Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 24



Dengan bantuan Pak Syarif, staff rekam medik di rumah sakit, gue pun bisa nemuin alamat rumahnya Sara. Gue kaget aja, ternyata selama ini Sara sangat dekat. Kurang lebih cuma 3 kilo dari pondoknya Habib Huza. Masyaallah, apakah Engkau sengaja mendekatkan dia padaku?


Setelah pulang dinas, dengan bekal secarik kertas berisi alamat rumah Sara, gue pun pergi ke sana. Berbagai gejolak dalam dada ini bikin telapak tangan gue berkeringat. Gugup, deg-degan, penasaran, dan__rindu.


Sara, aku rindu kamu.


Sekarang gue tengah berdiri di depan rumah sederhana yang enggak terlalu besar, berpagar rendah, tidak ada garasi, tidak ada gazebo seperti di rumahnya yang dulu. Kehidupan Sara beneran berubah 180°. Pantas saja dia tidak punya biaya untuk operasi tumor di rahimnya. Apa mantan suaminya benar-benar udah enggak peduli lagi sama dia?


Sara ... aku sedih banget.


"Permisi, Assalamualaikum," seru gue. Beberapa menit tidak ada sahutan dari dalam.


"Assalamualaikum ...," seru gue sekali lagi.


Tak lama pintu rumah terbuka. "Walaikumsalam," sahutnya. Sesosok wanita berkulit putih, bermata sayu, namun tidak melenyapkan binarnya, berjilbab lebar keluar dari rumah. Dia nampak terkejut melihat gue.


"Hai, Sar." Gue meluncurkan senyum.


"Marko? Kok, bisa sampai sini?" Sara mendekat dan membuka gerbang, tapi tidak mempersilahkan gue masuk. Gue tau, pasti di rumahnya tidak ada siapa-siapa, dan haram hukumnya jika kita berduaan dalam rumah.


"Bisalah," ucap gue.


"Maaf, kita di sini aja, ya, Mamaku lagi ke depan. Di rumah enggak ada siapa-siapa," tutur Sara. Sudah kuduga.


"Hm, Sar, kamu baik-baik aja, kan?"


"Baik. Kamu__ke sini karena mau melihat keadaanku? Aku baik-baik aja, Ko. Penyakitku ini enggak gawat, kok."


"Sar, aku datang ke sini karena mau ada yang aku omongin, tapi__kalau Mama kamu enggak ada, ya udah nanti aja."


"Mama aku? Kenapa harus ada dia?"


"Karena ini menyangkut masa depan kita."


"Hah?" Pipi putih Sara tiba-tiba memerah setelah gue bilang gitu. Sepintas gue melihat bibir mungilnya menyunggikan senyum. Dan gue suka banget sama ekspresi dia kayak gitu. Ah, Sara, senyumanmu tidak berubah sedikit pun rupanya.


"Nairaaaaa." Tiba-tiba Sara menyebut nama yang enggak asing di telinga gue.


Gue menoleh, terlihat Naira di atas motor metiknya beberapa meter dari kita berdua. Jujur gue kaget banget, kenapa Sara bisa kenal Naira? Dan sejak kapan mereka saling kenal begini?


Gue manangkap sorot kesedihan di mata Naira melihat kebersamaan gue dan Sara. Itu jelas banget. Sekarang gue yakin dengan ucapannya suster Alia tempo hari bahwa Naira emang menaruh perasaan sama gue.


Naira ... maafin Abang, Nai. Kamu pasti terluka sekarang.


"Sini, Nai," ucap Sara.


Naira mendekat dengan motornya.


"Kalian saling kenal?" tanya gue masih belum percaya.


"Kamu kenal Naira?" Sara malah balik bertanya.


"Ya Allah, kebetulan sekali, ya. Naira ini adik aku," tutur gue. Ya, memang Naira selamanya akan gue anggap adik, enggak lebih.


"Benarkah? Kok, bisa? Bukannya adik kamu cowok, ya?" tanya Sara. Gue tau, pasti sekarang kamu bingung kan, Sar? Hehehe. Banyak banget hal yang terjadi pada gue selepas kita pisah, Sar.


"Kamu bener, Sar. Naira ini anak bungsunya Habib Huza, dan udah aku anggap kayak adik aku sendiri."


Gue lihat Naira meluncurkan senyum sama Sara, tapi senyuman itu terlihat enggak tulus.


"Iya, aku tau Nai putrinya Habib, tapi aku enggak nyangka aja, kalian ternyata dekat," tutur Sara kemudian dia senyum ke gue dan Naira. Gue enggak tau arti dari senyumannya itu. Misterius banget.


"Nai, kamu mau ngerjain tugas cerpen, kan? Marko, maaf aku sibuk, nih," sambung Sara. Jujur aja gue agak kecewa, padahal sekarang gue ke sini buat ngomongin khitbah. Ya udah deh, entar aja. Lagian Mamanya Saranya juga enggak ada.


