
Gue memandang dari luar gerbang rumahnya Sara. Tapi kok sepi? Gue mencoba bertanya pada orang yang kebetulan melintas, setelah gue tanya, mereka pada gak tau. Kemudian ada salah seorang tetangga Sara keluar dengan motornya. Kemudian cepat-cepat gue menghampirinya.
“Mbak, maaf ganggu sebentar.” Dia menoleh, melihat gue dari atas sampai bawah.
“Maaf ada apa, ya?” tanyanya.
“Maaf saya mau tanya, penghuni rumah ini kemana ya? Kok, kelihatannya sepi?”
“Oh, mereka sudah pindah, enggak tinggal di sini lagi sejak Pak Amar meninggal dua tahun lalu. Sekarang rumah ini milik mantan suaminya Dek Sara, tapi enggak tau kenapa dibiarkan kosong.”
“Pindah? Pindah kemana ya, Mbak?”
“Dengar-dengar sih ke daerah Pejaten?”
“Apa?” Gue kaget banget ternyata Sara selama ini tinggal sewilayah sama gue.
“Mbak, tau alamatnya?”
“Wah, kurang tau saya.”
“Oh, gitu, makasih, Mbak.”
Dia mengangguk lalu pergi dengan motornya. Cepat-cepat gue pergi dari sana. Pokoknya gue harus menemukan alamatnya Sara. Bagaimanapun caranya gue harus dapetin!
Saat udah di angkutan umum, gue mangambil hape di saku celana, mencoba menghibungi Zulfa temannya Sara, mudah-mudahan nomornya enggak ganti. Setelah gue hubungi ternyata enggak nyambung. Zulfa ganti nomor.
Gue mendengkus frustasi memasukan kembali hape ke saku.
Saat gue jalan di gang menuju pondok, gue lihat di depan gerbang ada seseorang yang rasanya gue kenal. Gue berhenti sebentar melihat orang itu, tanpa diduga dia nengok. Ternyata dia Andika Suroto.
Senyum dia merekah melihat gue datang. “Markooooo,” serunya. Dengan agak malas gue menghapirinya. Ngapain dia ke sini? Jujur aja, setelah konflik hebat di antara kita waktu itu, gue beneran udah ilang feeling sama dia.
“Akhirnya lo dateng juga, Ko. Susah payah loh gue dapet alamat pondok ini.”
Gue tersenyum hambar. “Mau apa ke sini, Dik?”
Dika mengerjap, terlihat canggung. “Gue ke sini, pengen ketemu elo, Ko," katanya sambil nunduk.
Gue melihat Dika dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia berpakaian necis, seperti orang kantoran. Kayaknya dia sekarang sudah sukses.
Gue ngangguk. “Ya udah, yuk kita masuk.”
“Enggak apa-apa nih gue masuk?” tanya Dika sambil melongokkan kepala ke dalam gerbang.
“Enggak, tenang aja. Sekalian lo solat magrib di sini. Bentar lagi magrib, kan.”
Dika mengangguk. Dia kayak yang aneh gitu denger gue mengatakan solat magrib.
Setelah kita di kamar, Dika meneliti seluruh sudut kamar sempit gue. Gue emang dari awal menempati salah satu kamar buat Gus. Itu semua berkat kebaikannya Habib dan Umi.
“Ko, semua ini buku-buku lo?” tanya Dika sambil melihat satu dinding penuh yang gue sulap jadi perpustakaan mini.
“Lo pikir buku siapa? Iyalah buku gue.”
“Lo udah baca semuanya?” tanyanya takjub.
“Udah. Tapi yang sebelas sono belum semua,” kata gue sambil menunjuk satu sisi.
“Gila, dari dulu elo emang gak berubah, monster buku!” seloroh Dika. Gue tergelak.
Yah, gak salah, dia emang si Dika sahabat gue. Dari cara dia ngomong, gestur tubuh, dan dialek yang dia gunakan, Dika abis. Hahaha.
“Oh iya, kemarin elo jalan sama dokter Linda, emang elo siapanya dia? Pacarnya?”
Gue penasaran dari kemarin sebenarnya, tadi pagi gue gak sempat nanya-nanya waktu rumah sakit sama teman sejawat gue itu.
