Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 21



Jujur, seharian ini gue kepikiran sama Naira. Tuh anak kenapa, ya? Ah, bikin gue gak konsen aja, nih. Apa dia denger gue ngomong sama Bang Syahrul? Terus kenapa dia lari dan menjatuhkan sarapan gue? Dan__kenapa dia nangis? Apakah dia__ah, gue gak mau menerka-nerka. Gue menggeleng kuat-kuat.


Sekarang yang harus gue lakukan adalah fokus pada rencana ngelamar Sara. Entar malem gue mau bilang sama Habib, mau minta tolong sama beliau untuk ngelamarin Sara buat gue.


"Dokter Marko, lagi mikirin apa, sih? Dari tadi saya perhatiin bengooooong mulu," tutur Alia, perawatnya yang berdinas dengan dokter Ana.


"Hehe, siapa juga yang bengong."


"Ngeles aja nih, hehe. Kenapa, Dok? Lagi bingung masalah cewek, ya?" tanya Perawat yang sedang hamil itu.


"Al, saya mau nanya sesuatu boleh, kan?"


"Boleh, tanya aja," ucapnya sambil menutup bukunya.


"Kamu tau gak, kenapa wanita tiba-tiba kabur dan nangis denger kita mau nikah?"


Mata Alia membulat kaget, kayak yang syok gitu, mulutnya nganga, setelah itu dia tersenyum seneng.


"Kenapa muka kamu bentukannya begitu tuh?"


"Dokter Marko mau nikah?" tanya Alia dengan wajah semringah. Ya elah dia malah balik nanya, gue tanya juga.


"Hm, iya gue mau nikah," jawab gue lugas.


"Omaigot ... omaigot, ini berita terspektakuler! Dok, kalau Dokter nikah, entar perawat-perawat yang naksir Dokter patah hati dong, hihihi." Alia terkikik-kikik geli.


Yah, emang bener apa yang Alia bilang. Kata Dokter Linda, teman seangkatan gue, katanya gue jadi most wanted perawat-perawat di rumah sakit ini. Sebenarnya gue udah bosen jd most wanted gitu, bukannya sombong, lo tau sendiri sejak SMA gue udah banyak yang naksir. Resiko orang ganteng emang gitu, Man, hehehe. Dan sekarang saatnya gue akhiri semuanya dengan menikahi Sara. Udah capek gue jadi most wanted.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya, Al."


"Pertanyaan yang mana?"


Ah elah, apa kehamilan bisa membuat seorang ibu jadi lemot?


"Itu tadi, kenapa cewek yang denger kita mau nikah dia kabur dan nangis."


Alia berdiri lalu menghampiri meja gue. "Serius, Dok, ada yang kek gitu? Itu artinya dia cinta sama Dokter," tutur Alia dengan muka serius.


"Ah, yang bener?"


"Iya. Dia cinta sama Dokter. Kenapa dia kabur sama nangis coba, bukannya ngasih selamat."


Gue tercenung. Ah, Naira ... kamu itu udah gue anggap adik sendiri. Gue sayang banget sama kamu, Nai. Kalau faktanya kamu begitu, sekarang apa yang harus gue lakuin?


Naira adalah anak bungsu Habib Huza dan yang paling beliau sayang. Gue gak mau nyakitin dia. Kalau Naira terluka, Habib juga pasti terluka. Gue manangkup kepala dengan kedua tangan dan menjatuhkannya ke atas meja.


"Siapa emang, Dok? Perawat sini ya?" tanya Alia.


"Bukan." Gue mengangkat kepala.


"Terus siapa, dong?" Sorot mata Alia menyelidik.


Gue bangkit berdiri lalu mencondongkan muka ke mukanya Alia. "Kepo nih bumil. Udah ah, saya mau nyari makan dulu, laper."


"Ah, pelit nih, Dokter! Siapa, Dok?" teriak Alia.


Gue keluar ruangan sambil mikirin Naira. Ah, kenapa harus kayak gini sih? Ya Allah, gue harus gimana?


***


Sepulang dari rumah sakit, gue mampir ke toko perhiasan di salah satu mall. Setelah nyampe sana bingung sendiri. Kalau beli cincin buat Sara, gue gak tau ukuran jarinya dia. Nanti takut kekecilan atau kegedean. Ah, gimana kalau gelang aja.


"Mbak, liat gelang yang itu, dong."


"Yang ini, Mas?" tanya pelayan itu sambil menunjuk perhiasan yang gue maksud.


"Iya, yang itu."


Pelayan itu mengambilnya lalu menyerahkannya ke gue.


Gue meneliti detail gelang itu. Bentuknya simple dari emas putih, ada beberapa batu permata kecil yang jadi hiasannya. Gue suka. Semoga Sara juga suka.


"Ya udah Mbak, saya ambil yang ini, tolong bungkusin."


"Baik, Mas, tunggu sebentar."


