Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 20



Sesampainya di Polda, gue enggak ketemu sama Bokap, di sana cuma ada Nyokap yang sedang duduk termangu dengan raut wajah sedih dan bingung.


Perlahan gue mendekatinya.


"Ma," sapa gue setelah berada di sampingnya.


Nyokap mendongak, sorot matanya memancarkan rasa tidak suka melihat gue di sana.


"Ngapain kamu ke sini? Tau dari siapa Brian di tangkap?" sinisnya.


"Enggak penting Marko tau dari siapa, Ma. Gimanapun juga si Brian itu adik Marko, Ma. Dia satu-satunya sodara Marko di dunia ini."


Nyokap terenyak mendengar ucapan gue.


"Pergi! Mama gak mau liat kamu di sini," ucap Nyokap tajem banget, gue sampe merinding. Nyokap benar-benar udah ngebuang gue, Man. Sumpah, hati gue sakit banget. Lo tau rasanya kalau di paru-paru lo ada pecahan beling? Lo kesakitan, kan? Gak bisa napas, kan? Kurang lebih seperti itulah rasanya.


"Marko__pengen ketemu Brian sebentar, Ma." Gue sampe kesulitan buat ngomong menahan rasa sakit hati ini.


Sekali lagi gue bilang sama lo semua, dibuang sama ibu sendiri itu sakit banget. Sakit banget! Semua pencapaian yang udah lo raih, seketika enggak ada artinya kalau ibu lo enggak mau sedikit pun melihat semua itu.


Gue cuma mau berdoa semoga suatu saat pintu hati Nyokap kembali terbuka buat gue.


"Pergi!" Kini suara Nyokap agak tinggi. Gue gak kuat menahan lagi air mata jatuh ke pipi.


"Ma, Marko pengen ketemu Brian sekaliiii ini aja. Marko mohon, Marko mau suport dia."


Sesaat setelah gue bicara seperti itu, tiba-tiba si Brian keluar dari sebuah ruangan. Sepertinya dia baru selesai diperiksa.


Brian mematung di tempatnya berdiri melihat gue. Perlahan kaki gue melangkah mendekatinya. Gue tatap matanya yang sendu. Sorotnya bercerita betapa dia lelah dengan semuanya. Tanpa bicara lagi, gue langsung peluk adik gue yang paling gue sayang itu.


"Kenapa jadi begini sih, Bri? Gue sedih banget. Lo itu adik gue satu-satunya yang paling gue sayang sampe gue mati! Lo kuat, lo bisa menghadapi semuanya. Serahkan semuanya sama Tuhan, gue akan selalu suport elo, Bri."


Gak tahan rasanya, air mata ini mengalir lebih deras membasahi kaus yang dipake Brian. Gue peluk dia lebih erat lagi. Gue kangen banget sama dia, dan gue sedih ketika kita ketemu, malah di tempat dan di situasi enggak baik.


"Kenapa lo ke sini, Ko? Kenapa lo suport gue?"


"Itu pertanyaan *****! Kenapa lo bilang?" Gue melepas pelukan. "Karena elo adik gue! Elo keluarga gue, walaupun hubungan kita enggak baik beberapa tahun terakhir ini, itu enggak akan ngerubah fakta kalau kita itu memiliki darah yang sama."


Brian mengerjap. Perlahan gue lihat kedua mata Brian memerah, hidungnya pun memerah, dan tak lama kemudian setetes air mata mengalir ke pipinya.


"Gue denger lo udah jadi dokter, Ko," ucap Brian sambil terisak. Gue mengangguk, tangan gue terulur mengacak rambut Brian dengan sayang.


"Kalau lo sakit bilang sama gue, nanti gue periksa."


Brian mengangguk. Setelah itu dia menarik gue ke pelukannya. Dia menangis sesenggukan di bahu gue.


Ya Allah, aku mohon berilah hidayah buat adikku ini. Aku mohon.


Saat Brian memeluk gue, gue lihat Nyokap bangkit ninggalin kita berdua. Jika situasinya kayak gini, gue enggak bisa bilang mau ngelamar Sara sama Nyokap.


Mungkin besok ... besoknya lagi ... atau besoknya lagi.


Namun, kalau gue tetep diusir kayak gini, mungkin niatan ini takan terkatakan padanya. Maafin Marko, Ma.


***


"Ko, gimana lancar gak semalam?" Pagi-pagi sekali Bang Syahrul sudah telepon.


"Enggak, Bang. Keluarga gue lagi ngadepin masalah yang lumayan berat. Adik gue si Brian ditangkep karena narkoba."


"Innalilahi. Saya turut prihatin, Ko. Lalu rencana lo gimana?"


