Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 12



Pov Sara


Ada seorang kaum Adam yang memberiku banyak cinta, yaitu lelaki yang berusaha mencari jalan kehidupan baru dengan mengenal Robb-ku. Pemuda yang direbutkan wanita-wanita di sekolahku karena tampang bulenya yang rupawan, seorang pemuda yang selalu menatapku diam-diam, seorang pemuda yang telah menyimpan rasa cintanya selama tiga tahun, seorang pemuda yang tiba-tiba bermimpi tentang diriku. Marko Jefford Kendward.


Dengan sangat jelas aku bisa merasakan cinta yang dipancarkan dari hatinya. Lalu bagaimana jika saat itu tiba? Saat aku dipersunting oleh lelaki lain? Bagaimana dengan hatinya? Oh Allah ... aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakit dan hancurnya dia nanti. Sedangkan garis takdirku sudah jelas. Aku harus menikah dengan Pak Teungku.


Saat ini orang tuaku sedang bertandang ke rumah Pak Tengku dan Bu Rahma untuk membicarakan rencana pernikahan. Sedangkan yang bisa aku lakukan sekarang cuma bersimpuh di atas sajadah, dan berdoa sebanyak-banyaknya di sujud terakhirku. Semoga Engkau membelokkan sedikit saja jalan takdirku. Entah bagaimana caranya terserah Engkau ya Allah. Aku ingin Marko, aku ingin bersamanya, aku mohon Engkau jangan cemburu terhadapnya, karena rasa cintaku untukMu telah terbagi kepadanya.


Aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Apakah Ayah dan Ibu sudah pulang? Aku deg-degan, takut mereka membawa kabar pernikahan apapun itu. Ya, kabar tentang pernikahanku bagiku selamanya akan menjadi kabar buruk, walaupun itu baik sekali pun.


Aku melepas mukena dan melipatnya dengan rapi, memakai kerudung, dan keluar kamar. Ternyata yang datang bukan Ayah dan Ibu, melainkan Kak Arka.


"Sara, kamu belum tidur?" tanya Kak Arka saat melihatku.


"Iya, Kak. Aku nunggu Ayah dan Ibu pulang."


"Emang mereka ke mana?"


Aku merundukkan kepala. Dan Kak Arka mengerti, dia tidak bertanya lagi. Kak Arka pergi ke kamarnya.


"Kok, jam segini baru pulang?" tanyaku saat Kak Arka akan membuka pintu kamar. Kak Arka menoleh. "Iya, tadi ada urusan sebentar ke pondok Habib Ahmad Huza."


"Ngapain?" tanyaku.


Kak Arka membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Aku mengekornya ke dalam kamar, duduk di tempat tidur Kak Arka.


"Kamu, gak akan percaya, Sar. Tadi kakak, nemenin temen mualaf ke sana," terang Kak Arka sambil melepas baju kemejanya dan menyisakan kaus oblong yang dipakainya sebagai dalaman.


"Oh, ya?" Mendengar ucapan Kak Arka, aku jadi teringat Marko. Tadi sore dia bilang akan mualaf malam ini. Aku belum menghubunginya dan menanyakan perihal itu.


"Dia pemuda yang spesial buat kakak, Sar. Kakak suka sama dia. Namanya Marko."


Deg! Hatiku serasa dihantam helium.


"M_Marko, Kak?" tanyaku kaget becampur senang. Apa jangan-jangan, yang dimaksud Kak Arka adalah Marko-ku?


"Iya, Marko. Tadi apa ya nama panjangnya, lupa, kakak."


"Marko Jefford Kendward?" tanyaku memastikan.


"Iya, itu dia. Susah banget namanya. Loh, kamu kenal dia?"


Aku tidak sanggup berkata-kata mendengar kabar ini. Bibirku bergetar, tiba-tiba air mata bahagia membuncah dari mataku. Kak Arka bingung melihatku menangis. "Kamu kenapa, Sar?" Kak Arka menghampiriku, menyentuh pundakku. Sedangkan aku malah menutupi wajahku dengan kedua tangan dan meluapkan tangis bahagiaku sepuasnya.


Setelah sedikit tenang, aku melepaskan tangan dari wajahku, dan menatap Kak Arka dengan mata yang basah.


"Kak, aku seneng banget denger kabar ini. Demi Allah, aku seneng banget. Marko adalah temen aku, Kak."


"Hah? Yang bener kamu?" Kak Arka terlihat kaget. Aku mengangguk.


"Apa jangan-jangan kamu adalah cewek yang dimaksud Marko?"


"Maksud Kakak?"


"Iya, dia pernah bilang sama kakak, kalau dia tertarik sama Islam karena cewek yang dicintainya. Marko belajar Islam dari dia."


"Dia bilang gitu?" Aku merasa pipiku menghangat. Seneng banget dengernya. Kak Arka ngangguk.


"Dia pernah ikut solat magrib berjamaah walaupun dia masih non muslim, kan?"


"Haha, iya bener tuh, dia solat sama kakak di mesjid deket kantor kakak."


Aku ikut tertawa. Ah, Marko, kamu sudah bertemu dengan orang yang tepat. Kamu bertemu kakakku, Ko. Apakah kebetulan ini mempunyai maksud, ya Robb? Apakah Engkau sengaja mempertemukan Marko dan Kak Arka?


Tawa Kak Arka memudar, dia berubah memandangku dengan tatapan sendu. Aku tahu betul apa yang ada di hatinya. "Kamu mencintai Marko, Sar?" tanyanya, yang membuat hatiku terimpit rasanya. Aku bergeming sesaat.


