
Ada yang lain dengan Sara hari itu, dia terus saja natap gue, kenapa ya? Gue kan jadi geer, ya gak? Apa ada yang salah dengan muka gue? Atau dia mulai terpesona dengan ketampanan paripurna ini? Ah, tatapannya bikin gue gak konsen!
Pelajaran sore itu lumayan berat, ternyata lebih gampang belajar bahasa inggris daripada belajar ngaji. Tapi, gue gak akan nyerah, gue harus bisa!
Setelah ngaji, kita makan es doger sama-sama. Dan inilah pertama kalinya kita makan berdua. Ya ... walaupun cuma es doger, tapi gue happy. Semoga suatu saat kita bisa candle light dinner. Amin. Aminin aja, siapa tahu Tuhan denger, hehehe.
Rasanya gue pengen nanya sama dia, dia suka sama gue apa kagak? Tapi lidah ini rasanya kelu, kayak orang stroke.
"Sar, sori." Tangan gue terulur hendak menyentuh pipinya karena ada semut nakal yang mampir di sana. Namun, Sara sontak memundurkan kepalanya dengan reflek, alhasil tangan gue menggantung di udara. Dengan rasa malu, gue menurunkan kembali tangan ini. Ah iya, gue lupa, Sara kan tidak bisa berkontak fisik sama cowok.
"Maaf, Ko," ucap Sara sambil nunduk.
"Ada s__semut." Gue gagap, kayak Azis Gagap.
"Sara ...." Gue nelen ludah dengan kesusahan sebelum mengutarakan perkataan dalam otak. "Gimana caranya, biar aku bisa menyentuhmu dengan leluasa? Bilang sama aku!" Gue lihat Sara menoleh kaget sama gue. Kemudian tanpa diduga tiba-tiba mata doi berair, Man! Beberapa detik kemudian dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Apa dia menangis? Benar, dia nangis ternyata, barusan gue denger dia terisak pelan.
"Sar, maaf, apa ucapan aku menyakiti kamu?" tanya gue. Sara menggeleng, tapi masih menutupi wajahnya. Ada apa ini? Gue beneran gak ngerti!
Tak lama dia menurunkan tangannya, dan mencoba menenangkan diri.
"Ko, kamu percaya takdir?" tanyanya tanpa mandang gue.
"Percaya," jawab gue sedikit enggak ngerti kenapa Sara ujug-ujug tanya takdir segala?
Sara senyum sekilas. "Setiap manusia sudah ditentukan takdirnya oleh Allah dari masih di dalam kandungan, tapi manusia bisa merubah nasib. Dan aku ingin nasibku berubah suatu saat. Bantu aku untuk merubah nasibku, Ko."
Hah? Apa nih maksudnya? Gue beneran gak ngerti arah pembicaraan ini kemana.
"Kamu tanya, gimana caranya agar kamu bisa menyentuhku dengan leluasa, kan? Jawabannya adalah pernikahan. Tidak ada yang lain. Kita harus menikah agar kamu bisa bebas menyentuhku sesuka hatimu. Tapi ... itu tidak mungkin, karena aku sudah dikhitbah oleh seseorang."
"Dikhitbah, maksudnya dilamar?"
"Ya ... bisa dikatakan begitu. Takdirku harus menikah sama dia, Ko." Akhirnya Sara bilang juga, padahal gue sudah tahu dari Zulfa kalau Sara sudah dijodohin sama ortunya.
Gue narik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan lewat mulut buat nenangin hati. Sara terlihat menyedihkan, gue kasihan sama dia. Rasanya gue pengen meluk dia, tapi gak bisa. "Apa yang bisa aku bantu, Sar? Apa yang bisa aku lakukan buat kamu?"
Sara natap mata gue dalam banget. Entah apa yang ada di benaknya saat itu. "Kamu mau nunggu aku?" cetus Sara.
"Nunggu kamu?" Sara ngangguk. "Iya, aku mau," tambah gue.
"Walau itu lama?" Sara kembali bertanya.
"berapa lama? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun?"
Sara mengerjap. "Enggak tau," katanya sambil melempar pandangan ke arah lain.
"Ah, lupakan, Ko! Kamu harus jalani hidup kamu dengan bahagia. Lupakan semua ucapan aku tadi, ya!" kata Sara sambil tersenyum.
Gue ngerti perasaan kamu, Sar. Tenang aja, gue bisa, kok! Gue bisa nunggu kamu walau seabad. Gue janji! Jangan nangis lagi bidadariku, aku sedih lihat kamu kayak gini.
💔💔💔
Mimpi gue waktu itu, hari ini menjadi kenyataan. Sara beneran minta tolong sama gue, dan permintaannya itu enggak main-main. Dia pengen gue bantuin ngerubah nasibnya. Dan mungkin nasib gue juga. Tapi gimana caranya? Jujur aja, pas Sara bilang gitu, gue ngerasa dikasih lampu hijau, dan gue harus tancap gas. Oke, akan gue lakuin, Sar.
Gue nyimpan buku-buku tentang Islam dan Iqro yang Sara kasih di meja belajar. Dan gue gak menyadari kalau itu menjadi pembuka terbongkarnya misi gue. Setelah gue naro buku-buku itu, gue mandi, tidak tahunya ada si Brian masuk ke kamar dan menemukan buku-buku itu. Alhasil hebohlah dia.
Gue kaget saat keluar kamar mandi, si Brian udah memasang muka garang sambil megang salah satu buku itu. "Apaan nih?" tanya Brian tajam. Gue langsung nyambar buku di tangan Brian dan memasukan buku-buku itu ke tempat aman.
"Bukan apa-apa!" elak gue.
