
Kedua manik mata Sara berbinar menatap laki-laki di depannya yang baru beberapa jam resmi jadi suaminya. Romansa kekasih halal membuat semua orang merasa senang, Sara tidak percaya sekarang dirinya telah resmi menjadi istri pria yang sangat ingin dipeluknya dari dulu.
"Kekasih halal." Kata halal memang menjadi pembatas antara dosa dan pahala. Jika apa yang dilakukan halal, maka pahala yang akan didapat, tetapi jika sebaliknya, dosalah yang akan didapat.
Pernah dengar bahwa satu sentuhan tangan dari suami ke istrinya adalah sebuah pahala dan menggugurkan dosa-dosa kecil? Jika benar seperti itu, Maha Besar Allah dengan segala kasih sayang-Nya. Begitu pun dengan yang haram, satu sentuhan seorang laki-laki yang bukan mahram akan mendapatkan dosa. Bagaimana dengan zina? Naudzubillah.
Menikah atau menjadi halal memang bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab di balik kata itu. Akan sangat panjang jika diurai. Mulai saat ini ada dua keluarga yang harus mereka jaga kehormatannya. Selain itu, ada orang-orang baru yang harus mereka bahagiakan.
Sara berharap bisa membahagiakan orang-orang baru itu. Terutama Marko. Kekasih halalnya.
Gaun pengantin Sara telah diganti oleh gamis dan khimar. Setelah salat isya, Sara dan Marko masih menerima tamu yang datang ke rumah, padahal di undangan tertera waktu menerima tamu sampai jam lima sore.
Rumah Sara yang tidak terlalu besar, semakin terasa sesak oleh saudara-saudara yang belum pulang, ditambah keramaian yang dibuat oleh kedua balita anaknya Bang Arka. Marko merasa jengah ingin segera istirahat. Bukan, bukan ingin "itu" tapi dia benar-benar ingin tidur.
Seharian sibuk menerima tamu, benar-benar membuatnya merasa lelah. Rasanya dia sudah sangat merindukan kasur dan bantal.
"Mas, apa ingin istirahat?" Sara melihat mata Marko yang sudah layu.
"Hah? E__enggak, S__sayang." Lidah Marko terasa kelu menyebut kata sayang, tapi mulai sekarang dia ingin membiasakannya.
"Yakin?"
Marko mengangguk walau berat. Dia tidak mau terlihat buruk di mata keluarga Sara, apalagi tamu sekarang adalah tamu jauh. Mereka masih saudara almarhum papanya Sara yang menetap di Malaysia.
Marko kembali menyimak obrolan sambil sekuat tenaga menahan kantuk.
"Jadi Nak Marko sudah lulus UKDI?" Marko terperanjat mendengar namanya disebut.
"Sudah, Om," katanya pada Om-nya Sara.
"Wah, hebat. Susah loh menjalani tahap UKDI itu."
Marko menunduk malu, tapi senang juga dipuji oleh adik papanya Sara.
"Sekarang UKDI sudah berubah nama jadi EXIT EXAM, Om, tapi mekanismenya sama aja dengan UKDI, bedanya cuma pembiayaan ditanggung sama pihak fakultas."
"Wah benarkah? Alhamdulillah kalo gitu."
"Iya." Marko berusaha tersenyum di tengah rasa kantuknya.
"Nanti saat internship, kamu harus legowo kalau ditempatkan di tempat yang jauh dari Jakarta. Sara juga harus ikhlas menemani suami di mana pun dia ditugaskan."
"Iya, Om. InshaAllah ikhlas." Sara mengangguk, detik selanjutnya dia melirik ke arah suaminya sambil menyunggingkan senyum termanisnya.
Ketika melihat senyum indah itu terarah kepadanya, kantuk Marko langsung menguap. Jantungnya berdegup tidak keruan, dan hasrat kelelakiannya tiba-tiba meletup-letup dalam dada.
"Istri gue cantik banget ya Allah," lirih Marko dalam hati.
***
Pukul 10 malam semua tamu dan kerabat Sara baru pulang. Om-nya Sara dan keluarganya pun pulang ke hotel tempat mereka menginap. Sekarang di rumah tinggal keluarga inti. Istrinya Bang Arka dan kedua balita lucunya pun sudah tidur di kamar.
