Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 30



Sara duduk termangu di depan cermin menatap bayangannya sendiri di sana. Dia melihat Marko sangat bahagia semalam. Begitu pun dengan dirinya. Namun, kebahagiaan itu seolah mencekiknya, dan menyeretnya pada sebuah kenyataan pahit bahwa di pernikahan ini tidak akan dihiasi oleh tangis bayi yang keluar dari rahimnya.


Semuanya sia-sia. Kosong. Seperti raga yang tidak bernyawa.


Sara merasa tidak berguna sekaligus bersalah. Mungkin Marko bisa berkata, "Sudah tidak apa-apa." Tapi isi hati manusia hanya Allah yang tahu, bukan?


Hari ini Marko masih cuti. Dan rencananya mereka akan pergi jalan-jalan sekaligus membeli kasur baru. Semalam Sara melihat Marko tidur sangat tidak nyaman kerena harus terus menekuk kakinya. Badan suaminya yang tinggi besar, membuatnya tidak muat di kasurnya yang berukuran sedang. Mungkin harus yang king size? Tapi ... apakah akan muat di kamarnya yang tidak terlalu luas?


Sara terenyak ketika suaminya masuk ke kamar. "Udah siap?" tanya Marko.


"Sudah," jawab Sara sambil menerbitkan senyum dan menatap wajah suaminya di cermin.


"Kamu cantik banget sih dengan kerudung biru ini," kata Marko sambil membungkuk, melingkarkan tangan di pundak Sara, dan menempelkan pipinya pada pipi istrinya itu.


"Gombal." Sara mencebik.


"Kok, gombal? Aku ini sedang terpesona oleh kecantikan istriku."


Sara sangat senang mendengarnya, tapi entah kenapa hatinya tetap merasa perih.


"Udah sarapannya, Mas?" tanya Sara.


"Sudah. Tadi ditemenin dua krucil lucu." Marko semakin mengeratkan pelukannya. Kalau boleh, dia ingin seperti itu seharian, karena tubuh inilah yang sangat ingin dipeluknya dari dulu. Namun, ternyata dia tidak puas cuma memeluknya saja, sejurus kemudian dia mengecup pipi mulus istrinya dengan sayang. Setelahnya Marko malah tersenyum usil.


"Mas ...!" Sara membulatkan matanya lebar-lebar, tapi dengan bibir sedikit tertarik ke atas.


Marko tidak peduli dengan aksi protes Sara. Dia lantas terus mengecup pipi, kening, dan terakhir bibir istrinya itu bertubi-tubi.


Sara melotot gemas. "Sudah ... sudah ...!"


Marko terkekeh. "Maaf ya istriku Sayang, soalnya kamu gemesin banget, sih. Tau enggak, aku akan ngelakuin itu setiap hari sebelum aku berangkat dinas."


"Hah?"


"Biarin. Jadi mulai hari ini, kamu harus membiasakannya, mengerti?"


Sara meringis, tapi tak lama kemudian dia tersenyum. "Oke." Mengacungkan ibu jarinya.


"Gitu, dong. Aku kan jadi seneng, hehehe. Menyenangkan suami kan dapet pahala."


"Iya deh."


Sara membalikkan tubuhnya menghadap Marko. Meletakkan telapak tangan di dada suaminya, lantas terdiam sejenak.


'Ya Robb, aku ingin tahu bagaimana isi hati hamba-Mu ini. Sungguh aku ingin mengetahuinya. Engkau menciptakan hati dengan alamnya yang maha luas. Tidak ada satu manusia pun yang dapat menyelami kedalamannya. Tapi aku mohon pada-Mu, jadikanlah aku satu-satunya manusia yang bisa menyelami hati hamba-Mu ini.'


"Sayang ...," sahut Marko.


Sara mengerjap, lalu tersenyum hangat dengan tatapan tak kalah hangatnya.


Marko mengernyit curiga, menggenggam tangan Sara di dadanya. "Ada apa?" tanyanya.


Sara menggeleng pelan. Marko mencoba menyelami sorot mata itu berharap bisa menemukan petunjuk. Dia yakin ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.


"Kamu bahagia, Mas?"


"Sangat," jawab Marko singkat. Mengangkat tangan Sara dari dadanya lalu menciumnya takzim.


Sara tersenyum. "Syukurlah."