“Pacarnya?” Dika malah balik bertanya. Setelah itu dia tertawa. Loh, ada yang salah emang sama pertanyaan gue? Kenapa si kampret ini malah ketawa?
“Gue suaminya!”
“Hah? J_jadi elo udah nikah?” tanya gue kaget.
Speechless banget gue dengernya. Sumpah, gue kira dokter Linda masih gadis, ternyata dia istri orang yang paling dekat sama gue.
Andika. Waaah!
“Udah. Elo sih ngilang, jadi gak gue undang.”
“Kapan?”
“Belum lama, sekitar enam bulan yang lalu.”
Ah, iya gue inget sekarang. Waktu itu dokter Linda cuti seminggu, ternyata dia cuti nikah, tapi kenapa dia enggak ngundang gue? Dasar, mereka pasangan suami istri terkampret emang.
“Gue ikut seneng, Dik. Selamat ya, lo berhasil dapetin dokter Linda. Dia itu salah satu most wanted di fakultas, tauk.”
“Hahaha, jurus gue emang mematikan. Lo kenal gue, kan? Buat gue, dapetin cewek itu gampang. Ya ... mungkin kecuali si Sara.”
Mendengar nama itu disebut, hati gue mendadak mendung. Nampaknya Dika menangkap perubahan itu dalam sorot mata gue.
“Kenapa, Ko? Sekarang giliran elo gue introgasi.”
“Introgasi? Lo kata gue tahanan!” Dika tertawa.
“Ceritain sama gue, Ko, kenapa lo tiba-tiba terdampar di pondok ini? Gue yakin cerita di baliknya ada hubungannya dengan nama yang barusan gue sebutin.”
“Maafin gue, Ko.” Dika berkata dengan suara bergetar. Dia ngelepas pelukannya. “Gue ngerasa salah banget dulu lo gue keroyok, elo gue gebukin sampe hampir mati. Ternyata cinta lo buat Sara seserius ini. Elo sampe ngambil jalan kayak gini. Sumpah, itu gila menurut gue. Dan keluarga lo__nyokap lo, ngebuang elo, Ko!” Dika ngelumat bibirnya sambil meremas tangan gue. “Yang gue tau nyokap lo itu sayang banget sama lo.”
“Mungkin karena dia sayang banget sama gue, jadi waktu gue mualaf dia ngerasa dihianatin abis-abisan makanya dia ngebuang gue.”
“My God ...," lirih Dika. "Dan selama ini lo ngerasa baik-baik aja?”
tanyanya.
Gue nunduk lagi. “Kata siapa gue baik-baik aja, Dik? Itu sakit banget! Lo bisa bayangin saat lo kangen keluarga lo, tapi saat elo pulang, lo malah diusir, digoblok-goblokin. Lo marah, sedih, tapi gak tau mesti ngapain. Pencapaian yang udah lo raih seketika terasa sia-sia, perjuangan lo meraih semua yang udah lo genggam sekarang, itu seperti kosong, gak ada artinya sama sekali!” Air mata sialan ini tiba-tiba terjun bebas ke pipi. Dika kembali menarik gue ke pelukannya. Menepuk-nepuk bahu gue.
“Ko, izinkan gue jadi keluarga lo, izinkan gue jadi sahabat lo lagi. Gue mohon!”
Mendengar Dika berkata seperti itu, hati gue jadi melow ******. Gue sedih campur seneng.
Dika ngelepas pelukan. “Gue harap hubungan kita bisa kembali kayak dulu, Ko.”
Gue memandang mata laki-laki dewasa di depan gue. Sekarang Dika bukan ABG lagi, dan juga dia sudah menjadi seorang suami.
Perlahan gue menganggukan kepala. Bersamaan dengan itu azdan magrib berkumandamg di mesjid pondok.
“Udah magrib, Dik. Kita solat yuk.” Gue bangkit disusul Dika.
“Makasih, Ko,” katanya sambil tersenyum haru. Gue pun membalas senyuman itu.
***
Setelah solat magrib dan mengaji sebentar, kemudian dilanjut oleh solat isya, obrolan gue sama Dika bersambung, dan sekarang ditemani sama Bang Syahrul juga. Dia datang ke pondok menanyakan perihal rencana gue ngelamar Sara. Dika yang memang belum tahu perihal itu terkaget-kaget.
