Loving Unconditionally

Loving Unconditionally
Part 25



Ditemani Bang Syahrul, malam ini gue pergi ke rumahnya Sara. Nanti kalau melamar secara resmi baru gue minta bantuannya Habib. Dan__Bokap juga kalau dia mau.


Belum apa-apa gue udah keluar keringat dingin, dan tadi waktu kita mau berangkat, Bang Syahrul nyempetin video call sama Bang Arka. Dia terharu banget sampe nangis gitu, gue baru liat Bang Arka nangis kayak gitu. Dia nititpin Sara ke gue, dan gue jawab, "Dengan senang hati dititipin Sara mah." Bang Arka sama Bang Syahrul ketawa. Hahaha.


Sekarang gue dan Bang Syahrul berdiri di depan pagar rumahnya Sara yang sederhana.


"Assalamualaikum," seru gue.


Tidak butuh waktu lama menunggu pintu terbuka. Kali ini Mamanya Sara yang bukain pintu. Jantung gue jedag-jedug gak karu-karuan, Man. Hahaha.


"Siapa, ya?" tanya Mamanya Sara.


"Saya Marko, dan ini Bang Syahrul temannya Bang Arka."


"Ooh, mari masuk." Mamanya Sara membuka pagar.


Setelah itu gue dan Bang Syahrul duduk dengan canggung di ruang tamu.


"Maaf, ada perlu apa ya?"


"Saya datang ke sini untuk bicara sama ibu dan Sara," ucap gue. Kalian jangan tanya gimana perasaan gue waktu bilang begitu. Deg-degan banget!


Kening Mamanya Sara berkerut. Mungkin dia heran tiba-tiba ada cowok yang belum pernah dikenalnya dateng malam-malam mau bicara.


"Maaf, Bu, Saranya ada?" tanya gue.


"Ada, tadi dia sedang solat Isya. Sebentar, saya pangil dulu."


Gue ngangguk. Mamanya Sara pergi ke belakang.


Beberapa saat kemudian Sara muncul ke ruang tamu tanpa Mamanya.


"Ko," sapa Sara.


"Hai, Sar. Aku gangguin gak?"


"Enggak, kok." Sara menyapa Bang Syahrul sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Mama kamu mana?"


"Ada di dapur. Mau aku panggilkan?"


"Jangan! gak papa, Sar. Takut ganggu."


Sara ngangguk.


"Kamu tinggal berdua aja sama Mama kamu?"


"Iya, kami tinggal berdua," jawab Sara sambil membenarkan jilbabnya.


"Arka pulang setahun sekali, Sar?" tanya Bang Syahrul.


"Enggak, dia sering pulang, kok. Bulan kemarin juga pulang sama istrinya. Tapi Mama nyuruh jangan sering-sering pulang, sayang uangnya, tiket pesawat mahal."


Gue memandang wajah Sara yang sedikit pucat. Jujur aja, sebenarnya gue khawatir banget sama kondisinya sekarang. Gue bertekad sebisa mungkin harus bisa membujuk Sara buat operasi. Apapun caranya Sara harus operasi.


"Sar, aku datang ke sini sekarang, karena ada yang mau aku omongin sama kamu."


Sara mengerjap. Air mukanya langsung berubah tegang, dan kayak yang enggak mau ngebahas apa yang mau gue bahas.


"Sar, gue sengaja datang sama Bang Syahrul sekarang, karena gue mau dia jadi saksi atas__" tenggorokan gue tiba-tiba tercekat. Keparat di dalam sana seolah menahan gue buat ngomong maksud kedatangan gue ke sini.


Sara sedikit memiringkan kepalanya menunggu gue melanjutkan ucapan.


"Atas apa yang akan aku lakukan ke kamu. Kamu masih inget janji aku dulu, kan? Janji itu buatku gak main-main, Sar. Kamu sendiri yang minta aku buat menunggu dan aku mau menunggu walau itu 20 tahun, tapi malam ini aku enggak mau menunggu lagi, Sar. Malam ini aku ingin mengkhitbah kamu."


Bersamaan dengan itu Mamanya Sara datang ke ruang tamu dengan nampan berisi dua cangkir teh di tangannya. Dia terlihat kaget banget, tapi dia berusaha terlihat biasa-biasa saja sambil meletakan cangkir itu ke depan gue dan Bang Syahrul, lalu duduk di samping Sara.


"Hm." Dia berdeham pelan. "Nak Marko, kamu tahu Sara seorang janda? Yakin Nak Marko mau mengkhirbahnya?" tanya Mamanya Sara.


"Saya tahu, Bu," jawab gue.


"Saya tahu semuanya tentang Sara, Bu. Saya udah mengenalnya sejak berumur 16 tahun, saya juga tahu tentang kondisi Sara sekarang, karena saya kebetulan dokter yang memeriksa Sara."


Sara melotor kaget, sedangkan Mamanya menatap gue bingung.


"Maksud Nak Marko?" tanya Mamanya Sara. Gue lihat Sara gelisah dan ketakutan, dia seperti memberi kode ke gue agar enggak bilang apa-apa. Gue berpikir, apakah Mamanya Sara enggak tahu dengan kondisi Sara sekarang?


Wah, gak bener nih, bagaimanapun juga Mamanya Sara harus tahu dengan kondisi anaknya. Penyakit Sara enggak main-main, Sara harus mendapat dukungan dari keluarganya, terutama ibunya.


Gue nunduk enggak mau melihat wajah Sara. Maafin gue, Sar. Kayaknya gue harus bilang tentang kondisi kamu sama Mama kamu.


"Saya dokter koas yang ikut memeriksa kondisi Sara, Bu."


Sara nunduk, tapi sebelumnya gue melihat dia melirik gue sedih.


"Tolong bilang sama Mama."


