
Melihat gue semakin dekat dengan Sara, Dika semakin membenci gue, setiap hari dia terus saja bikin gara-gara. Gue gak nyangka ternyata kayak gitu sisi lain si Dika. Buat gue itu norak! Kampungan! Berkali-kali dia neror gue, atau ngeroyok gue, tapi selalu gagal karena dipergokin sama Sara. Namun, sepertinya sore itu dia akan berhasil. Saat gue naik ojol, gak taunya dia ngebuntutin gue sama temen-temennya yang entah siapa dan dari mana. Selama gue mengenal Dika, enggak pernah lihat dia gaul sama orang-orang itu.
"Woi! Berhenti, woi!" teriak salah satu gerombolan tengik itu. Bang ojol ketakutan karena cowok itu terus mepet-mepet motor gue. Akhirnya Bang ojol berhenti menepikan motornya.
"Ada apa, nih?" tanya Bang ojol.
"Kita gak ada urusan sama lo, ya. Kita ada urusan sama penumpang lo!" seru cowok bertato itu. Tak lama motor yang ditumpangi Dika tiba, lalu dia turun dan menghampiri gue.
"Jadi elo, Dik, bosnya? Ngapain lo? Mau nyoba ngeroyok gue lagi kayak kemarin? Gue gak takut!" Saat itu sekitar ada lima orang termasuk Dika.
"Sumpah lo gak takut? Marko, saat ini lo adalah orang yang paling gue benci di dunia, tau lo! Gue udah bilang beberapa kali, jauhin Sara! Lo jangan pernah lagi deketin dia, Sara itu punya gue!"
"Sara bukan milik siapa-siapa! Bukan punya gue apalagi elo! Elo itu terlalu terobsesi sama dia, padahal elo sendiri udah tau kalau Sara gak suka sama lo, dia sukanya sama gue! Sara itu enggak akan pernah pacaran sama siapa pun, tapi Sara gak bisa mengelak kalo dia sebenarnya cinta sama gue! Sekarang gue tegesin sama lo, ya, Sara itu cinta sama gue, jadi sebaiknya lo mundur, ngerti!"
"Bacot, lo! Gue udah bilang berkali-kali sama lo, ya, elo itu gak pantes buat dia."
"Gue akan memantaskan diri buat dia!"
"Marko! Gue beneran udah gak tahan sama lo. Sebenarnya gue gak mau ngelakuin ini sama lo, tapi elo sendiri yang udah maksa gue berbuat kayak gini."
Tak nunggu waktu lama salah satu orang itu menendang kaki gue sampe gue tersungkur. Anjiiir sakit banget.
"Woi! Apa-apaan, nih!" seru Bang ojol belain gue.
"Lo jangan ikut campur, ya. Ini bukan urusan lo!" seru Dika sama Bang ojol.
"Jelas ini urusan gue, elo udah gangguin penumpang gue!" ucap Bang ojol yang masih muda itu.
"Rese juga lo, ya."
Bukkkk! Bang ojol ditonjok Dika.
"Kurang ajar lo bocah!" Bang ojol itu nyamperin Dika lalu balas meninjunya dengan keras hingga terhuyun.
Keributan pun terjadi kita saling baku hantam. Karena dua lawan lima, akhirnya gue dan Bang ojol yang terkapar. Untung orang-orang sekitar datang dan melerai pergulatan ini. Dika dan gengnya pun pergi.
"Bang, lo gak apa-apa, Bang?" tanya gue sama Bang ojol.
"Gue gak apa-apa tenang aja," ucap Bang ojol sambil berusaha bangun.
Kita ditolong orang-orang, dikasih minum, dan obat merah. Luka gue yang lebih parah dari Bang ojol. Karena emang gue targetnya mereka.
Setelah keadaan membaik, gue sama Bang ojol pun melanjutkan perjalanan. Sumpah, saat itu rasanya badan gue remuk semua. Untungnya mereka enggak menggunakan senjata, jadi masih aman. Tapi gue khawatir orang tua gue gak terima dan lapor polisi dengan kasus penyerangan. Walaupun gue benci banget sama si Dika, tapi gue gak mau dia masuk penjara. Bentar lagi kita kan, UN.
