Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 19



--Pov Naira--


'Abang jahat padaku, apa Abang gak tau aku menyukai Abang? Dasar gak peka! Taukah, Bang? Di setiap doaku selalu nama Abang yang aku sebut setelah Umi dan Abi? Abang yang aku inginkan, bukan Gus Lutfi, tapi kenapa Abang tega selalu menjodohkan aku dengannya? Nyebelin banget, tauk!'


"Nai, sudah kamu kasih sarapannya Bang Marko?" tanya Umi.


"Udah, Mi."


"Eh, kenapa kok, kamu cemberut begitu? Bang Marko jailin kamu lagi?"


"Iya. Aku sebel sama dia, Mi. Kenapa sih, dia jodohin aku sama Gus Lutfi mulu!"


Umi malah tersenyum mendengar keluh kesahku. "Nai, coba jujur sama Umi, kamu suka ya sama Bang Marko?"


Ah Umi, pertanyaan apaan tuh? Bikin aku malu aja. Pasti Umi lihat mukaku udah kayak tomat ranum. Melihat ekspresi Umi yang tersenyum geli, pastinya dia udah tahu isi hatiku.


Aku menghampiri Umi lalu memeluknya. "Nai, menyukai Bang Marko, Mi. Apa dosa aku kayak gini?"


Umi mengusap-usap kepalaku. "Perasaan cinta itu bukan dosa, Nai. Yang dosa itu pacaran. Jadi kamu jangan coba-coba pacaran, mengerti!"


Aku melepas pelukan. "Ya enggak dong, Mi, aku juga udah tau."


Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Yang pasti setiap ada Bang Marko hatiku senang, aku ingin selalu melihatnya, dekat dengannya.


Aku kagum dengan kecerdasannya, kagum dengan tutur katanya, sikapnya yang menghormati, dan kesolehannya. Aku tahu dari Abi ternyata dia seorang mualaf, mungkin dari sana perasaan ini muncul.


Setiap hari perasaan ini seperti terpupuk dengan sendirinya, sehingga aku tidak kuasa untuk menahanya tumbuh subur di hatiku. Seperti luapan air yang membanjir dari hulu menuju hilir tanpa bisa ditahan oleh apapun.


Kulihat buku-buku di rak yang Bang Marko kasih. Setiap buku yang dia kasih, selalu kutulis 'Wahai ... calon imamku,' di akhir halaman. Bang Marko tidak tahu aku menuliskan itu.


Oh, Allah, jika Bang Marko memang baik untukku tolong dekatkan, tapi jika dia buruk untukku, tolong berbaiki sehingga menjadi baik. Aku percaya jodoh, setiap manusia mempunyai jodohnya masing-masing. Aku seharusnya tidak perlu khawatir, dan jodoh adalah cerminan diri kita. Ya Allah, aku akan berusaha memantaskan diri untuknya, aku akan selalu memperbaiki diriku setiap hari.


Semoga Engkau memilihkan dia sebagai jodohku.


***


POV Marko.


Pertemuan dengan Sara di rumah sakit sukses bikin gue gak bisa memejamkan mata malam ini. Melihat air mata itu menetes lagi membuat hati ini seperti tertusuk. Kenapa pertemuan kita di hadapkan dengan semua ini? Ini sungguh berat untuknya.


God, wanita sesempurna dia kenapa Engkau titipkan cobaan sedahsyat ini? Tadi siang Sara bercerita, sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, Pak Tengku dan keluarganya memperlakukannya sangat tidak baik. Anaknya yang punya kelainan fisik dari lahir pun tidak sanggup bertahan karena penyakit bawaan lahirnya.


Waktu mengandung anaknya, Sara masih tujuh belas tahun. Dia masih di bawah umur saat itu. Dan kehamilan di bawah umur sangat-sangat berisiko karena bisa membahayakan ibu dan bayi. Rahim Sara belum siap, namun tiba-tiba benih hadir di sana.


Perkembangan janin pun tidak maksimal, akhirnya Sara melahirkan prematur, dan anaknya memiliki penyakit bawaan. Gue sempat ada feeling, sakitnya Sara sekarang itu ada pengaruhnya dari sana.


Di saat Allah memberinya cobaan sedahsyat itu, dia masih mampu menyunggingkan senyumnya. Ah, Sara, semoga setelah ini, kamu enggak akan meneteskan air mata lagi. Gue janji sama kamu dan sama diri gue sendiri akan membawamu ke alam kebahagiaan. Kita akan hadapi semuanya dari awal.


Bumi tidak pernah khawatir manusia terus membuang airnya sia-sia, karena hujan akan siap mengganti. Jadi jangan khawatir, Sar. Ada gue di dunia ini siap mengganti yang telah hilang.


Tunggu aja setelah program koas ini selesai, gue akan membawamu ke pelukan. "Pelukan", sesuatu yang sangat gue harapkan dari dulu. Semoga gue secepatnya bisa meluk kamu, Sar.


Meredakan gundah, meredakan rasa sedih, dan meredakan rasa rindu yang sudah mengakar ke hati yang paling dalam.


"Gue harus minta bantuannya Bang Syahrul, nih."


