Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 27



Pov Author.


Dika dan dokter Linda senyum-senyum memerhatikan Marko yang sedang mematut diri di depan cermin. Setelan jas lengkap yang dapat minjam dari Dika sangat pas melekat di tubuh Marko.


"Widih aura pengantennya udah dapet tuh. Hahaha," goda Dika.


"Apaan sih, lo!" Marko tersenyum malu.


"Dok, kalau Dokter nikah, entar perawat-perawat di rumah sakit pada patah hati masal," seloroh dokter Linda.


"Biarin aja. Sekarang si most wanted mau melepas masa lajang, hahaha."


"Enggak di sekolah, di kampus, sekarang di rumah sakit, lo jadi most wanted mulu, gak bosen apa lo?"


"Bosenlah, makanya sekarang gue mo kawin, hehe."


Dika dan dokter Linda tergelak-gelak. "Iya, predikatnya most wanted, tapi jomblo mulu, kalah ama gue," seloroh Dika.


"Elu kan playboy gila! Cassanova tengik yang selalu bikin cewek-cewek mewek. Inget gak lu dulu, salah satu mantan elu yang lu campakan dengan sadis, siapa sih namanya gue lupa. Oh iya Frida. Dia nangis-nangis dateng ke rumah gue memohon supaya bisa nelpon elu. Gara-gara elu gue diomelin sama bokap disangka gue yang udah bikin nangis doi. Sialan lu emang."


Dokter Linda berdiri sambil melipatkan tangan di dada menatap suaminya dengan tatapan membunuh. "Mmmm Cassanova ye! Awas aja kalau__"


"Enggak, Sayang, aku udah insaf kok, demi Allah. Kamu yang udah bikin aku insaf!" Dika memeluk istrinya sambil berusaha menciumnya.


Marko terkikik-kikik geli. "Hei, dilarang mesra-mesraan di kamar orang ya! Gak sopan tauk!"


Dika dan Dokter Linda menoleh. "Heh, Marko! Ngapain tadi lo ngomong gitu segala? Lo mau rumah tangga temen lo sendiri hancur ya?"


Marko tertawa. "Biar istri lo tau gimana brengseknya elu di zaman dulu."


Dokter Linda tertawa. "Makasih, Dok, udah ngasih tau," ucap Dokter Linda.


"Iye-iye ngaku, dulu gue emang brengsek tukang mainin cewek, puas kalian?" Dika memberengut. Dokter Linda menangkup kedua pipi suaminya. "Yang penting aku tau, dari awal kamu enggak berniat mainin aku, kamu serius dengan menikahi aku, walau aku tahu saat itu kamu sedang kesulitan keuangan. Dari sana aku bisa melihat keseriusan kamu. Cuma aku yang tau, karena aku bisa ngerasain gimana tulusnya kamu ke aku."


Wajah Dika memerah. Dia tersenyum haru, meraih tangan istrinya dan menciumnya dengan takzim.


Marko memalingkan muka, menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli.


Dika menoleh pada Marko, menghampirinya di depan cermin. Dia membenarkan dasi yang dirasa masih tidak benar, setelah itu dia meraih pundak sahabatnya. Menatap dengan penuh arti. Penuh cinta.


Marko meringis. "Dik, elo nakutin gue! Apaan sih, lo terpesona sama kegantengan gue, ya?"


Dokter Linda tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.


"Gue terharu monyong! Gila aja gue jatuh cinta sama lo! Gue masih normal kali. Gue seneng banget, Ko, akhirnya elo bisa dapetin Sara. Gue nyesel banget dulu___"


Marko melepaskan tangan Dika dari bahunya. "Udahlah, jangan bahas-bahas itu lagi. Gue udah lupain semuanya. Lagian dulu kan kita masih ABG, masih labil, ya gak?"


Dika ngangguk-ngangguk. Marko kembali merapikan rambutnya.


"Udah siap belum, Ko? Ngaca mulu, lo!"


"Udah. Yuk, Habib dan Bang Syahrul udah nunggu kayaknya." Marko melangkah ke arah pintu.


"Eeeeh, eh, itu ketinggalan!" Dika menunjuk sekotak perhiasan di atas meja yang akan jadi seserahan.


"Oh iya, lupa. Hahaha."


"Hadeuh ... barang penting, tuh! Jangan sampe lo ke sono cuma bawa cinta doang, ye."


"Hahaha, enggak dong. Emang kenyang makan cinta?"


Dika dan istrinya tergelak. Setelah itu mereka berangkat ke rumah Sara menggunakan mobilnya Dika.


Tanpa Marko tahu, sebenarnya ada seseorang yang memandang dari kejauhan keberangkatan mereka dengan hati sesak luar biasa. Dia meremas kerudungnya, menahan hatinya agar tidak terlalu remuk.


"Nairaaaaa ...," panggil Ummi.


Naira tidak menoleh, dia malah berlari ke rumah lalu mengunci diri di dalam kamar. Membenamkan tangisnya ke atas bantal, memukul-mukulnya pelan hingga rasa sesak itu sedikit berkurang.


"Cinta pertamaku enggak berjalan mulus! Bang Markooooo!" teriak Naira di atas bantal, namun suara teriakannya itu tertahan di bantal.


Kesakitannya karena cemburu dan patah hati terasa sangat mencekik sehingga dia kesulitan untuk bernapas.


