
Pagi ini gue bangun subuh seperti biasa. Setelah solat subuh, biasanya olah raga sebentar sekitar lima belas menit. Tak lama setelah itu, setiap hari, sudah 2 tahun terakhir ini, akan ada seorang gadis mengantarkan sarapan. Naira. Muslimah berusia delapan belas tahun, putri kesayangan Habib Huza.
Waktu gue pertama datang ke sini enam tahun lalu, doi masih imut-imut, masih SD, sekarang Naira sudah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik jelita. Kenapa gue bilang cantik jelita? Karena itu faktanya. Doi mirip banget Emaknya yang masih ada keturunan Arab. Kulit putih bersih, hidung mancung, bibir mungil, mata belo. Ah, apaan sih, lu, Ko, dosa tau mendeskripsikan kecantikan seorang cewek yang bukan mahram lu.
Oh iya, setelah lulus sarjana kedokteran, gue langsung menjalani program profesi dokter, atau yang sering kita sebut dokter muda, istilah polulernya Koas di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dan sekarang adalah tahun terakhir status gue sebagai Koas.
Menurut gue, buat elo yang mau ngambil kuliah jurusan ini, otak encer aja enggak cukup, tapi yang terpenting lo harus benar-benar kuat mental. Kenapa gue bilang gini? Lo bisa aja super duper jenius dan hanya butuh satu kali baca bahan belajar untuk memahami seluk-beluk ilmu kedokteran ini, tapi itu tidak cukup mengantarkan lo lulus pada semester pertama jika tidak punya mental yang kuat. Ritme perkuliahan kedokteran sangat padat dan tekanan belajar tinggi, selain itu seorang dokter itu harus tegaan, tidak jijik saat melihat darah, anggota tubuh yang terlepas, isi tubuh manusia yang terurai, pasien yang sedang meregang nyawa, dan hal-hal tak terbayangkan lainnya. Buat lo yang sekarang melihat darah karena luka tergores aja udah takut atau lemes, lebih baik pikir-pikir lagi, deh. Hahaha.
Gue melirik jam yang menempel di dinding. Sudah jam enam, sebentar lagi Naira pasti dateng.
Tok ... tok ... tok ...
"Bang Marko ...," panggil Naira dari luar. Tuh kan, hehehe.
Gue membuka pintu. Setelah pintu terbuka, gue langsung melihat senyuman gadis itu.
"Sarapan, Bang." Naira menyodorkan sekantong keresek kecil berisi sarapan buat gue.
"Makasih, Nai," ucap gue sambil menerima keresek yang disodorkan Naira.
"Nasi uduk, noh," ucapnya.
"Nasi uduk? Waaah, makasih, Nai. Pake telor, gak?"
Naira melipatkan tangan di dada sambil menyipitkan mata belonya.
"Bang, itu pertanyaan basi tau! Aku udah tau kali, nasi uduk atau nasi kuning harus plus telor balado, ketoprak enggak boleh pake bihun, bubur ayam gak boleh pake kacang, soto ayam juga, mmmm ...." Naira melirikan bola matanya ke atas mengingat-ingat. "Ah, iya semuanya harus tanpa sambel."
Gue tergelak melihat tingkah lucu ABG di depan gue. "Anak pinter."
"Ya udah, Abang makan gih, bentar lagi harus ke rumah sakit, kan?"
"Iye, makasih, Nai. Semoga kamu sama Gus Lufti berjodoh ya, hahaha."
Naira melotot. Gue emang dari dulu suka ngejodoh-jodohin Naira sama Gus muda nan tampan itu. Gue seneng aja kalo udah lihat reaksi keduanya. Naira yang ngambek-ngambek manja dan Gus Lutfi yang tersipu malu-malu.
"Bang, jangan jodoh-jodohin lagi aku ama Gus Lutfi, napa! Kesel tauk!"
"Kesel apa seneng?"
"Tauk deh! Aku sebel sama Abang!" Naira ngeloyor pergi dengan bibir cemberut.
Gue menatap punggung Naira yang semakin menjauh dan menghilang. Kalau melihat Naira, gue selalu teringat sama Sara. Terakhir ketemu, saat itu dia seumuran dengan Naira. Apa kabar kamu, Sar? Apa kamu masih inget gue? Apa sekarang kamu bahagia? Apa kamu menjalani hidupmu dengan baik?
Apa gue masih pantas mengatakan rindu? Sedangkan kamu saat ini sudah menjadi istri orang. Sekitar tiga tahun lalu gue enggak sengaja ketemu Zulfa di bandara. Zulfa bilang, Sara sudah punya seorang anak perempuan. Jujur aja setelah mendengar kabar itu gue jadi kacau, padahal saat itu gue sedang menyiapkan skripsi. Berhari-hari gue berusaha mengendalikan kekacauan di hati ini, tapi ternyata enggak berhasil. Sara beneran sudah berhasil mengunci hati gue. Beberapa kali gue berusaha move on dari dia, tapi setelah berputar-putar dari hati satu ke hati yang lain, ujung-ujungnya hati gue tetap kembali padanya. Aneh. Heran. Ajaib.
