
Kalau dipikir, hidup itu singkat bukan? Rasanya baru kemarin gue lulus SMA, berpisah sama Sara, kuliah kedokteran, sekarang udah jadi dokter beneran, dan besok gue akan melepas masa lajang.
Benar kata mereka, waktu terus berjalan, umur semakin berkurang, namun dosa semakin bertambah. Semoga gue termasuk ke dalam golongan manusia-manusia yang bermanfaat dan berkah umurnya.
Besok babak baru kehidupan akan dimulai. Apakah gue bisa menjadi imam yang baik untuk Sara? Apakah nanti bisa membahagiakannya juga? Dia sudah terlalu menderita selama ini. Gue enggak mau membuatnya sedih apalagi meneteskan air mata. Sara berhak bahagia, dan gue akan bahagia bersamanya. Ridhoi kami ya Robb.
dreeeetttt dreeeetttt dreeettttt
Telepon bergetar di atas meja. Dari Bokap. Mudah-mudahan dia akan mengabarkan kabar baik. Minggu lalu gue udah bilang sama dia tentang pernikahan ini. Katanya, dia akan membujuk Nyokap untuk datang, mudah-mudahan aja berhasil.
"Halo, Pa."
"Marko, belum tidur kamu?"
"Belum, Pa."
"Calon pengantin gak boleh kurang tidur. Habis ini tidur ya," perintah Bokap.
"Iya, Pa."
"Marko, Papa udah bilang sama mama kamu dan keluarga yang lainnya kamu mau nikah besok. Tapi ... sepertinya mereka tidak mau hadir. Tenang aja, Papa akan dateng kok, kebetulan besok kan hari minggu Papa libur. Si Brian juga katanya pengen dateng, tapi kan kamu tau sendiri dia enggak bisa."
Gue udah tau pasti jawabannya akan seperti ini. Tapi tak apa, yang penting Bokap mau dateng.
"Iya, Pa, gak apa-apa, kok. Tapi Mama sama Brian baik-baik aja kan?"
"Ya, begitulah, Ko. Mamamu sekarang sering sakit-sakitan, si Brian juga keadannya masih belum membaik banget. Asam lambung Mamamu sering kambuh, mungkin karena stress juga mikirin si Brian dan kamu, Ko. Walaupun Mama ngusir kamu, tapi Papa tau betul kalau sebenarnya dia sayang banget sama kamu."
Gue menunduk sedih, enggak dikasih tau juga gue udah tau, kok. Dia sayang banget sama gue, makanya pas tau gue mualaf dia ngerasa dihianatin abis-abisan.
Gue udah matahin hatinya.
Maafin aku, Ma. Aku sayang sama Mama, tapi aku enggak bisa mengingkari kata hati aku sendiri.
"Besok pagi-pagi Papa akan ke pondok. Oh iya, Ko, nanti kalau udah nikah, kamu enggak tinggal di pondok lagi, kan? Terus rencananya kamu sama Sara mau tinggal di mana? Kalau mau, apartemen yang di Sudirman boleh kamu tempatin."
"Enggak Pa. Gak enak sama Mama, takut dia enggak setuju, rencananya Marko mau tinggal di rumah Sara, lagian kasian Mamanya Sara sendirian."
"Padahal Papa akan seneng banget kalau kamu sama Sara tinggal di situ, Ko."
Ah, Bokap gue ini emang paling juara. Gue juga maunya tinggal di sana, tapi gue akan menghormati keputusannya Sara. Terserah dia mau tinggal di mana.
"Ya sudah, kamu tidur sana, udah malem banget."
"Iya, Pa."
Telepon ditutup, dan gue membaringkan tubuh lelah ini di atas tempat tidur.
Sebelum memejamkan mata, gue berdoa, dan enggak lupa berdoa untuk kelancaran pernikahan gue besok pagi.
***
Samar-samar gue mendengar lantunan surah Al-Baqarah di mesjid pondok, sebelum subuh biasanya santri-santri mengaji di sana.
Perlahan gue bangun, menatap jam, sudah hampir pukul setengah lima pagi. Gue membuka pintu kamar supaya udara pagi menyerbu ke dalam. Saat pintu sudah terbuka, gue melihat Gus Lutfi bersandar di tembok tidak jauh dari kamar gue. Dia terkejut melihat gue keluar.
"Bang Marko," katanya sambil berdiri tegak.
"Lutfi? Ngapain ente di sini?" tanya gue heran.
"Aku udah dari kamarnya Gus Lukman, Bang," kata Gus cakep itu menjelaskan.
Gue membulatkan bibir. Kamar gue dan kamar Lukman emang sebelahan.