"Sar. Aku mau kamu jangan mikirin yang aneh-aneh. Bebaskan semua yang mengusik hatimu. Aku sudah mengharapkanmu sembilan tahun, dari aku masih kelas sepuluh, masih ABG, dan masih culun-culunnya. Jadi, sekarang aku cuma mau bahagia, enggak boleh ada yang lainnya. Pliiiis kamu jangan mikirin soal anak. Kita udah bahas ini sebelumnya, kan? Walaupun kamu enggak bisa ngasih aku keturunan, perasaanku ke kamu enggak akan berubah, Sar. Aku sangat bersyukur kamu tetap hidup sehat kayak gini."


Marko melihat perlahan netra Sara seperti ada mozaik-mozaik yang mengambang lalu membentuk kaca-kaca.


"Kalau kamu terharu, boleh kok peluk aku sekarang." Marko membentangkan tangannya.


Sara hampir saja tersedak karena ingin menangis dan tertawa sekaligus. Lalu serta-merta menghambur ke dalam dada Marko.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Marko langsung menutup tangannya dan mendekap erat Sara di pelukannya.


***


Sekarang Sara dan Marko berdiri di depan gerbang sebuah rumah sakit khusus untuk orang-orang yang ketergantungan obat. Marko mendadak merindukan adik satu-satunya itu, sepulang dari jalan-jalan dan membeli kasur, Marko pun memutuskan menemui Brian. Dan inilah pertemuan kedua Sara dengan Brian. Dulu, waktu awal bertemu, Brian masih SMP.


Mereka masuk ke dalam langsung disambut oleh petugas. Setelah menunggu persetujuan beberapa pihak, akhirnya Marko dan Sara diperbolehkan menemui Brian di kamar perawatannya.


Brian sedang tidur saat Marko dan Sara datang. Perlahan, Marko mendekat dan membangunkan Brian.


Brian terhentak, lalu perlahan membuka matanya.


"M__Marko," sahut Brian kaget. Pemuda itu berusaha bangun sambil meringis dan memegangi kepalanya.


"Udah jangan bangun, Bri, tiduran aja. Gue gak lama, kok."


Brian kembali membaringkan tubuhnya sambil mengembuskan napas. "Gimana kabar lo?" tanya Marko sambil duduk di kursi di samping tempat tidur pasien.


Brian berdeham. "Masih gini aja, Ko. Gue gak tau kapan keluar dari sini. Gue__pengen sembuh." Suara Brian tercekat-cekat, menahan seuatu yang menyesakkan dadanya.


Marko memegangi pundak Brian. "Lo pasti sembuh, Bri. Lo harus yakin dan percaya sama diri lo sendiri."


"Ada Tuhan untuk berdoa, ada harapan di dalam doa. Bri, gue tau elo itu orang yang taat beragama. Dibanding gue, elo lebih baik agamanya. Jangan sekali-sekali ninggalin Tuhan, Bri. Minta apapun pada-Nya. Dia akan senang."


Brian tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar tidak tulus. "Hei itu beberapa tahun yang lalu. Brian sekarang berbeda dengan yang dulu. Elo gak tau apa-apa tentang gue, Ko."


Marko mengerjap, melepaskan tangan dari pundak Brian, dan tenggorokannya tercekat. Dia pun memilih mengalihkan topik agar Brian tidak tertekan. "Oh iya, Bri, ini istri gue, Sara. Lo denger dari Bokap gue nikah kan kemarin?"


Pandangan Brian dialihkan pada Sara, lalu tersenyum. Sara menangkupkan kedua tangannya di depan dada, pun tersenyum hangat pada Brian.


"Iya, bokap bilang. Gue ikut seneng, Ko. Semoga kalian selalu bahagia."


"Aamiin. Makasih, Bri," sahut Marko.


Namun, tiba-tiba Brian mengernyit menatap Sara. "Kalau enggak salah, Mbak yang dulu dateng ke rumah malem-malem kan, saat Marko udah di keroyok sama si Dika dan gengnya?"


Sara terenyak, ternyata Brian bisa mengingatnya dengan baik. "Iya, itu aku."


Brian kembali tersenyum. Kali ini dengan senyuman takjub. "Wah, berarti kakakku berhasil nikahin cinta pertamanya."


Marko langsung melotot kaget, sedangkan Sara tersenyum malu.


"Wah, lo tau dari mana, tuh?" selidik Marko.


"Bi Ecin yang bilang." Brian memang mengetahui banyak soal Sara dari Bi Ecin.


Saat nama itu disebut, hati Marko mendadak mendung. Betapa dia merindukan pengasuhnya itu. Bi Ecin sudah Marko anggap seperti ibunya sendiri.