"Bang, mampir dulu, Bang," kata gue sama Bang ojol.
"Enggak, makasih Dek, gue langsung cabut aja."
"Bentar lah, Bang ... ayo masuk dulu, Abang kan udah nolongin gue."
Bang ojol itu mandangin rumah gue sungkan, mungkin dia gak enak karena lihat rumah gue bagus. Woi, itu bukan rumah gue! Itu rumah ortu gue. Gue belum punya rumah. Dia ngelihat hape sekilas, mungkin ada orderan selanjutnya, gak tau juga.
"Ayo, Bang, kita minum dulu," ajak gue rada maksa.
"Mmm, ya udah, deh." Bang ojol yang lumayan cakep itu pun memasukan motornya ke halaman lalu masuk ke rumah sama gue. Dia celingak-celinguk merhatiin seluruh sudut ruang tamu.
"Tenang, di rumah gue sepi kalau jam segini. Duduk, Bang, gue ke belakang dulu ya."
"Oh, iya-iya."
Gue ke dapur nyari Bi Ecin, lalu nyuruh dia bikin minuman buat Bang ojol di depan. Sebelumnya dia kaget lihat muka gue yang bonyok dan bibir berdarah, tapi gue berhasil menenangkannya. Bi Ecin emang takutan orangnya, apalagi kalau ada apa-apa sama gue atau si Brian.
Setelah ganti baju, gue kembali ke depan nyamperin Bang ojol. Di meja sudah tersedia minuman dingin dan beberapa makanan.
"Silakan, Bang, di minum."
"Udah, tadi."
"Makanannya dimakan, Bang."
"Iya, nanti, santai aje," ucap Bang ojol yang sekarang udah enggak pake jaket ojol.
"Mereka yang tadi ngeroyok elo siapa?"
"Dia temen gue, Bang. Oh iya, nama gue Marko, Abang namanya siapa?"
"Nama gue Vero."
Bang Vero. Keren juga, dilihat dari tampangnya kayaknya dia anak kuliahan.
"Kenapa mereka sampe ngeroyok? Masalah cewek, ya?" tebak Bang Vero.
"Tau aja, nih." Gue terkekeh.
"Kan gue denger pembicaraan elo sama bocah yang nonjok gue itu."
"Oh, iya, hehehe." Bang Vero ikut ketawa.
"Gitu deh, Bang. Gue sama dia suka sama cewek yang sama. Gue udah suka sama cewek itu dari kelas sepuluh, tapi tau-tau temen gue juga suka sama dia, tadinya gue mau ngalah dan ngebiarin temen gue deketin Sara, tapi hati gua sakit dan gak terima. Akhirnya gue maju deh."
"Lo bener, Ko. Lo harus maju. Kenapa cerita lo hampir mirip sama gue ya, hahaha."
"Serius, Bang? Hahaha."
"Bedanya cuma cewek itu lebih suka sama temen gue."
"Waduuuh, yang sabar ye, Bang."
"Biasa aja lah. Perlahan gue mulai ikhlas dan ngebiarin mereka pacaran."
"Baik lo, Bang. Gak kayak si kampret Dika. Udah tau Sara gak suka sama dia, tapi dia masih aja ngotot. Dia terlalu terobsesi, rese emang!"
"Hati-hati, Ko. Orang yang terobsesi itu bahaya. Dia bisa aja ngelakuin hal-hal gak masuk akal dan ngebahayain."
"Iye. Bang, gue boleh jadi temen lo, gak?"
"Boleh dong. Nomor lo gue save, ya."
"Iya, Bang. Entar kalo ada apa-apa gue boleh ngehibungi elo, kan?"
"Ada apa-apa, kenapa, nih? Mau ngajak gue nyerang?"
"Kagak lah, Bang. Gue bukan pedendam orangnye."