Sekarang tinggal Bang Arka, mamanya Sara, dan Marko berkumpul di ruang tengah. Sara sendiri sudah masuk kamar beberapa menit yang lalu.
Mereka ngobrol panjang lebar sampai tidak terasa waktu sudah hampir tengah malam. Bang Arka pamit ke kamar, setelah itu mamanya Sara. Sekarang giliran Marko.
Marko berdiri di depan pintu kamar, merasa sungkan. Tangannya gemetar saat akan menekan gagang pintu. "Bismillah," lirihnya.
Pintu kamar terbuka. Terlihat Sara masih terjaga sambil membaca Al-quran. Hati Marko terenyuh melihatnya. Sara menghentikan bacaannya saat Marko masuk, dia menutup kitab suci itu lalu menyimpannya di atas nakas.
Marko menyunggingkan senyum sambil menutup rapat pintu kamar.
"Mas ...."
Hati Marko seperti mau melompat keluar mendengar suara halus itu menyebutnya, "Mas."
"Mau__istirahat sekarang?" Sara juga terlihat kikuk. Dia berdiri lalu merapikan tempat tidur, walau sebenarnya sudah rapi dan sudah dihiasi sedemikian rupa oleh bunga-bunga. Wangi bunga itu sungguh menggelitik hidung, dan menenangkan pikiran.
"Kamu belum tidur?" tanya Marko.
Sara menggeleng. "Aku nungguin kamu, Mas."
"Oh."
Marko benar-benar gugup, bingung harus apa. Dia duduk di bibir tempat tidur dengan hati yang terus berdebar tidak keruan.
Setelah itu hening.
Hening.
Dan masih saja hening hingga beberapa menit berlalu.
"Sar ...." Marko memberanikan bersuara.
Sara mengerjap, menolah pada Marko. "Iya, Mas?"
"Bolehkah aku melepas jilbabmu?"
"B__boleh, Mas," katanya dengan tatapan mata yang membuatnya tidak berani balik menatap Marko.
Marko bergeser mendekati istrinya. Dengan berucap bismillah dalam hati, dia membuka khimarnya Sara. Setelah itu, rambut hitam panjang milik Sara tergerai di depan matanya.
Inilah Qaisara. Yang dulu sebelum berjilbab suka mengikat rambutnya dengan model ekor kuda. Disaat semua cewek-cewek di sekolah termakan mode ke Korea-Koreaan, Sara tetap konsisten dengan gayanya sendiri. Itulah yang menarik hati Marko.
Tangan Marko terulur ke arah rambutnya Sara lalu membelainya dengan lembut.
"Cantik," lirihnya.
Sara terenyak. Dia merasa melayang bak kupu-kupu dan hinggap dengan bahagia di bunga-bunga itu. Cinta pertamanya telah utuh, pangeran impiannya telah dalam genggaman.
'Oh, Allah, aku mencintai salah satu makhlukmu, aku mencintainya karena-Mu. Ridhoi dan berkahi cinta kami, ya Robb.'
Marko meraih tangan halus Sara lalu mengecupnya dengan lembut. Dengan keberanian super tinggi, Marko mengecup kening Sara.
"Aku jatuh cinta sama kamu, dari dulu sampai sekarang, dan hingga nanti."
Sara memberanikan diri menatap kedua manik mata indah di hadapannya. Saat sorot mata mereka beradu, pipi putih Sara berubah menjadi seperti tomat ranum. Dan semakin memerah tatkala tangan Marko menyentuhnya, mengusapnya pelan.
"Aku juga," balas Sara dengan suara yang nyaris berbisik. Walaupun begitu, Marko tetap mendengarnya dengan jelas.
"Boleh aku memelukmu?"
Sara mengangguk dengan mata berkaca. Betapa dari dulu dia ingin berada dalam dekapan itu. Marko menarik Sara ke dalam pelukannya. Tanpa disadari mereka tengah larut dalam angan yang sama. Mereka menikmati momen dengan khidmat hingga air mata tak terasa jatuh dari netra masing-masing. Tiap detiknya terasa begitu indah dan berharga.
