Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 11



Gue percaya, bahwa di dunia ini enggak ada yang namanya kebetulan. Semuanya sudah diatur sedemikian apiknya oleh Tuhan. Bahkan daun jatuh pun, tak luput dari kehendakNya. Begitu pun dengan hidup gue.


Gue sekolah di SMA N 33 Jakarta, ketemu sama Sara, jatuh cinta, dan sekarang gue jatuh cinta sama agama yang dianut doi gara-gara lihat dia berhijab. Sara ... gue beneran udah mikirin tentang pemohonan kamu kemarin tentang merubah nasib kamu. Nasib kita sebenarya.


Sara ... gue mau mualaf, gue udah yakin sama keputusan gue ini. Tunggu aja. Gue udah mikirin hal ini ribuan kali, dan gue akan hadapi semua resikonya, termasuk tanggapan keluarga. Gue pengen memantaskan diri buat kamu. Semoga apa yang akan gue lakuin benar.


Inilah saatnya gue akan memulai sebuah fase baru, babak baru dalam hidup yang gue namakan PEMBENTUKAN. Semacam detour atau perubahan arah buat gue. Gue akan menerima skenario baru dari Tuhan. Skenario menakjubkan yang mau enggak mau harus gue peranin.


Dan gue yakin, gue akan bahagia dengan skenario baru ini. Sesuatu yang entah apa dalam dada ini akan mencair, kegundahan jiwa selama ini akan berakhir. Gue akan menemukan satu titik yang memang gue cari-cari.


Jadi, selamat datang fase baru, musim kehidupan baru, mari kita lihat, apa yang akan terjadi di masa depan.


And it's gonna be more interesting ....


[Bang, gue mau ketemu sama Bang Syahrul lagi. Gue udah yakin sama keputusan gue buat mualaf, Bang.] Pesan WA gue sama Bang Arka.


Pesan itu masih centang abu-abu. Bang Arka masih sibuk kayaknya. Palingan nanti dibales kalau dia istirahat makan siang.


Gue liat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Saatnya gue ke mushola, buat nemuin bidadari gue. Qaisara Azzahra.


***


Sepulang dari mushola, gue dan Sara jalan bareng ke kelas. Lo pasti tau gimana reaksi temen-temen gue. Ya ... mereka pada natap enggak suka. Bahkan gue lihat Vita membuang ludah, kayak jijik gitu. Sialan emang tuh cewek! Tapi gue belum lihat batang hidungnya si Dika. Kemana tuh anak? Bodo amat, deh.


"Cie ... cie ... Marko." Martin tiba-tiba cie-cie segala sambil menyalip gue dan Sara. Dan itu membuat Sara menunduk, mungkin malu atau gak enak? Gak tau juga.


"Ko, kamu duluan aja sana, aku mau ke kopsis dulu sama Zulfa." Zulfa yang jalan di belakang mendogak gak ngerti. Ah, gue tau, pasti ini cuma alasannya Sara aja biar kita enggak jalan berdua.


"Hah? Mmm ya udah, deh. Aku ke kelas dulu, ya. Tar sore kita ketemu, kan?"


Sara mengangguk sambil senyum.


"Dah, Sar." Gue pun cabut ke kelas. Tapi saat gue mau belok ke koridor kelas gue, Pak Syamsul manggil gue. Pak Syamsul itu wali kelas gue.


"Marko ...!" teriak Pak Syamsul manggil gue. Gue noleh, lalu menghampiri wali kelas gue yang kece itu.


"Ada apa, Pak?" tanya gue saat udah di depannya.


"Bapak mau tanya, kamu serius mau daftar SBMPTN, Ko?" tanya Pak Syamsul.


"Iya, Pak, saya serius," jawab gue yakin.


"Bagus. Nanti bapak, mau daftarin kamu juga. Semoga dapet ya, Ko. Kamu itu salah satu siswa berprestasi di sekolah ini."


"Amin. Makasih ya, Pak."


Pak Syamsul nepuk-nepuk bahu gue, lalu pergi. Ya ... daftar SBMPTN juga udah gue pikirin mateng-mateng. Gue gak peduli bokap marah atau kecewa, yang pasti gue yakin dengan apa yang gue lakuin.


Ya ... watak gue emang gitu, Man. Selama yang gue yakinin benar dan baik buat gue, gue kejar, gak peduli apapun rintangannya. Lo boleh niru gue atau enggak terserah, itu tergantung pribadi masing-masing.


***


[Kamu siap, Ko? Kamu udah yakin? Beneran gak nyesel nantinya kan? Terus orang tua kamu gimana?] Balasan pesan WA Bang Arka. Dia baru bales WA gue jam 2 siang.


