
Pov Author
Selang setengah jam Sara selesai diperiksa. Marko menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan Sara di ruang dokter Anna. Pria itu melihat wajah dokter Anna terlihat kusut dan sedih duduk di kursinya. Setelah itu Sara pun keluar dari ruang pemeriksaan, duduk di depan dokter Anna.
Sedangkan Marko yang menunggu di depan meja suster Alia bangkit dan duduk di samping Sara.
"Enggak ada cara lain, Bu Sara, kita harus segera operasi, saya akan jadwalkan operasinya besok lusa."
Marko dan Sara terperangah. "Lusa, Dok?" tanya Sara.
"Iya, dan akhirnya ketakutan saya terjadi, tumor itu sudah berubah menjadi kanker, tapi untungnya ini masih di stadium awal, untuk mencegah penyebaran, mungkin ... enggak ada cara lain lagi selain kita harus mengangkat rahimnya Bu Sara."
"Apa!" Seperti tiba-tiba ada petir yang menyambar dalam hati Sara. Ucapan dokter Anna sukses membuat dunianya kiamat saat itu juga. Sara menoleh pada laki-laki di sampingnya. Terlihat Marko tengah menundukkan kepala sambil ******* bibirnya. Sara tahu laki-laki itu pasti sangat sedih.
Oh, Allah ....
Aku harus bagaimana sekarang?
"Apa enggak ada cara lain selain pengangkatan rahim, Dok?" Marko bertanya.
Dokter Anna menghela napas, memandang Sara dan Marko bergantian dengan sedih. Baru tadi pagi dokter tampan itu sangat bahagia menceritakan tentang khitbahnya, tapi siang ini kebahagiaan itu seketika lenyap tak bersisa.
"Enggak ada, Dok. Rahim Bu Sara harus diangkat, kalau enggak___"
"Apa Dokter?" tanya Sara.
"Nyawa Bu Sara akan terancam. Sebelum terlambat kita harus mengambil tindakan," jawab dokter Anna.
Marko memandang Sara dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa ini terjadi padamu, Sar? Allah begitu dahsyat memberimu cobaan seperti ini.
Sadar tengah ditatap Marko, Sara memalingkan wajah. Sungguh, saat ini dia tidak mau bertatapan dengannya. Dalam hatinya tidak henti mengucapkan istigfar. Dia pasrah, apapun nanti langkah yang akan diambil Marko setelah tahu bahwa dirinya tidak bisa memberinya keturunan.
Sara mendongak menatap dokter Anna. "Baik, Dok, saya mau operasi. Jadwalkan operasi saya," tutur Sara dengan suara bergetar.
Marko mengerjap. Sungguh dia ingin merengkuh bidadarinya saat itu juga, tetapi tidak bisa. Lebih tepatnya belum bisa. Nanti setelah menikah, dia akan memeluknya sepuas hati.
Dokter Anna mengangguk. Setelah itu dia menatap Marko, tersenyum, untuk menguatkan juniornya itu.
***
Lorong rumah sakit itu begitu terasa menyesakkan. Bukan karena terlalu banyak orang, tetapi oleh keadaan yang menyelubungi kedua insan itu berada dalam kegundahan dan ketakutan.
"Belum terlambat, Ko. Kamu masih bisa membatalkan khitbahmu."
"Maksud kamu apa?" ucap Marko tajam. Dia sudah menduga Sara akan membahas ini.
"Kamu dengar sendiri tadi dokter Anna bilang apa, aku enggak bisa ngasih kamu keturunan."
"Terus?"
Sara mengerjap. Dia tidak menyangka reaksi Marko sesinis itu.
"Sar, dokter itu bukan Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Kun fayakun! Kalau kamu enggak bisa memberiku anak, masih ada ribuan anak, bahkan jutaan anak yang membutuhkan orang tua."
"Tapi ... anak-anak itu bukan darah dagingmu, Ko."
