa yang tadi Dika bilang itu gak bener," sambung Sara. Gue noleh, maksudnya apa, ya? Oh, maksudnya modusin Sara dengan pura-pura belajar agama Islam, gitu?


"Sara ... asal kamu tau, aku gak ada pikiran sedikit pun buat modusin kamu, sumpah! Terserah kamu mau percaya atau enggak, tapi aku serius pengin belajar. Aku ingin menjadi orang yang pantas buat kamu." Gue gak tau ucapan gue itu bener atau enggak, tapi gue lihat Sara tersenyum denger ucapan gue, kemudian dia natap mata gue dengan takzim. Anjiiiir jantung gue langsung jedag-jedug salto ditatap kayak gitu sama bidadari gue.


"Makasih," ucapnya.


Itu satu kata berjuta makna. Gue gak tau maksud Sara bilang makasih, tapi perlahan gue menyadari arti kata tersebut. Ah, Sara ternyata kamu juga cinta sama gue! Gue yakin seratus persen, karena palung hati gue merasakan tasa cinta itu.


Sekarang gue makin yakin dengan apa yang gue lakuin. Gue akan terus maju buat memerjuangkan kamu, Sar. Tunggu aja apa yang akan gue lakuin buat kamu!


💖💖💖