“Ko, gue enggak salah denger, kan? Tadi lo enggak nyinggung-nyinggung masalah lamaran.”
Gue sama Bang syahrul tersenyum geli melihat ekspresi Dika yang kaget bercampur bingung.
“Ini masih rencana, Dik. Gue juga belum ketemu sama Sara lagi, tadi sore abis dines gue ke rumahnya, tapi Sara nya udah pindah. Dan kata tetangganya, dia pindah ke daerah sini. Rencananya gue mau nyari ini juga, tapi kalau enggak ketemu juga mungkin nanti nungguin dia periksa lagi ke dokter Ana hari jumat besok.”
“Periksa? Sara sakit, Ko? Sakit apa? tanya Bang Syahrul. Gue terdiam sejenak. Membocorkan penyakit pasien ke sembarang orang itu melanggar kode etik, apalagi bisa dibilang saat ini Sara adalah pasien gue.
“Enggak, dia gak apa-apa kok,” jawab gue. Dika dan Bang Syahrul ngelirik gue curiga.
“Sumpah ya, enam tahun enggak ketemu elo, gue banyak banget dapetin berita ngagetin kayak gini. Sukses, Bro, gue doain semoga lancar semuanya, dimudahkan semuanya. Elo sama Sara tuh, kalau kata gue, pasangan yang cocok. Lo gak tau aja dulu gue jeles banget tiap ngeliat lo jalan berdua sama dia. Tapi gue enggak seekstrim si Vita sih, lo masih inget kan sama dia? Cewek yang cinta ****** sama lo itu? Dia sampe ngeludah jijik tau gak, lo!”
“Hahaha, iya gue tau kalau soal itu. Apa kabar dia sekarang, ya?”
“Gue denger dari anak-anak, sih, sekarang dia stay di New York. Gak tau udah merid belum.”
Obrolan kita terpotong oleh bunyi hapenya Bang Syahrul. Bang Syahrul bangkit dan pergi buat mengangkat teleponnya. Sesaat kemudian dia kembali. “Ko, saya pulang dulu ya, barusan istri telepon, si sulung pengen murojaah sama abinya katanya.”
“Oh, gitu, ya udah Bang, hati-hati ya. Awas ban motornya kempes lagi.”
“Enggak lah, udah saya ganti sama yang tahan paku.”
“Alah, bisa aja.”
Bang Syahrul ketawa, lalu pamit ke gue dan Dika. Setelah Bang Syahrul pergi, giliran hape si Dika yang bunyi. “Linda, Ko, bentar gue angkat dulu ya.”
Dika bicara di telepon. “Halo, sayang?”
“ ... “
“Iya, bentar lagi ini juga mau pulang, kok,” katanya sambil ngelirik gue .
“ ... “
“Iya-iya nanti aku beliin, love you.” Dika menutup telepon.
“Anjir pengantin baru, love you-love youan segala. Bikin jeles aja sih, lo!”
“Haha, makanya lo buruan nikah. Nikah itu enak tau.”
“Haha. Doain.”
“Koas lo dua bulanan lagi kan, sama kek istri gue?”
“Iya.”
“Semoga lancar semuanya, Ko. Dan lo secepatnya bisa halalin si Sara.”
“Kasih, Dik. Ya udah sana lo pulang, bini lo nungguin!”
“Iya, Ko, gue pulang dulu kalo gitu. Kapan-kapan lo main ke rumah gue, gue tunggu pokoknya.”
“Sip.”
Setelah Dika pulang, giliran gue yang galau sendirian di kamar memikirkan nasib gue kedepannya. Dika dan Bang Syahrul sukses bikin gue jeles. Mereka sudah menemukan dermaganya. Kapal mereka sudah berlabuh dan menancapkan jangkarnya ke dasar lautan dengan kokoh.
Sedangkan gue masih berlayar dan berharap menepi di dermaga yang bertahun-tahun gue tuju, namun masih terhalang kabut, pandangan gue mengabur, berharap kali ini kabut itu lenyap, dan gue bisa menuju dermaga itu tanpa hambatan.
***
Dokter Marko