"Siapa peduli? Atau kalau Allah meridhoi, kamu nanti bisa melakukan transpalntasi rahim. Dunia kedokteran sekarang semakin canggih, Sar. Sudahlah, kamu jangan bahas ini lagi, ya. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah kesehatanmu, keselamatanmu. Itu jauh lebih penting bagiku dibanding soal anak."
Sara memberanikan diri menatap wajah Marko. Ada keseriusan di sana. Melihat sorot mata cokelat itu, seolah menelannya bulat-bulat ke sebuah dimensi penuh cinta dan harapan. Sara mengerjap, dan itu membuat sebulir embun dari mata terjatuh ke jilbabnya.
***
Dokter Anna dan dokter anastesi yang akan mengoperasi Sara sudah bersiap di depan ruang operasi. Sebelum masuk ke dalam, dokter Anna menepuk bahu Marko. "Calon istrimu akan baik-baik aja. Berdoalah," tutur dokter Anna lalu masuk ke dalam. Marko menganggukan kepala. "Iya, Dok."
Marko duduk di kursi tunggu, di samping ibunya Sara. Dalam hatinya tidak henti-hentinya merafalkan doa dan dzikir.
"Nak Marko ...," sahut ibunya Sara memecah keheningan antara keduanya.
"Iya, Bu?"
"Kenapa kamu ingin menikahi Sara? Kamu tahu sendiri, sekarang dia tidak sempurna sebagai wanita."
"Dia tidak akan bisa memberimu keturunan," ucap Dini pilu.
"Untuk mencintai seseorang dia tidak harus sempurna, Bu. Dan saya pun sama banyak banget kekurangannya. Saya sudah menyukai Sara dari SMA, dan karena dia juga saya menemukan cinta sejati saya. Allah." Marko menelan saliva. "Bagi saya Sara itu ... segalanya."
Dini mengerjapkan mata. Dia sangat bersyukur Sara bertemu laki-laki baik dan soleh seperti Marko. "Terima kasih," ucap Dini dengan suara bergetar.
Marko mengangguk seraya tersenyum.
"Saya sangat berdosa pada Sara. Dia anak yang baik. Dia__rela berkorban demi keluarga, di saat ayahnya hancur, dia menjadi penyelamat keluarga kami. Saya tahu, waktu dia menikah dengan Pak Tengku di hatinya ada orang lain, tapi dia masih bisa tersenyum pada semua orang. Walau Sara tidak bilang, tapi saya tahu. Insting seorang ibu itu sangat kuat."
Dini menarik napas dan membuangnya perlahan untuk meredakan sesak di dadanya.
"Lalu setelah ayahnya meninggal, semua cobaan ini datang. Kami seperti kehilangan sayap, kehilangan tumpuan, hingga kami benar-benar terjerembab ke dalam tanah yang sangat dalam. Selepas Bu Rahma meninggal, entah kenapa Sara malah diceraikan oleh Pak Tengku, dia hanya memberi Sara uang talak dan idah saja, karena anak-anak beliau tidak mengizinkan harta mereka dibagi untuk Sara. Kami benar-benar terpuruk, semua harta habis, dan rumah tempat tinggal kami sekarang adalah sisa dari semua yang kami punya. Dan puncak kesedihan kami adalah, kepergian Davina. Sara sangat terpukul saat anaknya dipanggil Allah."
Rupanya Dini tidak sanggup lagi membendung air matanya. Sekarang bulir bening itu meluruh membasahi pipi dan jilbabnya.
"Dan sekarang keadaan Sara seperti ini membuat saya sedih dan takut. Sara adalah kekuatan saya untuk bertahan hidup sekarang, Nak Marko." Tangis Dini semakin menjadi. Marko meraih pundak calon ibu mertuanya itu berharap dia merasa lebih baik.
