Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 17



Setelah pengumuman kelulusan selesai, temen-temen gue pada ngajakin corat-coret baju sambil konvoi. Gue gak punya motor, jadi paling nanti dibonceng si Fandi, tapi gue mikir lagi, kalau gue pulang ke pondok dengan baju kayak gembel, entar bakal malu sama Habib.


"Fan, gue kagak jadi ikut."


"Kenapa? Ah, gak asik lo! Palingan lo mau pacaran ama si Sara, kan?"


"Ngaco, lo! Siapa juga yang mau pacaran."


"Cepet, mau ikut, gak? Anak-anak udah pada nunggu di depan."


"Enggak, ah. Sori ya, Fan."


Fandi mendecakkan lidah sebal lalu ngeloyor pergi. Gue natap punggung Fandi yang menjauh. Jujur aja, sejak gue mualaf, gue ngerasa ada sesuatu yang ... entahlah, kayak ada sebuah penolakan pada hal-hal yang enggak ada manfaatnya. Un faedah, kalau kata Bang Syahrul.


Menurut buku yang pernah gue baca karya seorang sejarawan dari Universitas Ibrani Yearusalem bernama Yuval Noah Harari, berjudul Sapiens dan Homo Deus : Dari Mana Kita Berasal dan Ke Mana Kita Akan Menuju.


Berbagai pertanyaan yang cukup sederhana namun mendasar mengenai manusia dan peradabannya diajukan oleh Sejarawan itu dalam bukunya. Ada satu pertanyaan yang menggelitik hati gue dalam buku tersebut yaitu, apakah manusia semakin bahagia seiring berjalannya waktu? Dan gue berani ngejawab, iya.


Apa alasannya? Bukannya hidup lo makin ke sini makin sengsara? Lo diusir sama Nyokap lo, adik yang paling lo sayangi ngehajar elo, dan yang terpenting, cinta lo enggak berjalan mulus! Bahagia apanya?


Man, gue kasih tahu aja, ya. Bahagia itu tergantung kita memandang gimana tentang kehidupan ini, dan kuncinya cuma satu, bersyukur. Gak ada yang lain. Itu menurut gue, lo mau sependapat atau enggak, terserah, gue gak maksa.


Apa yang terjadi pada gue sekarang mungkin itu sudah ketetapanNya. Gue tinggal jalanin dengan ikhlas. Toh, gue masih dikasih sehat, dikasih hidup juga buat terus memperbaiki diri. Dan gue bahagia. Pertanyaan Harari, si penulis buku itu, bisa gue jawab dengan yakin.


Hari semakin siang, baju temen-temen gue gak ada satu pun yang bersih, mungkin cuma baju gue doang. Gue sempet denger celetukan temen-temen gue, "Si Marko sok alim sekarang."


"Sekarang dia udah jadi klan anak-anak mushola."


"Aneh, bukannya dia non muslim?"


Ah, bodo amat mereka mau bilang apa tentang gue, terserah dah, gue gak mau dengerin.


Gue berdiri bengong di depan kelas yang sekarang udah kosong ditinggalkan penghuninya. Gak nyangka, gue mau ninggalin kelas ini selamanya. Masa paling indah dalam kehidupan ini akan berlalu dan enggak akan pernah kembali. Lalu kehidupan yang lebih berat akan menyapa. Penuh tantangan, misteri, dan kejutan. Apa gue siap?


Gue mendengus sedih. Setelah dewasa nanti, apa yang paling lo inget tentang masa ini, Ko? tanya gue sama diri sendiri.


SARA.


Masa SMA gue, habis hanya untuk mencintai seorang gadis secara diam-diam. Kemudian di saat-saat terakhir, cinta itu terucapkan, tapi dengan cepat pula cinta itu harus diterbangkan dengan paksa. Namun, gue gak nyesel karena cinta itulah yang mengenalkan gue pada cinta sejati, yaitu Tuhan gue sekarang.


"Makasih banyak, Sar," ucap gue lirih. Gue menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan supaya air mata gue enggak terjun.


Ketika gue baru mengayunkan kaki meninggalkan tempat itu, gue melihat Sara berjalan ke arah kelasnya. Dan gue salah, ternyata yang bersih bukan cuma baju gue, tapi bajunya Sara juga.


Langkah Sara terhenti saat ngelihat gue. Dia seperti bingung antara mau menghidar atau tetap diam.


Gue berjalan menghampiri bidadari gue itu.


"Jangan menghindar, Sar, aku udah lihat kamu," kata gue saat sudah berada di depannya. Sara mengerjap lantas menundukkan kepala.


"Marko, maaf aku harus ke kelas," katanya. Dia melangkah, tapi gue hadangin. Alhasil dia kembali mundur. Sekarang dia mendongak menatap gue.


Ketika sorot mata itu gue lihat lagi, gue yakin atas apa yang gue lihat. Mata itu berbicara rindu, bicara cinta, namun ada sebuah ketakutan yang teramat dalam di sana. Ah, Sara, kamu bikin aku pengen meluk aja.


"Sar, mungkin hari ini akan jadi hari terakhir kita ketemu. Jadi, biarkan aku lihat kamu lebih lama lagi."


Sara mengerjap. Perlahan gue lihat mata doi memerah.


"Aku sedih kamu terus ngehindar, aku kangen banget sama kamu, Sar."


Sara nunduk lagi, dan gue lihat setetes kristal bening jatuh dari matanya.


"Kamu inget janji aku dulu, kan? Kamu nyuruh aku nunggu kamu, dan aku berjanji akan nunggu kamu, berapa pun lamanya."


"Enggak, Ko, lupain pembicaraan itu! Aku enggak serius waktu itu."