"Mungkin, gue enggak akan ngelibatin keluarga gue, Bang. Gue mau minta bantuan Habib dan tentunya Abang aja, nanti kalau nikah dan keadaan sudah agak membaik, gue akan libatin keluarga gue, walaupun gue gak yakin mereka mau gue libatin."


Bang Syahrul menghela napas. "Saya pasti bantu lu, Ko. Yang sabar ya."


Praaaaaaaangg.


Tiba-tiba di luar kamar terdengar sesuatu benda kaleng jatuh dan menimbulkan suara gaduh.


"Astagfirallah, bentar dulu ya, Bang, kayaknya ada sesuatu di luar."


"Naira ...!"


Gue lihat Naira terkejut pas gue membuka pintu. Rantang berisi nasi kuning untuk sarapan gue, berserakan di bawah.


Tanpa berkata apa-apa, Naira lari dari hadapan gue. Sepintas di matanya terlihat ada seperti genangan air mata.


"Kenapa tuh anak?"


Gue menunduk memungut rantang dan membersihkan nasi yang berserakan.


Gue tertegun sendiri. Apa Naira mendengar pembicaraan gue di telepon?


Setelah membersihkan kekacauan yang dibuat Naira, gue menyusulnya ke rumahnya yang masih dalam area pondok.


Namun, gue malah bertemu dengan ibunya.


"Naira-nya ada, Mi?"


Oh iya, gue emang selalu memanggil beliau Umi juga. Bukan apa-apa, itu karena permintaan dia sendiri, gue udah dianggap anak sama beliau.


"Naira? Bukannya dia mengantarkan sarapan buat Abang?"


Gue terdiam. Bingung sendiri jadinya. Ah, Naira kamu udah bikin Abang cemas.


"Tadi Naira memang ke kamar saya, Mi, tapi dia udah pergi." Rasanya gue enggak perlu mengatakan kekacauan yang sudah terjadi.


"Walah, kemana tuh anak."


"Ya udah, Mi, saya cari dia dulu."


Gue pergi mencari Naira ke seluruh area pondok, tapi tidak gue temukan.


Gue pun pasrah, sekarang sudah jam tujuh, harus siap-siap pergi ke rumah sakit.


***


--POV NAIRA--


Atmosfir di ruangan ini terasa tiba-tiba mengimpit. Tidak biasanya. Ini adalah ruang rahasiaku, letaknya berada di perpustakaan pondok dekat dengan kobong santriwati, semacam kantor kecil untuk penjaga perpus. Aku selalu pergi ke sini kalau sedih.


Seperti pagi ini. Duniaku tiba-tiba gelap, hancur, enggak berbentuk. Cinta pertamaku enggak berjalan mulus. Oh Allah. Berkali-kali aku melafazkan istighfar.


Aku kembali menelungkupkan muka ke atas lutut, air mata ini enggak mau berhenti sama sekali. Bagai lilin yang tiba-tiba padam, dunia gelap seketika, dan aku kehilangan arah, enggak tau harus gimana, apakah terus melangkah menyusuri jalan setapak ini, atau tetap diam menunggu seseorang menyalakan lilin itu kembali untuk menerangi kembali duniaku.


Bang, hatiku sakit banget. Apa benar Abang mau nikah? Sama siapa? Siapa perempuan beruntung itu, Bang? Demi Allah aku enggak ikhlas. Kuatkan hatiku ya Allah, kuatkan agar aku mampu menopang semuanya.


"Naira ...." Suara Umi di luar. Cepat-cepat aku menghapus air mata, lalu bangkit berdiri. Saat aku akan keluar, Umi lebih dulu masuk dan menemukanku.


"Nai, kamu ngapain di sini?"


"Aku__" suaraku tercekat, aku yakin Umi menangkap kesedihan dalam suaraku.


"Kenapa, Nai? Tadi Bang Marko nyari kamu ke rumah. Ada masalah apa?"


Pertanyaan Umi sukses membuat hatiku kembali terasa terimpit oleh dua balok beton yang besar. Nyesek banget. Kemudian tanpa dipinta, air mata ini kembali terjun. Umi menghela napas kasar melihat aku menangis.


"Kamu ada masalah sama Bang Marko?"


Aku menunduk gak sanggup menjawab. "Ada apa Sayang, ayo bilang sama Umi."


"Aku dengar Bang Marko akan menikah, Mi," ucapku dengan suara tercekat-cekat.


Umi mengerjap, lantas dia menarik aku ke dalam pelukannya. "Sudah-sudah, kamu jangan sedih. Kalau kamu mencintainya, doakan dia. Allah pasti akan memberi jodoh yang terbaik buat kamu."


Aku menggeleng pelan. Aku enggak setuju dengan ucapan Umi, hatiku sangat menolak. Aku cuma ingin berjodoh dengan Bang Marko. Cuma dia yang aku mau!


***