Gue mengambil hape di atas meja kerja lalu menelepon Bang Syahrul.


"Assalamualaikum, Ko?" sapa Bang Syahrul.


"Walaikumsalam, Bang, udah tidur, ya? Maaf nih udah gue gangguin, hehe."


"Enggak, Ko. Saya baru selesai murojaah sama si sulung. Ada apa, Ko?"


"Bang, besok gue maen ke warung Abang sepulang dari rumah sakit, ya."


"Weleh tumben, ada apa, nih?"


"Entar aja besok gue omonginnya, sekarang Abang istirahat, dah. Assalamualaikum."


"Waikumsalam."


Ah, kenapa mgedadak deg-degan gini, ya? Baru juga rencana tapi udah kayak gini.


Ya Robb, ridhoi niat baikku ini. Aku mohon! Engkau pasti bosan aku selalu mendoakan orang yang sama selama bertahun-tahun. Tapi aku percaya pada ketetapanMu. KataMu, orang yang berdoa akan lebih dekat denganMu. Selama ini aku sudah melakukannya. Sejak memutuskan tunduk padaMu, semua perintahMu aku lakukan tanpa bosan, dan semua yang Engkau larang aku jauhi, sekarang aku ingin Engkau memenuhi keinginanku yang selama ini aku mohonkan padaMu. Yaitu Sara.


***


"Kalau si Arka di sini sekarang, pasti dia seneng banget, Ko. Kapan rencana kamu lamar dia?"


"Belum tau, Bang. Gue sih pengen dalam waktu dekat ini, biar nanti selesai koas, gue langsung bisa nikahin dia. Tapi gue harus diskusi dulu sama Papa, nih. Bokap gue orangnya demokratis, dia pasti setuju aja, sih. Kalau Nyokap gak tau deh, gue gak bisa menerka-nerka."


Bang Syahrul menepuk bahu gue. "Ko, Ibumu wajib tau dengan rencana ini. Walaupun dia begitu, dia tetap ibumu, orang yang udah ngandung dan ngelahirin kamu."


"Iya, Bang, gue pasti ngasih tau dia."


"Kamu udah makan, Ko?"


"Belum, nih."


"Ya udah sana makan, jadi dokter itu gak boleh lupa makan. Entar gimana mau meriksa pasien kalau dokternya aja sakit."


"Iya, Bang. Makasih, ya."


Gue ngambil piring ke belakang warung nasi Bang Syahrul, lalu mengambil nasi dan menu sesuai keinginan. Kemudian duduk lagi di samping Bang Syahrul.


"Ko, maaf ya, saya mau nanya yang ... agak pribadi, nih."


"Santuy, Bang, tanya aja."


"Emang kamu beneran mualaf itu karena Qaisara?"


Gue menelan makanan agak kesusahan. Kemudian mengambil air dan meneguknya agar mengalir ke perut. Jujur aja agak kaget juga Bang Syahrul nanya kayak gitu. Apa Bang Arka yang bilang, ya?


"Bang, berkat dia gue bisa menemukan apa yang gue cari-cari selama ini, mencintainya membuat gue menemukan cinta sejati yaitu Allah, berkat dia juga kegundahan hati ini lenyap, Bang. Sara itu segalanya. Sejak kelas 1 SMA gue udah menyukai dia sampe sekarang. Abang bisa bayangin gimana sakitnya hati gue dia nikah sama orang lain. Sekarang dia udah sendiri, saatnya gue maju dapetin dia. Gue gak peduli dia janda atau bukan. Yang penting buat gue, dia adalah Sara."


Bang Syahrul ngangguk-ngangguk terharu sama jawaban gue kayaknya. "Si Sara emang cantik anaknya, hehehe," seloroh Bang Syahrul.


"Ya elah, Bang, gue juga tau dia cantik, hehe."


"Jadi kapan kamu mau bilang sama Papa Mama kamu."


"Entar malem kayaknya. Abis dari sini gue mau langsung cabut ke rumah."


"Good luck, Ko."


***


Sesampainya di rumah, ternyata orang-orang enggak ada. Gue masuk ke dalam, ternyata di sana cuma ada Mbak Lia--ART baru--sama Pak Gani.


"Den Marko, tumben ke sini?" tanya Pak Gani.


"Saya mau ketemu Mama sama Papa. Kemana mereka, Pak?"


Pak Gani terlihat gundah, dia menggigit bibir, bingung mau menjawab apa.


"Kemana, Pak?"


"Nyonya sama Tuan lagi ke kantor polisi, Den."


"Hah? Ngapain?" Gue kaget.


"Den Brian, tadi siang ketangkap polisi pake narkoba."


"Apaaaaa!?" Jantung gue rasa mau copot. Astagfirallah Brian kenapa jadi begini sih, lo? Emang semenjak lulus SMA pergaulan dia semakin enggak bisa dikendaliin lagi, tapi gue gak nyangka dia ngobat.


Sedih banget sumpah.


"Pak, mereka di kantor polisi mana? Saya mau ke sana."


"Di Polda. Yuk, saya antar, Den."


"Gak apa-apa nih, Pak?"


"Gak apa-apa. Yuk, Den."


***