
Saat nyampe rumah, entah kenapa gue ngerasa ada hawa yang beda. Beda aja gak tau kenapa. Gue pergi ke dapur nyari minum, setelah itu ke kamar. Gue inget belum solat ashar, sekarang udah jam 4. Tadi sepulang sekolah, gue gak langsung pulang ke rumah, tapi ketemu dulu sama Bang Vero. Lo inget kan sama dia? Dia Bang ojol yang udah bantuin gue waktu dikeroyok sama si Dika dan gengnya.
Gue ketemu sama dia buat nanya-nyanya soal kuliah jurusan kedokteran. Diakan selain ngojol, kuliah jurusan kedokteran juga. Rencananya gue mau ngambil jurusan tersebut. Ini inisiatif gue sendiri, enggak ada paksaan dari siapa pun. Jadi dokter itu keren aja gitu, bisa nolongin dan nyembuhin orang-orang yang sakit.
Pas masuk kamar, gue kaget bukan kepalang. Nyokap tengah duduk di kasur sambil memegang erat sejadah yang biasa gue pake buat sholat. Gue lihat mata Nyokap merah banget, pasti dia udah nangis hebat.
Dia noleh dengan wajah geram. Saat itu gue ngedadak membeku di tempat seperti telah dibekukan oleh Mr. Freeze yang sukses membekukan satu Gotham City. ****** gue mampuuuus.
Nyokap bangkit dari duduknya menghampiri gue. Serta-merta dia melempar sajadah itu ke muka gue dengan kasar hingga menimbulkan rasa perih. "Coba jelasin sama Mama, apa semua ini?" tanya Nyokap sambil terisak-isak.
"Apa semua ini Markoooooo!" teriak Nyokap. Gue belum bisa membuka mulut. Bahkan untuk bergerak pun enggak bisa, kutukan Mr. Frezee itu masih melekat di tubuh gue.
"Mama nanya sama kamu! Ayo jawab, ngomong!" Suara Nyokap semakin menggelegar. Mungkin bisa kedengeran sampe ke luar. Adik gue si Brian keluar dari kamarnya menghampiri.
"Kenapa kalian?" tanya Si Brian. Setelah dia melihat sajadah di bawah kaki gue, wajah dia pun berubah geram.
"Dasar ******* lu, Ko!" sarkasnya.
"M__maafin Marko, Ma," saat itu cuma kalimat itu yang terlintas dalam otak gue.
Nyokap memalingkan muka sambil menangis. Sebenarnya saat itu gue pengen banget meluk dia buat nenangin, tapi gue tahu pasti dia enggak mau gue sentuh.
"Sejak kapan Marko?" Sekarang suara Nyokap terdengar melemah.
"Belum lama, Ma."
"Apa!" seru Nyokap dan Brian bersamaan.
Si Brian mendekati gue, kemudian dengan satu gerakan cepat dia meninju muka gue sekuat tenaga hingga terhuyun-huyun. Gue ambruk di lantai, sementara nyokap diam saja lihat gue dipukulin si Brian.
"Gue udah curiga dari dulu sejak gue nemuin buku-buku aneh di kamar lo. Tapi gue gak nyangka aja lo beneran nekad mualaf, Ko!" tutur Brian, gue lihat muka dia merah pertanda dia memang sangat emosi.
"Pergi, Ko! Pergi dari sini!" kata Nyokap pelan namun tajam. Gue mendongak menatap Nyokap enggak percaya. Apa sekarang gue diusir dari rumah gue sendiri?
"Ma ...."
"Pergiiiiiiiii!" Suara Nyokap menggelegar. "Mama enggak mau liat muka kamu lagi!"
Perlahan mata gue panas. Kemudian tanpa dipinta, air mata sialan ini lolos juga dari pertahanan.
"Mama ngusir Marko?" tanya gue sambil bangkit berdiri. Nyokap diam tanpa ngelihat muka gue.
"Pergi! Sekarang kamu bukan anak Mama lagi!" katanya lalu pergi dari kamar gue sambil menangis.
"Parah lu, Ko! Dasar setan!" Brian pergi juga dari kamar gue.
Gue berjalan mengambil sajadah yang dilempar Nyokap lalu mendekapnya dengan erat di dada, dan air mata gue pun jatuh di sana tanpa kendali.