Sara seperti punya sihir tersendir buat gue. Dia cinta pertama gue, dia pula yang mengantarkan pada jalan yang sekarang gue jalanin. Sara ... gue harus gimana? Adakah satu cara agar kamu lolos dari hati ini? Dari pikiran ini?
Gue, nih, kalau udah akut merindu, cuma bisa membiarkan air mata ini mengalir tanpa gue tahan-tahan. Lo bayangin aja gimana tersiksanya gue selama ini. Adakah dari lo semua yang mengalami nasib sama dengan gue?
Semoga gak ada, karena itu gak enak banget.
***
Sekitar dua bulan lagi, gue akan selesai menjalani program Koas ini. Setelah berkali-kali gue menjalani stase, sekarang gue berada di departemen ilmu kebidanan dan kandungan. Lo harus tau, Man, di program ini ada sekitar empat ratusan kasus yang harus bisa lo tangani tanpa bantuan, seperti penyakit dalam, bedah, penyakit anak, kandungan, dan lainnya. Pada masa ini, seorang Koas tidak akan digaji, malahan lo masih tetap harus bayar biaya pendidikan ke pihak fakultas supaya bisa belajar di rumah sakit. Itulah aturan mainnya.
Setelah lulus semua stase, gue harus mempersiapkan diri lagi menjalani ujian setifikasi yang akan memakan waktu tiga sampe empat bulan. Berat banget, sih, tapi so far gue seneng. Setelah lulus ujian itu, barulah gue bisa menerima gelar dokter yang sesungguhnya dari fakultas. Dan gue pun akan wisuda lagi sekaligus mengikrarkan sumpah sebagai dokter.
Semuanya gue lakuin buat Bokap yang selama ini ngedukung tanpa henti, walaupun gue tau dia ngelakuin itu sembunyi-sembunyi dari Nyokap, tapi gue bersyukur banget dia masih peduli sama gue. Oh iya, sampai detik ini, Nyokap belum maafin gue, pernah beberapa kali gue ke rumah buat ketemu sama dia, tapi gue malah diusir. Si Brian juga sama, dia belum mau ketemu gue. Sedangkan Bi Ecin, dia udah kembali ke kampungnya karena mulai sakit-sakitan. Sumpah gue sedih banget dengerya. Bi Ecin itu super hero buat gue sampai mengalahkan Captain Marvel, mungkin Bi Ecin cuma kalah cantik aja dari dia, hehehe. Entar kapan-kapan gue mau ke kampungnya, ah. Kangen.
"Marko, kamu tau gak, pasien yang tadi? Dia tuh udah punya anak 6, dan sekarang dia lagi hamil anak yang ke 7."
"Hah? Hebat ya, tapi kan umur dia udah empat puluh lebih, Dok. Kehamilan di umur segitu besar banget risikonya."
"Ya, kamu bener. Mereka rentan mengalami gangguan kesehatan kayak tekanan darah tinggi, diabetes, plasenta previa, hingga preeklamsia. Ibu yang tadi tensi darahnya juga tinggi, saya khawatir banget ini sebenarnya."
"Mudah-mudahan dia sehat terus ya, Dok."
"Amin. Sin, ada pasien lagi kah?" tanya Dokter Ana pada Sindy, perawat yang mendampinginya.
"Ada, Dok. Nama pasiennya Bu Qaisara."
Setelah Sindy menyebut nama pasien itu, jantung gue seperti mau melorot ke bawah. Qaisara? Apakah dia Sara-ku? Bidadariku? Ah, siapa tau bukan. Nama Qaisara kan bukan untuk dia seorang.
"Tunggu lima menitan lagi, saya akan menelepon orang rumah dulu, nih."
"Baik, Dok."
Dokter Ana menelepon seseorang, sementara gue dari tadi menerka-nerka, deg-degan juga.
Dokter Ana menyudahi teleponnya. "Pasien ini mempunyai penyakit yang lumayan parah, Ko. Dia punya tumor di rahimnya, saya takut suatu saat tumor itu mengganas menjadi kanker."
Kaki gue saat itu beneran langsung gemetar. Apa yang dokter Ana bilang berhasil bikin gue ketakutan. Gue cuma diem enggak menjawab apapun, masih syok dengan apa yang gue denger.
"Sin, suruh Bu Sara masuk," kata dokter Ana pada Sindy.
Pintu ruangan praktek terbuka. Sesosok wanita yang selama enam tahun ini gue rindukan muncul di depan gue. Sara mematung di tempat melihat gue, dia terlihat kaget banget. Dokter Ana pun sampe heran dibuatnya.
Ketika tatapan kita bertemu, gue ngerasa waktu seperti tiba-tiba melemparkan sauhnya, terhenti, dan semua orang diam, kecuali gue dan Sara.
Sorot mata itu, tatapan itu, masih sama seperti yang terakhir gue lihat. Bibir Sara bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar dari sana. Dia hanya diam sambil terus menatap gue dengan tatapan yang sulit gue jelasin.
"Silakan, Bu." Suara dokter Ana menyadarkan kita berdua.