[Gue udah yakin, Bang. Dan soal ortu gue, gue gak mau mereka tau dulu. Biar itu urusan gue nanti.]


[Sip. Tar malem kita ketemu di tempat biasa, ya. Alhamdulillah, Ko. Saya seneng dengernya. Semoga nanti kamu istiqomah, ya.]


Gue memasukan ponsel ke tas. Gue juga seneng banget sekarang. Cuma gue yang bisa ngerasain gimana rasanya. Hati gue tenang, gue gak pernah ngerasain rasa seneng kayak gini, Man. Serius! Apakah ini yang dinamakan hidayah, seperti kata Bang Syahrul kemarin? Kenapa rasanya senyaman ini?


Sepulang sekolah, seperti biasa gue janjian di depan kios fotocopy. Dan kali ini Sara mengajari gue bacaan salat. Susah banget. Iyalah, semuanya pake bahasa Arab. Tapi kata Sara, gue cukup hafalin dulu yang pentingnya aja, kayak bacaan alfatehah, bacaan sujud dan rukuk. Dan besok doi mau ngetes gue. Hahaha.


Semoga gue lulus.


Setelah selesai, gue jajanin dia mie ayam. Dan doi rupanya suka makanan itu. Sekarang gue tahu apa makanan favorit kamu, Sar. Posisi gue naik selevel, ye gak? Hahaha.


"Bener ya, apa kata orang, kamu itu orangnya pinter banget," cetus Sara setelah menyeruput teh botolnya.


"Kamu kalau muji, jangan berlebihan gitu, Sar. Aku geer, tauk."


Sara tersenyum. "Beneran, Ko. Kamu itu pinter, cepet nangkep apa yang udah aku ajarin ke kamu."


Gue nunduk malu. Ah, dipuji pinter sama Sara bikin gue melayang ke langit, tau gak. Gue pinter itu udah bawaan orok kali, Sar. Hahaha.


Gue coba mandangin wajah doi dengan lekat, dan saat gue pandangin begitu, Sara malah nunduk, tapi gue lihat bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.


"Sara, makasih, ya. Aku beneran gak tau lagi harus bilang apa sama kamu. Aku seneng banget bisa deket sama kamu, bisa belajar islam sama kamu. Sara ... nanti malam, kalau enggak ada halangan, aku mau mualaf. Aku akan dibantu sama temen aku."


Sara mendongakan wajah natap gue kaget. Dan gue lihat di sorot matanya yang bening seperti ada sesuatu yang membuncah, dan gue bisa rasakan itu. Tiba-tiba gue lihat di mata indah itu seperti ada kaca-kaca, dan perlahan menjadi riak-riak air yang siap tumpah. Saat itu gue pengen megang tangannya, tapi udah jelas itu gak bisa.


Tanpa berkata apapun, Sara mengangguk seraya tersenyum. Man, tatapannya dalem banget! Dan itu bikin hati gue nyes banget, kayak tiba-tiba ada air danau Ranu Kumbolo mengguyur hati gue. Walaupun dia gak ngomong apa-apa, tapi gue tahu banget apa yang ada di hatinya.


Ah, Sara, apakah sebahagia itu kamu denger gue akan mualaf?


"Doain aku, Sar. Doain semoga lancar, dan aku bisa istiqomah, seperti apa yang temen aku bilang."


Sara kembali mengangguk, dan kini air dari matanya terjun bebas ke pipi mulusnya. Sebuah ait mata bahagia yang menghiasi sore yang indah antara gue dan Sara.


***


Saat gue mau cabut ketemu Bang Arka di tempat janjian, Bokap datang.


"Marko, kamu mau ke mana?" tanyanya sambil menutup pintu mobil.


"Marko mau keluar bentar, Pa."


Bokap melihat jam tangannya. "Udah malam ini. Kamu gak akan nemuin cewek, kan?"


Ya elah, Bokap malah nyangka gue mau pacaran. "Enggak lah, Pa. Ya udah deh, Marko pergi dulu."


"Mmm, ya udah." Bokap ngeloyor ke rumah, tapi tak lama gue denger dia manggil gue. "Marko ...!" Gue noleh.


"Apa, Pa?"


"Kalau kamu enggak mau tinggal sama nenekmu karena gak suka sama sepupu-sepupu kamu, Papa udah pesan apartemen di Inggris buat kamu kuliah di sana."


Deg! Gue ngerasa dada ini ditonjok sesuatu benda keras. Bokap enggak main-main rupanya. Dia ngotot banget gue kuliah di kampung halamannya, gak tau kenapa.