Ya Allah, ada apa dengan hari ini? Gue mendengar Sara mau nikah minggu depan, dan sekarang gue diusir dari rumah. Nyokap ngebuang gue sekarang, gue mohon Engkau jangan buang gue juga. Gue butuh Engkau buat bersandar.
Gue merebahkan sejenak tubuh lelah ini di kasur. Tak lama kemudian ada Bi Ecin masuk ke kamar. "Den Marko," ucapnya. Gue bangun, lalu serta-merta gue dipeluk sama dia. Bi Ecin nangis sesenggukan di bahu gue.
"Sabar, Den ...." Dia ngelus-elus punggung gue. Tanpa dipungkiri pelukan Bi Ecin sukses bikin gue sedikit tenang. Waktu kecil juga gue selalu dibelain sama dia. Dia selalu meluk gue kalau gue nangis. Ah, Bi Ecin, kalau gue pergi, gue pasti kehilangan banget.
Dia melepas pelukannya. "Den Marko mau kemana sekarang? Apa ada tempat tujuan?"
Gue terdiam sejenak, bingung gue juga mau kemana. Namun, tiba-tiba gue teringat pondok pesantrennya Habib Huza.
"Mungkin aku akan ke tempatnya Habib Huza, Bi."
"Di mana itu, Den?"
"Di daerah Pejaten."
"Den Marko punya uang buat ongkos?"
Gue menggeleng. Bi Ecin menangis lagi sambil ngusap-usap lengan gue. "Ya Allahurobi. Sebentar, Bibi mau ke kamar dulu." Bi Ecin bangkit sambil mengusap air matanya, lalu pergi. Selang beberapa menit, dia kembali dengan satu kantong keresek kecil di tangannya. Isinya ternyata makanan dan minuman.
"Den Marko pasti lapar kan, belum makan. Bawa ini buat mengganjal perut. Dan ini buat ongkos." Bi Ecin memberi gue uang dua ratus ribu.
"Tapi, Bi, ini uang Bibi," ucap gue gak enak.
"Gak apa-apa pake buat ongkos ojek, Den." Bi Ecin memasukan uang itu ke saku baju gue.
"Makasih, Bi." Bi Ecin tersenyum tapi masih dengan mata yang mengembun.
Setelah itu, Bi Ecin ngebantuin gue berkemas. Dan setelah solat ashar, gue pun pergi dari rumah, dilepas oleh isakan tangis Bi Ecin.
Gue gak tahu Tuhan akan ngasih skenario apa setelah ini, tapi gue akan tetap istiqomah seperti pesannya Sara waktu itu.
***
Habib Huza terkejut dengan kedatangan gue. Dia meluk erat gue sambil menitikan air mata. Tak lama dia pun menelepon Bang Syahrul mengabarkan kondisi gue sekarang. Selang satu jam, Bang Syahrul pun datang dan menguatkan gue. Setelah mendapatkan itu, hati gue benaran tenang dan adem rasanya.
"Mulai hari ini, kamu tinggallah di sini, Ko. Saya akan senang kalau kamu ikut mengurus pondok ini," kata Habib Huza.
"Nanti kamu tidur di kantor aja, jangan di kobong. Di sana udah penuh oleh santri-santri."
"Di mana aja, Bib, di mesjid juga enggak apa-apa, yang penting ada tempat buat tidur."
Habib Huza tersenyum sambil ngangguk-ngangguk.
"Sabar ya, Ko. Kamu sebetulnya beruntung dititipin Allah semua ini. Saya iri rasanya," ucap Bang Syahrul.
"Ah, Abang bisa aja."
"Serius, Ko. Waktu pertama ketemu kamu, saya udah ngerasa dalam diri kamu emang ada yang beda."
"Beda gimane?"
"Gak tau, beda aja. Susah ngejelasinnya."
"Oh iya, Bang, jangan kasih tau Bang Arka sekarang gue tinggal di sini ya."
"Kenapa?"
"Gak kenapa-napa. Gue gak mau aja dia sedih liat kondisi gue sekarang."
"Gitu ya, oke deh."
Habib Huza menepuk pelan bahu gue, kemudian berkat, "Betah-betah di sini ya, Ko. Saya seneng banget sekarang kamu di sini. Sekarang siap-siap sholat magrib, yuk."