"Buat aku itu serius! Aku akan nunggu kamu walau sampai dua puluh tahun."


"Jangan gila, Ko. Aku mau kamu jalanin hidup kamu dengan baik, jaga ibadah kamu, dan cari wanita lain selain aku!"


"Semuanya akan aku lakukan, kecuali yang terakhir!"


Air mata Sara menetes lebih deras, dan sekarang dibiarkannya mengaliri pipi tanpa dia hapus.


"Lusa kamu akan menikah, kan?"


Sara terenyak kaget. "Kamu tau dari mana?"


"Enggak penting aku tau dari siapa. Sar, kamu masih bisa menolaknya, mumpung belum terlambat."


"Menolak? Jika aku bisa, aku udah lakuin dari dulu, Ko. Tapi semuanya enggak sesederhana seperti yang kamu pikirin! Enggak ada yang bisa ngerti dengan posisi keluarga aku saat ini, jadi aku mohon, kamu jangan deketin aku lagi." Sara menghapus air matanya dengan kasar.


"Oke aku emang enggak ngerti, Sar. Tapi kamu harus ingat janji aku ke kamu! Janji itu berlaku selamanya!"


Gue berbalik meninggalkan Sara. Mungkin dia akan menangis lagi di sana sendirian.


Sar, aku enggak main-main dengan janji ini, malaikat mencatatnya!


***


Dan bumi pun berputar ....


Gue masih tinggal di pondok Habib Huza. Sambil menunggu hasil SBMPTN, kalau sore gue mengajari santri-santri cowok matematika. Cuma itu ilmu yang bisa gue kasih ke mereka, karena itulah keahlian gue. Kemudian sehabis magrib, gue ikutan belajar mengaji sama mereka, dan setelah subuh ikut kajian. Menarik banget hidup gue sekarang.


Lalu gimana dengan Sara? Entahlah ... mungkin dia sudah menikah. Terakhir ketemu dia di sekolah waktu kelulusan. Dan gue ninggalin dia yang tengah menangis. Setiap malam, sebelum tidur, gue berdoa mudah-mudahan ada satu waktu yang bisa mempertemukan kita lagi. Kapan pun itu.


Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara penyambutan hari-hari penuh rindu. Dan itu memang benar adanya. Lo tahu gimana rasanya rindu? Itu sakit banget.


Ketika lo ingin melihatnya, ingin menyentuhnya, tapi enggak ada yang bisa lo lakuin selain diam dengan hati yang perih. Dan itu setiap hari gue alamin. Kalau gue bahas tentang rasa ini, enggak akan ada habisnya. Entar lo bosen bacanya. Jadi biarkan gue aja yang ngerasain, lo jangan, berat. Hehehe.


Hari-hari berganti, dan sekarang adalah hari pengumuman SBMPTN. Kemarin gue ikut tes di beberapa panlok, dan di panlok tempat gue tinggal, gue cuma memilih satu prodi, yaitu kedokteran, pilihan 2 dan 3 gue kosongin. Gue juga ikut tes di panlok dua yaitu Bandung, tepatnya di ITB dan memilih prodi FMIPA, buat jaga-jaga kalau gue enggak dapet di panlok pertama. Udah pasti kan saingannya berat dan banyak banget. Kemarin Bokap juga nyaranin gue ikut tes di panlok tiga, di Jogja UGM ngambil prodi hukum, tapi jelas hukum itu bukan passion gue.


Sekarang laptop sudah menganga di hadapan gue, dan gue pastikan jaringan internet lancar jaya. Gue deg-degan banget nih, kayak waktu mau ketemu Sara dulu, hehehe.


Perlahan gue ngelihat nama-nama yang lolos di panlok pertama. Dan ... akhirnya gue nemuin ada nama gue di situ. Saat itu juga gue langsung sujud syukur. Gue penasaran, gue cek juga di panlok kedua, nama gue juga nangkring di situ. Man, gue lolos dua-duanya! Ah, otak gue ini emang bisa diandelin banget, hahaha.


Namun, setelah itu, gue malah bingung sendiri. Gue bingung mau pilih yang mana. Kedokteran itu keren, tapi MIPA favorit gue. Dan setelah diskusi sama Habib, Bang Syahrul, dan tentunya Bokap. Akhirnya gue pun memilih kedokteran, alasannya biar gue enggak jauh-jauh harus ke Bandung. Semoga langkah yang gue ambil diridhoi oleh Allah, ya, aamiin.


Setelah itu lembaran baru, fase baru, akan gue jalanin. Live begin at 18. Gue harus nyingkirin pola pikir childish yang selama ini menghinggapi otak gue, dan gue juga harus punya target yang lebih jelas. Lo bukan anak SMA lagi. Sekarang saatnya lo serius mikirin masa depan lo. Mendadak sisi lain dari gue seperti sedang memotivasi dan menasihati diri gue sendiri. Gue seperti sedang berbicara jauh ke dalam lubuh hati mengingatkan akan sesuatu yang salah.


Yeah. You right my other side!


Semenjak diusir dari rumah, gue emang enggak pernah ketemu lagi sama Nyokap. Menurutnya, kesalahan gue ini fatal banget, dan enggak bisa dimaafin. Sepupu-sepupu gue juga pada nyumpahin gue di media sosial. Mereka ramai-ramai ngeblok gue. Kekuatan gue saat ini cuma satu, yaitu Bokap.


Gue bersyukur mempunyai Bokap seperti dia. Pa, Marko janji, Marko enggak akan ngecewain Papa. Marko akan jadi anak kebanggaan Papa.


Terima kasih, Papa udah ngedukung Marko.


***