Lutfi berjalan menghampiri gue. "Bang, hari ini Abang nikah, ya? Selamat ya, Bang."
"Makasih, Fi."
Tiba-tiba Lutfi menunduk sedih.
"Kenapa ente?"
"Gak papa, Bang. Aku sedih aja, setelah nikah Abang udah enggak tinggal di sini lagi. Aku__pasti kehilangan Abang. Dan juga, aku pasti kangen diledekin, dipojok-pojokin sama Naira." Lutfi terkekeh.
"Hahaha, ente emang naksir beneran sama Naira, ya? Sampe-sampe ente sedih bakal kehilangan ledekan gue?"
Lutfi menunduk sambil mengusap-usap tengkuknya.
"Ya elah, Fi, kalau suka, maju dong! Masa gak berani."
"Ya enggak lah, Naira kan anaknya Habib."
"Apa masalahnya?"
"Sungkan lah, Bang. Lagian Nairanya juga kayak gak suka sama aku, dia suka sama cowok lain."
Hati gue terhentak. Seketika gue ngerasa enggak enak sama Lutfi. Gue berusaha menerbitkan senyum. "Naira kan masih ABG, entar juga perasaan dia berubah, ente harus lebih perhatian aja sama dia. Gue kasih tau, yang namanya cewek tuh, udah paling gak bisa deh nolak perhatian cowok. Apalagi cowok seganteng ente."
"Ah, bisa aja nih Bang Marko. Tapi masa iya sih, Bang?
"Gak percaya? Buktiin aja. Jadi cowok tuh makanya jangan kaku-kaku banget. Cewek gak suka."
"Abang berpengalaman juga, ya? Aku itu gak pernah pacaran, Bang, dosa!"
Gue menelan ludah, gue lupa si Lutfi itu orang saleh. Beda sama gue. Hahaha.
"Mau gue comblangin?"
"Hah?"
Lutfi langsung terlihat gugup sekaligus kaget dengar tawaran gue barusan.
"Hadeuh, gimana sih, pede dong! Kamu kayaknya harus sering-sering gaul sama gue. Nih, gue kasih tau, dulu gue mikir gak mungkin bisa nikahin calon istri gue. Gue gak pede banget karena dulu kita beda. Tapi lihat sekarang, gue berhasil dapetin dia, kan? Kuncinya apa? Kesungguhan. Kalau ente sungguh-sungguh, enggak ada yang gak mungkin di dunia ini."
Entah kenapa rasanya gue ngebet banget pengen si Naira sama Gus Lutfi jadian. Mereka cocok banget menurut gue. Dan gue ngerasa yakin aja Gus Lutfi bisa ngebahagiain Naira.
Lutfi menunduk. Kayaknya dia mikirin apa yang gue bilang.
"Allahuakbar ... Allahuakbar." Suara adzan berkumandang. Yang adzan suaranya Bang Yusuf. Marbot mesjid pondok yang kegantengannya bak nabi Yusuf. Ah, masa sih? Iya, serius gue. Eh, enggak ding becanda, hehe.
"Udah subuh. Aku ke mesjid dulu ya, Bang."
"Kita ke mesjid bareng, Fi."
***
Hari ini, pagi ini, gue akan menuju ke pelabuhan impian. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi niat mulia ini.
Stelan jas lengkap berikut kalung melati sudah menjuntai di leher. Sampai sekarang gue masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Ko, elo mau nikahin Sara. Sara, Ko! Cewek impian lo selama ini, cewek yang dulu lo pikir mustahil didapetin karena perbedaan sejauh merkurius ke pluto. Tapi apa sekarang? Dia akan jadi istri lo! Wanita halal elo! Setelah ini lo bisa meluk dia sesuka hati. Dulu boro-boro bisa meluk, nyentuh juga gak bisa, kan?
"Widih penganten, udah siap Bro?" Dika datang bersama istrinya.
"InshaAllah siap."
"Udah latihan ijab qobul?"
"Udah dong, gue hafal diluar kepala."
"Cakep. Kalo bisa satu tarikan napas, Ko."
Gue mengacungkan jempol.
"Eh eh, foto dulu dong, aku mau upload di IG, biar fans dokter Marko pada broken heart," tutur dokter Linda sambil mengeluarkan hape gambar apel tergigit type tiga roda. Hehehe ngarang lo, Ko.
"Boleh-boleh."
Kita bertiga pun selfie dengan berbagai macam gaya. Gue sih senyum doang, gak banyak gaya. Haha.
Setelah itu, ada Bang Syahrul masuk ke kamar, kali ini dia mengikutsertakan istrinya dan dua anaknya. Bang Syahrul udah kayak abang buat gue. Gue bersyukur banget, disaat gak ada keluarga yang ngedukung, gue masih dapet dukungan dari keluarga baru di pondok ini. Ummi dan Habib kali ini berperan sebagai orang tua gue, walaupun nanti ada bokap juga.