"Marko! Lo jangan gila, ya! Gue bilangin Mama, nih!" Brian mau keluar, tapi gue tahan.
"Jangan, Bri. Plisss! Gue mohon."
"Elo ngapain piara buku-buku ******* itu! Lo mau mualaf, hah?!" sentak Brian. Sumpah! Gue gak terima Brian bilang kalau itu buku-buku *******. "Jaga ya, mulut lo!" ucap gue tajam.
"Sekarang lo marah sama gue? Buang gak! Kalau enggak dibuang gue bilangin Mama sekarang."
Brian nunjuk muka gue dengan tatapan membunuh. Kayaknya nih anak gak main-main. Emang dibanding gue, Brian itu seorang Katolik yang taat kayak Nyokap. Kayaknya gue nurun dari Bokap karena biasa-biasa aja, gak fanatik-fanatik banget.
"Awas, lo!" ucap Brian lalu pergi. Gue ngelempar handuk ke kasur. "Sial!"
Gue ngambil hape di tas, lalu memesan ojol. Gue udah janjian ketemu Bang Arka. Setelah gue dibaju, tak lama Bang Ojol datang. Gue pun langsung cabut dari rumah.
"Marko, kamu mau ke mana?" tanya Nyokap saat gue melewati ruang tengah. Dia sedang nonton TV sama Brian. Sinetron yang Nyokap bintangin udah tamat, jadi sekarang dia lebih banyak di rumah.
"Keluar bentar, Ma."
"Awas jangan malam-malam pulangnya!"
"Iya." Sepintas gue lihat Brian masih menatap gue sebal. Ah, bodo amat lah!
💕💕💕
Selang setengah jam, gue nyampe di mesjid tempat gue dan Bang Arka ketemu pertama kali. Gue janjian sama dia di sini. Sekitar sepuluh menit, akhirnya Bang Arka muncul bersama temannya. Gue berdiri saat mereka sudah di depan gue, lalu menyalami mereka berdua.
"Marko, ini teman saya. Syahrul. Dia yang akan menjawab semua pertanyaan kamu tentang Islam."
"Halo, Bang," sapa gue ramah.
Bang Syahrul tersenyum hangat sama gue. "Jadi ini orangnya yang kata Arka, ikut sholat Magrib berjamaah padahal non muslim?" Gue nyengir sambil mengusap-usap tengkuk.
"Ganteng banget!" cetus Bang Syahrul.
"Ah, bisa ajeh." Gue ketawa malu, dan Bang Arka ikutan ketawa juga.
"Ya udah kita duduk, yuk," ucap Bang Arka lalu mereka membuka sepatu. Kemudian kami pun ngobrol-ngobrol santai di emper mesjid.
"Jadi, gimana, Ko? Apa ada yang bisa saya bantu?" cetus Bang Syahrul, setelah kita ngobrol-ngobrol gaje, soal kabinet kerja yang baru dilantik, soal temen SMA Bang Arka yang katanya pecandu, soal Bang Syahrul yang istrinya akan melahirkan beberapa minggu lagi.
Gue nunduk sesaat lalu mendongak menatap muka Bang Syahrul dengan dalam.
"Bang, jelasin sama saya tetang agama Islam. Kenapa sih saya harus percaya Tuhan kalian? Bedanya apa Tuhan kalian dengan Tuhan saya? Saya perlu jawaban yang masuk di akal saya."
Bang Arka sama Bang Syahrul saling pandang lalu menatap gue bersamaan.
"Pertanyaan yang rasional banget, Ko. Hehehe." Bang Syahrul malah ketawa.
"Marko ... agama Islam adalah agama yang benar, lurus, sesuai dengan namanya; Islam. Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. Tuhan kami adalah Alloh, dan nabi Muhamad adalah utusanNya. Perbedaan antara Tuhanku dan Tuhanmu? Allah adalah nama zat satu-satunya yang wajib wujud-Nya, dalam arti selalu harus wujud. Dialah yang berhak dan wajib disembah. Dan Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya Allah, 'Qul huwa Allahu ahad.' Katakanlah, 'Dia-lah Allah, yang Maha Esa', sedangkan Tuhanmu dalam agama kami adalah utusanNya. Isa Allaihisalam."
"Iya, saya juga pernah dengar itu, Bang. Tapi kenapa kami malah menyembah Nabi, bukan Tuhan? Saya pernah bertanya pada pendeta, kenapa kami kadang menyebut Tuhan kami dengan sebutan Yesus, kadang juga Allah, lalu pendeta menjawab, itu hanya penegasan seperti kita memangil seseorang Pak atau menjelaskan nama seseorang seperti Michael itu bapak laki-laki. Jujur itu belum bisa dicerna oleh otak saya," tutur gue.
Bang Syahrul tersenyum sambil mandang gue dengan lembut.
"Jujur aja, Ko, saya enggak ngerti sama agama yang kamu anut. Jadi saya gak bisa menyangkal pandangan pendeta itu. Takut salah ngomong."
Marko ngangguk-ngangguk paham.
"Jadi, apakah kamu mulai tertarik dengan islam?" Bang Syahrul bertanya.Â
"Kalo soal itu, saya emang udah tertarik dari dulu, tapi saya takut orang tua saya marah. Tadi aja adik saya marah-marah karena liat buku-buku tentang islam yang saya dapet dari teman."
"Oh gitu. Saya paham, kok. Masalah ini memang harus dipikirin dengan sangat matang. Kalo kamu udah mantep banget pengen mualaf, nanti saya akan kenalkan ke guru saya."
"Siap, Bang. Nanti saya kontek Abang lagi."
"Kita mau sholat Isya dulu, nih. Bentar ya, Ko," kata Bang Arka.
"Oh, iya, Bang. Saya tunggu di sini aja."
***