Perlahan gue lihat Sara menganggukan kepala.


"Sakit apa, Sar?" Sara bergeming. Mamanya Sara beralih menatap gue. "Sara sakit apa Nak Marko?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Ada tumor di rahim Sara, dan secepatnya Sara harus dioperasi sebelum tumor itu berubah ganas menjadi kanker," tutur gue.


"Allahurobbi ...." tangis Mamanya Sara pecah. Gue gak tau alasan kenapa Sara merahasiakan penyakit berbahayanya. Dan feeling gue itu semua mungkin karena biaya.


Sara ikut menangis melihat Mamanya menangis. "Maafin Sara, Ma."


"Kenapa kamu merahasiakan ini sama Mama, Nak? Sara ... Mama harus apa sekarang sama kamu? Maafin Mama." Dia menarik Sara ke pelukannya, menepuk-nepuk bahu anaknya pelan. Dia membiarkan air matanya jatuh ke kerudung Sara.


Gue dan Bang Syahrul saling pandang, melihat adegan itu entah haru atau sedih.


"Maafin Sara, Ma. Aku enggak mau Mama sedih dan kepikiran sama penyakitku ini."


Mamanya Sara melepas pelukan. "Pikiran kamu salah! Kamu harus menghadapi semua ini sama Mama, Sar. Mama udah kehilangan Papa kamu, dan kali ini Mama enggak mau kehilangan lagi. Kamu dan Arka adalah hidup Mama sekarang. Kalau kamu kenapa-napa bagaimana Mama bisa hidup!"


Tangis Sara pecah lagi, kali ini dia yang memeluk Mamanya dengan erat. Kerudung cokelat Mamanya Sara basah oleh air mata bidadari gue itu. Ah, Sara, demi Allah, gue sakit banget lihat kamu nangis kayak gini.


Bang Syahrul menepuk-nepuk bahu gue pelan sambil memandang gue dengan takzim. Gue tahu banget apa arti dari tatapan itu.


"Nak Marko," ucap Mamanya Sara sambil melepas pelukan.


"Iya, Bu?"


"Tolong obati Sara."


Gue terenyak. Bingung juga mau ngomong apa, sedangkan Sara adalah tanggung jawabnya dokter Anna.


"Iya, Bu. Sara akan baik-baik aja, dokter Anna yang akan menyembuhkannya."


Mamanya Sara ngangguk-ngangguk, kali ini dia terlihat sedikit tenang.


"Sar, besok kamu harus kontrol ke rumah sakit, kan?"


Sara mengangguk.


"Sampai besok di rumah sakit, ya." Sara tersenyum lalu ngangguk lagi.


"Hm, jadi gimana jawabnnya, Sar?"


"Hah?"


"Jawaban atas khitbah aku."


Pipi putih Sara langsung terlihat memerah. Mamanya Sara dan Bang Syahrul tersenyum geli melihat ekspresi Sara yang malu-malu ketika akan menjawab.


Samar gue melihat Sara menganggukan kepala.


"Kamu menerimanya?" tegas gue.


Sara melihat gue sambil tersenyum lalu kali ini dia menganggukan kepala dengan jelas.


Mamanya Sara tersenyum haru melihat gue, lalu dia kembali memeluk Sara.


***


Tidak ada kebahagiaan tanpa didapat dari sebuah kesedihan. Bertahun-tahun gue mengalami berbagai hal yang berharap akan mendapatkan apa yang malam ini gue dapatkan.


Takdir sudah ditulis jauh dari sebelum kita dilahirkan. Gue terlahir sebagai non muslim, gue masuk ke sekolah SMA 33 Jakarta, jatuh cinta sama perempuan salihah bernama Qaisara Azzahra, melihat dan mendengar dia mengaji di mushola setiap hari, penasaran sama agama Islam, gue gelisah, enggak tenang, sampai akhirnya gue bisa meredakan kegelisahan ini dengan mempelajari agama tersebut, lalu dengan mantap gue mutusin mualaf.


Tentunya keputusan gue ini bukan tanpa risiko. Gue dibuang sama Nyokap yang seorang Katolik yang taat. Selama bertahun-tahun gue hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Lo bisa bayangin gimana beratnya hidup tanpa seorang ibu.


Gue mencoba bersabar dan istiqomah seperti pesannya Sara sebelum kita pisah dan dia menikah dengan orang lain. Hanya iman di dada yang menguatkan gue selama ini.


Cinta dan iman yang membuat gue bertahan.


*Sigh.


Gue menatap langit-langit kamar. Entah kenapa seperti masih ada yang mengganjal di hati ini. Gue mendadak takut menghadapi hari esok, semoga besok pemeriksaan Sara berjalan lancar dan enggak ada yang gawat. Dan semoga dokter Anna bisa menangani Sara dengan baik.


'Sara ... apapun yang terjadi aku akan selalu ada di samping kamu. Mulai saat ini kita hadapi semuanya berdua. Kamu jangan menghindar lagi. Malam ini aku udah mengkhitbahmu, itu artinya penderitaanmu akan menjadi penderitaanku juga. Dan aku berharap aku hanya membagimu kebahagiaan, enggak dengan kesedihan.


Sara ... aku cinta kamu. Dengan diiringi tangis, kesakitan, kesabaran, akhirnya perahu cintaku berlabuh di dermaga yang aku tuju selama ini. Aku akan menancapkan sauhnya ke dasar lautan dengan kuat, sehingga perahuku tidak akan goyah dan terbawa ombak terdahsyat sekali pun.


Cinta yang melibatkan Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya, aku akan selalu melantunkan doa di sujud terakhirku untuk kita, hingga doa tersebut menembus langit. Perkara mudah bagi Allah untuk menjadikan semuanya menjadi mungkin. Aku sangat percaya itu.'