***
Sudah lima hari gue tinggal di pondok, dan uang dari Bi Ecin sisa dua puluh ribu, sekarang gue bingung pergi ke sekolah, buat ongkos ojol aja kurang, sedangkan hari ini adalah hari kelulusan, gue wajib datang ke sekolah. Di saat bingung seperti itu. Tiba-tiba Anwar, salah satu petugas pondok, memanggil gue dari luar kamar. "Marko ...."
Gue membuka pintu menyundulkan kepala ke luar. "Iya, War?"
"Itu di luar ada yang nyariin elo. Bule. Dia bapak lo, ya?"
"Apa?" Gue kaget banget Bokap pagi-pagi banget dateng ke sini. Pasti dia tau dari Bi Ecin gue di sini.
Cepet-cepet gue pake seragam sekolah lalu pergi nemuin Bokap. Gue lihat dia berdiri di depan gerbang. Saat dia ngelihat gue, senyumnya langsung mengembang, dan saat gue udah di hadapannya, dia langsung meluk erat banget. Gue bisa ngerasain kerinduan dalam hati laki-laki yang mirip gue itu.
Pak Gani, supirnya Bokap pun terlihat terharu menyaksikan adegan pelukan itu.
"Papa enggak tau mau ngomong apa lagi, Ko. Yang pasti Papa seneng kamu baik-baik aja dan berada di tempat yang baik. Papa menghormati keputusan kamu, Ko." Kelenjar air mata di pelupuk mata gue tiba-tiba berkerja lebih kuat dari biasanya. Sumpah gue terharu banget dengernya.
Dari dulu Bokap emang orangnya sangat demokratis, yang membebaskan anaknya melakukan apapun asalkan itu baik. Mungkin karena dia orang luar yang dari kecil sudah ditanamkan hal-hal seperti itu.
Bokap melepas pelukannya. "Kamu emang mirip Papa banget, Ko. Kamu berani mengambil keputusan apapun. Kayak Papa dulu waktu mutusin pindah kewarganegaraan. Papa ditentang sama keluarga Papa, tapi Papa yakin apa yang Papa lakuin." Papa menghela napas sejenak. "Sebenarnya Mama kamu ngelarang Papa buat nemuin kamu, Ko. Keadaan dia sekarang juga lagi gak baik. Dua hari ini dia dirawat di rumah sakit."
"Mama sakit?" Bokap ngangguk. Pasti dia sakit karena mikirin gue. Maafin Marko, Ma.
"Sakit apa, Pa?"
"Enggak parah, Ko. Cuma asam lambungnya lagi naik, dan juga kurang tidur aja mungkin jadi tensinya naik dikit. Tapi kamu jangan khawatir, kata dokter besok dia udah bisa pulang."
"Syukurlah. Mama dirawat di mana, Pa?"
"Di Medistra. Kamu udah sarapan, Ko?"
Gue menggeleng pelan. Papa mengerjap. "Mau sarapan sama Papa? Sekalian Papa anter kamu ke sekolah. Hari ini, hari kelulusan, kan?"
"Iya."
"Ya udah, ayo kita berangkat. Kamu pamit dulu sama Habib."
Gue ngangguk, lalu masuk ngambil tas, dan pamit sama Habib. Setelah itu pergi sama Bokap nyari sarapan dan ke sekolah.
"Ko, pegang ini!" kata Bokap ketika gue mau turun dari mobil setelah nyampe di depan sekolah.
Dia memberi gue sebuah kartu ATM. "Nanti Papa akan transfer setiap bulannya. Kamu juga harus kuliah. Bagaimanapun juga kamu itu harapan terbesar Papa, Ko. Kamu boleh ikutan SBMPTN. Pilih jurusan yang kamu mau, Papa akan dukung."
"Jadi Marko enggak perlu ke Inggris?"
Bokap ngangguk. Ah, gue lega rasanya. Sebenarnya gue pengen banget nanya soal problem yang kemarin-kemarin gue denger, tapi urung gue lakukan.
"Makasih, Pa. Marko janji enggak akan ngecewain Papa."
Papa senyum sambil menepuk pelan bahu gue.
"Ambil ini, Ko. Pin-nya hari ulang tahun kamu," kata Bokap. Gue nerima kartu ATM itu dengan tangan gemetar.
Sebelum gue turun, gue dipeluk lagi sama Bokap. Lama.
***