"Bi Ecin bar-bar juga ternyata." Marko terkekeh. "Sekarang gimana ya kabar dia? Kapan-kapan gue mau ke kampungnya ah, kangen, pengen nengokin dia juga, terakhir denger kabar katanya sakit."


"Iya, Ko, gue juga enggak tau kabar dia."


Marko menunduk sedih, teringat semua kebaikan Bi Ecin untuknya. Dari kecil, Bi Ecin yang selalu membelanya tanpa pretensi. Bahkan yang paling diingatnya adalah, ketika dia diusir ibunya, Bi Ecin lah satu-satunya orang yang datang untuk memeluknya, menguatkannya. Dia bahkan memberinya uang dan makanan.


Karena uang itu, Marko bisa bertahan hidup di tengah kesendiriannya dan kesengsaraannya.


Marko mendongak menatap Sara di sampingnya. "Kamu mau ketemu Bi Ecin, Sayang?"


Sara mengangguk. "Mau," katanya.


"Besok kita ke Bandung ya," kata Marko. Lagi-lagi Sara mengangguk.


Diam-diam Brian melirik mereka iri. Dia melihat kakaknya sekarang hidup lebih baik setelah mualaf. Dan dia pun berpikir, apakah jika dia mualaf, akan hidup lebih baik juga?


"Ko ...."


"Iya, Bri?"


"Maafin gue dulu ngehajar lo," ucap Brian penuh penyesalan.


"Gak apa-apa, emang dulu gue pantas dihajar, seenggaknya buat lo dan nyokap."


"Gue suka mikir gini, kalau elo enggak cabut dari rumah, mungkin gue enggak kayak gini. Ya seenggaknya mungkin ada orang yang ngingetin gue, ada yang ngomongin gue kalau jalan gue salah. Gue salah milih temen, salah milih cewek juga."


Marko melihat kini mata Brian berkaca-kaca.


"Belum terlambat buat memperbaiki semuanya, Bri. Lo masih muda, jalan hidup lo masih panjang banget."


Brian berusaha bangun dari pembaringannya, lalu berhasil duduk walau dengan menahan pusing yang luar biasa.


"Ko, ajarin gue untuk jadi lebih baik. Gue mohon sebagai adik lo, bisakah lo sering dateng ke sini?"


"Gue juga belum bisa jadi baik, Bri."


"Seenggaknya buat gue lo berhasil seribu kali lebih baik."


Dada Marko terenyak. Dia menoleh pada Sara meminta persetujuan. Perlahan Sara menganggukan kepalanya.


"Oke. Tapi ... kalau gue mulai internship, mungkin gue enggak akan sering datang. Soalnya bisa aja gue ditugasin jauh dari Jakarta, bisa juga di luar pulau jawa."


Seketika wajah Brian berubah mendung. Namun, dia kembali menatap kakaknya dengan penuh harap. "Enggak apa-apa. Pokoknya selagi lo ada waktu dateng ke sini."


"Iya, Bri. Tapi ... gue belum tau harus ngajarin lo apa supaya lebih baik. Gue bingung__"


"Ajarin gue agama lo, jelasin ke gue semuanya, Ko."


Seketika sekujur badan Marko merinding. Dia menatap lekat-lekat wajah pemuda yang paling disayanginya itu, mencoba mencari dan menelaah apapun itu.


Dalam hati, Marko tidak henti-hentinya mengucap syukur. Dan saat itu juga dia ingin melakukan sujud syukur. Dia pun bangkit dari duduknya, melangkah mundur ke belakang, kemudian merunduk melakukan sujud syukur dengan khidmat.


Sara menyaksikan semuanya dengan haru yang luar biasa. Dia menghampiri suaminya lalu mengusap-usap punggungnya setelah dia melakukan sujud syukur. Mereka bertatapan dengan netra yang sama-sama berair.


Marko bangkit, menghampiri Brian lalu memeluknya erat. "Gue janji sama lo, Bri. Gue akan bikin lo lebih baik lagi, dan gue enggak akan membiarkan lo sendirian. Ada gue, abang lo yang akan selalu ada buat lo. Lo jangan sampe kayak gue dulu, Bri. Dulu gue beneran seperti sebatang kara." Marko terisak.


Brian mengangguk, dan setetes bulir bening pun jatuh dari netranya membasahi kemeja Marko.


Tanpa mereka tahu, di balik pintu ada yang menyaksikan semuanya diam-diam.


***