"La tahzan Naira ...," lirihnya sendiri. Naira mencoba meredakan sedihnya. Perlahan dia menarik napas dan membuangnya. Sekarang dia sedikit lebih tenang.


Naira menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran penuh.


Naira bangkit mengambil buku fisika pemberian Marko. Katanya, fisika adalah pelajaran favoritnya. Dan berkat Marko juga, Naira jadi menyukai mata pelajaran tersebut. Dia mendekap erat buku itu di dadanya.


Sehebat apapun dirinya bertahan dengan kesakitan ini, jika bayangan wajah Marko melintas di benaknya, air mata itu memaksa meloloskan diri. Sesakit inikah patah hati?


Tes ....


Setetes darah tiba-tiba terjatuh dari hidung Naira mengenai buku dalam dekapannya. Beberapa hari ini Naira memang merasa tidak enak badan, tapi ini baru pertama kalinya dia mimisan.


Naira mengelap hidungnya yang penuh darah dengan jilbabnya. "Apakah patah hati juga bisa menyebabkan orang mimisan?"


***


Ibunya Sara terkejut ternyata Habib Huza ayah angkatnya Marko. Siapa yang tidak mengenal Habib? Beliau adalah orang paling disegani dan dihormati di wilayah itu. Dini tidak tahu karena Marko dan Sara tidak pernah bilang.


"MashaAllah, saya tidak menyangka Nak Marko__"


"Benar. Marko udah seperti anak saya sendiri, Bu. Dia seorang mualaf yang tersesat, hehe," seloroh Habib.


Marko menunduk sambil tersenyum. Dia sendiri bangga bisa diangkat anak sama orang sebaik Habib.


Dini menatap Marko haru. Dia sudah tahu semuanya dari Sara dan Arka. Dan dia menyesal mereka harus melewati badai yang dahsyat terlebih dulu untuk bisa bersama. Namun, dengan begitu bukankah kekuatan cinta mereka sudah teruji?


Ruang tamu yang sudah dialasi karpet itu dipenuhi oleh beberapa orang, terutama keluarganya Sara. Marko merasa sedih, dari banyaknya orang itu, Bang Arka tkdak ada. Padahal Marko ingin sekali bertemu dengannya. Melepas rindu yang tahunan tertahan. Dari awal bertemu dengannya di emper mesjid, Marko sudah punya camistry yang kuat dengannya. Entahlah ... mungkin Allah sudah mengaturnya, bahwa suatu saat Bang Arka akan menjadi keluarganya.


Setelah berramah tamah sebentar yang disampaikan oleh Habib, sekarang tiba saatnya ke acara inti. Tak lama Sara keluar dari kamar ditemani salah satu sepupunya.


Marko sempat menahan napas ketika Sara keluar dan duduk di samping ibunya. Di mata Marko, gadis itu masih sama seperti dulu. Sebening kristal, sesuci melati dan seindah gardenia. Entah kata apa lagi yang dapat menjabarkan semuanya.


Sara menunduk malu saat Marko menatapnya penuh cinta. Dan nampaknya hal itu tertangkap basah oleh Bang Syahrul.


"Woi, jaga pandangan! Belum halal," bisik Bang Syahrul ke telinga Marko.


Marko tersenyum malu, langsung melempar pandangannya ke arah lain.


Marko menyerahkan secara resmi perhiasan berupa gelang dan cincin sebagai seserahan kepada ibunya Sara. Setelah itu menetapkan tanggal pernikahan.


Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kesepakatan pun didapat. Pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi. Lebih tepatnya setelah Marko menjalani sumpahnya sebagai dokter.


Marko tidak pernah merasa selega itu selama hidupnya. Jika ada alat untuk mengukur kadar bahagia seorang manusia, Marko ingin meminjamnya sebentar. Ia ingin tahu seberapa besar bahagianya sekarang.


Setelah makan malam, rombongan Marko pun bersiap untuk pulang. Sara sangat terkejut melihat Dika hadir dan kembali dekat dengan Marko. Yang dia tahu, Dika dan Marko kan tidak akur.


"Jangan kaget gitu, Sar," ucap Dika sambil terkekeh.


"Enggak. Kok bisa kalian__" Sara menunjuk Marko dan Dika bingung.


"Bisalah, hehe. Oh iya Sar, kenalin ini istri aku, Linda."


"Kamu udah nikah? MashaAllah ...."


"Udah dong, hehe."


"Halo, aku Linda." Dokter cantik itu mengulurkan tangan.


"Sara." Sara menjabat tangan Linda.


"Kamu tau enggak, istrinya si kampret ini teman sejawat aku," ucap Marko.


"Hah? Kok bisa?"


"Iya, kan, kok bisa? Hahaha. Bisa-bisanya dokter Linda mau ama elu, Dik."


Dika mendelik kesal. Sedangkan dokter Linda tertawa sambil menutup mulut dengan dompet yang dipegangnya.


"Bukan gitu maksudku. Marko, ih!" Sara memukul pelan lengan Marko enggak enak sama Dika dan Linda. Orang yang dipukul lengannya malah terkikik-kikik.


"Maksudku, dunia ini ternyata kecil sekali."


Linda tergelak. "Iya, aku juga enggak nyangka ternyata suamiku temennya dokter Marko."


Sara menatap Linda dan Dika dengan tatapan haru. Dia ingin setelah menikah bisa mesra juga seperti mereka. Tidak ada prahara yang bisa mengahancurkan bahteranya bersama Marko.


***