Setelah mendengar semuanya, sekarang Marko semakin yakin untuk menjadikan Sara istrinya. Walaupun nanti Sara tidak bisa memberinya keturunan, tapi Marko yakin Sara bisa memberinya kebahagiaan.
Tidak ada syarat dalam cinta. Marko tulus mencintai Sara, dirinya juga tidak tahu kenapa Allah menganugrahi rasa seperti ini. Bukankah ketetapan Allah itu tidak ada yang sia-sia? Dia menganugrahi Marko cinta seperti ini, pasti ada maksud tertentu di baliknya. Dan Marko yakin bersama Sara dia bisa meraih syurga-Nya.
"Sar, aku janji, aku akan membahagiakan kamu. Percaya padaku, Sar," lirih Marko dalam hati sambil terus menepuk-nepuk bahu calon Ibu mertuanya.
***
Sebulan Pasca Operasi ....
Marko pergi ke gedung tempat ayahnya bekerja untuk mengutarakan rencananya melamar Sara secara resmi. Sengaja Marko menemuinya di sana, karena kalau ke rumah, sudah pasti dia akan diusir. Lelaki berumur lima puluh tahunan itu, menatap anak sulungnya dengan mata berkaca-kaca lalu memeluknya dengan erat.
"Papa bangga sama kamu, Ko. Kamu berhasil membuat Papa bahagia atas pencapaian yang sudah kamu raih, dan sekarang kamu akan menikah, Papa sangat senang, Ko."
"Nanti malam Papa akan datang, kan? Marko ingin Papa hadir."
Mr. Kendward melepas pelukannya, menatap Marko dengan sedih. "Maafin Papa, Ko. Sepertinya Papa enggak bisa hadir. Nanti malam rencananya Mama kamu mau menengok Brian di RSKO."
Marko mengerjap, ada rasa sedih yang berdesir dalam dadanya. Sekarang dirinya benar-benar sudah seperti orang asing di keluarganya sendiri. Marko tahu, ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa kalau istrinya sudah memutuskan.
"Ya udah enggak apa-apa, Pa. Nanti ada Habib sama Bang Syahrul yang akan mengurus semuanya."
Mr. Kenward mengangguk-anggukan kepala. "Sampaikan salam Papa sama Habib dan Bang Syahrul juga, nanti sorean Papa akan menelepon dia."
Marko tersenyum. "Iya, Pa."
"Papa akan transfer semua kebutuhan lamaran kamu, Ko."
"Enggak, Pa, saldonya masih cukup, kok. Lagian Marko udah beli semuanya."
"Enggak apa-apa, ini buat pegangan kamu."
Marko mengangguk. "Makasih, Pa."
Tiba-tiba air muka Mr. Kendward berubah sendu. "Hanya ini yang bisa Papa kasih buat kamu, Ko. Maafin Papa."
"Enggak apa-apa, Marko ngerti."
"Semoga semuanya lancar, Ko. Papa cuma bisa doain. Nanti kapan-kapan kamu tengok si Brian di RSKO, tapi jangan sampe Mamamu tau."
"Iya, Pa. Nanti Marko ke sana sama Sara."
Ayahnya Marko mengangguk, menepuk-nepuk pundak anak kebanggaannya itu sebelum kembali masuk ke kantornya. Kemudian sampai sore, lelaki itu tidak henti-hentinya menahan sesak kesedihannya, dan sesekali menyeka air mata yang memaksa menyeruak ke permukaan netranya.
"Maafin Papa, Ko."
***
Marko tahu, Allah sudah menyiapkan trampolin untuk bisa melonjakkannya lebih tinggi lagi dengan luka yang didapat. Dan doa adalah trampolin tersebut agar tidak tenggelam oleh rasa sakit karena gravitasi takdir yang kejam.
Gravitasi takdir memang telah menariknya pada sebuah penolakan di keluarganya, tapi dengan kekuatan doa, Marko percaya trampolin takdirnya akan melemparnya kembali ke atas untuk meraih kembali keluarganya.