"Bagus, lah. Sebenarnya gue jarang ngojek, gue ngojek kalo ada waktu luang ajeh."
"Elo kerja, Bang?"
"Belum, gue masih kuliah."
"Kedokteran. Masih semester 4."
Gue melongo. Keren Bang Vero, dia kuliah kedokteran, tapi masih mau ngojol. Orang kayak gini nih, yang harus dijadiin temen. Gak kayak si Dika, udah tukang nyontek, sifat aslinya minus pula. Dan sialnya gue baru tau sekarang.
Gak rugi gue kehilangan satu temen, karena gue dapet gantinya dua orang sekaligus. Bang Arka yang kemarin ketemu di mesjid, dan sekarang Bang Vero. Thanks, God.
Sebelum pulang, Bang Vero makan dulu sama gue dan Brian.
💖💖💖
"Ko ... Marko! Bangun woi! Ada yang nyari tuh, di depan." Gue denger suaranya si Brian, antara setengah sadar dan enggak. Gue kira itu di alam mimpi.
"Marko! Bangun, itu ada yang nyari lo di depan!" Sekarang gue merasa pantat gue ditabok. Aduh, tapi kok sakit. Perlahan gue membuka mata, ini bukan di alam mimpi ternyata.
"Apa sih, lo! Ganggu orang tidur ajeh," omel gue. Setelah makan dan Bang Vero pergi, gue langsung tidur di kamar karena badan gue sakit semua.
"Itu ada yang nyari di depan."
"Aduuuh, bilangin aje gue lagi tidur, gak mau diganggu!" Gue narik selimut sampe ke kepala.
"Ish! Kasian dia sendirian jauh-jauh ke sini. Tega lo sama cewek!" Gue langsung buka selimut dan duduk. Cewek? Siapa, nih?
"Cewek? Siapa, Bri?"
"Tauk, deh, lo liat aja sendiri!" Brian ngeloyor pergi. Gue lihat jam. Baru jam delapan.
Gue pun bangkit dan nemuin dia di ruang tamu.
Pupil mata gue langsung melotot saat melihat siapa yang tengah duduk dengan kepala tertunduk di ruang tamu. Jilbab biru mudanya begitu bersinar diterpa lampu, walaupun dia nunduk, tapi gue masih bisa melihat wajah dia dari samping begitu cantik. Cantik banget!
Sara? Dia ke rumah gue? Antara seneng dan takut, gue takut Nyokap pulang sekarang dan tahu Sara ternyata muslimah.
"Sara ...."
Sara mendongak lalu berdiri, sorot matanya memancarkan kesedihan ketika doi natap gue.
"Marko, aku dengar dari Aida kamu dikeroyok sama si Dika. Aku khawatir makanya sekarang aku ke sini," tutur Sara dengan suara seperti mau nangis.
Oh God, Qaisara ....
Entah, apa yang gue rasain saat itu. Yang jelas dalam hati ini seperti ada sesuatu yang mencair, dan seketika seluruh tubuh gue menghangat.
Gue meluncurkan senyum pada Sara. "Aku enggak apa-apa, kok, Sar. Tenang aja. Duduk lagi, Sar!" Sara duduk disusul gue.
"Kok, bisa tau rumahku?" Sara mengerjap dan melempar pandangan ke arah lain, seperti malu.
"Dari Fandy," jawab Sara.
"Kamu sendirian ke sini?" Sara mengangguk.
"Nanti pulangnya aku anter, ya ...."
"Eh, gak usah, Ko. Biar aku sendiri aja naik taksi online."
"Aku enggak mau khawatir, pokoknya akan aku anter."
Sara kembali natap gue lama, kemudian gue lihat matanya berkaca-kaca.
"Marko, aku minta maaf, gara-gara aku, kamu jadi sering kena masalah dan kamu jadi sakit kayak gini." Sekarang air mata Sara jatuh ke pipinya yang mulus, tapi dengan cepat dia menghapusnya. Dada gue terhenyak Sara nangis karena merasa bersalah dan sedih melihat gue babak belur kayak gini. Dia bela-belain minta alamat gue ke Fandy dan datang ke sini buat mastiin keadaan gue.