"Oh, gitu. Ya sudah aku pulang dulu kalau gitu. Nanti malam aku boleh ke sini lagi kan, Sar? Ada hal yang mau aku katakan sama kamu, penting."


Sara terdiam sejenak, lalu mengangguk sambil tersenyum.


Untuk mencairkan suasana antara gue dan Naira, gue mencoba buat menggodanya seperti biasa. "Nai, dapet salam tuh dari Gus Lutfi, hehe."


Naira terlihat kesal, setelah itu gue pergi.


***


"Belum, Ko. Katanya dia mau ke rumah temannya mau ngerjain tugas. Gak tau tugas apaan, tuh."


"Oh gitu, boleh aku nunggu dia di sini Mi?" tanya gue sambil duduk di teras.


"Boleh, ya udah Ummi pergi dulu ya, mau ke kobong."


"Iya, Mi. Eh, Ummi bentar." Gue berdiri dan menghampiri Ummi.


"Kemarin Faisal ngirim email sama Marko."


Faisal ini adalah anak Habib yang nomor dua, usianya sepantaran dengan gue, dan sekarang dia tengah menempuh pendidikan S2 di Al-Azhar Mesir. Keren, sih. Sedangkan yang sulung namanya Bang Fauzan, dia sudah menikah dan mendirikan sebuah pondok pesantren sendiri di daerah Bogor bersama istrinya yang juga anak Kyai.


Sekarang di rumah ini sementara Naira menjadi anak tunggal, makanya dia sangat disayang sama Habib.


Ummi tersenyum. "Iya, semalam dia ada nelepon, dia nanyain kamu, juga, Ko."


"Begitukah?" Gue sama Faisal memang dekat benget, tapi akhirnya kita harus pisah karena dia dapet beasiswa S2 di Al-Azhar. Sumpah, gue kangen banget sama laki-laki pendiam itu.


"Dia nanyain apa, Mi?"


"Katanya, kamu udah bisa nyuntik pasien belum, hehehe."


"Hahaha, udah dong. Kalau dia ada nelepon lagi, sampaikan salamku ya, Mi."


"Iya." Ummi tersenyum, berbalik, lalu pergi.


Tak lama setelah Ummi pergi, Naira kembali. Dia memasukan motornya ke garasi.


"Naira," Naira terenyak kaget mendapati gue tiba-tiba ada di luar garasi.


"Iya, Bang?"


"Bisa bicara sebentar?"


Sejujurnya sore itu, gue gak yakin atas apa yang akan gue lakuin, tapi gue pengen Naira berhenti berharap sama gue. Dia harus tau kalau gue mencintai Sara dan akan mengkhitbahnya. Semoga Naira akan baik-baik aja setelahnya.


"Iya, Bang," katanya.


Gue berjalan ke teras lalu duduk. "Duduk, Nai."


Naira duduk agak jauh dari gue. "Ada apa, Bang?" tanyanya.


"Kamu ... sudah berapa lama kenal sama Sara?" Naira mengerjap. Dia pasti enggak suka gue tanya-tanya begini, kelihatan banget dari gesturnya.


"Belum lama, Bang," katanya acuh.


"Kamu tau siapa dia?"


Naira mengernyit, pasti dia bingung, tuh. Lantas dia menggeleng pelan.


"Dia adalah cinta pertama Abang, Nai. Dulu kami pisah karena dia dijodohin sama ortunya. Dia juga yang menuntun Abang berada di jalan ini sekarang. Qaisara itu detour kehidupan Abang, tanpa dia Abang enggak bakal ada di sini sekarang." Gue menghela napas sejenak. "Sekarang Abang menemukannya, dan enggak akan Abang lepasin lagi. Abang mau mengkhitbah dia."


Air muka Naira langsung berubah sedih. Gue tau, gue udah nyakitin dia sekarang. Maafin Abang, Nai. Sungguh, Abang enggak bermaksud nyakitin kamu. Tapi, Abang beneran enggak mau mengingkari semua ini. Kamu enggak tau gimana perjuangan Abang buat Sara dulu. Kamu enggak tau, bagaimana berartinya Sara buat Abang.


Tak lama kemudian Naira berdiri sambil berkata, "Maaf, Bang, Nai harus ke dalam dulu."


Gue menangkap sepintas air mata itu menetes dari mata Naira sebelum dia menutup pintu rumah.


Maafin Abang, Nai, Abang harus mengatakan semua ini sama kamu. Lebih baik kamu tau sekarang daripada kamu tau nanti dan dari mulut orang lain. Abang harap kamu bisa ngelupain Abang dan bisa nemuin laki-laki yang beneran sayang sama kamu.


Kamu wanita baik-baik, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buat kamu di luar sana.


Jangan sedih lagi, Nai. Abang sedih melihat kamu sedih karena Abang.


***