Kak Arka mendekat, lalu mendekapku. Aku yakin Kak Arka tahu isi hatiku. "Sabar, Sar. Kakak ngerti. Tidak ada yang sia-sia atas rencana Allah, Sar. Dia menggariskan ini buat kamu pasti ada maksud tertentu, dan suatu saat kamu bisa memetik maksud kebaikan Allah ini. Kakak cuma bisa berdoa buat kamu supaya kamu bahagia."


Aku tidak bisa berkata-kata. Hatiku sesak lagi, dan kini air mataku meluruh, bukan air mata bahagia, melainkan air mata kesedihan. Aku tahu, rencana Allah adalah sebaik-baik rencana. Namun, apakah harus dengan melukai hatiku? Melukai hati orang yang aku cintai juga? Ini manusiawi bukan? Aku cuma manusia biasa yang penuh dosa. Dan aku sangat bisa merasakan perasaan enggak adil kayak gini. Allah enggak adil terhadapku!


🍁🍁🍁


"Sara ...." Saat aku keluar dari kamar Kak Arka, ibu memanggilku. Aku tidak tahu kapan dia datang, aku tidak dengar mobil ayah kembali. Mungkin karena aku terlalu larut mengobrolkan soal Marko bersama Kak Arka.


"Ibu, kapan pulang?"


"Barusan ibu pulang," katanya. Ibu mendekat lalu memegang kedua tanganku. Tatapan matanya menyiratkan ... entahlah. Aku melihatnya seperti ada kebahagiaan, kekhawatiran, namun juga duka.


"Sara ... Pak Teungku sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian. Tepatnya seminggu setelah kelulusan sekolahmu."


Deg! Kini hatiku seperti dihantam balok beton berton-ton. Secepat itukah? Bahkan aku belum merasakan kebahagiaan bersama Marko. Dadaku seperti bergemuruh. Panas. Sesak. Aku benci dengan semua ini!


Aku Qaisara Azzahra, berhak juga untuk mencinta dan bercita-cita, bukan? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa harus aku? Oh, Allah ....


Air mata berhasil lolos dari pertahananku. Dan Ibu melihat itu. Tangan Ibu terangkat hendak menghapusnya, tapi aku segera berlari ke kamar. Menutup pintu serapat mungkin, berharap dunia menelanku saat juga. Aku ingin lenyap saja sekalian.


Aku melihat di ponselku ada tiga panggilan dari Marko, mungkin dia menelepon saat aku di kamar Kak Arka tadi. Tak lama aku melihat ponselku menyala, ada satu pesan WA masuk. Aku sudah tahu pesan itu dari siapa. Aku enggan membuka pesan yang akan membuat hatiku semakin sesak itu.


Mengingat pernikahan, seperti mengingat kematian buatku. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada cinta. Hanya suram dan gelap yang aku lihat. Apakah ini sebaik-baik rencana Allah untukku? Anak sulung Pak Teungku bahkan umurnya jauh lebih tua dariku. Lalu aku akan berperan menjadi ibu sambungnya? Apakah aku bisa? Apakah aku mampu? Memikirkannya saja aku seperti mau gila. Semua orang memaksaku menjadi dewasa sebelum waktunya. Sedangkan aku hanya gadis remaja yang ingin bermimpi.


Aku melihat ponselku kembali menyala. Pesan WA masuk lagi. Aku meraih ponselku dan membuka pesan yang semuanya dari Marko.


'Sara, aku telepon kamu, apa kamu udah tidur?'


'Sara, alhamdulillah aku udah mualaf nih, hehe. Lega rasanya. Aku bahagia banget, banget! Gak tau lagi gimana cara mengekspresikan rasa bahagiaku sekarang. Sara ... aku tau, setelah ini rintanganku akan semakin berat. Aku ingin kamu tetap di sampingku, mengajariku, menemaniku, kamu mau kan? Oh iya, Sar. Aku udah memikirkan permintaan kamu tempo hari tentang merubah nasib. Aku akan mengabulkannya, dan langkah yang aku ambil malam ini adalah baru awalnya. Setelah itu, kita lihat apa yang terjadi. Kamu siap-siap aja, ya.'


Aku membaca pesan itu beberapa kali untuk memastikan apa yang aku baca tidak keliru. Apa yang akan Marko lakukan? Enggak! Dia gak boleh melakukan hal-hal gila! Aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak mengangkatnya. Aku mencoba menghubunginya lagi, dan kali ini ada yang mengangkat, tapi bukan Marko, melainkan suara perempuan.


"Ha__lo ...." sapaku sedikit gugup. Apakah ini Mamanya Marko?


"Kamu Sara, ya?" tanyanya langsung.


"Iya, saya Sara, maaf ini dengan Mamanya Marko, ya?"


"Iya, saya mamanya. Markonya sedang mandi nih. Ada yang mau diomongin sama Marko, ya?"


"Ah, enggak, Tante. Enggak penting-penting banget kok, ya sudah kalo Markonya lagi mandi, saya tutup teleponnya ya."


"Mama ... ngapain megang-megang hape Marko!"


Sebelum aku menutup telepon, terdengar suara Marko di belakang sana.


"Eh, Sara. Markonya udah tuh mandinya. Kamu jadi mau ngomong sama dia?"


"Sar ...." Sebelum aku menjawab, rupanya hape sudah beralih ke tangan Marko.


"Halo, iya, Ko?"


"Tar, dulu ya Sar, Mamaku belum pergi dari kamar nih, aku tutup dulu teleponnya. Kamu jangan tidur dulu ya."


Klik. Telepon ditutup Marko.


Jujur, aku deg-degan banget bicara sama Mamanya Marko. Semoga enggak ada yang terjadi.


Namun, sekian lama aku menunggu, Marko tak kunjung menelepon lagi.


***