Sara duduk di depan gue dan dokter Ana. Setelah mereka bicara sebentar, dokter Ana memeriksa Sara. Gue melipir sebentar saat Sara di-USG. Gue sayup-sayup mendengar dokter Ana berkata, "Ini udah enggak bisa dibiarkan, Bu. Ibu harus segera dioperasi. Jangan takut, Bu. Semuanya akan aman, kok, saya takut ini berubah jadi kanker."
"Tapi dokter, saya enggak punya biaya buat operasi," kata Sara. Sontak gue kaget mendengar jawaban Sara. Enggak punya biaya? Bukannya dia istri orang kaya?
"Ibu bisa pakai BPJS. Pokoknya ibu harus segera dioperasi, tumor ini udah gak bisa dibiarin terlalu lama lagi."
Tidak ada jawaban apapun dari Sara. Hati gue nyesek banget rasanya. Sara, apa yang terjadi sama kamu?
Setelah Sara selesai USG, gue menyibakan gorden, kembali ke samping dokter Ana.
"Oh iya, ini dokter Marko, dia koas di sini," ucap dokter Ana saat gue sudah di sampingnya. Ah, elah, Dok, Sara udah tau kali, hehehe.
Sara meluncurkan senyum. Waktu senyum itu terbit, gue seperti terbang ke masa SMA, gak nyangka aja, gue bisa melihat lagi senyum terindah itu. Senyum yang membuat gue jatuh cinta dan rindu.
Dokter Ana dan Sara kembali membahas tentang operasi itu. Gue menyimak dengan rasa khawatir.
Setelah selesai Sara pamit dan pergi. Gue bingung antara pengen ngejar dia atau tetap diam.
Namun akhirnya, "Dok, permisi sebentar, saya keluar dulu." Tanpa menunggu jawaban dokter Ana, gue langsung cabut ke luar mengejar Sara.
Terlihat Sara akan berbelok ke koridor sebelah, gue langsung teriak memanggilnya, "Saraaaaaa."
Langkah Sara terhenti, kemudian menengok. Gue berlari menghampirinya.
"Sara, apa kabar?" ucap gue basa-basi sambil mengontrol napas.
Sara tersenyum. "Baik," ucapnya.
Baik? Sar, kamu itu sakit. Sakit parah.
Sara menatap gue dari ujung kepala sampe ujung kaki. Dan gue melihat ada sorot bangga ketika dia melihat jas dokter gue. "Ko, aku seneng banget ketemu kamu di sini. Semoga kamu selalu sehat dan sukses. Aku ...." Sara terlihat menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku juga seneng pernah dekat sama kamu."
"Aku juga, Sar. Ngomong-ngomong kamu sendirian ke sini? Mana suami dan anak kamu? Aku tau dari Zulfa kamu udah punya anak perempuan."
Sara langsung terlihat sedih. "Aku sendiri ke sini, Ko. Aku bercerai sama Pak Tengku, dan anak aku enggak ada."
"Apa? Maksud kamu anak kamu sama ayahnya?"
"Bukan. Dia enggak ada, Ko. Pemiliknya sudah mengambilnya. Allah lebih sayang sama dia."
"Innalilahi. Maaf, Sar, aku enggak tau."
Sara tersenyum sedih. "Tidak apa-apa."
"Apa kabar Bang Arka?"
"Bang Arka baik. Sekarang dia tinggal di Batam, dipindah tugaskan ke sana. Dan dia mendapat jodoh orang sana, sekarang sudah punya dua anak."
"Alhamdulillah."
"Kamu__udah nikah, Ko?"
"Hah?" Gue agak kaget juga Sara bertanya seperti itu.
Gue tertawa kecil. "Gue jomblo, Sar. Kuliah jurusan kedokteran itu boro-boro mikirin jodoh, mikirin pelajaran aja udah pusing berat, hehehe."
Sara tertawa. "Jangan gitu, Ko, kamu harus tetep mikirin jodoh kamu."
"Iya, Sar. Mulai hari ini aku akan memikirkannya. Karena orang yang aku mau sudah kembali. Ternyata aku tidak perlu menunggu sampai 20 tahun."
Sara mengerjap, senyumnya langsung lenyap dari bibirnya.
"Jangan aku, Ko, cari wanita yang lebih baik dari aku! Aku sakit, janda__"
"Apa yang salah dengan itu? Kata dokter Ana, kamu akan sembuh kalau melakukan operasi, dan soal janda? Bukankah Rosulullah juga menikahi janda?" Gue memotong ucapan Sara.
"Cinta itu tanpa syarat apapun, Sar. Kalau bersyarat namanya perjanjian. Dan enggak ada perjanjian dalam cinta."
Sara mematung. Perlahan gue lihat netra beningnya mengembun, entah apa yang ada di benaknya saat itu.
"Sar, kalau kamu enggak ada biaya buat operasi, nanti bisa aku bantu."
Kini air mata Sara terjun bebas melewati pipi mulusnya. Saat itu gue pengen banget meluk dia, tapi enggak bisa.
***