Ah, sekarang semuanya sudah jelas. Walaupun Sara tidak bilang cinta ke gue, tapi semua ini sudah membuktikan bahwa Sara juga cinta sama gue. Lihatlah sekarang, sorot mata dia sudah menjelaskan segalanya. Rasanya gue pengen meluk dia dan menenangkannya kalau semuanya akan baik-baik aja, tapi hal itu enggak mungkin gue lakuin. Boro-boro peluk, pegangan tangan juga gak boleh, kan? Hahaha.
"Sara ... aku beneran enggak apa-apa, kok. Luka-luka ini tiga hari juga bakal sembuh. Aku malah sedih lihat kamu nangis kayak gini. Kamu gak perlu minta maaf. Ini resiko aku karena udah mencintai kamu, Sar. Dan aku akan menghadapi resiko-resiko lainnya, tenang aja, aku orangnya kuat, kok. Asal kamu tetap selalu ada buat aku."
Sara tersenyum sambil natap mata gue dalem lalu mengangguk.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada suara mobil Bokap masuk garasi. Aduh, gawat Bokap udah pulang. Gue deg-degan gila! Gue takut Bokap nyuekin Sara. Dan pasti itu akan nyakitin hatinya Sara.
Bokap masuk ke rumah, dan sudah pasti dia agak terkejut karena ada cewek di rumah.
"Eh, ada tamu. Temannya Marko?" Sara berdiri lalu menangkupkan kedua tangannya di dada.
"I_iya, Om." Sara berucap rada kikuk.
Bokep tersenyum ke Sara. "Marko, kok temannya enggak dikasih minum?!" seru Bokap sambil natap meja yang kosong. Astaga, gue lupa!
"Enggak usah repot-repot, saya enggak lama kok," kata Sara.
"Nanti papa suruh Bi Ecin bawain minum, ya ...," ucap Bokap lalu pergi ke dalam. Ah, leganya sikap Bokap ternyata humble ke Sara.
Sara kembali duduk. "Maaf ya, Sar, aku sampe lupa nawarin kamu minum."
"Enggak apa-apa, Ko."
Tak lama kemudian ada Bi Ecin datang membawa segelas berisi minuman. Setelah menyimpan gelas, Bi Ecin natap Sara sambil senyum-senyum. "Kamu Sara, ya?" cetus Bi Ecin. Sara natap gue seperti minta penjelasan. Mungkin doi pikir dari mana Bi Ecin tahu namanya?
"Iya, saya Sara, Bi," ucap Sara sambil tersenyum, walau masih terlihat kebingungan pada wajahnya.
"Den Marko sering curhat sama bibi soal Sara dari dulu."
"Hah?" Sara terlohok.
"Bi Ecin, jangan buka kartu deh!" omel gue, tapi kayaknya dia mengabaikan gue.
"Den Marko ternyata enggak bohong, kamu memang sangat cantik," tutur Bi Ecin masih sambil senyum-senyum.
"Bibi!"
Bi Ecin cepat-cepat pergi ke dapur takut diamuk sama gue. Setelah itu Sara natap gue sambil senyum menggemaskan. "Kamu suka ngomongin aku sama Bibi?"
Gue mendadak kikuk dan nyengir dengan canggung.
"Ngomongin apa aja?" tanya Sara.
"Mmm, itu rahasia. Hehehe."
"Ih, kamu mah, kasih tau dong dikit aja." Sara cemberut manja.
"Aku bilang sama Bibi, aku suka sama seorang cewek di sekolah bernama Sara. Qaisara Azzahra."
Sara tersipu, dan gue lihat pipinya memerah. Ah, cute banget sih kamu, Sar.
Setelah itu doi gue anter pulang pake mobil Bokap. Tentu aja bukan gue yang nyetir, tapi Pak Gani. Supirnya Bokap, hehehe.
💖💖💖