Gue ngeloyor pergi tanpa ngegubris. Yang pasti gue akan terus maju ngelakuin apa yang hati gue yakini. Gue tau, tadi Bokap pasti sebel sama sikap gue. Bodo amat!


***


Saat gue sampai di tempat janjian sama Bang Arka, rupanya dia udah nungguin gue, duduk di emper mesjid. Seperti biasa Bang Arka selalu terlihat cool di mata gue. Dia cocok banget pake stelan kerjanya. Kemeja pas badan yang dia gulung lengannya sampe siku, celana bahan, dan sepatu pantofel yang elegan. Sederhana, tapi keren.


"Akhirnya kamu dateng juga. Bang Syahrul udah nungguin kita nih. Katanya kamu akan dia kenalin ke seorang habib di salah satu pondok. Nanti dia yang akan nuntun kamu bersyahadat."


Denger Bang Arka ngomong gitu, tiba-tiba gue deg-degan ******, tapi gue seneng.


"Oh, iya Bang. Ngomong-ngomong kita naik apa ke sana?"


"Pake mobil saya." Bang Arka mengeluarkan kunci mobil dari saku kemejanya.


"Yuk, berangkat, udah jam 8 nih."


"Yuk."


Tak lama, gue sama Bang Arka pergi ke tempat Bang Syahrul. Tempatnya di daerah Pejaten. Gue baru tau di daerah ini ada pesantren. Bang Arka menepikan mobilnya di pelataran parkir yang enggak terlalu luas itu lalu kami turun.


Saat keluar dari mobil, gue dan Bang Arka disambut hangat oleh Bang Syahrul dan seorang laki-laki setengah baya berpakaian gamis putih dan peci putih pula.


Gue dipeluk oleh dua orang itu. Sejenak gue speechless. Gila. Sehangat itukah mereka? Padahal kan baru kenal. Gue bisa ngerasain pelukan itu begitu menenangkan hati dan pikiran gue, semacam ada satu gelombang yang dipancarkan, membuat gue bisa ngerasain ketenangan itu.


"Yuk, masuk," ucap Bang Syahrul.


Pesantren itu enggak begitu besar, tapi nyaman. Tanaman-tanaman hias menghiasi tiap-tiap ruangan, atau kata Bang Syahrul namanya kobong. Santri-santrinya semuanya anak yatim yang tidak mampu. Wah, gue makin takjub dah. Gue lihat santri-santri itu terlihat bahagia dengan kesederhanaan mereka. Bergurau di depan kobong selepas mengaji.


Gue gak tau, selama ini gue hidup di planet mana. Melihat pemandangan baru ini, membuat gue ngerasa kalau hidup gue selama ini beneran monoton. Sekolah, tidur, makan, maen game, ngerjain tugas, jalan-jalan. Ya, menurut gue itu monoton, terlalu biasa, karena gue enggak pernah ngerasain perasaan yang tengah gue rasain sekarang.


Gue bersyukur bisa melihat dan merasakan hal baru ini.


Bang Syahrul dan Habib, menuntun gue ke ruangan seperti sebuah kantor. Di ruangan itu ada satu set sofa dan rak-rak yang penuh dengan buku-buku. Gue dipersilahkan duduk. Lalu kita ngobrol-ngobrol sedikit tentang latar belakang gue.


Setelah gue bilang latar belakang gue, Habib terlihat takjub. Gak tau juga apa yang bikin dia takjub begitu.


"Nama kamu Marko Jefford Kendward?"


"Iya, Habib."


"Setelah kamu mualaf tambahkan Muhammad di depan nama kamu, ya."


Gue ngangguk.


"Tapi itu cuma buat kiasan saja, nama di akte, sama KTP jangan dirubah," lanjut Habib.


"Saya belum punya KTP, hehe."


Semua orang di ruangan ketawa mendengar celoteh gue.


"Ya sudah. Kamu siap bersyahadat?" tanya Habib.


Tangan gue ngedadak dingin, kaki gue juga gemetar. Gue ngangguk. Habib duduk mendekat ke gue, kemudian dia meraih tangan gue menjabatnya dengan erat.


"Ikutin saya, ya Marko."


"Iya."


"Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadur rosulullah." Habib mengucapkan Syahadat dengan tempo yang pelan. Gue pun memantapkan hati mengikuti kalimat itu dengan mudah.


Gue liat Bang Arka dan Bang Syahrul terharu lihat gue. Bahkan gue lihat di mata Bang Arka seperti ada genangan air mata. Bang Syahrul meluk erat gue, disusul Bang Arka.


Malam ini gue resmi mualaf, gue udah jadi muslim. Semoga dengan agama baru ini, gue bisa jadi manusia yang lebih baik lagi.