Sara teringat semua yang sudah terlewati. Saat pernikahannya dengan Pak Tengku, saat kehidupan perih setelahnya, saat kehilangan permata hatinya, saat kehilangan ayahnya, dia sangat ingin berada dalam pelukan ini. Dan malam ini, pelukan itu berhasil dia dapatkan.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Marko melepas pelukannya. Dia mendapati mata Sara yang basah, lalu mengusapnya pelan.
"Jangan menangis lagi, Sar. Aku sudah berjanji atas namamu. Aku akan membahagiakanmu, dan aku enggak akan membuatmu bersedih dan menangis lagi, mulai malam ini kita harus selalu bahagia bersama."
Sara mengangguk, tetapi entah mengapa mendengar semua itu rasa ingin menangis semakin mendesak dalam dadanya. Sara kembali memeluk Marko dan membenamkan tangisnya di atas bahu suaminya itu.
Marko tersenyum haru, tangannya terangkat dan mengusap-usap punggung Sara yang terhalang oleh rambutnya.
***
Ada sebuah kisah cinta yang paling romantis di bumi ini melebihi kisah cinta Romeo dan Juliet, yakni kisah cinta Rasulullah dengan istrinya, Aisyah RA.
Suatu ketika Baginda Nabi pulang terlambat ke rumah karena menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan semua sahabat. Beliau berjalan cepat ke rumah karena tidak tega dan cemas istrinya terlalu lama menunggunya pulang. Namun, niatnya untuk mengetuk pintu hilang saat sudah berada di depan pintu karena tak ingin membangunkan istrinya.
Akhirnya Baginda memutuskan untuk menggelar sorban dan tidur di depan pintu. Dinginnya malam lebih dipilihnya daripada harus membangunkan wanita yang sangat dicintainya. Padahal di balik pintu, Aisyah pun tertidur karena takut tidak mendengar suara ketukan pintu dari suaminya.
Sebuah kisah cinta yang didasari ketaatan kepada Allah akan sangat luar biasa seperti kisah cinta Baginda Nabi dan istrinya, bukan?
Kisah cinta terbaik itu akan dijadikan Marko panutan. Tidak ada sebaik-baik panutan selain Rasulullah.
Marko dan Sara membaringkan tubuh lelah mereka di atas kasur. Namun, ada satu masalah. Kasur Sara ternyata teralalu kecil untuk ukuran tubuh Marko yang setengah Eropa. Tungkai Marko yang panjang sedikit menjuntai ke bawah, dan itu membuatnya sangat tidak nyaman. Sara yang menyadari hal itu tersenyum geli.
"Kayaknya kita harus membeli kasur baru besok."
"Hehe, iya."
Waktu menunjukan pukul 12 malam, tapi keduanya masih enggan untuk tidur, padahal tadi sore Marko sangat mengantuk.
Suasana kembali hening.
Marko membalikkan tubuhnya menghadap Sara. "Kamu mau tidur?" tanyanya.
"Kamu?" Sara malah balik bertanya.
"Enggak," jawab Marko sambil mengulum senyum.
"Enggak?"
"Aku mau sesuatu."
Sara mengerjap. "Sekarang?" tanyanya.
"Iya. Boleh?"
Perlahan sekali Sara menganggukan kepala. Seketika juga kupu-kupu seolah menari-nari di dalam perutnya. Gugup luar biasa.
Marko tersenyum, dia bangun mendekati istrinya, dan membaca doa dalam hati. Bang Syahrul telah mengajarinya kitab Qurratul Uyyun. Kitab karangan Syeikh Muhammad At-Tihami bin Al-Madani Kanun itu merupakan syarah atau kitab penjelas atas Kitab Nazhom syair-syair Syeikh Ibnu Yamun, menjelaskan secara detail bagaimana adab dan cara terbaik dalam berjima menurut islam.
Ruang, waktu, dan alam seolah berkonspirasi menggiring semua kebahagiaan untuk mereka berdua. Pencahayaan satu-satunya di kamar tersebut mati, tangan Marko yang mematikannya. Setelahnya, jangan tanya apa-apa lagi. Yang pasti malam itu menjadi malam terpanjang untuk keduanya.
Deru jantung dan napas menyatu, membawa keduanya ke dalam dimensi terindah di bumi.
***