Ah, gue deg-degan jadinya, inilah pertama kalinya gue beli perhiasan buat cewek. Pelayan itu memasukan gelang ke kotak beludru warna hitam yang elegan. Setelah itu, dia membungkusnya lagi ke dalam dus kecil bergambar logo toko perhiasan tersebut, dan memasukannya ke dalam kantong kecil dari kertas yang mengkilap berlogo toko itu juga.


"Terima kasih, Mbak, jadi berapa semuanya?"


"Enam juta, silahkan bayar ke kasir, di sebelah sana," katanya sambil menunjuk kasir.


"Oh, gitu." Gue menuju kasir, bayar, lalu pulang.


Saat ini gue emang belum punya penghasilan, beli perhiasan ini juga gue pake duit dari Bokap dulu, tapi InshaAllah nanti setelah program koas ini selesai, dan saat gue udah nikah sama Sara, gue udah punya penghasilan sendiri.


Bukankah Allah yang menjanjikannya sendiri? Banyak yang beranggapan untuk menikah seseorang harus mapan terlebih dahulu, punya ini dan itu sehingga menjadikan beberapa pihak tertunda bahkan tidak bisa melakukan perintah Allah yang Mulia. Padahal menikah adalah salah satu sumber rezeki bagi manusia, dengan menikah masnusia akan semakin dekat dengan rezeki yang berkah.


Allah berfirman, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahayamu perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nur: 32)


Gue percaya, janji Allah adalah benar.


***


Waktu gue keluar dari toko perhiasan tersebut, gue ngelihat orang yang sepertinya gue kenal. Diam-diam gue ngebuntutin orang itu. Tadi gue belum jelas liat muka dia, cuma liat sepintas doang. Namun, saat dia berbelok ke sebuah toko, gue liat ada dokter Linda di sana, dan mereka cipika-cipiki, lah, mereka saling kenal?


"Dokter Lindaaaa,” teriak gue sambil menghampiri mereka. Dokter Linda dan orang yang seperti gue kenal itu menoleh bersamaan.


Dan betapa kagetnya pas liat siapa orang tersebut.


“Marko?” seru orang itu, kaget juga liat gue kayaknya.


“Dika? Andika Suroto?” tanya gue ragu. Bertahun-tahun kita enggak ketemu, dan sekarang dia sudah banyak berubah, gue pangling liatnya.


“Loh, kalian saling kenal?” tanya dokter Linda bingung.


Gue dan Dika ngedadak mati gaya, gak tau meski ngapain, sedangkan hubungan kita terkahir kali itu beneran enggak baik banget. Buruk! Kita tercerai berai gara-gara Sara, dan gue udah beberapa kali hampir mati karena dikeroyok sama dia dan geng gak jelasnya itu.


“Iya Sayang,” ucap Dika.


Sayang? Mereka pacaran?


“Wah, aku gak nyangka bisa kebetulan gini. Sayang, dokter Marko itu temen seangkatan aku.” Dika terkejut mendengarnya.


“Apa kabar, Dik?” tanya gue canggung. Si Dika juga canggung kayaknya.


“Alhamdulillah baik. Lo sendiri?”


“Alhamdulillah, gue juga baik.”


Mata Dika terbelalak denger gue ngucapin “Alhamdulillah.”


“Ko, elo tadi bilang apa?” tanya Dika. Bingung banget kayaknya dia, hahaha.


“Alhamdulillah maksud lo?”


“I_iya,”


“Gue emang udah mualaf dari dulu.”


Bukan cuma Dika doang yang kaget, dokter Linda juga kaget.


“Dokter Marko mualaf? Saya kira udah muslim dari lahir.” Dokter Linda beneran kaget dia. Hahaha.


“Eh, kita kita jangan ngobrol di sini, kita minum kopi aja gimana?” usul dokter Linda.


Gue melihat jam di tangan, udah jam lima bentar lagi mau magrib, gue harus solat berjamaah di pondok.


“Sori, gue harus pulang sekarang. Entar kapan-kapan aja ya,” ucap gue. Saat gue akan melangkah, tiba-tiba Dika bersuara, “Karena Sara kan, Ko? Lo mualaf karena dia, kan?” Pertanyaan dari mulut Dika mengunci kaki gue tetap di tempat.


Gue memandang muka Dika agak lama kemudian mengangguk. Dika terenyak. Sorot matanya menatap gue dengan sendu, gue gak tau apa yang ada dipikirannya saat itu. Apa mungkin dia nyesel apa yang udah dia lakuin ke gue dulu?


Ah, tau deh.


“Ko, gue boleh main ke rumah lo?”


“Gue udah lama enggak tinggal di sana, Dik. Sekarang gue tinggal di pondok pesantren Habib Huza di daerah Pejaten. Kalau lo mau ketemu gue, ke sana aja.”


Gue lihat di raut muka Dika penuh dengan tanya.


“Ya udah gue cabut dulu,” ucap gue lalu pergi. Sebelum pergi gue juga melihat muka dokter Linda masih bingug. Pasti besok dia mengintrogasi gue di rumah sakit.


***