"Yuk, udah jam delapan, kita harus berangkat," tutur Bang Syahrul sambil mengangkat tangannya melihat jam.
"Yuk. Huft ... bismillah." Gue mencoba membuang kegugupan yang mengganjal di hati.
***
Selang lima belas menit, iring-iringan pengantin sampai di tempat akad nikah, yaitu di mesjid daerah rumahnya Sara.
Gue diantar bokap ke depan meja tempat ijab qobul. Lo jangan tanya gugupnya gue saat itu. Saking gugupnya gue serasa pengen pup tapi enggak, perut pun mendadak kembung gak keruan, tapi gue mencoba buat stay cool. Untung aja AC di mesjid itu menyala semua, jadi keringat enggak membanjiri muka gue. Ah, jadi kayak gini rasanya mau nikah. Gue gak akan bisa lupain semua ini.
Tak lama kemudian pihak KUA datang, dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang nanti akan ditanda tangan. Bang Arka selaku wali nikah Sara sudah bersiap di tempatnya, dari tadi dia enggak henti-hentinya berucap syukur dan senyumin gue.
Dari semua orang yang hadir, Bang Arka lah yang terlihat sangat bahagia. Gue tau betul gimana perasaannya sekarang.
Lo tau sendiri kan gimana Bang Arka dulu ke gue? Dia maksa gue buat ngelupain adiknya. Sayangnya gue gak bisa.
"Kamu siap, Ko?" bisik Bang Arka.
"InshaAllah siap."
Bang Arka kembali tersenyum.
Setelah semuanya siap, sambutan, serta bacaan ayat suci selesai. Sekarang waktunya ijab qobul.
Tangan kanan Bang Arka terulur ke atas meja, gue pun menyambut tangan itu.
"Marko Jefford Kenward, saya nikahkan dan saya kawinkan dengan adik kandung saya yang bernama Qaisara Azzahra dengan mas kawin sepuluh gram emas, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Qaisara Azzahra binti Faisal Rahman almarhum, dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Gimana saksi, sah?" tanya Bang Arka. Habib dan salah seorang kerabat Sara sebagai saksi mengangguk.
Seketika juga beban yang beberapa hari ini seperti menggelayot di bahu gue terangkat bagaikan kapas tertiup angin. Sumpah, legaaaa banget. Alhamdulillah ya Allah.
"Alhamdulillah, barakallah," tutur orang-orang di sekeliling gue, dan yang paling kenceng suaranya si kampret Dika. Haha.
Setelah itu doa-doa pun dipanjatkan dipimpin oleh Habib. Tak lama kemudian Sara datang bersama ibunya.
Sedetik pun pandangan gue gak lepas dari Sara. Bagaimana bisa dari dulu gue mengagumi satu orang wanita saja? Apakah dengan sengaja Allah telah menutup pesona wanita lain supaya gue menemukan hidayah lewat dia? Seperti yang lo tau, gue telah diberi hidayah oleh-Nya lewat Sara, dengan bangga sekarang gue bisa menyebutnya, "istri gue."
Ah, rasanya dada ini bergetar saat menyebutnya, "istri gue." hehe. Berkahi pernikahan kami ya, Robb.
Baju pengantin muslimah berwarna putih pas melekat di tubuh Sara yang semampai. Makeup natural semakin menonjolkan sisi cantik perempuan itu. Gue baru lihat Sara dengan riasan seperti itu.
Lantunan sholawat mengiringi Sara menghampiri gue. Sumpah gue sampe merinding dengernya. MashaAllah ... rasanya air mata ini hampir saja terjun ke pipi.
Setelah Sara berdiri di hadapan gue, dia sun tangan, dan gue mengecup keningnya. Inilah kontak fisik pertama kita. Lo bisa bayangin gimana senengnya gue, kan?
Seluruh legenda romantis yang ada di bumi, kalah sama moment gue dan Sara barusan. Gue berani bertaruh. Hahaha.
Senyum di bibir Sara tersungging buat gue, dan gue membalasnya setulus mungkin. Kita pun duduk untuk menandatangani berkas-berkas. Setelah itu kita sungkem ke orang tua. Hati gue mendadak mendung. Harusnya Mama ada di sini, harusnya gue dan Sara sungkem sama dia, harusnya mama menyaksikan anak sulungnya menikah, harusnya enggak seperti ini.
Gue menunduk sedih. Harusnya pola "seharusnya" enggak ada, tapi ada buat gue. Mungkin cuma buat gue, orang lain enggak.
Ma, Marko kangen Mama ....